NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takdir yang terlindung

Di dekat kaki ayah berdiri Zara, baru tujuh tahun. Kulitnya putih bersih seperti susu. Rambutnya cokelat kehitaman diikat jadi dua sanggul kecil, dihiasi pita kain kuning dan hijau pemberian ibu — ia menjaganya baik-baik sampai warnanya tak luntur. Matanya besar dan cokelat gelap, menatap ibunya mendengar cerita dengan saksama, kadang sedikit ragu sebelum melangkah, seperti sudah terbiasa mengamati dulu. Bibirnya jarang terbuka lebar kecuali kalau ia benar-benar senang. Tangannya sering menggenggam ujung roknya erat-erat, cari pegangan saat merasa canggung. Hari itu ia pakai baju tanpa lengan biru langit yang sudah agak pudar, dipadukan celana pendek cokelat polos, dicuci berkali-kali tapi tetap rapi.

Di sebelahnya duduk adiknya Aslan, usia enam tahun, di pangkuan ayah sambil memainkan sebatang ranting kecil. Sesekali ia mengoceh hal-hal aneh yang cuma dimengerti anak seusianya. Suasana terasa hangat, sederhana, tak ada kepura-puraan sedikit pun.

Tak lama, rasa canggung Zara hilang. Ia melangkah perlahan mendekati ibu, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Menarik lengan baju ibunya pelan, ia bertanya:

“Ibu, itu seru sekali, mereka sangat luar biasa… terus bagaimana kelanjutannya? Ceritain lagi.”

Aslan pun langsung bangkit dari pangkuan ayah, ikut menarik tangan ibu dari sisi lain.

“Iya, ibu! Ayo dilanjutkan, aku juga mau dengar!”

Ibu hanya tertawa kecil, lalu menekan lembut pipi kedua anaknya.

“Setelah itu, gadis kecil itu berhasil lari menjauh, lolos dari kejaran orang-orang jahat itu, dia memulai hidup baru yang tenang dan bahagia.”

Zara mengangguk senang, lalu segera bertanya lagi:

“Lalu… bagaimana nasib ayah dan ibunya, apakah mereka selamat?”

Seketika senyum ibu memudar sedikit. Ia diam sebentar, lalu mencubit hidung Zara dengan gemas.

“Sudahlah, ini rahasia,Anak kecil belum boleh tahu semuanya.”

Mendengar jawaban itu, Zara langsung melepaskan genggamannya, membuang muka sambil membusungkan pipi. Wajahnya jelas terlihat marah bercampur kecewa.

Ibu hanya tertawa lagi melihat tingkahnya.

Lanjut berkata “ sayang ini hanyalah legenda, itu mitos mereka tidak pernah ada “

Sambil mencubit pipi Zara

Sore itu, keluarga kecil ini terasa begitu damai, seolah tak ada dunia lain di luar lembah itu. Namun tak ada satu pun yang sadar: kebahagiaan ini hanya sementara. Segala ketenangan dan kehangatan itu perlahan akan runtuh, berubah menjadi ujian berat — tepat saat Zara menginjak usia tujuh belas tahun.

Hari itu sebenarnya seperti hari biasa. Di samping rumah, aku duduk bersama adikku di bawah pohon rindang.

Tinggiku cuma 165 cm, tak terlalu tinggi dan jauh dari kesan mewah. Kulitku putih bersih cerah seperti susu murni, terasa halus kalau disentuh. Rambutku yang cokelat kehitaman panjangnya sampai melewati siku, cuma diikat ke belakang pakai karet biasa saja tanpa hiasan apa pun — jadi garis wajahku terlihat polos dan jelas. Kecantikannya alami dan tak bisa disembunyikan: dahiku licin tanpa kerutan, alisku melengkung rapi begitu saja, mataku besar dan bening berwarna cokelat lembut, biasanya menatap apa saja dengan jujur. Hidungku mungil dan sedikit mancung, bibirku berwarna merah muda alami, kini terkatup rapat seolah menahan sesak di dada. Leherku ramping dan kosong, tak ada sebutir perhiasan yang melingkarinya. Bajuku cuma katun sederhana berwarna gading pudar, tak ada corak mencolok, tapi selalu kusetrika rapi agar tetap bersih dan enak dipakai.

