NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Ternyata tebakan Mama Olivia sama sekali tidak meleset. Hanya berselang beberapa menit setelah tas Aurel ditaruh kembali di sofa, suara gemuruh angin kencang langsung disusul oleh hantaman air hujan yang turun dengan sangat lebat. Suara rintik hujan yang berisik menghantam atap rumah menciptakan suasana hangat dan familier di dalam ruang tengah.

Aurel segera merogoh ponsel di saku celananya. Ia buru-buru menghubungi Daddy dan Mommy Zeline untuk mengabarkan situasi di luar.

"Halo, Mom? Iya, di sini hujannya lebat banget disertai angin kencang," ucap Aurel ke arah ponselnya. "Mama Olivia melarang Aurel pulang malam ini karena bahaya di jalan. Jadi, malam ini Aurel izin menginap di rumah Papa Crish ya, Mom?"

Di seberang telepon, suara lembut Mommy Zeline langsung memberikan restu penuh. "Tentu saja boleh, Sayang. Sampaikan salam dan terima kasih Mommy buat Mama Olivia dan Papa Crish ya. Kamu istirahat yang rajin di sana."

"Siap, Mom! Dadah," pamit Aurel lega sebelum memutus sambungan.

Mereka semua akhirnya menghabiskan waktu sekitar satu jam terjebak di dalam rumah, menunggu badai di luar mereda sambil menikmati es buah segar dan sisa pisang goreng hangat. Setelah jam menunjukkan pukul tujuh malam, rintik hujan perlahan mulai menyurut dan menyisakan aroma tanah basah yang segar di halaman.

Kak Anita bangkit berdiri lebih dulu sambil merapikan tasnya. "Nah, hujannya udah reda, nih. Edward, aku pamit pulang duluan, ya. Udah dicariin orang rumah juga."

"Gue sama Shirin juga pamit ya, Bang, Tante," sela Gino ikut berdiri. Senyumnya merekah lebar saat menatap Shirin yang sedang memakai jaketnya. "Pas banget jalannya sepi habis hujan, pas buat kita konvoi pelan-pelan, Rin."

Shirin hanya mendengus geli, namun tidak menolak ajakan Gino kali ini. "Yuk. Tante Olivia, Om Crish, Bang Edward, kami pamit pulang dulu. Terima kasih banyak buat draf tugas dan dan jamuannya."

Reyhan menjadi orang terakhir yang menggendong tas denimnya. Sebelum melangkah keluar menuju pintu utama, cowok itu sengaja memperlambat langkahnya di samping Aurel. Ia menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata Aurel yang kini sudah tidak lagi sembap.

"Gue balik duluan ya, Partner," ucap Reyhan dengan nada suara yang sangat tenang dan rendah. Ia mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat teduh. "Tidur yang nyenyak malam ini. Istirahatin hati lo, jangan dipikirin terus jalan buntu yang tadi."

Jantung Aurel refleks berdegup sedikit lebih cepat. Ia mengangguk tulus, membiarkan kehangatan baru itu menyelimuti hatinya. "Iya, Rey. Lo hati-hati di jalan, ya. Jalanannya pasti licin habis hujan."

"Pasti," sahut Reyhan singkat sebelum berbalik menyusul rombongan Kak Anita ke arah parkiran.

Setelah deru mesin motor Reyhan, Gino, dan Shirin perlahan menjauh dan menghilang di ujung kompleks, suasana rumah kembali hening. Kini, hanya tinggal Aurel yang berdiri di ambang pintu bersama keluarga Bang Edward. Rasa sepi akibat cinta sepihaknya malam ini terasa jauh lebih ringan, tergantikan oleh pelukan hangat dari rumah yang selalu menerimanya apa adanya, serta bayang-bayang perhatian tersembunyi dari Reyhan yang mulai membekas di pikirannya.

Aroma harum gurih dari sup ayam klaten hangat yang dimasak Mama Olivia seketika mengembalikan kehangatan di dalam rumah setelah teman-teman mereka pulang. Di ruang makan, meja jati bundar kini sudah tertata rapi. Sentuhan cahaya lampu gantung yang temaram membuat suasana malam itu terasa begitu damai.

