Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan yang Terbuang
Mentari pagi baru saja menyembulkan bias jingganya di balik cakrawala kota, memantulkan cahaya lembut ke kaca-kaca jendela lantai dua rumah besar milik keluarga Pratama. Di dalam kamar tamu—yang kini telah resmi menjadi kamarnya sendiri sejak malam pertama pernikahan mereka yang dingin—Kirana membuka matanya. Tidak ada lagi sisa-sisa air mata seperti beberapa hari belakangan. Yang ada hanyalah tekad yang mulai mengeras di balik sorot matanya yang lelah.
Meskipun Arka telah menegaskan aturan-aturan kaku lewat dokumen hitam putih beberapa hari lalu, dan meski pria itu melarangnya ikut campur, Kirana masih memegang sisa-sisa nurani seorang istri yang ingin mencoba. Pagi ini, ia bertekad melangkah keluar dari zona nyamannya sebagai nona manja yang terbiasa dilayani.
Kirana beranjak dari tempat tidur, mengenakan *apron* katun sederhana berwarna krem di atas pakaian rumahannya, lalu melangkah pelan menuruni anak tangga menuju dapur besar di lantai bawah.
Suasana dapur sangat lengang. Kepala pelayan, Bi Inah, tampak terkejut begitu melihat nyonya mudanya sudah berdiri di depan konter dapur pada pukul lima pagi. Wajah tua wanita paruh baya itu menyiratkan keheranan sekaligus rasa iba.
"Nyonya muda? Kenapa bangun pagi sekali? Biar saya saja yang siapkan sarapan untuk Tuan Arka," ujar Bi Inah cemas sambil melangkah mendekat.
Kirana menggeleng pelan, menyunggingkan senyuman tipis yang tidak mencapai matanya. "Tidak apa-apa, Bi. Biarkan saya yang buat hari ini. Saya ingin mencoba menyiapkan sarapan sendiri untuk suami saya."
Dengan gerakan yang sesekali tampak kaku—karena ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia benar-benar memegang spatula dan kompor untuk memasak dalam porsi nyata—Kirana mulai bekerja. Ia merebus air, memecahkan telur dengan hati-hati ke atas wajan anti-lengket, mengiris roti tawar gandum, dan meracik secangkir kopi hitam dengan takaran gula yang pas sesuai catatan kecil yang pernah ia dengar dari obrolan pelayan lain tentang kesukaan Arka.
Tangannya sempat terkena cipratan minyak panas kecil, membuat jari telunjuknya memerah dan berdenyut perih. Kirana hanya meringis kecil, mengusap jarinya sekilas ke *apron*, lalu kembali fokus. Hatinya diselimuti setitik harapan hangat. Ia membayangkan, mungkin kali ini, aroma masakan rumahan yang dibuat dengan ketulusan tangan seorang istri bisa mencairkan sedikit saja dinding es di dada suaminya.
Pukul enam lewat lima belas menit. Langkah kaki tegap yang sangat dikenal dan ditakuti penghuni rumah ini mulai terdengar menuruni tangga.
Arka muncul di area ruang makan dengan setelan jas kerja *tailored-fit* berwarna *navy* gelap, dasi sutra abu-abu tua yang tergantung rapi, serta rambut tertata klimis khas eksekutif muda yang disiplin. Pria itu baru saja turun untuk bersiap berangkat ke kantor.
Melihat kehadiran suaminya, jantung Kirana berdegup kencang. Dengan cekatan namun anggun, Kirana mengangkat mangkuk berisi *pancake* pisang hangat buatan tangannya sendiri serta sepiring telur mata sapi berdampingan dengan roti panggang ke atas meja makan. Napasnya sedikit memburu, bukan karena kelelahan, melainkan karena rasa gugup yang luar biasa.
"Mas Arka..." panggil Kirana pelan. Suaranya terdengar lembut, sarat akan ketulusan yang murni. "Kamu sudah mau berangkat? Aku... aku sudah siapkan sarapan pagi buat kamu. Ada roti panggang, telur, dan kopi hitam kesukaan kamu. Silakan dicoba, Mas."
Kirana berdiri di sisi meja makan, kedua tangannya bertumpu di depan *apron*-nya dengan jemari yang saling meremas gugup. Ia menatap wajah Arka lekat-lekat, menunggu sebuah senyuman kecil, atau sekadar anggukan kepala menghargai usaha pertamanya.
