NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Hari Kiamat / Zombie
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?

Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.

Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

*BOOM!*

Karl mendarat tepat di tengah barikade para bandit, memicu gelombang kejutan yang memukul mundur empat orang milisi bertopeng. Cakar biologis di lengan kirinya memanjang, menyapu senjata-senjata otomatis mereka dalam satu tebasan kilat hingga hancur berkeping-keping.

"Setan macam apa itu?!" teriak sang ketua bandit panik seraya menembakkan pistolnya ke arah dada Karl.

Peluru menembus kulit Karl, namun jaringan mutan di tubuhnya menutup luka tersebut dalam hitungan detik. Karl melangkah maju tanpa ekspresi, merebut leher sang ketua bandit dengan tangan manusianya, lalu menghempaskannya keras ke tumpukan kontainer besi. Koper baja berisi vaksin Genesis terlepas dan meluncur ke lantai semen.

Sementara itu di luar lorong, Mery berdiri tegak di depan Fiora, Leo, dan Maya. Meski dengan kondisi hamil tua, pergerakan Mery sangat presisi.

*BANG! BANG!*

Dua tembakan laras pendek Mery menumbangkan dua Zombie Muatan yang mencoba mendekati Fiora dari atas atap. Fiora menatap Mery dengan takjub—keberanian wanita hamil itu membakar kembali sisa-sisa kekuatan di dalam dirinya.

Dari dalam gudang, Karl keluar sambil menggenggam erat koper baja yang utuh. "Aku mendapatkannya," ujar Karl dingin seraya menyerahkan koper itu langsung ke tangan Fiora.

"Terima kasih, Karl... Mery..." bisik Fiora penuh haru, memeluk koper itu rapat-rapat ke dadanya.

Namun, raungan kolektif ratusan Zombie Muatan kembali memecah malam dari balik lorong utama. Suara tembakan dan ledakan dari kejauhan menandakan pasukan mutan makin tak terkendali.

"Jalur atas sudah dikuasai mutan," kata Mery seraya menunjuk pintu besi menuju saluran drainase bawah tanah. "Gunakan jalur bawah tanah ini. Ini mengarah langsung ke perbatasan luar kota, dekat stasiun pemancar!"

Fiora menggandeng Maya dan Leo, menatap Karl dan Mery. "Kalian tidak ikut bersama kami?"

Karl menggeleng pelan, mengusap perut Mery dengan lembut. "Kami tahu tempat perlindungan tersembunyi para penyintas di sektor ini. Bawa vaksin itu ke tempat tinggi, Fiora. Buat eksperimen Aegis ini berakhir untuk selamanya."

Fiora mengangguk mantap, memeluk Mery erat sebelum berbalik menuntun Leo dan Maya melangkah turun menembus kegelapan saluran drainase bawah tanah. Karl menyelimuti pergerakan mereka dengan merobohkan struktur pintu besi tua di atasnya, menutup rapat akses masuk dari serbuan Zombie Muatan.

Di dalam terowongan bawah tanah yang dingin dan berbau embun tanah, Fiora berjalan terpincang-pincang. Satu tangannya merangkul Maya yang kelelahan, sementara tangan satunya menggenggam erat jemari Leo serta menutupi koper baja vaksin Genesis di dalam dekapan jaketnya. Rasa nyeri di rahimnya masih terasa mengiris, namun keberadaan dua anak di sampingnya menjadi penopang utama agar ia tidak ambruk.

Langkah kaki mereka bergema pelan di sepanjang pipa-pipa beton raksasa, menjauhi kebisingan raungan mutan yang perlahan memudar di atas tanah.

 

Sementara itu, fajar perlahan menyingsing di langit Sektor Utara. Cahaya keemasan pertama menembus kabut beracun, membuat ribuan Zombie Muatan yang kehilangan daya metabolisme malam hari kembali merayap pasif dan mencari perlindungan di ceruk-ceruk gelap.

Di dalam kendaraan lapis baja yang terkunci rapat, Hayden terbangun dari kewaspadaannya. Begitu indikator waktu menunjukkan ancaman mutan mereda, ia langsung menghidupkan kembali sistem mesin taktis yang telah dingin.

"Pemindai termal kembali aktif!" seru Dr. Helena seraya memfokuskan layar monitor. "Sinyal pengacak bandit-bandit itu meredup setelah fajar. Aku menangkap frekuensi sinyal pemancar darurat dari arah perbatasan luar kota—posisi pintu keluar drainase utama!"

Tanpa mengulur waktu, Hayden memutar kemudi dan menginjak pedal gas penuh. Kendaraan taktis itu menderu keras, menerobos sisa-sisa reruntuhan dan bangkai mobil menuju titik koordinat perbatasan.

Beberapa kilometer di depan, sebuah penutup manhole besi terangkat perlahan di tepi jalan raya terisolasi. Fiora muncul pertama kali, menyapu pandangan dengan siaga sebelum membimbing Leo dan Maya keluar menghirup udara segar fajar.

