NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11. Surat yang Salah

Pagi itu Naira datang lebih awal dari biasanya. Proyek bersama Arsen Group membuat pekerjaannya semakin padat. Hampir setiap hari ada saja yang harus ia kerjakan. Sketsa baru. Pemilihan bahan. Diskusi dengan tim produksi. Revisi.

Dan tentu saja... berdebat dengan Mikael.

Naira sudah mulai terbiasa dengan keberadaan pria itu. Sayangnya, ia juga mulai terbiasa dengan kebiasaan Mikael yang selalu menggodanya.

"Hai.. Nona Galak."

"Hai.. Pak Menyebalkan."

"Galaknya..."

"Menyebalkannya...."

Begitulah hampir setiap kali mereka bertemu.

Namun pagi ini Naira tidak punya waktu untuk meladeni Mikael. Ia duduk di salah satu meja ruang kerja Arsen Group sambil menatap selembar kertas. Di tangannya ada sebuah pena. Ia sedang menulis sesuatu. Bukan desain. Bukan catatan pekerjaan. Sebuah surat.

Naira berhenti sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya sambil berpikir. Kemudian kembali menulis.

Aku tidak tahu apakah aku masih boleh mengatakan ini kepadamu...

Naira berhenti. Kalimat itu terasa terlalu berat. Ia mencoretnya. Lalu menggantinya.

Mungkin aku tidak pernah benar-benar berhenti memikirkanmu.

Tangannya kembali berhenti. Naira menghela napas. Kenapa menulis surat saja begitu sulit?

Ia sebenarnya tidak berniat mengirimkannya. Ia hanya ingin mengeluarkan semua perasaan yang selama ini ia simpan. Tentang seseorang yang pernah membuatnya berharap. Tentang perasaan yang belum sepenuhnya hilang. Dan tentang luka yang masih ia coba sembuhkan.

Naira melanjutkan tulisannya.

Aku tahu semuanya sudah berubah. Aku juga tahu mungkin perasaanku tidak akan mengubah apa pun. Tapi aku ingin jujur, setidaknya sekali.

Ia menatap kalimat itu cukup lama. Kemudian tersenyum sedih. "Setelah ini aku harus benar-benar melepaskan."

Naira melipat surat tersebut. Ia tidak menuliskan nama penerima. Surat itu hanya untuk dirinya sendiri. Setidaknya begitu pikirnya. Ia memasukkannya ke dalam sebuah map tipis. Namun karena tergesa-gesa ketika Dinda memanggilnya dari luar ruangan, map itu tertinggal di atas meja. Dan Naira tidak menyadarinya.

 ------------

Beberapa menit kemudian, Mikael masuk ke ruangan. Ia sebenarnya sedang mencari sebuah dokumen yang tadi pagi diletakkan di meja tersebut. Tangannya menyentuh beberapa berkas. Kemudian sebuah amplop putih jatuh ke lantai.

Mikael membungkuk dan mengambilnya. Tidak ada nama. Tidak ada alamat. Hanya satu tulisan kecil di bagian depan:

Untuk seseorang yang pernah sangat berarti.

Mikael mengernyit. "Surat?"

Ia hendak meletakkannya kembali. Namun sebuah kertas yang sedikit keluar dari amplop membuat matanya menangkap satu kalimat. Aku tidak tahu apakah aku masih boleh mengatakan ini kepadamu...

Mikael terdiam. Ia tahu seharusnya tidak membaca. Tetapi rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya. Ia menarik kertas itu sedikit. Kemudian membaca beberapa baris.

Mungkin aku tidak pernah benar-benar berhenti memikirkanmu.

Mikael membeku. Matanya membesar. "Naira?"

Ia melihat tulisan tangan itu. Sangat mungkin milik Naira. Jantungnya tiba-tiba berdetak sedikit lebih cepat. Ia membaca lagi.

Aku tahu semuanya sudah berubah. Aku juga tahu mungkin perasaanku tidak akan mengubah apa pun. Tapi aku ingin jujur, setidaknya sekali.

Mikael menatap surat itu. Kemudian tersenyum kecil. "Jadi..."

Ia menyandarkan tubuh ke meja. "Selama ini?"

Potongan-potongan kejadian beberapa minggu terakhir tiba-tiba muncul di kepalanya. Naira yang selalu salah tingkah ketika mereka berdua terlalu dekat. Naira yang sering menghindari tatapannya. Naira yang wajahnya kadang memerah ketika digoda.

Dan sekarang... surat ini.

Mikael tersenyum semakin lebar. "Jadi kamu menyukaiku?"

Entah kenapa, kalimat itu membuat dadanya terasa hangat. Padahal belum tentu benar. Tetapi Mikael terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia melipat kembali surat itu. Kemudian memasukkannya ke dalam amplop.

Tepat saat itu, Naira masuk.

Mikael langsung memasang wajah tenang.

Naira berhenti ketika melihatnya.

Mikael menatapnya. "Kamu tadi menulis sesuatu?"

Wajah Naira langsung berubah. "Menulis?"

Mikael menunjuk meja. "Surat."

Naira menoleh. Matanya langsung membesar. "Suratku!"

Ia buru-buru mengambil amplop itu. "Kamu membacanya?"

Mikael berusaha terlihat santai. "Sedikit."

"Sedikit?!" Naira memelototinya. "Itu surat pribadi!"

"Maaf, aku tidak sengaja."

"Kamu tidak boleh membacanya!"

"Sudah kubilang, aku tidak sengaja."

"Bagaimana bisa tidak sengaja?"

Mikael mengangkat kedua tangan. "Baiklah. Aku salah."