"Aurel, duduk di sini, Sayang, sebelah Papa," panggil Papa Crish dengan suara lantang seraya menepuk kursi kosong tepat di sisi kanannya.

Aurel tersenyum lebar, langsung melangkah cepat mendaratkan bokongnya di kursi tersebut. Belum sempat Aurel meraih centong nasi, Papa Crish sudah lebih dulu menarik piring kosong di depan Aurel. Dengan cekatan dan penuh perhatian, pria paruh baya itu menyendokkan nasi hangat ke piring Aurel dalam porsi yang cukup melimpah.

"Ayo, makan yang banyak. Habis mikir tugas kuliah berat, badan kamu pasti lemas. Harus diisi pakai sup hangat biar pipi kamu nggak pucat lagi," ujar Papa Crish lembut. Tidak sampai di situ, ia dengan telaten memilihkan potongan daging ayam bagian dada yang empuk beserta potongan wortel dan kentang, lalu menyiramnya dengan kuah sup yang masih mengepul ke atas piring Aurel.

Bang Edward yang baru saja duduk di seberang mereka langsung mendengus cemburu yang dibuat-buat. "Duh, Ma, lihat deh. Anak kandungnya yang dari tadi bantuin angkat jemuran pas hujan badai malah dicuekin. Giliran anak gadis kesayangan datang, servisnya langsung nomor satu."

"Heh! Mulutmu ya, Edward," tegur Papa Crish sambil melotot jenaka ke arah anak sulungnya. "Aurel ini anak perempuannya Papa. Kamu kan cowok, masa manja begitu? Ambil sendiri nasi kamu!"

Mama Olivia yang baru datang membawa mangkuk sambal hanya bisa terkekeh geli melihat rutinitas perdebatan meja makan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah berubah itu. Ia duduk di sebelah Bang Edward dan mengelus rambut Aurel dengan sayang. "Sudah, Edward, jangan cemburu terus. Makan yang banyak, Rel. Tadi Papa kamu itu panik banget waktu lihat mata kamu merah siang tadi. Makanya pas hujan, dia langsung nyuruh Mama bikin sup hangat ini khusus buat kamu."

Mendengar penuturan Mama Olivia, hati Aurel seketika membuncah oleh rasa haru yang teramat dalam. Ia menatap potongan ayam di piringnya, lalu beralih menatap wajah teduh Papa Crish yang kini sedang tersenyum lebar ke arahnya.

"Makasih banyak ya, Papa, Mama," bisik Aurel tulus. Rasa perih akibat cinta bertepuk sebelah tangannya kepada Bang Edward yang sempat membuatnya sesak sejak siang tadi, mendadak larut dan tersamarkan oleh besarnya limpahan kasih sayang yang ia terima di meja makan ini. Di rumah ini, ia memang tidak mendapatkan cinta Bang Edward sebagai seorang kekasih, namun ia mendapatkan sesuatu yang tidak kalah berharga: tempat di mana ia selalu dimanja dan dicintai sebagai bagian dari keluarga mereka.

"Sama-sama, Anak Cantik. Ayo, dihabiskan ya. Kalau kurang, bilang Papa, nanti Papa ambilkan lagi," sahut Papa Crish hangat sembari mengusap pelan puncak kepala Aurel, persis seperti yang sering dilakukan Bang Edward, namun dengan rasa aman yang jauh berbeda.

Inilah salah satu alasan terbesar mengapa Aurel memilih untuk mengubur perasaannya sedalam mungkin. Ia terlalu takut. Takut jika satu kata pernyataan cinta keluar dari mulutnya, ia akan kehilangan segalanya—termasuk kehangatan dan kasih sayang luar biasa yang selalu diberikan oleh keluarga Bang Edward kepadanya.

