NovelToon NovelToon
Jodohku Mas Bule

Jodohku Mas Bule

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mitha

Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.

Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.

Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.

Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Tidak Bisa Menahan perasaan

Malam itu terasa begitu panjang bagi Nathan.

Tubuhnya memang sudah berbaring di atas tempat tidur, tetapi matanya sama sekali tidak bisa terpejam.

Setiap kali memejamkan mata, wajah Retna kembali muncul di benaknya.

Terutama ekspresi perempuan itu setelah mendengar penjelasannya di dalam mobil.

Wajah Retna yang semula tenang berubah kecewa.

Nathan masih bisa mengingat tatapan matanya.

Tatapan yang membuat dadanya terasa sesak.

Ia tahu Retna berusaha menyembunyikannya. Perempuan itu bahkan tidak banyak bicara ketika mereka tiba di rumah.

Namun justru sikap diam itulah yang membuat Nathan semakin gelisah.

"Kenapa aku mengatakan semuanya seperti itu?"

Nathan mengusap wajahnya kasar.

Ia tadinya hanya ingin melindungi Retna.

Ketika mengatakan bahwa Retna adalah calon istrinya, Nathan tidak pernah membayangkan perkataan itu akan membuat dirinya sendiri terjebak dalam perasaan yang semakin sulit dijelaskan.

Ia memang ingin melindungi Retna.

Tetapi kalau hanya itu alasannya, mengapa hatinya begitu kacau ketika melihat Retna kecewa?

Mengapa ia merasa takut kehilangan perempuan itu?

Dan mengapa ia tidak sanggup membayangkan Retna pergi dari rumahnya?

Nathan akhirnya bangkit dari tempat tidur.

Ia berjalan keluar kamar dan berdiri beberapa saat di lorong.

Tatapannya tertuju pada pintu kamar Retna.

"Nggak bisa begini terus."

Nathan menarik napas panjang.

Ia tidak ingin lagi bersembunyi di balik alasan sebagai majikan.

Tidak ingin terus berpura-pura bahwa perhatian yang diberikan kepada Retna hanyalah bentuk kebaikan biasa.

Dan malam ini, untuk pertama kalinya, ia ingin jujur.

Nathan berjalan menuju kamar Retna.

Pintu kamar itu tertutup.

Ia mengetuk pelan.

Tidak ada jawaban.

Nathan mengetuk sekali lagi.

Tetap sunyi.

Akhirnya ia membuka pintu perlahan.

Cahaya lampu kamar yang redup memperlihatkan Retna sudah tertidur.

Tubuh kecil perempuan itu meringkuk di bawah selimut. Wajahnya terlihat tenang, meskipun Nathan tahu beberapa jam sebelumnya hati perempuan itu sedang tidak baik-baik saja.

Nathan berdiri di ambang pintu.

Sempat muncul keraguan.

Namun kekhawatiran di dalam hatinya jauh lebih kuat.

"Retna..."

Perempuan itu bergerak kecil.

Matanya perlahan terbuka.

"Mas Nathan?"

Suaranya masih berat karena mengantuk.

Nathan mendekat.

"Maaf membangunkanmu."

Retna langsung berusaha duduk.

"Ada apa?"

Nathan terdiam.

Untuk beberapa detik, ia hanya menatap perempuan di hadapannya.

Lalu akhirnya berkata dengan suara rendah.

"Saya tidak bisa tidur."

Retna mengernyit bingung.

"Kenapa?"

"Karena saya terus memikirkanmu."

Retna terdiam.

Nathan menarik napas panjang.

"Aku memikirkan wajahmu tadi."

Retna menunduk.

"Saya baik-baik saja."

"Nggak."

Jawaban Nathan membuat Retna kembali menatapnya.

"Kamu kecewa."

Retna tidak menjawab.

"Saya tahu."

Nathan duduk di tepi tempat tidur, menjaga jarak agar tidak membuat Retna merasa tertekan.

"Aku tadi bilang sesuatu yang seharusnya mungkin tidak kukatakan tanpa bertanya kepadamu."

Retna menelan ludah.

"Soal calon istri?"

Nathan mengangguk.

"Iya."

Retna menunggu.

Namun kali ini Nathan tidak menghindar.

"Aku bilang itu karena aku tidak tahan melihat mereka memperlakukanmu seperti itu."

Retna mengangguk pelan.

"Saya tahu."

"Tapi ternyata..." Nathan berhenti sejenak. "Ternyata masalahnya bukan cuma itu."

Retna mengerutkan kening.

"Maksud Mas?"

Nathan menatapnya lekat-lekat.

"Aku sudah terlalu sering mencari alasan untuk menjauh darimu."

Retna terdiam.

"Setelah aku mencium kamu waktu itu, aku bilang kita harus melupakannya. Aku pikir dengan begitu semuanya akan kembali seperti semula."

