Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb29
Sian berjalan keluar dengan sempoyongan, dapat ia lihat potret Ryn duduk didalam mobil. Ryn menoleh keluar, dia berniat menjemput Sian agar pria itu tidak kesulitan dalam melangkah. Namun seseorang muncul dari arah belakang menarik bahu Sian dan,
Sleb...
Sebuah pisau menusuk perut bagian kiri Sian, Sian yang tersadar merasakan sakit luar biasa menatap orang yang telah mencelakainya. Pisau kemudian ditarik kembali sebelum pelaku penusukan kabur setelah melihat kedatangan Ryn.
"Sian!" Teriak Ryn tak percaya menyaksikan kejahatan yang Sian alami. Tanpa memikirkan kondisinya Ryn berlari menghampiri Sian. Dia menahan tubuh Sian yang ambruk akibat nyeri di perut.
"Sian, buka matamu. Tolong bertahan." Ryn menepuk-nepuk pipi Sian, dia memejamkan mata berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
"Nona..." Jun terkejut mendapati Ryn menangis sambil memeluk Sian.
"Asisten Jun, ke rumah sakit sekarang! Sian di tusuk." Beritahu Ryn, Jun sigap mengambil alih Sian dari dekapan Ryn. Mereka membantu Sian masuk ke mobil, Ryn menemani Sian di kursi belakang. Sementara Jun tancap gas secepat mungkin mencari rumah sakit terdekat.
"Sian bangun. Jangan tinggalkan aku." Isak tangis Ryn terdengar sampai ke telinga Jun sedangkan Sian setengah sadar berusaha membuka mata.
"Zhao Ryn..." Panggil Sian lemah sekali. Tangan Ryn yang menekan perut Sian berlumuran darah.
"Ya Tuhan, kenapa begini Sian." Ryn bahkan tidak bisa berpikir jernih. Yang ia inginkan adalah Sian yang kuat, dingin dan tak terkalahkan oleh rival bisnis maupun musuh-musuhnya.
"Jangan menangis, kumohon." Pinta Sian mengusap pelan pipi Ryn, meninggalkan jejak merah di pipi putih wanita yang ia cintai.
Sian terbaring diatas brankar dibawa teanaga kesehatan menuju ruang operasi dalam keadaan tak sadarkan diri. Ryn menunggu diluar dengan perasaan cemas. Ia merintih memegangi perutnya yang kram.
'Kau tidak bisa mengalami hal ini kedua kalinya, Ryn kandunganmu sangat lemah. Kita bisa mengakhirinya sekarang sebelum dia tumbuh lebih lama." Setelah sadar dari koma Vennie menjelaskan kondisi medis yang tengah Ryn alami.
'Tidak bisa. Sian sangat menginginkan anak ini. Aku harus rela berpisah dengannya hanya agar dia aman. Lakukan apapun untuk mempertahankan dia nyonya Vennie, tolong aku.'
"Nona... Anda baik-baik saja?" Jun menghampiri, dia ingin membantu menopang tubuh Ryn namun selalu ingat batasan.
"Asisten Jun, bolehkah aku pulang sekarang? Vick pasti akan mencariku kemari." Ryn tidak ingin Vick membuat masalah saat Sian sedang berjuang antara hidup dan mati.
Jun bingung, dia berharap Ryn menetap sampai Sian bangun. Namun dia juga sadar Ryn pasti lelah dan terkejut. Seharusnya dirinya mengantar Ryn pulang, apa daya Sian juga perlu seseorang untuk menjaganya.
"Nona, orang-orangku akan mengantar anda. Maaf telah membuat nona mengalami hal ini." Perkataan Jun sudah tak terdengar lagi di telinga Ryn, ia hanya mengangguk lalu pergi.
***
"Sudah tahu kau tidak baik-baik saja tetap pergi menemui pria itu." Amuk Vick, bukannya menenangkan Vick malah menambah situasi semakin kacau. Ryn kembali mengalami pendarahan dan terpaksa di rawat intensif di rumah sakit keluarga Zhu.