Aurel tahu diri. Ia sadar sepenuhnya bahwa Bang Edward tidak akan pernah mencintainya sebagai seorang wanita. Di mata cowok itu, dirinya selamanya hanyalah seorang adik kecil berisik yang paling disayangi dan harus dilindungi. Memaksakan perasaannya hanya akan menghancurkan kenyamanan rumah yang selama ini menjadi tempatnya pulang.

Sementara itu, suasana di kediaman keluarga Aurel terasa jauh lebih sepi malam itu. Pintu depan terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya bertubuh tegap yang baru saja melangkah masuk dengan setelan kerja yang sedikit kusut. Wira mengembuskan napas lelah seraya melonggarkan ikatan dasinya setelah seharian penuh berkutat dengan pekerjaan kantor.

Langkah kakinya berderap menuju ruang tengah, namun matanya mengernyit saat mendapati ruangan itu begitu sunyi. Hanya ada Mommy Zeline yang sedang duduk bersandar santai di sofa panjang sembari membalik lembar demi lembar majalah fesyen di tangannya.

Wira menaruh tas kerjanya di atas meja kecil, lalu menoleh ke sekeliling dengan pandangan mencari. "Mami, Aurel mana?" tanya Daddy Wira dengan nada heran yang sangat kentara. Ia melangkah menghampiri istrinya, lalu duduk di sisi sofa yang kosong. "Biasanya kalau Papi pulang jam segini, putri kesayangan kita itu udah heboh nungguin di ruang tengah sambil cerita ini-itu. Kok sekarang sepi banget? Dia di kamar?"

Mommy Zeline menurunkan majalahnya sebatas dada, lalu mengulas senyum tipis melihat raut wajah suaminya yang mendadak lesu karena tidak mendapat sambutan hangat dari anak perempuan mereka.

"Putri kesayangan kamu nggak ada di kamarnya, Papi," jawab Mommy Zeline dengan nada santai yang sengaja digantung, membuat Daddy Wira langsung menaikkan sebelah alisnya cemas.

"Lho, terus ke mana? Ini kan sudah malam, Mi. Mana di luar tadi habis hujan badai lagi," cecar Daddy Wira bertubi-tubi, radar protektif seorang ayah langsung menyala seketika.

Mommy Zeline terkekeh pelan melihat kepanikan suaminya. Ia meletakkan majalahnya ke atas meja, lalu mengelus lengan Daddy Wira untuk menenangkannya. "Tenang dulu, Pi. Tadi sebelum hujan lebat turun, Aurel udah telepon Mami. Dia minta izin menginap di rumah Papa Crish sama Mama Olivia."

"Menginap di rumah Crish?" ulang Daddy Wira, rasa paniknya perlahan mereda, berganti dengan helaan napas lega.

"Iya. Tadi kan mereka ada tugas kelompok kuliah dari siang. Pas mau pulang, langitnya udah gelap dan angin kencang banget. Makanya Mama Olivia langsung melarang Aurel jalan dan menyuruhnya menginap saja di sana daripada bahaya di jalan raya," jelas Mommy Zeline penuh kesabaran. "Lagian kamu kan tahu sendiri, kalau Aurel udah di sana, dia pasti dirawat dan dimanja banget sama Crish sama Olivia, udah kayak anak kandung mereka sendiri."

Daddy Wira manggut-manggut paham, menyandarkan punggungnya ke sofa sembari menyunggingkan senyum tipis. Rasa rindunya malam ini terpaksa ditahan, namun di sisi lain, ia merasa sangat tenang. Ia tahu betul seberapa besar kasih sayang yang diberikan keluarga sahabatnya itu kepada Aurel. Hanya saja, sebagai seorang ayah yang sangat memanjakan putrinya, rumah megah ini rasanya selalu kehilangan separuh nyawanya jika anak perempuan mereka yang berisik itu tidak ada di rumah.

"Berarti kita makan berdua dong, Mom?" tanya Daddy Wira sambil menatap sang istri dengan raut wajah yang sengaja dibuat memelas.

