NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19 : Pegunungan Swiss

Beberapa menit kemudian...

Pintu SUV antipeluru bagian tengah dibuka oleh salah seorang pengawal. "Silahkan, Don."

Leonardo lebih dulu naik ke dalam mobil, disusul Aurora yang masih sesekali menoleh ke arah iring-iringan kendaraan di halaman mansion.

"Rasanya seperti akan berangkat perang..." gumam Aurora pelan.

Leonardo tersenyum tipis. "Anggap saja mereka terlalu mengkhawatirkanmu."

Aurora menghela napas kecil.

Belum sempat pintu ditutup, Adrian ikut masuk dan duduk tepat di hadapan Aurora.

Aurora kembali membelalakkan mata. "Kau benar-benar ikut satu mobil denganku?"

Adrian mengangguk singkat. "Iya."

Aurora memiringkan kepala. "Padahal kau terlihat sangat sibuk."

"Aku memang sibuk."

"Kalau begitu kenapa kau ikut?"

"Agar kau tetap hidup."

Jawaban datar itu membuat Aurora terdiam beberapa detik. Kemudian ia mendengus pelan. "Cara bicaramu memang tidak pernah berubah."

Leonardo hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat keduanya.

Tak lama kemudian...

Brumm...

Mesin seluruh kendaraan mulai menyala bersamaan. Melalui alat komunikasi, suara Johan terdengar.

"Seluruh tim, bersiap."

"Tim Alpha siap."

"Tim Bravo siap."

"Tim Charlie siap."

Johan kembali memberi perintah. "Konvoi bergerak."

Perlahan tiga SUV hitam meninggalkan halaman Mansion Moretti. Mobil pertama melaju sebagai pembuka jalan. Di belakangnya, kendaraan yang membawa Leonardo, Adrian, dan Aurora mengikuti dengan kecepatan stabil. Sedangkan mobil terakhir menutup iring-iringan sambil terus memantau situasi di belakang.

Di dalam mobil, Aurora memandang keluar jendela dengan mata berbinar. Kali ini ia bisa melihat jalanan kota dengan lebih leluasa.

Gedung-gedung bergaya klasik, kafe-kafe kecil, taman bunga yang bermekaran, serta pegunungan yang menjulang di kejauhan membuatnya tersenyum tanpa sadar.

"Indah sekali..."

Leonardo memperhatikan ekspresi gadis itu. "Kau menyukainya?"

Aurora mengangguk cepat. "Aku sangat menyukainya, Tuan. Aku belum pernah melihat tempat seindah ini."

Leonardo tersenyum hangat. "Kalau semuanya sudah selesai, nanti aku akan mengajakmu berkeliling lebih jauh."

"Maksud Tuan?"

"Swiss masih memiliki banyak tempat yang lebih indah daripada ini."

Mata Aurora berbinar. "Benarkah?"

Leonardo mengangguk. "Tentu."

Aurora tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit.

Adrian yang duduk di samping hanya melirik sekilas. Melihat Aurora tersenyum tanpa beban seperti itu, wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya sedikit melunak.

Namun beberapa detik kemudian, ponsel Johan bergetar. Ia segera mengangkat panggilan melalui earphone.

"Ya." Wajahnya perlahan berubah serius. "Dimengerti."

Telepon ditutup.

"Don."

Adrian langsung menoleh.

"Laporan, drone pengintai kita menemukan sebuah mobil sedan abu-abu."

"Di mana?"

"Dua kilometer di belakang konvoi."

Aurora yang sedang menikmati pemandangan tidak mendengar pembicaraan itu.

Johan melanjutkan dengan suara pelan. "Mobil itu sudah mengikuti kita sejak keluar dari mansion."

Adrian menatap layar kecil di depan kursinya. "Tampilkan."

Beberapa detik kemudian rekaman dari drone muncul. Sebuah sedan abu-abu tampak melaju santai bersama kendaraan lain. Sekilas terlihat biasa, namun Adrian memperhatikan sesuatu.

