"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KE ASPAL IBU KOTA
Stasiun Gambir menyambut kepulangan Zaid dan Khadijah dengan hiruk-pikuk yang kontras dengan ketenangan Yogyakarta. Aroma polusi, suara klakson yang bersahutan, dan langkah terburu-buru para komuter seolah mengingatkan Zaid bahwa masa liburannya telah usai. Namun, ada yang berbeda dari cara Zaid melangkah. Jika dulu ia berjalan dengan tatapan menantang dan bahu yang tegang, kini ia melangkah dengan protektif, satu tangannya menggenggam erat jemari Khadijah, sementara tangan lainnya menyeret koper mereka.
"Sudah siap kembali ke realitas, Istriku?" tanya Zaid saat mereka menunggu taksi online di area penjemputan.
Khadijah membetulkan posisi cadarnya yang sedikit miring terkena embusan angin kencang. Ia menatap Zaid dengan binar mata yang menguatkan. "Selama ada Mas Zaid, realitas sesulit apa pun akan terasa seperti rumah bagi saya."
Zaid terkekeh, ia mengacak pelan puncak kepala Khadijah yang tertutup hijab. "Kamu mulai pintar merayu sekarang, ya."
Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh Umi Syarifah yang rupanya sudah menyiapkan makan malam mewah. Umi memeluk Khadijah lama, mencium kedua pipinya melalui kain cadar, seolah mereka sudah berpisah bertahun-tahun.
"Bagaimana Jogja? Sehat semua di sana? Abah dan Ummi titip salam apa?" rentetan pertanyaan Umi membuat Khadijah tertawa kecil.
"Semua sehat, Umi. Mereka kirim salam rindu untuk Umi dan Abi," jawab Khadijah lembut.
Zaid masuk ke kamarnya untuk meletakkan koper. Ia tertegun sejenak. Di pojok ruangan, sebuah sofa baru yang jauh lebih mewah dan nyaman dari sofa yang dibuang Umi dulu sudah bertengger manis. Zaid tersenyum kecut, menyadari bahwa Umi mungkin sudah merasa "misi"-nya berhasil sehingga mengembalikan fasilitas tidurnya.
Namun, Zaid hanya melirik sofa itu sekilas. Ia lalu beralih menatap ranjang besar di tengah ruangan, tempat di mana ia dan Khadijah kini berbagi mimpi. Baginya, sofa itu kini hanyalah pajangan. Ia tidak lagi membutuhkan benteng pemisah.
Keesokan harinya, Zaid kembali ke kampus. Setelah mengantar Khadijah ke fakultasnya, Zaid memutuskan untuk mampir ke bengkel yang merangkap sebagai markas kecil teman-temannya. Ia tahu, absennya dia selama dua minggu pasti meninggalkan banyak "catatan" dari jalanan.
"Woy! Sang Pangeran sudah kembali!" teriak Rian saat melihat motor sport Zaid memasuki pelataran bengkel.
Haikal keluar dari balik kap mobil yang sedang ia perbaiki, menyeka tangannya yang berlumuran oli dengan kain lap. "Gimana Jogja? Aman? Atau lo malah betah di sana jadi santri?"
Zaid turun dari motor, melepas helmnya, dan menyalami sahabat-sahabatnya. "Hampir saja gue nggak mau balik kalau nggak ingat kuliah belum kelar."
"Gila, aura lo beda banget, Zaid," celetuk Rian sambil mengamati wajah Zaid. "Lebih... apa ya? Lebih manusiawi? Kayaknya efek 'jamu' Jogja manjur banget ya?"
Zaid hanya tersenyum tipis. "Ada kabar apa dari Macan Hitam?"
Raut wajah Haikal berubah serius. "Mereka masih berisik. Raka kabarnya lagi ngumpulin orang dari wilayah Timur. Dia nggak terima kalah malu waktu itu. Dan satu lagi, Zaid... Sherly. Dia beberapa kali datang ke sini nyariin lo. Dia kayak orang stres."
Zaid menghela napas. Nama itu adalah noda dari masa lalunya yang masih belum sepenuhnya terhapus. "Biarkan saja. Selama mereka nggak menyentuh Khadijah, gue nggak akan cari gara-gara."
"Masalahnya, Zaid," Haikal menjeda kalimatnya, "Raka tahu kelemahan lo sekarang bukan lagi soal wilayah. Tapi soal siapa yang ada di boncengan lo."
Malam itu, di kamar mereka, Zaid tampak lebih banyak diam. Ia duduk di meja belajar, pura-pura fokus pada diktat kuliahnya, namun pikirannya melayang pada peringatan Haikal. Ia menoleh ke arah Khadijah yang sedang duduk di atas sajadah setelah sholat Isya, sedang khusyuk membaca Al-Quran.
Suara merdu Khadijah yang melantunkan ayat-ayat suci biasanya menjadi penenang bagi Zaid, namun kali ini ada rasa takut yang menyelinap. Takut jika dunianya yang kotor akan menyeret Khadijah ke dalam bahaya.
Khadijah selesai membaca, ia merapikan mukenanya dan mendekat ke arah Zaid. Ia meletakkan tangannya di bahu Zaid yang tampak tegang. "Mas ada masalah? Dari tadi bukunya tidak dibalik halamannya."
Zaid menarik tangan Khadijah, mencium telapak tangannya dengan dalam. "Khadijah, kalau suatu saat terjadi sesuatu... berjanjilah kamu akan selalu mengutamakan keselamatanmu sendiri. Jangan pikirkan aku."
Khadijah berlutut di samping kursi Zaid, menatap wajah suaminya dengan tegas. "Mas, waktu saya menerima Mas sebagai suami, saya sudah tahu risikonya. Saya tidak akan lari. Kita sudah berjanji di Jogja, kan? Kita hadapi bersama."
Zaid memeluk Khadijah erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya. Di tengah keheningan malam Jakarta, Zaid menyadari bahwa kepulangannya kali ini bukan hanya untuk melanjutkan hidup, tapi untuk memulai perjuangan menjaga cahaya yang paling berharga dalam hidupnya dari kegelapan yang mulai mengintai kembali.