Sekarang usiaku sudah tujuh belas tahun. Saat itu aku duduk di bangku kayu tua di bawah pohon, ada meja dari papan yang dipaku asal-asalan di depanku. Tanganku sibuk menulis, menyelesaikan tugas sekolah yang cukup banyak. Di sampingku duduk Aslan, adikku yang setahun lebih muda. Dia sudah selesai mengerjakan tugasnya, sekarang asyik merakit potongan kayu kecil jadi mobil-mobilan. Tangannya terampil sekali; dia bisa membuat mainan sendiri meski bahannya cuma potongan kayu bekas yang ditemukan di sekitar halaman. Terlihat sederhana, tapi rapi dan kuat bentuknya. Aku cuma melirik sebentar lalu tersenyum tipis, merasa bangga melihatnya, sebelum kembali menunduk memegang pulpen.

Belum lama berselang, aku lihat langit mulai menggelap, awan berkumpul makin tebal seolah mau turun hujan. Jam dinding di dapur sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku langsung berdiri dan berjalan ke tempat menjemur di samping rumah. Tiangnya cuma dua batang kayu yang ditancapkan kuat ke tanah, dihubungkan seutas tali yang sudah agak usang dimakan waktu. Aku ambil satu per satu pakaian yang sudah kering, melipatnya sekadarnya saja di lengan, lalu bawa masuk ke dalam rumah. Setelah selesai, aku keluar lagi dan duduk kembali di tempat semula, melanjutkan tulisan yang sempat terhenti tadi.

Tak lama kemudian, ibu keluar dari dapur sambil membawa nampan kecil berisi segelas air dan sepiring kentang goreng yang sudah dipotong-potong sedang. Kentang ini hasil tanam sendiri di samping rumah — pekarangannya lumayan luas, sebagian ditanami kentang, tomat, dan cabai supaya tak perlu beli ke mana-mana.

Ibu menghampiri kami dengan senyum lebar, lalu meletakkan piring dan gelas itu di atas meja. Begitu melihat kentang goreng yang masih mengepul sedikit, tanganku langsung menyambar satu potong, menggigitnya sekaligus. Masih terasa agak panas di mulut, tapi renyah dan gurih sekali — enak meski sederhana saja.

Aslan pun tak kalah cepat, langsung mengambil banyak dan memasukkan ke mulutnya. Sementara itu, ibu mendorong gelas berisi cairan berwarna hijau ke hadapanku.

“Minumlah ini, Nak,” katanya lembut.

Aku menatap isi gelas itu dengan wajah masam. Sudah berapa tahun rasanya aku mulai bosan dengan hal ini. Akhirnya aku berani bertanya, suaranya terdengar kesal:

“Ibu… apakah aku punya penyakit? Kenapa aku harus selalu minum ini? Aku tidak suka, rasanya pahit sekali.”

Ibu tersenyum, tapi nada bicaranya agak tegas agar aku mengerti:

“Zara, kamu sehat-sehat saja. Ini bagus diminum, biar pikiranmu jernih dan jadi anak yang pintar.”

Aku makin curiga, lalu melirik dan menunjuk ke arah Aslan yang asyik mengunyah:

“Kalau begitu kenapa cuma aku saja? Lihat, kenapa adik tidak.”

Aslan cuma melirik sebentar, tak peduli, lalu kembali melahap kentang gorengnya.

Ibu mendekat, mengelus kepalaku perlahan, wajahnya mulai terlihat serius:

“Zara, percayalah… ini semua demi kebaikanmu.”

Di dalam hati, aku tak pernah benar-benar mengerti. Sejak kecil sampai sekarang, ibu selalu memberiku minuman ini setiap hari, tak boleh ditolak sama sekali. Aku sering bertanya-tanya sendiri, apa sebenarnya alasannya? Tapi aku juga yakin, ibu takkan melakukan hal yang buruk untukku.

Akhirnya aku mengangkat gelas itu, meminumnya sekaligus. Rasanya pahit, ada bau seperti rumput segar yang terasa sampai di hidung. Aku menelan sambil mengerutkan hidung, lalu buru-buru mengambil kentang goreng lagi untuk menghilangkan rasa pahit itu.

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!