"Huaaaaaa kenapa kepala suami ku hilang? "
Jeritan melengking di sebuah rumah karena ia telah kehilangan sosok suami tercinta, kapan itu terjadi diri nya sama sekali tidak tau
Kampung menjadi heboh karena mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kepala manusia bisa hilang dari tubuh nya dan tidak tau kemana.
Siapa pelaku itu?
kenapa ia mencuri kepala di setiap malam bulan purnama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Member edan
Mbeeeeeek.
Mbeeeeeek.
Kambing yang mereka bawa terus saja berteriak karena mereka seolah melihat sesuatu dan terlihat mereka juga seperti sedang keberatan, Yanto sudah panik karena sejak tadi menyimpan rasa takut dan begitu besar dan sekarang malah hewan peliharaan mereka bertingkah seperti ini sehingga membuat mereka berdua menjadi semakin kebingungan untuk menenangkan kambing itu.
Tidak peduli walau Yanto telah berusaha sekuat tenaga untuk memegangi tali itu namun tetap saja mereka semua tidak mau diam, Pak Seno menatap ke sana kemari untuk memastikan bahwa kawasan ini memang aman dan tidak ada gangguan yang akan datang kepada diri mereka berdua, sebab melihat respon hewan ini saja sudah sangat ketakutan sekali.
Kambing itu bisa melihat sendiri keberadaan Maharani dan juga Nana yang sedang sangat girang duduk di atas punggung kambing tersebut, seolah mendapat mainan yang begitu seru sekali sehingga membuat mereka semua tertawa dan tentu saja kambing yang mendengar tawa itu semakin merasa ketakutan.
Yanto sampai merasakan tangan ini begitu perih akibat tali yang dia tarik ke sana kemari karena kambing yang memberontak itu, bila dia sampai melepaskan tali tersebut maka yang ada para kambing akan lari dan kemudian mereka tidak jadi menjual kambing itu ke tempat juragan yang jauh lebih besar lagi di desa mereka.
Pak Seno juga kebingungan karena dia tidak tahu dan tidak memiliki tenaga yang cukup besar untuk melakukan penangkapan pada kambing tersebut, andai saja bisa dia menangkap maka pasti sudah dia tahan sejak tadi dan ini malah Yanto yang harus bertahan memegang dua kambing tersebut dengan perasaan campur aduk tidak karuan.
Dua jenis rasa takut yang ada di dalam diri karena dia takut kambing itu lepas dan tidak mendapat uang dan juga takut bila nanti para setan itu akan muncul di depan mereka berdua, suara kambing tersebut sangat berisik sekali sehingga siapa saja yang mendengar maka akan penasaran dan datang untuk mendekat.
''Aku tidak kuat menahan mereka lagi, Yan!'' teriak Pak Seno.
''Aduuuh ya jangan kasih aku semua seperti ini karena aku juga tidak kuat lho menahan mereka.'' Yanto panik bukan main.
''Kenapa ini kok mereka semua pada ketakutan dan terus mau kabur?'' tanya Pak Seno dengan penuh kebingungan.
''Aku akan mengikat mereka pada pohon kelapa itu saja terlebih dahulu.'' Yanto berusaha keras untuk mendekati pohon kelapa itu dan mengikat tali kambing.
''Ran, sepertinya kambing ini tidak suka kalau kita naik di atas mereka.'' Nana menatap Maharani.
''Kenapa bisa mereka tidak suka kita duduk di atas? kan kita juga tidak duduk sepenuhnya, hanya tinggal jalan terus dan sampai nanti di tempat juragan kambing.'' Maharani berkata dengan nada bingung.
''Udah turun aja lah daripada nanti kita kena marah sama Arya.'' Nana takut bila nanti justru terjadi masalah.
''Iiih padahal naik kambing juga sangat enak sekali.'' Maharani segera turun dari atas punggung kambing itu.
Nana sudah turun duluan karena dia cemas bila nanti kambing ini bertingkah dan kedua manusia ini malah mendapat celaka sehingga nanti Arya mendengar dan mereka akan terkena marah, sekarang mereka berdua agak ngeri kalau berhadapan langsung dengan Arya karena duda itu sudah berubah sangat jauh sekali sehingga tidak bisa kalau untuk diajak bercanda.
