Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Kevin buru-buru mengusap air mata di pipinya menggunakan lengan jaket mahalnya.
Wajah angkuh pemuda itu kini terlihat sangat berantakan dan dipenuhi rasa malu yang luar biasa.
"Matikan kameranya sekarang juga!" teriak Kevin kepada kameramen kurusnya dengan suara bergetar.
Kameramen itu langsung mematikan siaran langsung di ponselnya dengan tangan gemetar ketakutan.
Kevin menatap ke arah Rizky dengan tatapan kesal bercampur bingung.
Dia masih tidak mengerti kenapa mulutnya tiba-tiba membantah semua isi kepalanya sendiri beberapa saat yang lalu.
"Siska, kemasi semua peralatan fotografimu sekarang juga!" perintah Kevin dengan nada membentak.
"Kita tinggalkan tempat sialan ini detik ini juga."
Namun, Siska sama sekali tidak beranjak dari posisinya berdiri di pinggir kolam.
Gadis berambut sebahu itu justru sedang asyik memeriksa hasil jepretan foto di layar kameranya.
"Maaf Kak Kevin, tapi aku tidak mau ikut pulang denganmu," jawab Siska dengan nada tenang dan tegas.
Mata Kevin melotot tajam mendengar bantahan dari asisten bawahannya tersebut.
"Apa maksudmu tidak mau pulang, hah?" bentak Kevin sambil melangkah mendekati Siska.
"Kamu mau aku potong gajimu bulan ini?"
Siska mendongakkan kepalanya dan menatap lurus ke arah mata bosnya yang arogan itu.
"Potong saja semuanya, karena mulai hari ini aku berhenti bekerja untukmu," ucap Siska tanpa ragu sedikit pun.
"Aku sudah muak bekerja dengan orang yang selalu memaksa untuk membuat konten kebohongan demi menipu penonton."
Rizky yang masih berdiri di dekat mereka sedikit terkejut mendengar keberanian gadis tersebut.
Dia menyilangkan lengannya di dada dan menonton pertengkaran kecil itu dengan senyum tipis.
"Berani sekali kamu melawanku!" teriak Kevin yang gengsinya semakin hancur berantakan hari ini.
"Lihat saja nanti, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan pekerjaan fotografer di kota ini lagi!"
Tanpa menunggu balasan dari Siska, Kevin langsung berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan area air terjun.
Kameramen kurus itu berlari terbirit-birit mengikuti bosnya dari belakang sambil membawa tongkat penyangga ponsel.
Brak.
Suara pintu mobil yang ditutup dengan sangat kasar terdengar menggema hingga ke dalam area wisata.
Brummm. Cittt.
Mobil sedan merah itu melaju kencang meninggalkan gerbang Gunung Sumber Abadi dengan membawa amarah pemiliknya.
Kini hanya tersisa Rizky dan Siska yang berdiri berdua di dekat kolam Air Terjun Pelangi.
Suasana kembali menjadi sangat tenang, hanya terdengar suara deburan air yang menenangkan hati.
"Kamu yakin dengan keputusanmu barusan?" tanya Rizky memecah keheningan di antara mereka berdua.
Siska menoleh dan tersenyum tipis ke arah pemuda pemilik tempat wisata tersebut.
"Sangat yakin," jawab Siska sambil menghela napas lega.
"Lagipula, sebagai seorang fotografer sejati, aku tidak mungkin bisa meninggalkan tempat dengan pemandangan sebagus ini."
Gadis itu kembali mengangkat kameranya dan mengambil beberapa sudut foto baru dari arah jatuhnya air.
"Air terjun ini benar-benar tidak masuk akal," gumam Siska dengan mata berbinar kagum.
"Cahaya pelanginya terlihat sangat nyata dan alami, bukan dari pantulan lampu sorot murahan."
"Dan udaranya... kenapa udaranya bisa terasa sangat menyegarkan seperti ini?"
Rizky berjalan mendekati pinggir kolam dan meraup sedikit air menggunakan telapak tangannya.
"Kamu belum merasakan hal yang paling menakjubkan dari tempat ini," ucap Rizky sambil menunjuk ke arah air di tangannya.
"Cobalah minum sedikit air kolam ini, Siska."
Siska menatap Rizky dengan kerutan di dahinya yang menandakan keraguan.
"Meminum air mentah langsung dari kolam alam?" tanya Siska memastikan.
"Apakah itu aman untuk perutku?"
"Aku berani menjamin seratus persen keamanannya," jawab Rizky dengan nada meyakinkan.
Karena rasa penasaran yang tinggi, Siska akhirnya berjongkok di tepi kolam dan menangkupkan kedua tangannya.
Dia mengambil air jernih itu dan meminumnya secara perlahan.
Gluk gluk.
