Satu ciuman di tengah desing peluru, dan seluruh Italia gempar.
Riccardo Colombo, presiden berusia empat puluh lima tahun, sudah sepuluh tahun menduda dan menikah dengan satu hal saja: negara. Tapi survei berkata lain. Lawan politiknya unggul dengan keluarga sempurna, dan partai mengancam, tanpa istri, tidak ada pemilihan ulang.
Bella Lombardi, dua puluh tahun, relawan yang tulus dan putri keluarga mafia paling ditakuti di negeri ini. Seumur hidup, masa depannya diputuskan oleh pria-pria berkuasa lewat jabat tangan dan aliansi. Ciuman spontan yang ia berikan pada sang presiden malam itu hanya dimaksudkan sebagai refleks. Tapi kamera sudah terlanjur menangkapnya.
Kini sebuah tawaran terhampar di atas meja makan siang: pernikahan kontrak, empat tahun, sebatas masa jabatan.
Bella tidak meminta perhiasan. Ia hanya menuliskan pasal-pasal kebebasan.
Riccardo bersumpah ini hanya perjanjian. Bella bersumpah tidak akan jatuh cinta.
Tapi ayah Bella tidak akan menyerahkan putrinya begitu saja, seseorang mengintai dari balik layar kekuasaan, dan ada rahasia di Palazzo yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Berapa lama dua orang bisa berpura-pura menjadi pasangan, sebelum kepura-puraan itu berubah menjadi satu-satunya hal yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Janji
Riccardo
Don Cosa Nostra datang sendiri ke ruang kerjaku. Salvatore Lombardi.
Dia mencoba menawar Bella seolah dia sebuah benda, barang dagangan biasa.
Tapi aku tegas.
"Bella itu manusia, bukan benda yang kuambil dari kalian. Dia datang padaku atas kemauannya sendiri. Dan aku tidak akan melepaskan istriku hanya karena kemauan sepihak Matteo."
Salvatore tersenyum miring.
"Karena itulah aku menyukaimu, Riccardo."
Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Hanya saja, jangan lagi bersilang jalan dengan Matteo. Dia ingin menguliti kamu hidup-hidup."
Salvatore bangkit, merapikan jasnya, dan berjalan ke pintu.
"Sampai bertemu di pernikahan. Akan baik bagi kita mempererat ikatan di luar politik."
Aku hanya mengangguk, menyaksikan dia keluar.
Sisa hari itu penuh rapat, tanda tangan, dan keputusan. Aku bahkan tak keluar dari ruang kerja. Semua makanku di sana, di sela satu dokumen dan dokumen lain.
Ketika sadar, langit sudah gelap sepenuhnya.
Pintu terbuka dan Guglielmo masuk tanpa izin. Dia menutup laptopku sebelum sempat kuprotes.
"Cukup untuk hari ini. Kamu praktis sudah pria beristri. Ibu Negara sendirian sejak pagi. Pulanglah."
Aku tertawa.
"Orang tua terkutuk."
Dia tersenyum, benar-benar puas.
"Suatu hari kamu akan berterima kasih padaku untuk ini."
Aku menggeleng, mengambil jasku, dan pulang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang menungguku.
Begitu membuka pintu, aku disambut keheningan. Meski begitu, penthouse itu jauh dari kesan kosong. Wangi Bella memenuhi setiap ruangan, seakan kehadirannya masih di sana, menantiku.
Aku menuju kamar dan menemukannya tertidur lelap.
Dia cantik. Itu tak terbantahkan.
Aku mendekati ranjang tanpa suara. Mataku menyusuri wajahnya, memperhatikan setiap garis halusnya, lalu turun perlahan di sepanjang tubuhnya.
Lalu tubuhku membeku.
Di lengannya ada memar besar kebiruan.
Bekas jari yang jelas.
Rahangku mengeras seketika. Amarah naik membakar dari dalam saat aku menatap bekas itu. Tak ada yang mencengkeram seseorang seperti itu tanpa niat menyakiti.
Pagi tadi, dia memakai jaket.
Sekarang aku mengerti.
Itu bukan sekadar rasa malu atau tak nyaman. Itu ketakutan.
Ayahnya sendiri yang melakukannya, bajingan itu.