Nathan tersenyum tipis, tetapi wajahnya justru terlihat gelisah.

"Ternyata aku salah."

Retna tidak mampu berkata apa-apa.

"Aku justru semakin memikirkanmu."

Nathan menghela napas.

"Aku memikirkan apakah kamu sudah makan. Apakah kamu lelah. Apakah kamu sedih. Bahkan ketika kamu hanya diam, aku bisa ikut merasa gelisah."

Mata Retna mulai membesar.

"Dan tadi ketika aku melihat wajahmu berubah setelah aku mengatakan bahwa kamu bukan benar-benar calon istriku..."

Nathan menunduk sebentar.

"Aku merasa bersalah."

Retna menggenggam ujung selimut.

"Mas Nathan..."

"Aku nggak tahu apa yang akan kamu pikirkan setelah aku mengatakan ini."

Nathan menatap mata Retna.

"Tapi malam ini aku nggak mau menghindar lagi."

Retna membeku.

"Aku suka sama kamu, Retna."

Hening.

Benar-benar hening.

Seolah seluruh kamar kehilangan suara.

Retna hanya menatap Nathan dengan mata yang sulit berkedip.

"Aku sendiri bahkan nggak tahu sejak kapan perasaan itu muncul," lanjut Nathan. "Mungkin sejak aku mulai melihat kamu bukan hanya sebagai seseorang yang bekerja di rumahku."

Retna menahan napas.

"Aku tahu keadaan kita rumit. Aku tahu kamu mungkin masih takut mempercayai laki-laki. Aku juga tahu kamu mungkin berpikir aku cuma merasa kasihan."

Nathan menggeleng.

"Bukan."

"Perasaanku bukan karena kasihan."

Retna masih belum bisa menjawab.

Nathan kemudian berdiri.

Ia mendekat dengan perlahan.

Retna refleks mundur sedikit, tetapi Nathan berhenti sesaat, seolah memberinya kesempatan untuk mengatakan sesuatu.

"Aku cuma ingin kamu tahu satu hal."

Nathan menatapnya lembut.

"Aku tidak ingin terus bersikap seolah-olah aku akan menjauh darimu."

Retna menatapnya dengan wajah bingung.

"Aku ingin tetap berada di dekatmu."

Tanpa menunggu jawaban panjang, Nathan merengkuh Retna ke dalam pelukannya.

Pelukan itu erat, tetapi tetap lembut.

Retna terkejut.

Tubuhnya sempat menegang.

Namun Nathan tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia hanya memeluknya seolah ingin menyampaikan semua kegelisahan yang selama ini tidak mampu ia ucapkan.

Retna mendengar detak jantung Nathan yang begitu dekat.

"Mas..."

Suara Retna hampir tidak terdengar.

Nathan sedikit melepaskan pelukannya dan menatap wajah perempuan itu.

"Kalau kamu belum bisa menjawab sekarang, nggak apa-apa."

Retna masih terdiam.

Nathan kemudian mendekat dan mengecup bibir Retna dengan lembut.

Kali ini berbeda.

Tidak terburu-buru.

Tidak seperti sebuah kesalahan yang harus dilupakan.

Hanya sebuah kecupan singkat yang penuh perasaan.

Setelah itu Nathan segera menarik diri.

Ia menatap Retna, membiarkan perempuan itu menentukan apa yang ingin dilakukannya.

Retna menyentuh bibirnya sendiri.

Wajahnya memerah.

Pikirannya benar-benar kacau.

Baru beberapa menit lalu ia merasa dirinya tidak berarti bagi Nathan.

Dan sekarang laki-laki itu justru berdiri di hadapannya, mengakui bahwa ia menyukainya.

"Mas Nathan..."

Retna akhirnya berhasil bersuara.

Namun Nathan hanya tersenyum kecil.

"Kamu nggak perlu menjawab malam ini."

Ia berdiri dan mundur selangkah.

"Aku sudah terlalu lama menyimpan ini sendiri."

Tatapan mereka kembali bertemu.

"Mulai sekarang, aku nggak akan pura-pura lagi."

Nathan berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, ia berhenti sejenak.

"Selamat malam, Retna."

Pintu kamar kemudian tertutup perlahan.

Retna masih duduk diam di atas tempat tidurnya.

Tangannya masih menyentuh bibirnya.

Hatinya berdebar tidak karuan.

Ia tidak tahu harus merasa takut, bahagia, atau justru semakin bingung.

Satu hal yang pasti...

Malam ini, hubungan mereka tidak mungkin kembali seperti sebelumnya.

Karena untuk pertama kalinya, Nathan telah mengatakan dengan jelas bahwa perasaannya kepada Retna bukan sekadar rasa kasihan.

Dan untuk pertama kalinya pula, Retna harus menghadapi perasaan yang selama ini diam-diam tumbuh di dalam hatinya sendiri.

1
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!