Mommy Zeline tidak bisa menahan senyum gelinya melihat tingkah manja suaminya yang sangat kontras dengan pembawaannya yang tegas saat di kantor.

Daddy Wira mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa seraya menatap langit-langit ruang tengah. "Rumah berasa sepi banget kalau nggak ada Aurel di sini. Nggak ada suara cemprengnya, nggak ada yang rusuh rebutan remot TV. Sunyi bener."

"Iya, Papi Sayang. Malam ini kita berasa pacaran lagi kayak zaman muda dulu, makan berdua saja," sahut Mommy Zeline penuh kehangatan, sengaja menggoda suaminya demi mengusir rasa sepi di ruangan itu. Ia bangkit berdiri dari sofa, lalu mengulurkan tangannya ke arah Daddy Wira. "Yuk, ganti baju dulu terus kita langsung ke meja makan. Mami sudah siapkan makanan kesukaan Papi."

Daddy Wira terkekeh pelan, menyambut uluran tangan istrinya dan ikut bangkit berdiri. Meskipun rasa rindunya pada sang putri bungsu masih mengganjal, kehangatan dari istrinya berhasil membawa senyumnya kembali. Di dalam hatinya, ia hanya bisa berharap putri kesayangannya itu sedang bersenang-senang dan tidur dengan nyenyak di rumah sahabatnya.

Malam semakin larut, dan rintik sisa hujan di luar kini telah sepenuhnya berhenti, menyisakan hawa dingin yang perlahan menembus celah jendela. Di kamar atas—kamar bernuansa pastel yang memang selalu dijaga rapi khusus untuknya—Aurel sedang duduk di tepi tempat tidur. Ia baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan piama satin longgar milik Mama Olivia yang masih tersimpan di lemari.

Aurel menatap kosong ke arah jendela kaca yang berembun, memikirkan kembali putaran emosi yang melelahkan sepanjang hari ini.

Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang ritmis mendadak memecahkan keheningan. Sebelum Aurel sempat menyahut, daun pintu kayu itu sudah berayun terbuka, memunculkan sosok Bang Edward yang kini sudah berganti mengenakan kaus rumahan santai dan celana pendek.

Bang Edward melangkah masuk dengan santai, lalu bersandar pada bingkai pintu sembari menatap adiknya. "Gimana, Rel? Udah nyaman?" tanya Bang Edward dengan nada suara yang hangat. "Gue cuma mau nanya, lo ada butuh sesuatu lagi enggak? Selimut tambahan? Atau bantal lo kurang empuk?"

Aurel menoleh, lalu menggeleng pelan dengan senyuman tipis yang tulus. "Enggak ada, Bang. Semuanya udah pas banget, kok. Baju ganti dari Mama juga wangi."

"Bagus deh," sahut Bang Edward lega. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di kursi belajar dekat tempat tidur Aurel. Cowok itu menatap adiknya lekat-lekat, sisa-sisa rasa bersalah karena sempat membentaknya siang tadi rupanya masih membekas. "Mata lo... beneran udah nggak perih lagi, kan? Kalau masih agak sepet, entar gue ambilin obat tetes lagi di bawah."

"Udah enggak, Bang Edward. Udah sembuh total berkat Abang Siaga Satu yang netesin tadi," goda Aurel, mencoba mencairkan suasana dengan sifat jenakanya yang biasa.

Bang Edward seketika terkekeh renyah, lalu menjangkau kepala Aurel dan mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas. "Bisa aja lo. Ya udah, lo istirahat yang nyenyak, ya. Jangan begadang mikirin draf tugas atau... mikirin maba denim yang tadi duduk di sebelah lo."

Aurel refleks membelalakkan matanya, wajahnya mendadak terasa hangat. "Apaan sih, Bang! Siapa juga yang mikirin Reyhan!"

"Hahaha, bercanda, Rel. Ya udah, gue balik ke kamar dulu ya. Good night, Adik Kecil," pamit Bang Edward seraya bangkit berdiri, memberikan tepukan pelan di bahu Aurel sebelum melangkah keluar dan menutup pintu dengan rapat.