"Perbesar bagian depan."

Operator segera melakukannya, tatapan Adrian berubah tajam. "Plat nomor berbeda."

Johan mengangguk. "Benar, Don. Dalam rekaman lima menit sebelumnya, nomor kendaraannya tidak sama."

Leonardo ikut memandang layar. "Plat ganda?"

"Bukan." Adrian menggeleng. "Mereka menggantinya saat kendaraan berada di bawah terowongan."

Johan mengepalkan tangan. "Berarti benar mereka mengikuti kita."

Adrian menekan tombol komunikasi. "Tim Alpha."

"Ya, Don."

"Jangan hentikan kendaraan itu."

"Dimengerti."

"Biarkan mereka terus mengikuti."

Johan sedikit terkejut. "Don?"

"Mereka ingin mengetahui tujuan kita." Adrian menatap jalan di depan. "Kalau kita menangkap mereka sekarang, mereka hanya akan mengirim orang lain. Tapi kalau kita membiarkan mereka mengikuti..." Sudut bibir Adrian terangkat sangat tipis. "Mereka justru akan membawa kita menuju markas mereka."

Johan langsung memahami maksud itu. "Jadi... kita sedang membalik keadaan."

Adrian mengangguk pelan. "Tepat."

Sementara itu...

Di dalam sedan abu-abu yang mengikuti dari kejauhan, seorang pria berkacamata hitam memegang kamera beresolusi tinggi. Ia mengambil beberapa foto konvoi Moretti.

"Laporan." Suara dari alat komunikasinya terdengar dingin.

"Apa mereka menuju lokasi itu?"

"Belum bisa dipastikan."

"Terus ikuti." Pria itu tersenyum tipis.

"Baik."

Namun ia sama sekali tidak menyadari. Jauh di atas langit, sebuah drone hitam milik keluarga Moretti sedang mengawasi setiap pergerakan mobilnya.

Permainan kejar-kejaran pun dimulai. Kali ini, bukan hanya organisasi Black Eagle yang memburu Aurora. Keluarga Moretti pun diam-diam mulai memburu balik orang-orang yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang.

Beberapa puluh menit kemudian...

Konvoi keluarga Moretti mulai meninggalkan pusat kota Zurich. Gedung-gedung tinggi perlahan berganti dengan hamparan padang rumput hijau, perkebunan anggur, dan perbukitan yang membentang sejauh mata memandang.

Aurora terus menempelkan pandangannya ke jendela. "Astaga... indah sekali."

Ia bahkan beberapa kali tanpa sadar mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto pemandangan.

Leonardo tersenyum melihat tingkah gadis itu. "Kalau musim dingin tiba, tempat ini akan tertutup salju."

Aurora menoleh dengan mata berbinar. "Benarkah?"

Leonardo mengangguk. "Seluruh pegunungan akan berubah menjadi putih."

Aurora membayangkannya sejenak. "Pasti sangat cantik."

Leonardo tersenyum kecil. "Suatu hari nanti kau akan melihatnya."

Aurora mengangguk penuh semangat. "Kalau begitu aku harus kembali lagi kesini."

Ucapan polos itu membuat Leonardo terkekeh pelan. "Siapa bilang kau boleh pergi?"

Aurora sedikit bingung. "Maksud Tuan?"

"Kau sudah menjadi bagian dari keluarga ini."

Aurora terdiam, sadanya kembali terasa hangat. Sebelum sempat menjawab, suara Adrian terdengar datar.

"Kita hampir sampai."

Aurora menoleh. "Sampai di mana?"

Adrian hanya memandang ke depan. "Lihat saja."

Aurora mendengus pelan. "Selalu saja begitu."

Leonardo kembali tertawa kecil.

Di belakang konvoi, sedan abu-abu masih menjaga jarak sekitar satu kilometer. Pria berkacamata hitam kembali melapor melalui alat komunikasi.

