Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Suara jeritan dan teriakan frustrasi Alena perlahan melenyap di balik lorong-lorong 'Velvet Noir'. Lucifer membawa wanita muda itu semakin menjauh, hingga akhirnya Bonna tidak lagi mendengar gema suaranya sedikit pun. Keheningan yang menekan kembali menyelimuti area belakang panggung ruang hiburan.
Bonna berdiri membeku, merasa kaku dan canggung di bawah cahaya lampu remang. Tiba-tiba, suara bernada datar dari wanita di belakangnya memecah keheningan.
"Jadi... kau wanita yang dibicarakan Dorsila?"
Pertanyaan itu datang dari seorang wanita berambut cokelat berantakan. Leher mulusnya dipenuhi bercak-bercak keunguan yang tampak jelas sebagai jejak kebrutalan pelanggan. Matanya yang tajam menatap Bonna dari ujung kaki hingga ujung kepala tanpa berkedip.
Wanita itu lalu mendesah pelan dan berkata, "Aku juga bukan orang lama di sini, jadi aku tidak tahu persis wajah mendiang kekasih Tuan Nolan seperti apa. Tapi mereka bilang... kau sangat mirip dengannya."
Sembari menatap Bonna, wanita itu mengulurkan tangannya untuk mengajak Bonna berjabat tangan. Ia juga menggerakkan kepalanya sedikit, seolah memberi instruksi tanpa bersuara agar Bonna menyertai mereka dan duduk di kursi kosong di sekitar meja bundar tersebut.
Bonna ragu sejenak, namun akhirnya menyambut uluran tangan itu tipis-tipis sebelum mendudukkan tubuhnya yang pegal di tepi kursi kulit.
"Aku Senna," wanita berambut cokelat itu memperkenalkan diri, lalu menunjuk dua teman di sampingnya. "Dia Rebecca, dan yang di sebelah sana Gita. Kau siapa?"
Bonna menelan ludah, suaranya parau saat menjawab, "Namaku... La Bonna."
Ketiga wanita itu saling berpandangan sejenak. "Oke, Bonna," ujar Senna sembari menyandarkan punggungnya. "Aku tidak bermaksud untuk menghinamu, tapi keadaanmu saat ini benar-benar buruk. Kau sangat kurus, dan potongan rambutmu saja sangatlah berantakan. Apa kau memotongnya sendiri?"
Senna mengulurkan jemarinya, menyentuh ujung rambut pendek Bonna yang tidak rata.
Bonna menganggukkan kepalanya pelan. Ia memang memotong rambut panjangnya sendiri menggunakan pisau dapur kotor saat masih mendekam di lapas, hanya demi menghindari cengkeraman para narapidana lain saat terjadi perkelahian.
"Kau tidak cantik, kau juga tidak memiliki badan yang bagus," sahut Gita terus terang seraya memperhatikan Bonna dari kepala hingga ujung kaki. "Dadamu hampir rata, kau seperti tulang berlapis kulit."
Geeta menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mimik wajah prihatin bercampur sinis. "Di sini memang ada beberapa pelanggan yang suka dengan tipe wanita seperti dirimu, tapi tidak banyak. Beberapa pria memang sangat suka yang bernuansa mungil dan kurus, tapi tidak sekurus ini. Kau lebih terlihat seperti tengkorak hidup."
Geeta menyesap rokoknya tipis-tipis, lalu berkata lagi, "Semalam Tuan Nolan tidur denganmu, bukan? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Tuan Nolan lihat darimu selain wajahmu itu... sampai-sampai Tuan Nolan tega mengabaikan Seraphina."
Bonna tidak bisa berbohong bahwa perkataan Gita barusan cukup mengusik benaknya. Cara Gita yang terang-terangan menghina kondisi fisiknya membuat kepalan tangan Bonna merapat dan membakar amarahnya. Namun, Bonna dengan cepat menahan diri. Ia ingat betul bahwa saat ini ia butuh bantuan dan informasi dari ketiga wanita ini untuk bisa bertahan hidup di sarang iblis ini.
Sikap impulsifnya sewaktu di lapas—di mana Bonna tanpa berpikir panjang akan langsung menghajar siapa saja yang membuatnya kesal—tidak bisa diterapkan di sini. Kali ini, Bonna harus menggunakan otaknya.
"Siapa itu... Seraphina?" tanya Bonna, merasa nama itu tidak asing di telinganya.
Rebecca melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Bonna dengan pandangan penuh penilaian. "Seraphina itu kesayangan Tuan Nolan. Sejak Kak Electra meninggal, Tuan Nolan tidak pernah mau menyentuh wanita mana pun di klub ini selain Seraphina. Tapi semalam, alih-alih bermalam dengan Seraphina seperti biasa, Tuan Nolan justru menidurimu di kamar 101... kamar yang tepat berada di sebelah kamar biasanya Tuan Nolan bermalam dengan Seraphina, yaitu kamar 102."
Geeta tertawa kecil, suara tawa yang hampa namun bernada geli. "Seraphina kelihatan kesal sekali semalam. Dia sudah bermanja-manja di atas paha Tuan Nolan, tapi Tuan Nolan justru pergi begitu saja meniduri wanita lain."