Setelah pintu tertutup, keheningan kembali merayap di dalam kamar. Aurel menyentuh puncak kepalanya yang baru saja diacak-acak oleh Bang Edward. Rasa hangat itu masih ada di sana, manis namun sekaligus mengiris hatinya. Ia kembali tersadar, bagi Bang Edward, perhatian luar biasa ini murni karena ia adalah seorang "Adik Kecil" yang berharga.

Tepat saat Aurel mengembuskan napas panjang untuk menenangkan dadanya yang kembali sesak, layar ponselnya yang tergeletak di atas kasur mendadak menyala terang. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari nomor yang belum disimpan masuk.[0812-xxxx-xxxx]: Udah tidur, Rel? Matanya masih perih karena polusi ganda?Aurel tertegun. Detak jantungnya mendadak bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat. Pesan itu dari Reyhan.

Aurel menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya bisa terdengar di keheningan kamar atas itu. Kalimat singkat dari Reyhan yang menanyakan kondisi matanya benar-benar sukses membuat urat tenang Aurel putus seketika.

"Aduh, ini anak spek dewa kenapa tiba-tiba perhatian, sih?!" gumam Aurel panik, wajahnya mendadak terasa panas.

Ia buru-buru mengetik balasan di kolom obrolan: Belum kok, Rey. Mata gue udah aman. Namun, sedetik kemudian ia menghapusnya lagi. Terlalu cuek nggak, ya? pikirnya bimbang.

Aurel mencoba mengetik versi lain: Belum tidur. Makasih ya buat yang tadi siang. Jari Aurel kembali ragu, lalu menekan tombol delete berulang kali. Ah, kesannya kayak gue ngarep banget!

Setelah hampir lima menit bolak-balik mengetik dan menghapus tanpa hasil, Aurel akhirnya menyerah. Sifat gengsi dan salah tingkahnya telanjur menguasai logika. Tanpa pikir panjang, ia langsung keluar dari obrolan Reyhan dan beralih membuka kontak sahabat karibnya dengan mode darurat.

Aurel: SHIRIN!!! SOS!!!

Aurel: Rin, bangun nggak lo? Tolongin gue                      secepatnya, ini masalah hidup dan                       mati! P P P P

Hanya butuh waktu beberapa detik sampai status Shirin berubah menjadi online. Maklum, sebagai sesama maba, jam sebegini biasanya baru menjadi awal waktu luang mereka setelah seharian digempur tugas kuliah.

Shirin: Astaga, Rel, kenapa lagi sih? Lo                             mules habis makan sambal.                                   cobek Tante Olivia? Atau Bang                               Edward masuk kamar lo bawa                               ular?

Aurel: Bukan, Rin! Ini lebih gawat dari                              itu! Si Reyhan... si cowok denim.                            itu barusan nge-chat gue!

Shirin: Hah? Serius?! Dia chat apa?

Aurel: Dia nanyain gue udah tidur apa                            belum, terus nanya masalah.                                  mata merah gue yang polusi.                                  ganda tadi siang. Rin, gue kudu.                            balas apa? Sumpah, gue bingung

banget sampai tangan gue.                                    gemeteran!

Di seberang sana, Shirin yang sedang rebahan di kasurnya langsung melonjak duduk sambil menahan tawa. Ia bisa membayangkan dengan sangat jelas bagaimana wajah Aurel saat ini pasti sudah semerah kepiting rebus di dalam kamar atas perumahan Bang Edward.

Shirin: Hahaha! Ya ampun, Aurel!                                       Galaknya pas di telepon siang.                                tadi ke mana, woi? Kenapa.                                    sekarang mendadak ciut pas di-                             chat manis begitu?

Aurel: Shirin, jangan ngetawain gue!                                 Buruan kasih saran template.                                  balasannya dong, keburu.                                      lumutan nih si Reyhan.                                            nungguin!