Suara deru mesin berat terdengar mendekat dari balik bukit jalan. Hayden memiringkan kendaraan hingga berhenti mendadak beberapa meter di hadapan mereka. Pintu samping terhempas terbuka, dan Hayden melompat keluar dengan tatapan ketidakpercayaan yang membuncah.

"Fiora!" raung Hayden seraya berlari menerjang dan merengkuh Fiora, Leo, serta Maya ke dalam pelukannya secara bersamaan.

Fiora membenamkan wajahnya di pundak Hayden, meluapkan seluruh ketegangan malam yang panjang. Ia mengangkat koper baja vaksin Genesis ke depan dada Hayden, lalu menunjuk pelan ke arah Maya yang berdiri malu-malu di samping Leo.

"Vaksin ini utuh... dan kita punya anggota keluarga baru yang harus kita lindungi," bisik Fiora lembut.

Hayden menatap Maya, lalu beralih menatap Fiora dengan mata berkaca-kaca penuh kebanggaan dan rasa syukur. Ia mengangguk tegas, membantu mereka semua naik ke dalam kendaraan taktis tempat Dr. Helena sudah menunggu dengan perlengkapan medis siap pakai.

Dengan mesin yang kembali menderu mantap, kendaraan lapis baja itu melaju lurus menuju puncak stasiun pemancar Sektor Utara yang kini sudah terlihat di garis horison fajar.

Di dalam kabin kendaraan taktis yang melaju tenang menembus jalanan Sektor Utara, Dr. Helena bergerak cepat memberikan perawatan medis darurat. Ia memasang kembali jalur infus untuk Fiora, memeriksa kondisi fisik Leo yang kelelahan, dan memberikan pertolongan pertama pada luka-luka kecil di tubuh Maya.

Hayden tetap fokus di kursi kemudi, matanya menatap lurus ke jalan raya yang menuju stasiun pemancar. Namun, sesekali pandangannya beralih ke kaca spion tengah, mengawasi Fiora yang kini duduk bersandar dengan Maya di pangkunya.

"Kamu mengalami trauma fisik yang sangat berat, Fiora," ujar Dr. Helena seraya memeriksa tekanan darah Fiora. "Bagaimana kamu bisa bertahan menembus kepungan Zombie Muatan dan merebut kembali koper ini dari para bandit?"

Fiora mengusap lembut rambut Maya yang mulai tertidur pulas. Ia menarik napas panjang, tatapannya menerobos ke luar jendela menatap hamparan dataran tandus yang disiram cahaya fajar.

"Aku tidak melakukannya sendirian," bisik Fiora, suaranya parau namun hangat. "Di tengah neraka kota mati tadi malam... kami bertemu dengan Karl dan Mery."

Hayden menyimak dari depan tanpa memotong, membiarkan istrinya bercerita.

"Karl adalah pria yang luar biasa," lanjut Fiora. "Separuh tubuhnya adalah hasil eksperimen hibrida Aegis—jaringan mutan dan implan siberinetik. Tubuhnya penuh dengan siksaan yang diciptakan oleh orang-orang yang sama yang menghancurkan Oase. Tapi di balik wujud monsternya, ia tetap seorang manusia yang bertarung demi melindunginya keluarga."

Dr. Helena terhenyak pelan, menghentikan gerak tangannya. "Eksperimen hibrida spesimen Aegis... dia berhasil lolos?"

"Ya," Fiora mengangguk pelan. "Dan dia tidak sendirian. Istrinya, Mery, sedang hamil tua. Di saat aku merasa hancur dan kehilangan segalanya karena keguguran itu... melihat Mery berdiri tegak membawa senapan, bertaruh nyawa di samping suaminya untuk melindungi Leo, Maya, dan aku... itu mengembalikan kekuatanku."

Hayden mengepalkan tangannya di atas roda kemudi, merasakan getaran emosi dan kebanggaan yang luar biasa pada keberanian istrinya serta kepedulian pasangan asing tersebut.

"Karl bertarung seperti iblis di dalam gudang bandit hanya untuk mengambil koper vaksin ini," Fiora menepuk pelan koper baja di sampingnya. "Dia menyerahkannya padaku karena dia tahu, ini satu-satunya cara agar eksperimen kejam Aegis berakhir dan anak yang dikandung Mery punya masa depan."

"Di mana mereka sekarang?" tanya Hayden, suaranya dalam dan penuh penghormatan. "Apakah mereka butuh bantuan kita?"

"Mereka menuju tempat perlindungan tersembunyi para penyintas lokal," jawab Fiora. "Karl dan Mery memilih bertahan di Sektor Utara untuk menjaga orang-orang di sana. Tapi mereka menitipkan harapan itu pada kita."

Fiora menatap Hayden melalui kaca spion tengah, mengunci pandangan dengan suaminya.

"Karl dan Mery membuktikan kalau Aegis tidak bisa merenggut rasa kemanusiaan kita, Hayden. Hari ini, kita pastikan pengorbanan mereka, pengorbanan kita, dan calon anak kita tidak sia-sia."

Hayden mengangguk mantap. Ia meningkatkan kecepatan kendaraan taktis itu, menerjang sisa jarak menuju puncak stasiun pemancar Sektor Utara yang kian dekat di depan mata.

1
Coco
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!