"Target masih bergerak ke arah utara."

Suara berat dari seberang menjawab, "jangan terlalu dekat."

"Baik."

Pria itu kembali memperhatikan konvoi.

Namun tanpa ia sadari, sebuah SUV hitam lain perlahan muncul dari jalan kecil di sisi kanan. Kendaraan itu bukan bagian dari konvoi Moretti. Ia mengikuti sedan abu-abu dari kejauhan. Di dalam SUV tersebut, Jordi duduk di kursi belakang sambil melihat layar tablet.

"Target masih di depan."

Seorang anggota elite mengangguk. "Mereka tidak sadar sedang kita ikuti."

Jordi tersenyum tipis. "Bagus. Jangan ganggu mereka. Kita hanya perlu tahu mereka akan ke mana."

"Siap."

Sementara itu...

Di dalam ruang operasi intelijen Mansion Moretti. Carlo masih memantau seluruh perjalanan melalui layar satelit.

Seorang operator tiba-tiba berseru. "Tuan Carlo."

"Ada apa?"

Operator memperbesar citra satelit. "Kendaraan ketiga."

Carlo memperhatikan layar. "Itu bukan kendaraan kita."

Operator mengangguk. "Ada SUV hitam lain yang mengikuti sedan abu-abu."

Carlo langsung memahami. "Jordi."

"Benar."

Carlo tersenyum tipis. "Don sudah memperhitungkan semuanya."

Kalau sedan abu-abu itu mengikuti Nona Aurora. Maka Jordi diam-diam mengikuti sedan tersebut. Dengan begitu, siapa pun yang nanti menemui mobil itu akan membawa keluarga Moretti menuju pusat organisasi Black Eagle.

Empat puluh menit kemudian...

Konvoi akhirnya mulai memperlambat laju kendaraan. Aurora melihat sebuah jalan kecil yang dipenuhi pepohonan maple tua.

"Tempat apa ini?"

Leonardo memandang jalan itu dengan sorot mata yang jauh. "Tempat yang sangat berarti."

Mobil terus melaju sekitar lima menit lagi.

Kemudian...

Di hadapan mereka berdiri sebuah gereja tua bergaya Eropa dengan dinding batu berwarna krem. Di samping gereja terdapat sebuah bangunan sederhana yang dikelilingi taman bunga lily putih.

Aurora memandang tempat itu dengan bingung. "Tuan..."

Leonardo mengangguk pelan. "Turunlah."

Aurora membuka pintu mobil. Begitu kedua kakinya menginjak tanah, embusan angin pagi menyapu lembut wajahnya.

Entah mengapa, perasaannya mendadak menjadi sangat tenang. Ia memandang sekeliling tempat itu.

"Aku merasa..." Aurora mengernyit. "Pernah datang ke sini."

Leonardo dan Adrian saling berpandangan sesaat.

Adrian langsung menoleh kepada Johan. "Perketat pengamanan."

"Ya, Don."

Belasan pengawal segera menyebar mengelilingi area gereja. Sebagian memeriksa bangunan, sebagian lagi berjaga di pintu masuk.

Sementara itu, tanpa diketahui siapa pun. Di kejauhan, dari balik pepohonan pinus, sebuah lensa kamera perlahan mengarah ke Aurora.

"Cekrek..."

Satu foto berhasil diambil.

Pria bertopeng hitam yang memegang kamera tersenyum tipis. "Akhirnya... kalian membawanya ke tempat itu."

Ia segera menekan alat komunikasi di telinganya. "Ketua."

Suara berat dari seberang menjawab, "ya."

"Mereka sudah tiba."

Keheningan sesaat memenuhi sambungan. Kemudian terdengar satu perintah singkat yang membuat ekspresi pria bertopeng itu berubah serius.

"Jangan bergerak,.biarkan gadis itu melihat kebenaran terlebih dahulu. Setelah itu... barulah kita mengambilnya."

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!