Mata Siska langsung melebar sempurna saat air dingin itu melewati tenggorokannya.
Rasa lelah di kakinya akibat berdiri seharian membawa tas kamera yang berat mendadak lenyap tanpa sisa.
Pikirannya menjadi sangat jernih dan tubuhnya terasa ringan layaknya kapas yang tertiup angin.
"Astaga, air apa ini?" seru Siska sambil berdiri dengan cepat.
"Rasanya tubuhku kembali segar seperti baru bangun dari tidur yang sangat nyenyak!"
"Itulah keajaiban utama dari Gunung Sumber Abadi," jawab Rizky dengan bangga.
"Air Terjun Pelangi ini tidak hanya indah dipandang, tapi juga memiliki khasiat kebugaran bagi siapa pun yang meminumnya."
Siska menatap pemuda di hadapannya itu dengan pandangan yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Tempat ini ternyata menyimpan harta karun luar biasa yang belum diketahui oleh dunia luar.
"Karena kamu kebetulan sedang mencari pekerjaan baru, bagaimana kalau kamu bekerja untukku?" tawar Rizky secara tiba-tiba.
"Bekerja untukmu?" ulang Siska dengan wajah terkejut.
Rizky mengangguk dan menunjuk ke arah papan nama di dadanya sendiri secara imajiner.
"Aku butuh seseorang yang ahli menangani media sosial dan mengambil foto-foto promosi berkualitas tinggi," jelas Rizky.
"Tempat ini akan segera meledak menjadi sangat ramai, dan aku tidak mungkin bisa mengurus semuanya sendirian."
Siska terdiam sejenak untuk menimbang-nimbang tawaran mendadak tersebut.
Bekerja di kawasan pegunungan yang sejuk dengan pemandangan air terjun magis setiap hari terdengar seperti pekerjaan impiannya.
"Lalu bagaimana dengan gajinya?" tanya Siska mencoba memastikan sisi profesionalitas.
"Aku akan memberimu gaji lima juta rupiah per bulan sebagai permulaan," jawab Rizky tanpa ragu.
"Dan tentu saja, kamu bebas meminum air kebugaran ini sepuasmu setiap harinya."
Senyum lebar langsung merekah di wajah cantik gadis berambut sebahu tersebut.
"Itu kesepakatan yang sangat bagus bos Rizky," jawab Siska sambil mengulurkan tangan kanannya.
Rizky menyambut jabatan tangan itu dengan senyum yang tidak kalah lebarnya.
"Selamat bergabung di keluarga Gunung Sumber Abadi, Siska."
Ding!
[Pemberitahuan Sistem!]
[Kandidat staf potensial berhasil direkrut.]
[Profil Staf: Siska Maharani.]
[Keahlian: Fotografi Tingkat Lanjut, Manajemen Media Sosial, Loyalitas Tinggi.]
[Host disarankan untuk memberikan fasilitas tempat tinggal yang layak agar loyalitas staf tetap terjaga.]
Rizky membaca notifikasi sistem itu di dalam pikirannya sambil melepaskan jabatan tangannya.
Sistem ini ternyata sangat canggih hingga bisa membaca bakat dan loyalitas seseorang secara rinci.
"Kalau begitu, tugas pertamamu adalah mengurus akun media sosial resmi kita," perintah Rizky.
"Gunakan foto-foto terbaikmu untuk memancing lebih banyak orang datang hari ini."
Siska langsung mengangguk bersemangat dan mengeluarkan ponsel pintarnya untuk mulai bekerja.
Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar suara deru mesin sepeda motor dari arah gerbang depan.
Brummm brummm.
Dua buah sepeda motor matic berhenti di depan loket karcis membawa empat orang remaja berseragam SMA.
Mereka semua terlihat sangat penasaran dan terus menoleh ke arah dalam kawasan wisata.
"Permisi Bang, apa benar ini tempat wisata yang lagi viral di siaran langsungnya Kak Kevin tadi?" tanya salah satu remaja berambut ikal.
Rizky berjalan kembali ke loketnya dengan langkah ringan dan penuh percaya diri.
"Benar sekali, ini adalah Gunung Sumber Abadi," sapa Rizky dengan ramah.
"Air Terjun Pelanginya ada di dalam, harga tiket masuknya lima puluh ribu rupiah per orang."
Remaja-remaja itu sempat saling bertukar pandang saat mendengar harga tiket yang cukup mahal untuk ukuran kantong pelajar.
"Tapi di video tadi Kak Kevin sampai nangis-nangis karena bagus banget," bisik remaja lainnya.
"Ayo kita patungan saja, aku penasaran banget sama warna airnya."
Akhirnya mereka berempat mengumpulkan uang jajan mereka dan menyerahkan empat lembar pecahan lima puluh ribu kepada Rizky.