Shirin: Santai aja, Rel. Balas biasa,                                      jangan kelihatan panik.                                            Bilang aja: 'Belum tidur kok,                                    Rey. Mata gue udah aman.                                      setelah ditetesin obat tadi.                                       Makasih ya buat.                                                       bantuannya siang tadi.'                                           Nah, kirim begitu! Tetap.                                          elegan tapi sopan.

Aurel membaca saran dari Shirin berulang kali. Setelah menarik napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya, ia menyalin kalimat itu, kembali ke kolom obrolan Reyhan, lalu dengan nekat menekan tombol kirim.Sent.Aurel langsung melempar ponselnya ke atas kasur dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal, bergulat dengan debaran baru yang anehnya mulai mengikis sisa-sisa rasa sesak akibat cinta sepihaknya pada Bang Edward.

Belum sempat Aurel mengambil kembali ponsel yang baru dilemparnya ke atas kasur, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dengan cepat dari arah koridor luar. Sesaat kemudian, gagang pintu kamarnya bergerak.

Cklek.

Daun pintu berayun terbuka, memunculkan kembali sosok Bang Edward yang kini berkacak pinggang di ambang pintu. Tatapan matanya menyipit penuh selidik, menatap lekat-lekat pada Aurel yang langsung duduk tegak dengan ekspresi tegang bagai pencuri yang tertangkap basah.

"Hayo! Ketahuan, ya!" todong Bang Edward dengan suara lantang yang sengaja ditekan, membuat Aurel refleks tersentak. "Tadi bilangnya udah mau merem pas gue tanyain. Kok di WhatsApp status lo masih mondar-mandir online? Mana ketikan lo di ruang obrolan sempat maju-mundur lagi. Lo belum tidur, kan?"

Jantung Aurel rasanya hampir copot. Ia lupa kalau status WhatsApp-nya tidak diatur dalam mode tersembunyi, sehingga abangnya yang memiliki radar sekelas agen rahasia itu bisa memantau pergerakannya dengan mudah.

"E-eh... Bang Edward! Kok balik lagi?" sahut Aurel terbata-bata, buru-buru menyembunyikan ponselnya di balik bantal satin. "Ini... ini tadi gue cuma mau bales chat dari Shirin kok! Beneran, murni urusan cewek!"

"Urusan cewek atau urusan maba denim yang tadi duduk di sebelah lo?" seloroh Bang Edward sembari berjalan mendekat dan bersandar di tiang tempat tidur. Alisnya terangkat sebelah, mengintimidasi dengan gaya khasnya. "Awas ya, Rel. Kan tadi gue udah bilang, lo harus fokus kuliah dulu awal semester ini. Jangan sampai malam-malam begini malah asyik begadang demi balesin modusannya si Reyhan. Nanti matanya malah makin merah, loh."

"Ih, apaan sih, Bang Edward! Suuzon mulu kerjaannya!" gerutu Aurel dengan wajah yang kembali memerah padam akibat tebakan abangnya yang seratus persen tepat sasaran. Ia langsung menarik selimut tebalnya sampai sebatas dada. "Udah sana, Abang keluar! Gue beneran mau tidur sekarang. Hus, hus!"

Bang Edward hanya bisa terkekeh lepas melihat reaksi salah tingkah adik bungsunya yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Ia melangkah mundur menuju pintu, lalu mematikan sakelar lampu utama kamar, menyisakan pendar temaram dari lampu tidur di sudut meja.

"Iya, iya, ini gue keluar," ucap Bang Edward lembut dari kegelapan ambang pintu. "Jangan lupa berdoa, Rel. Ponselnya ditaruh, jangan dimainin lagi. Good night, Adik Kecil.

"Klik. Pintu kamar kembali ditutup rapat dari luar.

Di dalam keheningan kamar yang kini meremang, Aurel mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Sindiran Bang Edward barusan terasa ganda di hatinya—ada rasa aman karena tahu kakaknya begitu menjaganya, namun di sisi lain, bayangan tentang pesan Reyhan yang masih menanti di balik bantal kini justru mendominasi seluruh pikirannya malam ini.

Tiba-tiba

1
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!