Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Tak Bisa Dihapus
Setelah menutup pintu dan memastikan kunci sudah terpasang rapat, Adnan berjalan perlahan menuju meja belajar di sudut kamar. Tas kameranya masih tergenggam erat di tangan, terasa begitu berat seolah berisi bukan sekadar alat perekam, melainkan beban dosa yang tak terhapuskan. Ia meletakkannya di atas meja kayu yang sudah mulai kusam, lalu duduk di kursi kayu yang berderit pelan.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia membuka ritsleting tas itu dan mengeluarkan kamera tua berwarna hitam legam tersebut. Benda itu terasa dingin di tangannya, seolah menyimpan hawa dingin dari ruangan bawah tanah tempat dia merekam segala kengerian semalam. Napasnya tertahan saat ia menekan tombol daya. Layar kecil di belakangnya menyala, memancarkan cahaya kebiruan yang redup di ruangan yang masih remang-remang.
Jari telunjuknya menekan tombol putar ulang. Gambar bergerak muncul di layar kecil itu, cahaya lilin yang berkedip-kedip, bayangan-bayangan yang bergerak liar, dan di tengahnya, sosok bertanduk yang berdiri tegak dengan senyum yang seolah menembus hingga ke jiwa Adnan sendiri. Suara desahan dan gumaman mantra terdengar samar dari pengeras suara kecil, cukup untuk membuat bulu kuduknya kembali merinding.
Adnan menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kembali berpacu. Ia harus menghapus ini. Bukti ini terlalu berbahaya untuk disimpan, namun terlalu mengerikan untuk terus ditonton. Ia menavigasi menu, mencari tombol hapus, dan menekannya dengan tegas.
Apakah Anda yakin ingin menghapus file ini?
Layar menampilkan pertanyaan itu. Adnan mengangguk sendiri, lalu menekan tombol YA.
Namun tidak ada apa-apa. Video itu tetap berputar. Ia mencoba sekali lagi dan lagi. Bahkan dia mencoba memformat seluruh memori penyimpanan kamera itu. Namun setiap kali ia melakukannya, pesan yang sama muncul di layar dengan tinta merah yang membuat darahnya membeku:
TIDAK DAPAT DIHAPUS
Adnan menatap layar itu dengan mata membelalak, keringat dingin kembali menetes di pelipisnya. Mustahil. Ini kamera biasa. Memori penyimpanannya bisa dihapus kapan saja. Tapi file itu seolah memiliki nyawa sendiri, menolak untuk binasa, menolak untuk lenyap. Seolah-olah rekaman itu tidak hanya terekam di dalam chip memori, tetapi sudah tertanam di dalam benda itu sendiri, dikutuk untuk tetap ada selamanya.
Dengan tangan gemetar, dia meletakkan kamera itu menjauh, seolah benda itu baru saja membakar kulitnya. Ia menatapnya dengan tatapan ngeri, namun tak berani membuangnya. Entah kenapa, ada perasaan aneh di lubuk hatinya, bahwa membuang benda ini mungkin akan mendatangkan malapetaka yang lebih besar daripada menyimpannya.
Belum lama dia duduk termenung, ponselnya yang tadi sempat dimatikan, namun akhirnya ia nyalakan kembali untuk keperluan pekerjaan, tiba-tiba berdering nyaring di atas meja. Nama di layar membuatnya tersentak, Pak Wildan, majikannya.
Adnan menghela napas panjang, berusaha menyembunyikan kegelisahannya, lalu mengangkat telepon. "Selamat pagi, Pak."
"Pagi, Nan," suara Wildan terdengar tegas dan singkat seperti biasanya. "Maaf mengganggu pagimu. Tapi hari ini aku ada rapat mendadak pagi sekali. Tolong jemput Liza sekarang ya, antarkan dia ke kampus seperti biasa. Jangan sampai terlambat."
"Baik, Pak. Saya berangkat sekarang," jawab Adnan patuh, meski hatinya memberontak. Ia ingin sekali menolak, ingin tetap mengunci diri di rumah ini hingga semuanya aman. Namun ia tidak punya pilihan. Pekerjaan ini adalah satu-satunya sandaran hidupnya.
Adnan segera merapikan pakaiannya, memastikan kamera itu tersimpan rapat di dalam tas, lalu berangkat menuju kediaman mewah Wildan yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Sesampainya di sana, gerbang tinggi itu sudah terbuka. Ia memarkir mobil di halaman yang luas, lalu menunggu di depan pintu utama seperti biasa. Beberapa menit berlalu, pintu terbuka, dan Liza keluar.
Gadis itu tampak cantik dengan seragamnya yang rapi, rambut panjangnya terurai lembut di bahu. Biasanya, setiap kali bertemu dengannya, Liza hanya akan melangkah dingin menuju mobil tanpa menoleh sedikit pun, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seolah Adnan hanyalah sepotong kayu yang bergerak.
Namun pagi ini berbeda. Liza berhenti tepat di hadapan Adnan. Matanya yang indah menatapnya lekat-lekat, bukan dengan tatapan meremehkan atau bosan seperti biasanya, melainkan dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah ada rasa cemas yang tersembunyi di baliknya. Tangan kanannya terulur, menyodorkan sebuah botol minuman plastik berwarna bening berisi cairan kekuningan yang masih dingin.
"Ini..." suaranya terdengar lembut, sedikit bergetar, dan jauh lebih ramah dari biasanya. "Mama yang menyuruhku membawakannya untukmu. Katanya... terima kasih sudah menjagaku dan adikku pas insiden kebakaran kemarin."
Adnan tertegun sejenak, menatap botol itu sebelum menerimanya dengan ragu. "Santai aja. Sampaikan terima kasih saya kepada ibumu nanti."
Liza mengangguk pelan, namun ia tidak langsung masuk ke dalam mobil seperti kebiasaan. Ia masih berdiri di sana, menatap wajah Adnan lekat-lekat, seolah sedang mencari sesuatu.
"Kau terlihat lelah," ucapnya tiba-tiba, membuat Adnan terkejut setengah mati. Gadis ini bahkan tidak pernah menyapanya, kini ia berani menatap matanya dan berkomentar. "Apa kau tidak tidur semalam?"
Adnan tersenyum canggung, berusaha mengalihkan pandangannya. "Sedikit mungkin. Tapi nggak masalah kok."
Liza terdiam sejenak, bibirnya sedikit terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu yang lain, namun akhirnya ia hanya mengangguk pelan. "Minumlah! Ini segar. Mama bilang kau butuh tenaga."
Kali ini, saat gadis itu melangkah masuk ke dalam mobil, ia tidak langsung memalingkan wajah ke jendela dan menutup diri. Ia justru duduk di sisi yang berdekatan dengan kursi pengemudi, dan sesekali melirik ke arah cermin depan tempat mata mereka sempat bertemu sekilas.
Adnan memegang botol minuman itu erat-erat, merasakan dinginnya yang menembus kulit. Tapi saat itu, matanya menangkap dua sosok tak asing di depan sana. Gladys dan Bastian!