Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Uang Saku yang "Pa-pasan"
Tantangan terbesar dalam hidup penyamaran Gavin Dewantara bukanlah kekurangan uang, melainkan usaha keras yang harus ia lakukan agar terlihat miskin secara konsisten. Di Menteng, ia bisa menghabiskan beberapa juta rupiah untuk sekali makan malam tanpa perlu melihat tagihan. Di Kos Bu Broto, ia harus menguasai seni sandiwara keuangan tingkat tinggi.
Hari Selasa sore itu, sebuah tragedi melanda area bersama di lantai dua kosan. Suara dentuman keras BLAAM! menggema dari arah dapur umum, disusul dengan kepulan asap abu-abu tebal dan aroma plastik terbakar yang menyengat hidung.
"Innalillahi! Rice cooker kita meledak!" teriak Dono, mahasiswa tingkat akhir Teknik Mesin, sambil berlari keluar dari dapur dengan wajah panik dan spatula plastik yang menghitam.
Dalam hitungan menit, lima penghuni lantai dua berkumpul mengelilingi sisa-sisa penanak nasi murah berusia lima tahun yang kini sudah gosong. Benda itu mati total. Bagi sebuah kosan yang isinya mahasiswa kelaparan—yang sangat bergantung pada nasi matang untuk bertahan hidup—ini adalah urusan darurat nasional.
"Oke semuanya, rapat darurat," kata Dono sambil menyeka keringat dan jelaga di dahinya. "Kita harus patungan buat beli yang baru. Gue udah cek di toko online, yang paling murah harganya dua ratus ribu rupiah. Karena kita berlima, jadi masing-masing kena empat puluh ribu."
Keluhan massal langsung terdengar di koridor. Bagi mahasiswa biasa di akhir bulan, uang empat puluh ribu rupiah bisa menentukan hidup dan mati: antara bisa makan ayam penyet atau terpaksa bertahan hidup dengan kuah mi instan saset.
Gavin berdiri di barisan paling belakang, bersandar santai pada pagar kayu teras. Di dalam tas ransel kanvasnya, tersembunyi di dalam kantong rahasia yang dilapisi pelindung RFID, terselip sebuah kartu hitam American Express Centurion. Dengan sekali gesek, kartu itu bisa membeli seluruh toko elektronik, perusahaan logistik yang mengantar barangnya, bahkan tanah tempat Kos Bu Broto ini berdiri.
Namun saat ini, ia punya peran yang harus dimainkan.
Gavin langsung mengubah posisi tubuhnya menjadi sedikit membungkuk. Ia mengembuskan napas berat yang dibuat-buat, lalu mulai mengorek-ngorek saku celana jins robeknya dengan ekspresi panik. Ia menarik kantong celananya hingga keluar, menunjukkan bahwa isinya kosong melompong—hanya ada segumpal benang wol, struk lecek dari Warkop Cak Min, dan beberapa koin logam.
"Aduh, Bang Don," ucap Gavin dengan wajah yang dibuat melas seolah sedang ditimpa musibah besar. "Empat puluh ribu? Berat banget itu, Bang. Utang kopi gue di tempat Cak Min minggu ini aja belum lunas. Dompet gue udah lebih kempes daripada ban Astrea gue nih."
Rian yang berdiri di sampingnya langsung menatap Gavin dengan pandangan penuh simpati. Rian mengeluarkan dompetnya yang sudah usang lalu menepuk pundak Gavin pelan. "Gak apa-apa, Gav. Gue ada rezeki lebih dikit dari projekan coding sampingan kemarin. Bagian lu biar gue nalangin dua puluh ribu."
Gavin merasakan cubitan rasa bersalah sekaligus geli di dalam hatinya. Ia menatap senyum tulus Rian yang berniat tulus membantunya. Kalau aja lu tahu, Yan, pikir Gavin dalam hati. Kalau lu lihat isi rekening gue, lu bisa pingsan di tempat.
"Makasih banyak ya, Yan. Lu emang penyelamat hidup gue," kata Gavin, kembali memasang cengiran slengeannya saat menjatuhkan dua koin lima ratusan dan selembar uang sepuluh ribuan lecek ke dalam topi koleksi milik Dono. "Ini seluruh aset likuid gue sampai hari Senin depan. Kayaknya mulai besok gue terpaksa diet angin sama doa."
Malam harinya, setelah rice cooker baru berhasil dibeli dan dipasang, Rian mengetuk pintu kamar Gavin. Cowok kurus itu membawa sebuah mangkuk berisi nasi putih hangat yang mengepul, lengkap dengan setengah balok tempe goreng dan guyuran kecap manis di atasnya.
"Nih, Gav. Makan dulu. Jangan sampai pengawal gue mati kelaparan sebelum Ujian Tengah Semester," canda Rian sambil menyodorkan mangkuk itu.
Gavin menerima mangkuk tersebut, lalu duduk bersila di atas kasur busa tipisnya yang tergelar di lantai. Ia menyuap makanan sederhana itu ke dalam mulutnya. Rasanya jelas tidak sebanding dengan daging wagyu impor atau hidangan bertabur truffle yang biasa ia makan di rumah. Namun, saat ia melihat Rian yang sudah mulai sibuk mengoceh tentang proyek Teknik Informatikanya, Gavin menyadari satu hal yang mendalam.
Uang empat puluh ribu rupiah yang sempat ia dramatisir tadi sore ternyata telah membelikan sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh kekayaan triliunan keluarganya: sebuah ketulusan pertemanan yang tidak peduli pada nama belakangnya, harta warisannya, atau harga sepatunya. Bagi mereka, dia hanyalah Gavin—cowok ugal-ugalan yang naik motor bising dan berbagi nasib yang sama. Dan bagi Gavin, hal itu membuat setiap kebohongan kecilnya menjadi sangat berharga.