Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Penjagaan Sepanjang Malam
Bau tajam cairan antiseptik dan obat-obatan memenuhi udara dingin di dalam ruang perawatan VIP lantai paling atas Rumah Sakit Pusat Jakarta.
Suasana di dalam ruangan berukuran luas itu begitu hening dan hampa, hanya didominasi oleh bunyi bep teratur dari monitor elektrokardiogram (EKG) yang memantau ritme detak jantung Rendy Adhitama.
Garis-garis hijau di layar kaca bergerak relatif stabil namun lambat, menandakan kondisi tubuhnya yang masih sangat lemah pasca-operasi besar pengangkatan proyektil timah panas yang bersarang di bahu kanannya.
Di atas ranjang medis yang megah, Rendy terbaring tak berdaya. Jarum infus tertancap di punggung tangan kirinya, sementara bahu dan dadanya terbalut perban kasa tebal bercak noda obat.
Wajah tampannya yang biasa memancarkan dominasi dan ketegasan kini terlihat sangat pucat pasi, tak bergerak bagaikan patung pualam yang terkunci dalam tidur panjangnya.
Di samping ranjang, Siska duduk mematung di atas kursi kayu. Ia tidak beranjak satu senti pun dari posisi itu sejak Rendy dikeluarkan dari ruang operasi lima jam yang lalu.
Pakaian seragam pelayan yang ia kenakan masih menyisakan noda darah kental milik Rendy yang sudah mengering dan mengeras—sebuah jejak kelam dari pengorbanan maut yang menghantam dadanya tanpa ampun.
Jemari tangan Siska yang gemetar dan masih terbalut perban tipis merengkuh erat jemari kiri Rendy yang terasa amat dingin. Ia menempelkan telapak tangan Rendy ke pipinya yang sembab oleh sisa air mata yang tak kunjung mengering.
"Rendy..." bisik Siska dengan suara yang teramat sangat pecah, serak, dan penuh rintihan penderitaan batin.
Tetes demi tetes air mata penyesalan yang membakar pelupuk matanya kembali meluncur deras, membasahi jemari Rendy yang membeku dalam genggamannya.
Di dalam keremangan cahaya lampu kamar rumah sakit, Siska meratapi betapa bodoh dan serakahnya ia di masa lalu. Pria di depannya adalah sosok yang dulu ia campakkan begitu saja demi kemewahan palsu dan janji-janji manis seorang penjahat seperti Danang.
Namun malam ini, pria yang hatinya telah ia hancurkan berulang kali justru mempertaruhkan nyawanya sendiri di bawah tajamnya peluru demi melindunginya.
"Maafkan aku, Rendy... Maafkan aku..." tangis Siska terisak-isak, kepalanya tertunduk hingga dahinya bersandar di tepi ranjang, tepat di samping lengan Rendy.
"Aku wanita jahat yang tidak tahu diri... Aku yang membuat hidupmu penuh luka... Aku mohon, bangunlah... Hukum aku sesukamu, benci aku seumur hidupmu, tapi tolong... jangan tinggalkan aku seperti ini..."
Setiap kata meminta maaf yang keluar dari bibir Siska terasa bagaikan sembilu yang menyayat dadanya sendiri.
Ia menyadari bahwa seluruh harta, jabatan, dan penyesalannya di dunia ini tidak akan pernah mampu membayar setetes darah yang telah dikorbankan Rendy untuk menyelamatkannya.
Malam makin larut menuju fajar. Angin dingin meniup tirai jendela ruangan yang sedikit terbuka. Siska terus menjaga Rendy tanpa memejamkan mata sedikit pun, memeluk tangan dingin itu seolah takut pria itu akan menghilang jika ia melepaskannya satu milidetik saja.
Tiba-tiba, kelopak mata Rendy yang terpejam rapat bergerak perlahan.
Dada Rendy naik turun menarik napas panjang yang terasa berat. Jemari tangannya yang berada dalam genggaman hangat Siska perlahan memberi respon kecil—sebuah gerakan halus yang membuat Siska seketika menahan napasnya dan mendongakkan kepala dengan mata berbinar panik.
"R-Rendy...?" bisik Siska terbata-bata, jantungnya berdebar kencang.
Rendy perlahan-lahan membuka matanya. Pandangannya yang semula samar-samar akibat pengaruh sisa obat bius perlahan mulai fokus.
Hal pertama yang tertangkap oleh manik matanya yang tajam di tengah keremangan ruang perawatan adalah sosok Siska yang bersimbah air mata, dengan raut wajah penuh keputusasaan dan penyesalan yang mendalam, sedang meneteskan air mata hangat tepat di atas punggung jemarinya.