Berawal dari bertemu kembali dengan anak majikan ibunya yang telah menikah-Alika, Maya yang sudah menjadi tukang jamu akhirnya terpaksa bekerja di rumah Alika sebagai pembantu.
Tanpa ia tidak tahu, pernikahan majikannya ini penuh dengan pertengkaran. Itu semua karena Alika sangat cemburuan. Bahkan sering terjadi, namanya disebut-sebut sebagai bahan pertengkaran. Sebagai puncaknya, Alika meminta Raka menikahi Maya demi agar bisa terus mengontrol suaminya. Tentu saja ide itu ditentang keras oleh Raka.
Maya yang terjepit di antara dua majikannya, tentu saja bimbang. Haruskah ia terus mengamini permintaan Alika, atau menentangnya demi kedamaian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Ditentang
Pria tampan itu menghela napas. "Kalau kamu tak mau bicara, biar aku yang akan bicara!"
Mendengar ketegasan Raka membuat hati Maya semakin gundah. Ia tahu pria ini bukan tipe yang sabar. Kalau diperhatikan lebih jauh, memang Alika dan suaminya memang sangat mirip. Sama-sama tidak bisa mengendalikan diri saat marah hingga keduanya sering bertengkar karena keduanya sama-sama keras. "Eh, biar ... Aku akan coba bicara dengannya." Maya tak ingin pesta itu berantakan gara-gara dokter ini mengamuk di sana.
Keduanya turun. Tenda yang cukup panjang menyebabkan keduanya berjalan cukup jauh melewati keramaian tamu-tamu yang duduk di kursi, yang diletakkan sepanjang tenda. Sebagian terkejut karena mereka tetangga yang tentunya mengenal siapa Maya, tapi tak berani menyapa. Tentu saja, karena keduanya mendatangi pesta mantan suami Maya. Hanya saja, mereka menduga-duga siapa pria yang datang bersamanya saat ini.
Baru saja Maya sampai di depan pagar, sang mantan mertua melihatnya, hingga bergegas menyambut wanita ini di luar rumah. Sang mantan suami kebetulan melihat juga tapi tak bisa keluar karena sedang bersama tamu lain dan istri barunya. Ia hanya melihat dari jauh dan berharap tak ada keributan, walau ia menangkap sosok seorang pria yang datang bersama mantan istrinya itu.
"Ada apa kamu ke sini, hah? Mau pamer pacar baru?" ledek sang mantan mertua karena melihat Maya yang memang datang bersama Raka. Ia tentu saja sedikit iri melihat Maya yang bisa mendapatkan pria pengganti yang terlihat lebih tampan dan lebih kaya dari anaknya. "Rasanya kami tak mengundangmu?" ujarnya sinis.
"Eh, ibu maaf. Boleh aku masuk dan bertemu dengan Mas Indra?" Walaupun muak bertemu wanita ini, Maya berusaha bersikap sopan.
"Tidak perlu! Ada apa? Katakan saja di sini," titah mantan ibu mertuanya dengan alis meninggi. Ia langsung bertelak pinggang karena yakin Maya pasti datang bukan untuk memberi selamat.
Tamu-tamu mulai berbisik di sekitar. Maya merasa tidak nyaman. "Maaf ibu, apa kita tidak bisa bicara di tempat lain saja?"
Wanita paruh baya berkebaya pendek itu melihat sekeliling dari sudut matanya. "Apa kamu pikir ada tempat untuk kita duduk hanya berdua saja, hah? Lagipula aku tidak ingin menghabiskan waktu untuk bicara denganmu. Paham!?" Matanya membulat seiring ia bicara dengan wanita mantan menantunya itu. "Ya sudah, katakan saja. Atau kau pergi dari sini secepatnya!"
Dari mulutnya terlihat jelas, wanita ini tak mau lama-lama bicara dengan Maya. Raka bisa melihatnya dengan jelas, tapi pria itu tetap menunggu sekretarisnya itu bicara dengan mantan mertuanya itu.
"Ibu," sahut Maya pelan. "Aku hamil, Bu. Dengan Mas Indra." Ia berharap bisa mencairkan hati mantan mertuanya itu.
Wanita paruh baya yang berdiri di depannya, hanya menunjukkan sedikit keterkejutan setelah memperhatikan tubuh Maya terutama perutnya yang mulai terlihat menggembung. Ia tampak tak peduli. "Bukankah kau sudah pergi dari rumah ini? Apa yang kau perbuat di luar sana, mana aku tahu. Bahkan anak siapa yang sedang kamu kandung pun aku tidak tahu."
"Astagfirullah alazim. Ya Allah, Ibu. Demi Tu—"
"Jangan berharap aku percaya padamu!" potong wanita bersanggul tinggi itu, cepat. "Kau pasti hanya bermaksud agar bisa mengacaukan pesta pernikahan anakku saja, iya 'kan? Lupakan saja, karena anakku sudah bahagia bersanding bersama wanita lain. Apa pun yang kamu lakukan, aku tidak akan mengakui punya cucu dari seorang anak pembantu seperti kamu ini, mengerti?!" sindirnya dengan sinis dan mendorong bahu Maya ke belakang dengan kasar.
