Di mata dunia, Stellan Alistair Caelmont adalah CEO dingin yang tak tersentuh. Namun di balik kekuasaannya, Stellan terancam kehilangan Luna, putri kecilnya yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup. sebuah ancaman dari masa lalu datang untuk merebut Luna dari pelukannya.
Kekuatan dan uang Stellan tak lagi cukup. Ia butuh sebuah keluarga utuh di mata hukum.
Hingga hadir Elara Vivienne Moreau, wanita hangat yang secara ajaib menjadi satu-satunya orang yang mampu meluluhkan benteng trauma Luna. Melihat itu, Stellan menawarkan sebuah kesepakatan gila: Pernikahan Kontrak.
Satu tahun. Hanya di atas kertas.
Elara menerima demi melindungi Luna, berjanji tak akan melibatkan perasaan pada pria sedingin Stellan. Namun, hidup di bawah satu atap perlahan membongkar rahasia kelam yang Stellan sembunyikan rapat-rahasia.
Saat ikatan palsu itu mulai terasa nyata, mampukah mereka bertahan ketika masa lalu menuntut pembalasan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranaraworld, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan dari Paris
Bab 16: Panggilan dari Paris
Sinar matahari pagi baru saja menerobos celah tirai sutra di Kamar Utama Mansion Caelmont ketika Elara terbangun dengan jantung yang berdebar kaku.
Ini adalah pagi pertama Elara terbangun di atas tempat tidur king-size bernuansa abu-abu dan putih milik Stellan. Aroma maskulin khas sandalwood dan cedarwood yang melekat pada seprei dan bantal raksasa itu menyapa inderanya secara langsung. Meski semalam Stellan dengan sangat sopan dan gentleman memilih tidur di atas sofa panjang empuk yang ada di sudut kamar utama, keberadaan pria itu di ruangan yang sama tetap saja berhasil membuat Elara salah tingkah sepanjang malam.
Elara mendudukkan tubuhnya pelan-pelan, merapikan gaun tidur katun panjang berwarna abu-abu muda yang dikenakannya. Di sudut ruangan, Stellan sudah rapi dengan celana kain dan kaus kasual putihnya, sedang menyisir rambutnya yang masih sedikit basah di depan cermin besar.
Klek.
Tiba-tiba, pintu connecting yang menghubungkan kamar utama dengan kamar Luna berderit terbuka agak kencang.
Seorang bocah kecil bergaun tidur kuning berlari masuk dengan napas terengah-engah. Wajah mungil Luna memucat, matanya berkaca-kaca menahan panik. Jemari mungilnya memeluk erat boneka beruang abu-abu yang sudah lusuh. Rupanya, begitu terbangun dan menemukan kamar sebelah yang biasa ditempati Elara dalam keadaan kosong melompong tanpa ada baju di lemari, sensor trauma abandonment anak itu seketika menyala hebat!
"Luna?" Elara buru-buru turun dari tempat tidur, berlutut menyamakan tingginya di atas karpet berbulu tebal.
Luna tidak bersuara, tetapi napasnya memburu dan matanya mulai membasah. Bocah kecil itu langsung menjatuhkan tubuh mungilnya ke pelukan Elara, meremas gaun tidur Elara erat-erat, takut jika sosok tempat berlindungnya itu telah menghilang tanpa pamit.
Stellan yang melihat putrinya hampir histeris lekas menghentikan kegiatannya, melangkah cepat dan ikut berlutut di atas karpet di samping Elara.
"Luna sayang, Papa dan Elara ada di sini," bisik Stellan dengan suara beratnya yang begitu lembut, merangkul tubuh Luna dan Elara sekaligus dalam satu lingkaran pelukan yang kokoh. "Elara tidak pergi ke mana-mana. Elara tidur di kamar Papa sekarang, tepat di sebelah kamar Luna. Lihat, pintunya terbuka."
Luna membenamkan wajahnya di leher Elara. Setelah merasakan usapan halus Elara di punggungnya dan pelukan hangat Stellan di bahunya, napas memburu bocah itu perlahan-lahan mulai stabil kembali.