Naira mengambil surat itu. Ia memasukkannya ke dalam tas. Kemudian memandang Mikael dengan wajah kesal. "Jangan pernah membaca barang pribadiku lagi."

"Ok. Maaf aku salah."

Mikael tersenyum tipis. Naira menyipitkan mata. "Kenapa kamu senyum?"

"Memangnya aku senyum?"

"Iya."

"Tidak."

"Kamu jelas-jelas senyum."

Mikael menggeleng. "Nggak."

Naira semakin curiga. Namun ia tidak punya waktu untuk memperdebatkannya. Ia mengambil beberapa berkas. "Saya mau ke ruang desain."

Mikael mengangguk. "Silakan."

Naira pergi. Begitu pintu tertutup, Mikael menahan senyum. Ia benar-benar yakin. Naira menyukainya.

Siang harinya, Mikael mulai bertingkah aneh. Naira sedang melihat beberapa contoh kain ketika Mikael datang.

"Yang ini bagus."

Naira menoleh. "Oh.. Iya."

"Kalau untuk koleksi malam bagaimana?"

"Bisa kok."

Mikael berdiri lebih dekat. Naira mundur satu langkah.

Mikael memperhatikannya. "Kamu selalu menjauh kalau aku dekat?"

Naira mengernyit. "Karena kamu suka mengganggu."

Mikael tersenyum. "Benarkah?"

"Iya."

"Atau karena kamu gugup?"

Naira menatapnya bingung. "Gugup?"

"Iya."

"Kenapa aku harus gugup?"

Mikael hanya tersenyum. "Tidak apa-apa."

Naira semakin bingung. Pria ini kenapa? Biasanya dia menyebalkan. Sekarang malah aneh.

Beberapa jam kemudian, Mikael kembali menemukan alasan untuk mendekati Naira.

"Naira."

"Ya?"

"Besok kamu sibuk tidak?"

"Memangnya kenapa?"

"Ada acara."

"Acara apa?"

"Jamuan kecil untuk tim proyek. Datanglah, Nai."

Naira menatapnya. "Memangnya harus ya?"

"Iya."

"Kenapa?"

Mikael tersenyum. "Karena aku ingin kamu datang."

Naira terdiam. Ada sesuatu dalam cara Mikael mengatakannya. "Aku..."

"Kamu tidak perlu menjawab sekarang." Mikael pergi begitu saja.

Naira berdiri sambil mengerutkan dahi. "Kenapa dia?"

Sementara itu, Mikael kembali ke ruang kerjanya. Ia duduk di kursinya. Pikirannya kembali pada surat tadi pagi. Aku tidak pernah benar-benar berhenti memikirkanmu.

Mikael tersenyum. Ia sebenarnya belum pernah mengalami situasi seperti ini. Biasanya perempuan yang tertarik kepadanya cukup jelas. Namun Naira berbeda. Perempuan itu selalu membantah. Selalu marah. Selalu menjaga jarak.

Ternyata... mungkin semua itu hanya karena ia menyembunyikan perasaannya.

Mikael bersandar. "Kalau begitu..." Ia tersenyum. "Aku harus bagaimana?"

Tak lama kemudian.

Pintu ruangannya diketuk. Ravian masuk.

"Kamu sedang senyum-senyum sendiri?"

Mikael langsung mengubah ekspresi. "Tidak."

Ravian duduk. "Kelihatannya sedang memikirkan sesuatu."

Mikael menatap sahabatnya. "Aku memang sedang memikirkan sesuatu."

"Memikirkan apa, El?"

Mikael hampir menjawab. Namun ia berhenti. Ia tidak tahu apakah sebaiknya memberitahu Ravian. Apalagi yang berkaitan dengan Naira.

"Aku cuma..." Mikael tersenyum. "Sepertinya ada seseorang yang menyukaiku."

Ravian tertawa. "Kamu bilang sepertinya?"

"Iya."

"Memang siapa?"

Mikael mengangkat bahu. "Belum bisa kuberitahu."

Ravian menggeleng. "Kamu ini aneh."

Mikael tersenyum. Mungkin ia memang salah memahami sesuatu. Namun untuk saat ini, ia menikmati perasaan baru itu.

Sementara di sisi lain, Naira sedang membuka kembali surat yang tadi hampir dibaca Mikael. Ia melihat tulisan tangannya sendiri. Surat itu sebenarnya ditujukan untuk Ravian. Namun ia tidak pernah berniat mengirimkannya.

Naira menghela napas. "Aku harus membuang ini."

Ia melipatnya. Tetapi sebelum sempat memasukkannya ke tempat sampah, ponselnya berbunyi. Pesan dari Mikael: Besok jangan lupa datang ke jamuan.

Naira membalas singkat: Iya.

Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk: Pakai pakaian yang bagus.

Naira mengernyit. Kenapa?

Balasan Mikael datang cepat: Karena aku ingin melihatmu cantik.

Naira membeku. Wajahnya langsung memanas. "Dia..."

Ia menatap layar ponselnya. Kemudian mengetik: Pak Mikael, jangan aneh-aneh.

Mikael membalas: Aku serius.

Naira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak mengerti kenapa pria itu tiba-tiba berubah. Padahal selama ini Mikael selalu menggodanya dengan cara yang membuatnya kesal.

Sekarang...

kenapa perkataannya justru membuat jantung Naira berdetak lebih cepat?

Naira tidak tahu bahwa semua itu berawal dari sebuah surat yang salah jatuh ke tangan. Dan Mikael tidak tahu bahwa surat yang membuatnya percaya diri itu... sama sekali bukan untuk dirinya.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!