Pandangan kedua bola mata Maya terlihat nanar menatap ke arah mantan mertuanya itu. Ia bukan tidak tahu, tapi kenapa wanita ini tega menyebutnya begitu di depan para tamu undangan yang ramai saat ini. Dengan gemetar tangannya terangkat. "Ibu ...."
Raka dengan cepat meraih pergelangan tangan Maya. "Sudah cukup penghinaan ini. Kita pergi."
Sebelum sempat wanita muda itu menjawab, sang pria membawanya kembali ke arah mobilnya. Maya terdiam. Diikutinya langkah pria itu sambil menahan pedih di dada. Kenapa menjadi seorang anak pembantu ia harus merasa terhina? Apa ia harus menerima kasta yang dibuat manusia? Sebab sejauh ini, ia belum pernah melakukan hal yang hina di mata manusia bahkan Tuhannya.
Raka memasukkan Maya ke dalam mobil. Ia kemudian menyusul di sebelah dan kemudian memundurkan mobil lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, seorang saudara membisikkan kejadian di depan rumah itu pada Indra, si pemilik rumah dengan berbisik. Pengantin pria itu terkejut mendengarnya. Ia menatap ke arah pintu luar, tapi tak berdaya. Apalagi sang istri barunya menatap pria itu dengan curiga.
Di suatu tempat, Raka kembali menepikan mobilnya. Dilihatnya Maya kembali banjir air mata. Ia merasa bersalah hingga menjenggut rambutnya sendiri karena kesal. "Hih!" Ia ingin berteriak tapi tak bisa. Bagaimana cara menyelesaikan masalah ini, kenapa begitu rumit?
Pelan-pelan ia berpikir dan berusaha melihat alternatif yang ada. Ia coba berandai-andai. Setelah itu ia mulai buka suara dengan berdehem sebentar. Maya yang tersadar segera menghapus air matanya yang terlanjur membasahi pipi dengan pelan.
"Bagaimana kalau kita menikah saja?"
"Hah?" Wanita itu memutar wajahnya dengan masih mencoba membersihkan air mata di sekitar kelopak matanya. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Raka melamarnya? "Tapi bukannya Bapak tidak ingin menikah denganku? Bapak jangan membuat aku bingung, karena aku sudah memutuskan untuk hidup sendiri."
"Kau tidak ingin menikah denganku?"
Pertanyaan langsung pria itu makin membuat Maya tak mengerti maksud tawarannya itu. Apa pria ini tiba-tiba berubah pikiran? Kenapa nada suaranya seketika ramah? Maya menatap pria di hadapannya. "Apa maksud Bapak?"
"Jujur padaku, apa kau tidak ingin menikah denganku?"
"Tidak," jawab Maya cepat.
Pria itu tercengang, tak menyangka Maya menolaknya tanpa berpikir panjang. "Kenapa?"
"Aku hanya ingin membesarkan anakku seorang sendiri saja. Kalau aku menikah lagi, orang lain belum tentu bisa menyayangi anakku. Aku masih bisa bekerja mencari nafkah dan aku masih muda. Kalau keluargamu dan Alika masih berkeras memaksamu menikah, cari saja orang lain. Aku bisa keluar dari rumah itu dan mencari pekerjaan lain di luar sana."
Jawaban sang wanita mengejutkan Raka. Ia tak menyangka Maya tak tertarik dengannya yang cukup kaya raya dengan wajah rupawan. Belum pernah ada wanita yang menolaknya sejauh ini. Yang ada adalah deretan wanita yang pernah ia tolak, dan kini ia melihat Maya dengan cara berbeda. "Mmh, bagaimana kalau kita menikah saja?" Ia mencoba membujuknya walau ia masih setengah tak percaya wanita ini baru saja menolaknya.
"Kenapa? Kalau Bapak takut, nanti biar aku yang bicara dengan orang tua Bapak. Aku percaya, kalau orang tua Bapak setuju, Alika juga pasti setuju." Maya merasa orang tua Raka lebih ramah dibanding mantan mertuanya barusan hingga yakin berbicara seperti itu.
Ia juga merasa bersyukur, pria itu telah menyelamatkan wajahnya dari puluhan pasang mata yang melihatnya dihina mantan mertuanya sendiri di depan rumah itu tadi. Bila saat itu ia berkeras pergi sendiri, entah apa yang akan terjadi dengannya, ia sendiri pasti akan dipermalukan habis-habisan oleh mantan mertuanya itu di sana.
Sebenarnya Raka tidak setuju dengan ide Maya. Melihat wanita ini tak tertarik dengannya, ia jadi ingin membuat sebuah kesepakatan.
Bersambung ...