Elara mengecup dahi Luna dengan keharuan yang membuncah. "Elara di sini, Luna. Elara tidak akan ke mana-mana. Pintu kamar kita kan tersambung."
Di tengah momen hangat bertiga di atas karpet kamar utama tersebut, ponsel Stellan yang tergeletak di meja samping tempat tidur mendadak berdering nyaring. Nada dering khusus panggilan video internasional mengalun keras.
Nama 'Mami' tertera di layar.
Stellan menghembuskan napas panjang, merogoh ponselnya lalu menggeser ikon hijau. "Selamat pagi, Mami—"
"STELLAN ALISTAIR CAELMONT!"
Suara melengking Seraphina seketika memenuhi isi kamar melalui pengeras suara. Di layar ponsel berukuran besar itu, wajah Seraphina tampil heboh dengan kacamata hitam yang terungkit di dahi dan latar belakang balkon hotel mewah di Paris dengan menara Eiffel yang mengintip di jauh sana.
"Kenapa Mami harus minta nomor ponsel menantu Mami sendiri dari Julian, hah?!" omel Seraphina dramatis sembari menunjuk layar dengan kipas lipatnya. "Kamu ini sengaja ya tidak memberikan nomor Elara ke Mami? Kamu takut Mami monopoli menantu cantik Mami ini?!"
Stellan memegang pangkal hidungnya, melirik Elara yang duduk canggung di karpet sembari memangku Luna. "Mami, ini baru jam tujuh pagi di Indonesia..."
"Mami tidak peduli jam berapa!" sergap Seraphina cepat. Namun raut wajah galaknya seketika berubah seratus delapan puluh derajat menjadi begitu cerah saat layar ponsel Stellan bergeser menampilkan Elara dan Luna. "Halo, Elara sayang! Aduh, menantu Mami cantik sekali walaupun baru bangun tidur!"
Elara mengulas senyum manis, menyapa penuh rasa hormat. "Selamat pagi, Mami."
Saat Seraphina sedang heboh ngoceh menceritakan oleh-oleh tas kulit dan perhiasan yang dibelinya di Paris untuk Elara, tiba-tiba sebuah bayangan pria paruh baya bertubuh tegap bersetelan kemeja rapi muncul di belakang Seraphina.
Pria paruh baya dengan rahang kokoh dan uban tipis di pelipisnya itu menatap layar dengan kacamata baca yang diturunkan sedikit di pangkal hidungnya. Aura wibawa dan dinginnya adalah cetakan sempurna dari Stellan.
Alexander Caelmont. Papi kandung Stellan. Sang pendiri imperium Caelmont Corp.
Stellan berkedip pelan, sedikit takjub melihat papinya yang biasanya sangat kaku dan anti-kamera kini ikut memiringkan kepalanya menatap layar ponsel Mami. "Papi?"
"Ehem..." Tuan Alexander berdeham berat, mencoba mempertahankan wibawanya meski matanya memancarkan rasa penasaran yang amat besar pada menantu barunya. "Jadi ini Elara?"
Seraphina menyiku lengan suaminya gemas. "Jangan sok jual mahal begitu, Papi! Dari semalam di pesawat kamu sendiri kan yang terus bertanya pada Mami seperti apa menantu kita!"
Wajah Papi Alexander seketika merona tipis karena kepergok istrinya. Stellan menahan senyum tipis di sudut bibirnya, tidak menyangka papinya yang terkenal dingin dan ditakuti papan atas dunia bisnis itu ternyata bisa ketularan kepo gara-gara hasutan maminya.
"Selamat pagi, Papi," sapa Elara halus dan sopan dari layar.
Alexander menatap Elara lurus-lurus melalui layar kaca. Pria paruh baya itu menangkap aura kehangatan, ketenangan, dan kecerdasan dari mata Elara. Tatapan galak Papi seketika melunak penuh rasa hormat.
"Selamat pagi, Elara," suara berat Alexander mendengung serak namun amat ramah. "Maafkan Papi belum sempat menghadiri pernikahan kalian kemarin karena tertahan rapat bisnis di London. Terima kasih... sudah mau menerima putra Papi yang kaku dan membosankan ini menjadi suamimu."
