Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Keputusan yang Sulit
Suasana di ruang kerja kediaman Adhyaksa terasa hening dan berat. Di atas meja terhampar berkas-berkas penting yang baru saja dikirimkan pengacara keluarga. Argan duduk tegak di kursi kerjanya, kedua tangannya bertaut di depan bibir, menatap baris demi baris tulisan itu dengan dahi yang berkerut dalam. Di sebelahnya, Aruna berdiri diam, menunggu suaminya berbicara dengan hati yang sudah terasa gelisah.
Setelah beberapa saat keheningan, Argan menghela napas panjang, lalu mendongak menatap istrinya dengan tatapan yang penuh pergulatan batin.
“Aisyah mengajukan permohonan untuk kembali bertemu Arka,” ucapnya pelan, namun setiap kata itu terdengar begitu berat. “Ia bilang menyesali semua perbuatannya, dan merasa kesepian. Ia meminta hak untuk berkunjung, untuk sekadar melihat keponakannya tumbuh besar.”
Aruna terdiam, dadanya sesak mendengarnya. Ia tahu betul betapa rindunya ia pada kakaknya—darah dagingnya sendiri, yang dulu pernah menyayanginya sebelum rasa iri dan ambisi menguasai hati Aisyah. Namun ia juga tahu betul betapa berbahayanya membiarkan Arka berada di dekat seseorang yang masih menyimpan dendam dan kekecewaan mendalam.
“Saya... saya ingin percaya bahwa kakak saya sudah berubah,” ucap Aruna dengan suara bergetar. “Tapi saya takut, Argan. Saya takut ia datang bukan dengan kasih sayang, melainkan dengan niat lain. Arka adalah bagian paling berharga bagi kita. Jika sesuatu terjadi padanya... saya takkan sanggup memaafkan diri sendiri.”
Argan bangkit berdiri, melangkah mendekat dan merangkul bahu istrinya perlahan. “Aku pun bimbang, Aruna. Di satu sisi, ia adalah saudara kandungmu, dan Arka berhak mengenal keluarganya. Di sisi lain, aku tak akan pernah membiarkan siapa pun melukai putra kita. Keputusan ini bukan hanya tentang benar atau salah. Ini tentang keamanan dan ketenangan hati keluarga kita.”
Mereka memutuskan untuk tidak memutuskan dengan terburu-buru. Malam itu, mereka duduk berdua di beranda hingga larut, berdiskusi dengan jujur tanpa menyembunyikan ketakutan maupun harapan masing-masing. Argan bercerita bahwa ia ingin memberi kesempatan, karena ia sendiri pernah diberi kesempatan untuk berubah dan menjadi lebih baik. Namun ia juga tak akan menutup mata terhadap kemungkinan terburuk.
Pagi berikutnya, Argan menemui pengacara untuk menyusun syarat-syarat yang ketat. Jika Aisyah ingin bertemu Arka, pertemuan itu harus selalu dalam pengawasan Argan maupun Aruna, di tempat umum yang aman, dan tidak boleh ada pembicaraan yang menakuti atau memengaruhi pikiran anak itu. Jika ia melanggar satu pun syarat, hak itu akan dicabut sepenuhnya.
Sebelum menyampaikan keputusan itu kepada Arka, Argan dan Aruna duduk berdua di tepi tempat tidur putra mereka yang sedang bermain balok kayu. Mereka harus menjelaskan hal ini dengan cara yang anak itu pahami, tanpa menanamkan kebencian, namun tetap mengajarkan kewaspadaan.
“Arka,” panggil Argan lembut sambil menatap mata putranya yang jernih. “Ada Bibi yang ingin bertemu denganmu. Bibi itu adalah kakak Ibu, jadi ia bibimu sendiri. Tapi Bibi itu pernah melakukan kesalahan besar pada Ayah dan Ibu. Jadi kalau nanti Bibi datang, Ayah dan Ibu akan selalu ada di dekat kita, ya?”
Arka berhenti bermain, menatap kedua orang tuanya bergantian. “Apakah Bibi itu jahat?”
“Bukan jahat,” jawab Aruna pelan, hatinya terasa perih. “Tapi hatinya sedang tidak baik-baik saja. Jadi kita harus berhati-hati, dan selalu bersama Ayah atau Ibu saat bertemu Bibi. Boleh?”
Arka mengangguk mantap. “Arka paham, Bu. Arka akan tetap sopan pada Bibi, seperti yang Ayah dan Ibu ajarkan. Tapi Arka juga akan mendengarkan kata Ayah dan Ibu.”
Saat Argan menyampaikan keputusan itu kepada Aisyah melalui perantara pengacara, jawaban itu datang dengan cepat: ia menerima semua syarat tersebut. Hari pertemuan pertama pun ditentukan.
Hari itu tiba. Di sebuah kafe yang tenang dan terang, Argan dan Aruna duduk di sisi Arka, sementara Aisyah duduk di hadapan mereka. Penampilannya berubah—lebih pucat, lebih kurus, dan tatapan matanya tak lagi tajam seperti dulu. Saat matanya bertemu dengan wajah Arka, ada kilatan rindu yang tulus, namun di balik itu masih tersembunyi sesuatu yang belum bisa mereka percayai sepenuhnya.
Pertemuan itu berlangsung tanpa insiden. Aisyah bersikap sopan, bertanya hal-hal sederhana tentang sekolah dan hobi Arka. Namun Argan dan Aruna tak pernah menurunkan kewaspadaan. Mereka tahu keputusan ini berisiko. Namun mereka juga tahu, bahwa menutup diri sepenuhnya bukanlah jalan yang benar. Mereka memilih memberi kesempatan, namun tetap menjaga batas yang teguh.
Saat pulang, Arka bertanya polos: “Ayah, kenapa Bibi terlihat sedih sekali?”
Argan mengusap kepala putranya pelan. “Karena ia kehilangan banyak hal berharga karena kesalahannya sendiri, Nak. Kesedihan itu adalah akibat dari pilihan yang diambilnya. Dan itu sebabnya kita harus selalu berhati-hati dalam memilih, agar tak menyesal di kemudian hari.”
Keputusan itu memang sulit, dan beban itu belum tentu hilang. Namun mereka memilih untuk melangkah dengan hati yang penuh kasih, namun tetap dengan mata yang terbuka lebar. Karena melindungi keluarga bukan berarti menutup hati dari kebaikan, melainkan tahu persis di mana harus berhenti dan menarik garis batas.
Lanjut ke Bab 34: Kembali Mengajar? 📖,