Srekk.
"Ini tiket masuknya, silakan nikmati keajaiban alam kami," ucap Rizky sambil menyerahkan karcis cetakan lama yang masih tersisa.
Keempat remaja itu langsung berlari kegirangan memasuki gerbang menuju arah suara air terjun.
Ding!
[Pemberitahuan Sistem!]
[Misi Harian: Tarik minimal lima pengunjung umum berbayar telah berhasil diselesaikan!]
[Menyerahkan Hadiah Keberhasilan kepada Host...]
[Host mendapatkan 100 Poin Wisata.]
[Saldo Poin Wisata Host saat ini adalah 110 Poin.]
Rizky mengepalkan tangannya ke udara untuk merayakan kemenangan kecilnya hari ini.
Sistem benar, memancing kontroversi memang jalan tercepat untuk mendatangkan rasa penasaran massa.
Namun, di tempat lain yang berjarak belasan kilometer dari sana, seseorang sedang mengamuk sejadi-jadinya.
Prang!
Sebuah asbak kaca tebal hancur berkeping-keping karena dilempar dengan keras ke dinding tembok.
Juragan Darma berdiri dengan wajah merah padam di dalam ruang tamu rumah mewahnya yang berada di pusat balai desa.
Napas pria paruh baya bertubuh tambun itu terdengar memburu karena menahan amarah yang meledak-ledak.
Di hadapannya, si preman plontos bernama Bagas berdiri menunduk ketakutan bersama beberapa anak buahnya.
"Goblok kalian semua!" teriak Juragan Darma dengan urat leher yang menonjol keluar.
"Kalian bilang tidak akan ada orang waras yang berani naik ke gunung itu hari ini."
"Lalu video apa yang sedang viral di seluruh grup pesan warga desa ini hah!"
Juragan Darma melempar ponselnya ke atas meja kayu dengan kasar.
Layar ponsel itu sedang memutar rekaman ulang dari siaran langsung Kevin yang menangis memuji Air Terjun Pelangi.
Video itu rupanya telah direkam layar oleh para penonton dan dibagikan secara masif ke berbagai jejaring sosial lokal.
Bagas menelan ludahnya dengan susah payah sebelum berani angkat bicara.
"Maafkan kami Bos, tapi anak kota itu sepertinya memakai ilmu hitam untuk menarik pengunjung," alasan Bagas dengan suara bergetar.
"Air terjun itu sebelumnya tidak pernah ada, tebing itu kering kerontang sejak zaman dulu."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi Bagas hingga preman garang itu terhuyung ke belakang.
"Jangan bawa-bawa takhayul ke dalam urusan bisnisku!" bentak Juragan Darma dengan mata melotot.
"Tanah gunung itu harus menjadi milikku minggu ini juga."
"Ada investor besar dari ibukota yang bersedia membeli kawasan itu dengan harga lima kali lipat lebih tinggi dari hutang kakeknya."
Bagas mengusap pipinya yang memanas dan kembali menundukkan pandangannya.
"Lalu apa yang harus kami lakukan sekarang Bos?" tanya Bagas dengan hati-hati.
Juragan Darma berjalan mondar-mandir di ruang tamunya sambil mengelus dagunya yang berlipat.
Otak liciknya sedang menyusun sebuah rencana kotor untuk menghentikan kebangkitan Gunung Sumber Abadi.
"Jika dia bisa menarik pengunjung, maka kita hanya perlu memastikan pengunjung itu tidak pernah sampai ke gerbangnya," ucap Juragan Darma dengan senyum mengerikan.
"Bagas, kumpulkan sepuluh orang anak buahmu sore ini juga."
"Tebang dua pohon mahoni besar di pertigaan jalan tanjakan menuju gunung itu."
Mata Bagas langsung berbinar memahami rencana jahat bos besarnya tersebut.
"Blokir jalan utamanya secara total agar tidak ada satu pun kendaraan yang bisa naik atau turun," lanjut Juragan Darma.
"Jika ada warga atau pengunjung yang memaksa lewat, pukuli mereka sampai cacat agar menjadi peringatan bagi yang lain."
"Baik Bos, kami akan segera melaksanakannya tanpa gagal kali ini!" seru Bagas dengan penuh semangat.
Dendamnya karena dipermalukan oleh hembusan angin magis kemarin masih membekas di dadanya.
Juragan Darma kembali mengambil ponselnya dan menatap rekaman video air terjun pelangi itu dengan tatapan serakah.
"Nikmati kemenangan kecilmu hari ini anak muda," gumam Juragan Darma sambil tertawa sinis.
"Besok pagi, tempat wisata kebanggaanmu itu akan kembali menjadi kuburan mati yang terisolasi dari dunia luar."