tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16/ ujian semester
Suasana di kelas tampak sangat sunyi bahkan terasa berat. Hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas dan bertepatan mata pelajaran terakhir ujian adalah sejarah.
Di dalam ruangan Tivane terlihat gadis itu menunduk fokus ke arah lembar jawaban nya. Di setiap ruangan hanya berisi 15 siswa dan itupun di acak dari perkelas.
Tivane satu ruangan dengan Skyler sementara Rigecherta seruangan dengan River dan Veros di ruangan lainnya.
" Sstt... Vane" bisik Skyler dari barisan depan Tivane.
" Lo udah nomor berapa?" Tanya Skyler saat Tivane menatapnya dengan alis terangkat.
" Tinggal lima nomor lagi" jawab Tivane berbisik juga.
" Lah... Cepet amat. Gue masih banyak nih" decak Skyler melihat lembar jawaban nya masih banyak yang kosong.
" Minta nomor 26 dong. Gue ragu sama jawaban gue" ucap Skyler pelan sambil sesekali melirik ke arah guru pengawas.
" Apaan soalnya?" Tanya Tivane karena malas membolak balik kertas soal.
" Nama kerja paksa zaman Jepang tuh kerja rodi kan?" Tanya Skyler khawatir jawabannya salah.
" Romusha " koreksi Tivane pelan takut ketauan.
" Lah? Bukannya kerja rodi?" Tanya Skyler masih keras kepala.
" Itu Belanda oon. Itu anak SD juga perasaan tau deh" decak Tivane komat kamit tak jelas merasa kesal karena Skyler sudah salah malah ngotot.
" Tapi-" ucapan Skyler terpotong saat guru pengawas menatap galak ke arah nya.
" Skyler.Apa itu ngobrol-ngobrol? Kerjakan sendiri!" Ucap guru pengawas membuat Skyler mengangguk cengengesan.
Sementara Tivane geleng geleng kepala melihat tingkah absurd sahabat pacarnya itu.
Di ruangan lainnya terlihat Rigecherta menjawab soal dengan wajah jengah karena River selalu bertanya sana sini karena pengawas sedang pergi menerima telepon.
" Ge, lo udah siap?" Tanya River melihat Rigecherta yang sudah menyusun kembali alat tulisnya ke dalam saku.
" Udah" jawab Rigecherta singkat dan mengumpul ke depan saat guru pengawas masuk.
" Lah? Gue di tinggalin njir" gumam River menatap Rigecherta yang berjalan keluar ruangan.
River melihat laci Rige dan melihat ada kertas kecil berisi jawaban untuknya.
" Nahhh.. ini baru best friend gue" gumam River degan senang dan mengisi lembar jawabannya dengan cepat. Lalu menyusul memberikan lebar jawaban kepada pengawas.
Di ruangan Veros ia terlihat santai seolah itu bukan masalah besar baginya. Ia mengisi sebisanya dan memberikan lembar jawaban saat sudah selesai dan keluar dari kelas.
Kini ke lima remaja itu berkumpul di taman belakang sekolah setelah mereka keluar dari ruangan masing-masing.
" Gila.. pala gue ampir botak beberapa hari terakhir. Pusing gue" rengek Skyler meminum es nya dengan nafas yang di buat se drama mungkin.
" Lo tuh berisik banget sumpah. Gue cape liat lo pas lagi di ruangan" ucap Tivane menatap Skyler dengan kesal.
" Emang kapan sih nih anak diam." Ejek Veros membuat River tertawa.
" Nggak usah ketawa lo, Lo juga berisik sampe di usir Rige dari mejanya" ejek Skyler balik tak terima di ketawain oleh orang yang sebelas dua belas dengannya.
" Sama aja lo berdua" ucap Tivane lalu menunduk ke handphone di tangannya.
" Lagi chat anbsama siapa?" Tanya Rigecherta mendekat ke arah Tivane.
" Lagi ribut di grup teman aku pas di Kalimantan" jawab Tivane membuat River langsung menegak.
" Yang lo bilang teman lo yang tiga itu?" Tanya River semangat. Veros dan Skyler melongos melihat kelakuan temannya itu.
" Iya. Mereka katanya lagi-" ucapan Tivane terputus saat River langsung mendekat dan melongok penasaran ke handphone nya.
" Ada fotonya nggak?" Tanya River membuat Rigecherta langsung mendorong kepala River agar tak terlalu dekat pada Tivane.