"Tenangkan dirimu Vick Zhu!" Tegas Vennie menegur putranya.
"Biar aku yang bertanggungjawab, sebaiknya hilangkan bayi itu demi keselamatan nyawa Ryn."
"Cukup!" Ryn benar-benar muak menghadapi sikap egois Vick. Dia tidak memiliki hak sama sekali dalam mengambil keputusan hidupnya.
"Aku akan membawa Ryn ke Jerman. Setelah kondisinya pulih." Zhu Ma angkat bicara kali ini memberi perintah mutlak.
Ryn diam, tidak menolak ataupun mengiyakan. Dia hanya berusaha mencari tempat aman untuk ia dan bayinya. Meski harus berpindah-pindah tempat.
Sementara Sian akhirnya siuman usai melewati masa kritis sehari penuh. Dia mengedarkan pandangan mencari keberadaan wanita yang menangisinya ketika sedang lemah tak berdaya. Zhao Ryn nya.
"Dimana dia?" Sian menanyakan Ryn pada Jun juga Alea.
"Maaf tuan, seharusnya saya bisa membawa nona. Tapi kediaman keluarga Zhu sudah kosong sejak kemarin." Jun menunduk siap menerima amukan Sian.
Sian memejamkan mata mendengar kabar buruk mengenai Ryn. Kali ini apa lagi kesalahan yang ia perbuat sehingga Ryn kembali pergi darinya.
"Sian, kau harus pulih lebih dulu baru mencarinya. Ryn pasti memeiliki alasan." Alea mencoba menenangkan sang sahabat. Lebih penting memikirkan kondisi tubuhnya yang terluka.
Sian sangat ingat bagaimana Ryn ketakutan saat dirinya di tusuk oleh orang suruhan musuhnya. Siapa lagi kalau bukan Lee Tak? Ayah yang tega melukai darah dagingnya, Lee Tak merasa Sian keterlaluan dengan memenjarakannya.
Sialnya Lee Tak masih berkeliaran diluar, dia hanya perlu wajib lapor seminggu sekali dan dilarang bepergian ke luar negeri sebelum sidang pertama digelar. Sian tidak menyangka ayahnya masih mampu melakukan perlawanan. Tapi dia hanya perlu bersabar karena pengadilan maupun pihak kepolisian sangat anti terhadap tindak penyuapan kasus korupsi. Tidak seperti di negara antah berantah.
"Bantu aku pantau Lee Tak. Dan cari kemana tujuan Ryn." Akhirnya Sian memutuskan langkah pertama yang harus mereka ambil.
"Baik tuan. Saya permisi." Jun menitipkan Sian dalam pengawasan Alea.
Di sebuah hotel dekat bandara, Ryn hendak menuju kamar yang akan ia tempati untuk malam terakhirnya di kota Jasata sebelum pergi ke Jerman.
"Tuan..." Tentu Ryn terkejut didatangi oleh orang yang berusaha ia hindari.
"Bagus kau memilih pergi dari Sian. Dia saja berani memenjarakan papanya, jadi bagaimana kalau aku melukai wanita yang dia cintai? Maka dari itu, aku terpaksa melumpuhkan Sian demi memaksamu mundur." Sian, Ryn merasa kasihan padanya. Bahkan pria itu memiliki nasib yang sama dengannya, memiliki orang tua jahat. Tega menyakiti darah daging mereka hanya untuk kepuasan semata.
"Ingat, aku bisa melakukan lebih dari ini. Sian tidak pantas untukmu sampai kapanpun." Kecam Lee Tak.
"Pernahkah tuan bertanya apa yang Sian inginkan? Aku tahu, selama ini dia hanya mengikuti semua perintah anda. Lalu apa bedanya anda dan ibuku?" Pertanyaan Ryn sempat menghentikan langkah Lee Tak, namun paruh baya berdarah dingin itu tidak tersentuh sedikitpun olehnya.