Geeta melirik Bonna dengan sudut matanya yang tajam. "Sekarang kau dalam bahaya besar. Kau pasti akan jadi sasaran empuk Seraphina nantinya."
Mendengar penuturan itu, sepenggal ingatan semalam mendadak berputar di kepala Bonna.
Apakah Seraphina adalah wanita yang kulihat setengah telanjang dan menyandarkan kepalanya pada paha Nolan semalam? batin Bonna.
Ia ingat jelas sosok wanita berambut pirang yang kepalanya diusap lembut oleh Nolan semalam, tepat saat Nolan menatap tajam ke arah Bonna dari kejauhan sebelum menyuruh anak buahnya menyampaikan perintah agar Bonna menuju kamar 101.
Senna mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, lalu berkata serius, "Kau harus sangat berhati-hati dengan Seraphina. Dia wanita yang teramat pencemburu. Anak buah Tuan Nolan di sini cenderung selalu berpihak padanya karena statusnya sebagai kesayangan Tuan. Biasanya Tuan Nolan tidak pernah membiarkan orang asing yang menyelinap kemari hidup-hidup, tapi kau... kau berbeda."
Senna diam sejenak, mengamati ekspresi Bonna sebelum melanjutkan, "Kau dibiarkan hidup, dan Seraphina pasti akan merasa sangat terancam dengan keberadaanmu. Mengingat wajahmu begitu mirip dengan mendiang kekasih Tuan Nolan, dan juga karena kau adalah orang kiriman musuh Tuan Nolan yang untuk pertama kalinya tidak dibunuh secara langsung oleh Beliau."
Perkataan Senna diangguki setuju oleh Rebecca dan Geeta.
Bonna pun bisa mengerti logisnya ketakutan Seraphina. Walaupun pada kenyataannya, apa yang Nolan lakukan padanya semalam sama sekali bukanlah hubungan atas dasar suka atau kenikmatan, melainkan murni penyiksaan fisik dan mental.
"Oh ya, soal pekerjaan di sini, mekanismenya cukup mudah," lanjut Senna mengalihkan topik. "Di sini ada stripper dan ada pelacur. Biasanya seorang pelacur juga bertindak sebagai stripper, tapi seorang stripper belum tentu mau menjadi pelacur. Kau akan menari di panggung untuk menebar pesonamu agar ada pelanggan yang tertarik untuk tidur denganmu malam nanti."
Tiba-tiba Senna mengangkat tangannya. Jari telunjuknya terarah lurus ke wajah Bonna seolah memberi peringatan yang teramat keras.
"Tapi ingat satu hal: jangan terlalu berusaha keras. Jangan terlalu menonjol atau stand out jika kau tidak ingin menjadi bulan-bulanan Seraphina! Dia adalah stripper sekaligus pelacur nomor satu kesayangan Tuan Nolan. Setiap kali Seraphina kesal karena merasa ada yang mencuri panggung atau spotlight-nya, dia akan menyiksa orang tersebut sampai hancur... dan Tuan Nolan selalu menutup mata akan hal itu."
Ah, aku ingat sekarang! Bonna membatin.
Seraphina—wanita yang sedang mereka bahas saat ini—adalah wanita yang sama dengan yang pernah diceritakan oleh salah seorang penari stripper kepadanya kemarin di ruang rias. Nasihat penari kemarin dan nasihat ketiga wanita di hadapannya saat ini persis sama: jangan pernah mencoba mencuri spotlight dari Seraphina jika masih ingin bernapas dengan tenang.
Seingat Bonna, penari bernama Zella yang gagal tampil kemarin pun kabarnya menderita cedera karena ditumbang secara halus oleh ulah Seraphina.
Namun, persetan dengan Seraphina. Ada hal lain yang jauh lebih mengusik dan mengganggu pikiran Bonna saat ini terkait tempat ini.
Bonna menatap ketiga wanita di depannya bergantian, lalu bertanya pelan, "Apa kalian... juga dipaksa oleh Nolan untuk bekerja sebagai Wanita Penghibur di sini?"
Pertanyaan Bonna yang meluncur jujur itu seketika membuat atmosfer di meja bundar berubah drastis. Wajah Senna, Rebecca, dan Geeta mendadak mengeras kaku.
Cahaya ramah dan keterbukaan yang tadinya sempat ada di mata mereka menghilang dalam sekejap, berganti dengan tatapan dingin yang tidak bisa Bonna mengerti.
"Kau tidak perlu tahu," potong Rebecca dengan suara yang dalam dan menusuk.
Rebecca berdiri dari kursinya, menatap Bonna dari atas dengan sorot mata peringatan yang amat tajam. "Dan satu lagi... jangan pernah sembarangan menyebut nama Tuan Nolan begitu saja di tempat ini. Beliau bukan temanmu."
Senna dan Geeta turut menganggukkan kepala mereka dengan wajah dingin, mematikan rokok mereka di asbak dan berbalik memunggungi Bonna, menandakan bahwa batas keramahan mereka baru saja dilangkahi.