Stellan langsung melirik papinya dengan raut wajah protes yang kaku, sementara Elara tidak bisa menahan tawa halusnya.
Meski Seraphina sebenarnya sudah paham bahwa ada masalah hukum dan persidangan di balik pernikahan mendadak ini, ia dan suaminya secara konsisten tetap memperlakukan Elara secara utuh dan hangat sebagai bagian dari keluarga Caelmont.
"Luna sayang... lihat Oma dan Opa di telepon," bisik Elara lembut pada bocah di pangkuannya.
Luna mendongak pelan. Melihat wajah nenek dan kakeknya di layar, gadis kecil itu tidak memalingkan wajahnya. Dengan jemari mungilnya, Luna perlahan melambaikan tangannya tipis ke arah layar ponsel, sebuah gestur manis yang membuat Seraphina di Paris seketika menjerit terharu dan Alexander menyunggingkan senyum bangga.
"Astaga, cucu Mami pintar sekali!" seru Seraphina berkaca-kaca. "Pokoknya bulan depan Mami dan Papi pulang ke Indonesia! Kita harus mengadakan gala dinner keluarga besar!"
"Mami bosen banget bolak balik London sama Paris cuma berdua sama Papi yang kaku!"
Setelah panggilan video yang penuh gelak tawa dan omelan manis itu berakhir, suasana kamar utama kembali hening.
Stellan meletakkan ponselnya di meja, lalu berbalik menatap Elara dan Luna yang masih duduk bersimpuh di atas karpet. Kecanggungan semalam mendadak menguap, digantikan oleh rasa hangat yang mengalir indah di antara mereka. Stellan melangkah mendekat, berlutut kembali di samping istrinya.
"Maafkan Mami dan Papi," ujar Stellan serak, matanya terkunci pada raut anggun Elara. "Mereka memang kadang terlalu heboh."
Elara mengulas senyum manis yang mekar sempurna, membalas tatapan Stellan dengan pendar ketulusan. "Tidak apa-apa, Stellan. Papi dan Mami sangat hangat. Aku... aku sangat bahagia."
Stellan merengkuh jemari tangan Elara yang memegang gaun Luna, mengelusnya lembut dengan ibu jarinya. Pria itu menyapukan tatapan matanya ke sekeliling kamar utama yang kini mulai terisi oleh barang-barang pribadi Elara, botol parfum beraroma vanilla di atas meja rias, serta beberapa buku terapi psikologi di atas meja kerja kecil.
"Kamar ini terasa jauh lebih hidup sekarang," bisik Stellan rendah. "Terima kasih sudah bersedia pindah ke sini, Elara."
Elara menunduk sedikit, merasakan pipinya kembali hangat. "Aku melakukannya juga demi keamanan persidangan Luna, Stellan. Julian bilang detektif pihak musuh mulai mengintai."
Mendengar nama detektif dan persidangan disebut, raut wajah Stellan mendadak berubah sedikit serius. Iris mata gelapnya menajam.
"Julian mengabarkan tadi pagi, ada sebuah sedan perak misterioso yang terparkir dua puluh meter dari gerbang luar sejak subuh," ujar Stellan dengan suara yang mendingin. "Tim keamanan sudah mengusirnya. Tapi ini membuktikan bahwa Pengacara Reihan benar-benar kelaparan mencari cela."
Elara menatap Stellan dengan pendar khawatir. "Apakah menurutmu mereka akan mencoba mengambil Luna secara paksa?"
"Tidak akan pernah," sahut Stellan mantap, genggamannya pada tangan Elara makin memadat. "Selama saya masih bernapas, tidak ada seorang pun yang bisa menyentuhmu atau Luna. Mulai hari ini, setiap kali kamu harus keluar mansion demi urusan yayasan, kamu wajib didampingi dua pengawal pribadi dan pengemudi terbaik saya."
Elara tersenyum tipis, tersentuh oleh perlindungan yang tak pernah kendur dari pria di hadapannya. "Baik, Tuan CEO. Aku akan mematuhi protokol keamananmu."
Stellan mengangkat sebelah alisnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tampan yang amat langka. "Tuan CEO lagi?"