Ryn luruh ke lantai beralaskan karpet mewah, dia berusaha memahami jalan pikiran orang tua tetapi tetap buntu. Apa mereka pikir anak-anak hanyalah boneka semata? Mereka juga memiliki perasaan, cita-cita dan kebebasan.
Ryn kira seorang Lee Tak yang berpendidikan selalu bersikap logis dan rasional, nyatanya nir empati meskipun terhadap anak kandung sendiri.
"Sian, maafkan aku. Lagi-lagi aku harus meninggalkanmu." Bisik Ryn disela isak tangisnya.
Sian terluka di perut bagian kirinya, dokter menerangkan tidak ada kerusakan pada organ vital. Hanya saja mobilitas Sian akan terhambat karena bekas jahitan yang belum kering. Namun belum pulih sepenuhnya Sian bahkan sudah pergi mencari keberadaan ayahnya Lee Tak.
Sian tahu semua mungkin tidak masuk akal bagi siapapun, tetapi Sian paling hafal bagaimana sifat ayah kandungnya.
"Kau pasti ada kaitannya dengan kepergian Ryn. Katakan apa yang telah kau lakukan padanya." Pertanyaan Sian membuat bibir atas Lee Tak berkedut menahan rasa senang. Berarti Sian masih belum menjangkau pelaku penusuk itu. Karena Lee Tak bahkan telah menghilangkan jejaknya sebelum Sian berhasil menemukannya.
Tidak ada bukti maupun saksi. Benar-benar licik.
"Dari pada kau sibuk mencarinya, lebih baik pikirkan alasan dia enggan di sisimu. Hidupmu jelas penuh dengan musuh. Zhao Ryn pintar memilih pergi." Jawab Lee Tak tenang dalam posisinya duduk bersandar di kursi kerja. Dia masih bisa bersantai di griya tawang miliknya meskipun statusnya adalah tahanan kota.
"Jika itu keinginannya aku tidak masalah. Tapi saat aku tahu kau yang membuatnya pergi, jangan salahkan aku jika membalasmu." Sian memperingati Lee Tak, ayah kandungnya sendiri. Dia muak menjadi bonekanya selama ini.
Sian lantas pergi begitu saja tanpa pamit. Baginya Lee Tak sudah bukan orang yang perlu ia hormati lagi meskipun tidak dapat menghapuskan status keduanya. Sedikit saja Sian berharap Lee Tak mau berubah menjadi lebih baik pada hidupnya, Sian, Meimei dan juga sang nenek mungkin Sian tidak akan mengambil jalan seperti ini. Memerangi sang ayah.
'Kau tidak akan mengerti apa yang sedang aku usahakan Lee Sian.' Batin Lee Tak menatap punggung Sian keluar dari pintu ruang kerjanya.
Lee Tak menyiapkan dunia yang menurutnya sempurna dan menjamin masa depan anak-anaknya hingga tua nanti. Namun ia lupa hal-hal itu terkadang bukan keinginan terdalam anak-anaknya. Sian maupun Meimei hanya butuh sosok ayah penyayang, pengertian dan sudi merangkul mereka saat senang maupun susah. Sejak kepergian ibu mereka Lee Taklah yang menciptakan benteng pemisah diantara mereka.
***
"Mama... Mama..." Teriakan anak laki-laki berusia dua tahun mengalihkan perhatian wanita di hadapannya.
"Lee Jian jangan berlarian. Sudah mama bilang berhenti mengerjai paman." Tegur sang ibu, Jian hanya terkekeh sambil mengelilingi tubuh wanita cantik berpakaian sederhana namun tetap elegan itu.
"Paman Bass, tangkap aku wlee..." Bass lalu bergegas menangkap Jian kemudian menerbangkannya ke udara.