Pantas Bella memilih setiap katanya dengan begitu hati-hati. Pantas matanya menyimpan begitu banyak kewaspadaan. Pengecut itu telah menyakitinya kemarin.
Aku mengepalkan tinju dan berjalan ke jendela. Kutempelkan dahi di kaca yang dingin dan menarik napas dalam, berusaha menjinakkan amarah yang membuncah.
Keinginanku adalah mendatangi Matteo sekarang juga.
Aku menentang kekerasan.
Tapi aku muak pada pengecut.
Menyakiti putri sendiri... itu tak termaafkan.
Setelah beberapa menit, aku ke kamar mandi. Mandi lama, membiarkan air membawa pergi sebagian amarah. Kukenakan hanya celana flanel dan kembali ke kamar.
Aku berbaring di sampingnya.
Aku diam, mengamati wajahnya yang tenang. Tanganku bergerak nyaris dengan sendirinya, menyentuh rambutnya dengan lembut. Begitu Bella bergerak, aku langsung menarik tangan. Dia hanya mendesah dan terus tidur.
Aku membelakanginya dan memejamkan mata.
"Ini hanya kontrak, Riccardo..." gumamku pada diri sendiri, seolah mengulang kata-kata itu cukup untuk meyakinkan hatiku.
Di suatu titik dini hari, kurasakan beban tubuhnya menempel pada tubuhku.
Bella mendekat secara naluriah, menarik selimut ke arahnya. Kamar terasa dingin.
Tanpa berpikir, kupersempit jarak di antara kami dan kurengkuh dia dengan hati-hati, cukup untuk membagi hangat tubuhku dengannya.
Dia mendesah pelan dan melemas dalam pelukanku, masih tenggelam dalam tidur.
Sesaat, aku lupa soal kontrak.
Lupa pasal-pasal, aturan, dan segala yang kujanjikan pada diriku sendiri.
Saat itu, hanya ada Bella.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, yang kuinginkan hanyalah melindunginya... dan merasakan bahwa dia aman di sisiku.
Aku terbangun beberapa jam kemudian oleh dering alarm yang tak mau berhenti.
Bella menggerutu, masih mengantuk.
"Matikan itu..."
Aku ingin melakukannya, tapi ada satu masalah kecil.
Dia sepenuhnya berbaring di atas tubuhku.
Kepalanya bersandar di dadaku. Satu lengannya melingkari pinggangku, sementara kedua kakinya bertaut dengan kakiku.
Aku menahan napas sesaat.
Dengan susah payah, kuulurkan tangan dan berhasil meraih ponsel di meja samping ranjang. Kumatikan alarm sebelum terus berbunyi.
Kamar kembali sunyi.
Dari perubahan napas Bella, kutahu dia sudah bangun. Dia diam tak bergerak beberapa detik, seakan belum sadar akan posisi kami.
Perlahan dia mengangkat kepala. Matanya bertemu mataku sekejap. Lalu, jelas malu, dia melepas pelukan, menarik kakinya dari tubuhku, dan menjauh.
Begitu dia lepas dari atasku, aku mengembuskan napas pelan.
"Syukurlah..." gumamku lirih, lebih pada diri sendiri daripada padanya.
Penisku mengeras, dan dia pasti merasakannya.
"Selamat pagi, Bella."
Bella duduk di ranjang dan menggerutu.
"Pagi." Suaranya serak mengantuk.
Senyum tipis lolos dari bibirku. Dia jelas bukan orang yang suka pagi.
Aku juga duduk, tapi keceriaan itu langsung sirna ketika mataku kembali jatuh pada lengannya.
Memarnya masih di sana.
Tatapanku mengeras.
Aku menunjuk bekas itu.
"Matteo yang melakukannya?"
Secara naluriah Bella menyentuh lengannya, seolah baru sadar ia lupa menyembunyikannya. Tubuhnya menegang. Dia menunduk.
Keheningan berlangsung sedetik lebih lama dari seharusnya.
"Iya... benar."
Aku mengembuskan napas pelan lewat hidung, menahan amarah yang naik panas dan seketika. Aku tidak meninggikan suara. Tak perlu.
Aku hanya memiringkan kepala sedikit, kini menatapnya sungguh-sungguh.
"Dia tidak akan pernah menyentuhmu lagi."
Itu sebuah janji.