"Ops," Elara menutupi mulutnya dengan jemari halus sembari terkekeh pelan. "Maksud saya... Stellan."
Satu jam kemudian, ketiganya melangkah turun ke ruang makan utama untuk sarapan pagi.
Pemandangan pagi ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan kecanggungan kemarin. Elara duduk di sisi kanan Stellan, sementara Luna duduk di kursi khusus anak di antara mereka. Bi Asih dan pelayan mansion menyajikan semangkuk bubur ayam hangat, potongan buah segar, dan jus jeruk manis.
Luna yang sudah mulai terbiasa dengan rutinitas ini mendadak mengambil sepotong roti manis dengan selai cokelat. Anak itu mengulurkan tangan mungilnya, menyodorkan roti tersebut tepat ke arah mulut Elara.
Elara membelalak pelan, merasa terkejut sekaligus terharu. "Untuk Elara?"
Luna mengangguk kecil. Elara menerima gigitan kecil itu sembari tersenyum penuh kebanggaan, mengelus pipi lembut Luna.
Melihat interaksi manis itu, Stellan yang duduk di samping Elara sengaja memiringkan tubuhnya, menatap putrinya dengan raut wajah yang seolah-olah sedang 'cemburu'.
"Papa tidak diberi roti cokelat juga, Luna?" goda Stellan dengan nada suara yang amat lembut.
Luna menatap ayahnya sejenak. Dengan kepolosannya, bocah kecil itu mengambil sepotong buah stroberi merah, lalu mengulurkannya pada Stellan. Stellan menerima suapan dari putrinya dengan pendar keharuan di mata gelapnya.
Bi Asih yang berdiri di sudut pantry menyikut lengan pelayan muda di sebelahnya. "Kamu lihat kan? Rumah ini benar-benar sudah seperti rumah tangga sungguhan. Tuan Stellan tidak pernah tersenyum seluas itu selama tiga tahun terakhir."
"Iya, Bi," bisik pelayan muda itu antusias. "Muka kaku Tuan Stellan langsung mencair setiap kali menatap nyonya Elara."
Di meja makan, Stellan yang baru saja selesai memakan stroberinya mendadak merogoh saku jasnya saat ponselnya bergetar pendek. Sebuah pesan masuk dari Julian:
"Tuan Stellan, pihak persidangan baru saja menerbitkan jadwal resmi sidang pertama sengketa hak asuh Nona Luna. Sidang akan dilaksanakan dua minggu dari sekarang. Pengacara Reihan dipastikan membawa tiga saksi dari pihak keluarga almarhum."
Stellan mematikan layar ponselnya. Rahangnya terkatuk kaku seketika. Pertempuran hukum yang sesungguhnya kini sudah di depan mata.
Stellan berpaling menatap Elara yang sedang membantu Luna menyapu noda cokelat di sudut bibir anak itu. Kehangatan yang tercipta di dalam rumah ini terlalu berharga untuk dihancurkan oleh intrik licik keluarga musuh.
"Elara," panggil Stellan serak.
Elara mendongak. "Ya, Stellan?"
"Dua minggu lagi sidang pertama sengketa hak asuh Luna akan digelar," ujar Stellan lurus-lurus, suaranya terdengar begitu protektif dan penuh tekad. "Pihak musuh akan mencoba menyerang kita di depan Majelis Hakim. Tapi saya ingin kamu tahu... kita akan menghadapinya bersama-sama sebagai satu keluarga."
Elara menatap mata Stellan dalam-dalam. Tidak ada lagi keraguan atau perisai jarak di antara mereka. Elara mengangguk mantap, mengulas senyum manis yang menyalurkan rasa percaya penuh.
"Kita pasti bisa melewatikannya, Stellan. Demi Luna... dan demi rumah ini."
Di dalam ruang makan yang diselimuti pendar sinar matahari pagi, genggaman tangan Stellan di atas meja bertemu dengan genggaman tangan Elara, mengunci sebuah janji tak tertulis bahwa apa pun badai hukum yang menanti di ruang pengadilan nanti, mereka bertiga tidak akan pernah bisa dipisahkan lagi.