" Ada nih." Tivane memberikan foto ia dan ketiga temannya saat mereka sedang mengenakan baju couple mereka.
" Wiu.. lumayan" Skyler tiba-tiba sudah nongol.
" Alah. Katanya tadi nggak minat. Kambing" ledek river membuat Skyler mengangkat bahu santai.
" Penasaran aja sih" jawab Skyler dengan santai kembali duduk.
" Siapa nih nama cewe yang ini?" Tanya Veros tiba-tiba ada di samping Tivane .
" Sama aja perasaan kalian semua. Kalo di tunjukin cewe aja pada ngumpul " decih Tivane namun Rigecherta menatap nya dengan alis mengerut.
" Emang ada gue ikut?" Tanya Rigecherta.
" Nih teman lo bertiga" jawab Tivane menunjuk mereka semua.
" Kalian tuh sebenarnya pacaran nggak sih?" Tanya Skyler heran.
" Pacaran. Kenapa emang?" Tanya Rigecherta cepat.
" Kok bahasanya masih lo-gue?" Tanya River.
" Ya emang kenapa sih? Terus maunya manggil apa?" Tanya Tivane menatap Rigecherta yang juga melihat ke arahnya.
" Ya aku-kamu lah" jawab River dan Skyler bersamaan.
" Ih. Nggak deh. Kita aja biasanya jambak-jambakan kok" delik Tivane merasa aneh saat di suruh aku-kamu an sama Rigecherta.
" What? Seorang Rige jambak-jambakan?" Tanya Skyler drama.
" Impossible, cowo terdingin malah suka gelut sama cewe" sambung River sama gilanya seperti Skyler.
" Cuma sama Vane." Ralat Rigecherta cepat.
" Iya deh, si paling Tivane" sarkas Veros membuat mereka tertawa.
" Nggak usah iri. Oh iya, lo pernah bilang kita berdua sama-sama nggak dapat kan. Tapi gue dapat kok" jawab Rigecherta membuat Tivane menatapnya bingung.
" Nggak dapat apa tuh?" Tanya Tivane.
" Dia pernah naksir kamu pas kita SMP. Tapi dia ngalah kerna tau gue juga suka" ucap Rigecherta enteng membuat Veros mengumpat.
" Itu udah lama. Nggak usah di ungkit. Gue udah nggak suka sama cewe Lo" ucap Veros melongos malas.
" Btw gue kayaknya bakal buka bengkel pas kita kelas dua belas." Ucap River memberi tahu.
" Lo bisa benerin motor?" Tanya Tivane.
" Bisa dia mah. Dia kan biasa nge montir sama bokap nya" jawab Skyler.
" Kok bukan di SMK? " Tanya Tivane sambil memainkan ujung jaket Rigecherta.
" Nggak pengen aja. Lagian walaupun bukan anak SMK gue masih ngerti kok semuanya" jawab River membuat Tivane mengangguk saja.
" Udah lah. Yok pulang. Gue masih ada urusan" usul River membuat mereka mengangguk setuju dan memutuskan pulang.
Tivane di antar oleh Rigecherta sampai depan rumahnya dan mengacak pelan puncak kepala Tivane.
" Nanti jawab telepon gue" ucap Rigecherta membuat Tivane mengangguk.
" Oh iya. Tadi kata mereka kalo pacaran panggilannya aku-kamu. Mau nggak?" Tanya Tivane membuat Rigecherta memandangnya geli dan mendekat.
" Emang kamu sendiri bisa?" Tanya Rigecherta membuat Tivane bergidik geli.
" Tuh kan. Lo sendiri aja geli" ucap Rigecherta.
" Coba dong bilang sesuatu pake aku-kamu " tantang Rigecherta membuat wajah Tivane memerah.
" Bilang apa?" Tanya Tivane pelan menahan malu.
" Hati-hati pacar aku. Gitu coba bilang" goda Rigecherta jahil.
" Ih geli ah" ucap Tivane membuat Rigecherta terkekeh.
" Tadi katanya mau pake aku-kamu an. Coba dong bilang " goda Rigecherta semakin jahil.
" Hati-hati p-pacar a-ku" ucap Tivane sedikit gugup karena salah tingkah.
Rigecherta terkekeh puas dan memeluknya erat lalu melepaskan pelukan sambil mengacak gemas rambut Tivane.
" Byee" Tivane melambai saat motor Rigecherta mulai pergi dari pekarangan rumahnya.
" Cowo aneh tapi paling aku sayang" gumam Tivane sambil masuk ke dalam rumah nya.