''Aaaaah untung mereka sekarang sudah tenang!'' Yanto merasa sangat lega.
''Ya allah, mau jual kambing saja kok ada cobaan yang datang menghampiri kita.'' Pak Seno duduk di atas tanah untuk istirahat sesaat.
''Gila, kita itu mau menjaga mereka tapi ini malah membuat mereka takut ternyata.'' Maharani menoleh kepada Nana.
''Ya kan tadi aku sudah bilang tapi kau saja yang ngeyel untuk naik kambing itu.'' kesal Nana.
''Orang Aku penasaran rasa naik kambing itu bagaimana sehingga aku mengajak kau naik di sana, ternyata malah kambing ini takut dengan kita.'' Maharani tersenyum malu sambil menatap sekitar.
''Ayo kita bergerak sekarang saja lagi Pakde, takut nanti malah terlalu malam.'' Yanto segera mengajak Pak Seno untuk kembali berjalan.
''Aduuh ya allah, semoga saja laku agak mahal kambing malam ini.'' Pak Seno agak pincang berjalan karena memang dia sedang dalam kondisi tidak sehat.
Maharani dan Nana saling lirik satu sama lain karena mereka menyadari bahwa telah mengerjai orang yang salah, walau di dalam hati tidak ada niat juga untuk mengerjai mereka namun tetap saja ada rasa cemas bila nanti Arya sampai tahu dan mereka pasti akan kena Amuk oleh pangeran ular itu, disuruh menjaga tapi malah naik ke atas punggung kambing.
Wuussssh.
Mendadak saja Maharani terbang tinggi di udara karena tadi dia melihat kelebat bayangan yang tidak biasa dan kemungkinan itu adalah iblis tanpa kepala, Nana yang melihatnya hal itu tentu saja menjadi bingung karena dia tidak mungkin meninggalkan dua orang ini karena nanti justru akan mendapat masalah dan kemungkinan itu hanya pancingan saja.
''Ah biar burung hantu sajalah yang mengejar bayangan itu.'' putus Nana akhirnya.
Sebab bila dia sampai mengejar orang itu lagi maka yang ada kedua orang ini yang akan sendirian dan kemungkinan nanti akan celaka, lebih baik kucing hitam ini berjalan di belakang Yanto dan Pak Seno untuk menuju rumah juragan kambing yang ada di ujung desa.
''Aku sudah berjalan agak jauh ini dan jadi tidak usah terlalu memperhatikan aku lah.'' Nana berkata sendirian karena sejak tadi Yanto terus menoleh.
''Kau lihat apa ke belakang?'' Pak Seno
bertanya kepada Yanto.
''Enggak, cuma memastikan saja kalau kita aman dan baik-baik saja.'' Yanto tersenyum kecil.
''Padahal biasanya kita keliling Desa tanpa ada rasa takut namun sekarang mau keluar begini saja harus mempertaruhkan nyawa.'' Pak Seno berkata pelan.
''Ah tenang saja karena aku akan melindungi kalian berdua sehingga nyawa kalian itu pasti akan Aman kok.'' Nana yang menjawab meski tidak bisa di dengar oleh Pak Seno dan Yanto.
''Nanti kalau sudah dapat uang dari juragan maka aku akan memberi kau uang!'' janji Pak Seno kepada sang keponakan.
''Yang penting untuk Pakde berobat saja dulu Karena aku masih bisa mencari dari tempat lain.'' Yanto menolak karena dia Kasihan juga.
''Eh kalau di kasih itu di ambil kok malah menolak kau ini.'' Nana mencowel kuping Yanto.
Tentu saja pria ini menjadi tambah kaget tidak karuan karena dia merasakan sendiri bagaimana tadi ada yang menyentuh telinga dia pada bagian belakang, namun ketika dia menoleh sama sekali tidak ada orang dan hanya kegelapan malam saja yang bisa mereka lihat saat ini.
Selamat siang besti, othor tak nyari kopi dulu ya syaaaaang.