Namun, yang ia dapatkan justru sebuah keheningan yang menghujam.
Arka menghentikan langkahnya tepat di hadapan meja makan. Pandangan matanya yang tajam dan dingin menyapu hidangan yang tersaji di atas piring porselen putih itu sekilas, lalu beralih menatap *apron* kotor bertepung dan bekas noda minyak di tangan Kirana. Tidak ada binar keterkejutan yang menyenangkan di wajah Arka; yang ada hanyalah kerutan di dahi, menyiratkan kejengkelan yang mendalam.
Bagi Arka, pemandangan ini bukan wujud kasih sayang seorang istri. Di mata seorang CEO korporasi besar yang terbiasa dengan efisiensi tinggi, tindakan Kirana memasak sendiri di dapur adalah lambang kekonyolan—sebuah bentuk kekanak-kanakan dari seseorang yang tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan waktu secara produktif.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Kirana?" suara Arka terdengar rendah, datar, dan menusuk tajam tanpa ampun.
Kirana mengerjap, senyum di bibirnya perlahan memudar. "Aku... aku masak sarapan buat kamu, Mas. Biar kamu bisa sarapan makanan hangat sebelum ke kantor. Aku bikin sendiri..."
"Rumah ini punya kepala pelayan dan staf dapur yang digaji cukup mahal untuk melakukan tugas-tugas seperti itu," potong Arka dingin, memotong kalimat Kirana tanpa memberi ruang sedikit pun untuk membela diri. "Waktu kamu sangat berharga untuk dihabiskan hanya demi bermain peran sebagai ibu rumah tangga di dapur."
"Ini bukan main-main, Mas," suara Kirana mulai bergetar, pertahanan rapuhnya mulai goyah. "Aku ikhlas bikin ini buat kamu. Aku cuma mau jadi istri yang—"
"Cukup, Kirana," potong Arka lagi, nada suaranya kini meninggi setengah tingkat, menunjukkan rasa muak yang kentara. "Jangan mempermalukan diri kamu sendiri dengan drama murahan seperti ini. Saya tidak punya waktu untuk meladeni permainan rumah-rumahan ala anak kecil. Jika kamu bosan, carilah kesibukan lain di kamar atau belanjakan uang di kartu kredit, tapi jangan pernah mengacaukan rutinitas pagi saya dengan hal-hal tidak penting."
Arka sama sekali tidak menyentuh piring tersebut. Pria itu bahkan tidak sudi duduk di kursinya. Dengan tatapan penuh ketidakpedulian, Arka melangkah melewati sisi Kirana begitu saja, tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita yang berdiri mematung di samping meja.
*Tok, tok, tok.*
Suara pantulan sepatu pantofel Arka berderap cepat meninggalkan ruang makan. Tak lama kemudian, suara pintu utama terbuka dan tertutup dengan bunyi debaman berat, menandakan sang CEO telah benar-benar pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun dari apa yang telah disiapkannya dengan susah payah.
Di dalam ruang makan yang mendadak terasa begitu luas dan dingin itu, Kirana berdiri terpaku.
Kepedihan yang amat sangat merayap naik dari dadanya, mencengkeram tenggorokannya hingga terasa sesak. Matanya menatap nanar ke arah piring porselen di hadapannya. Uap hangat masih mengepul tipis dari tumpukan *pancake* dan telur mata sapi buatan tangannya. Makanan itu sempurna, lezat, dan dibuat dengan tetesan keringat serta ketulusan hatinya yang paling dalam.
Namun, makanan itu kini berubah menjadi simbol kepedihan yang paling nyata—sebuah sarapan yang terbuang sia-sia, persis seperti ketulusan cintanya yang diinjak-injak begitu saja oleh pria yang berstatus sebagai suaminya.
Bi Inah yang sedari tadi mengawasi dari balik dinding pantri melangkah pelan mendekat dengan tatapan penuh iba. Wanita tua itu mengusap bahu Kirana yang gemetar halus.
"Nyonya... yang sabar ya..." bisik Bi Inah lirih.
Kirana tidak menangis. Kali ini, air matanya menolak keluar. Ada sesuatu di dalam rongga dadanya yang mendadak membeku, berubah menjadi batu yang keras. Ia menatap piring sarapan itu sekali lagi, lalu mengangkat dagunya perlahan.
"Tidak apa-apa, Bi," ucap Kirana dengan suara datar yang hampir tidak bergeming. "Kalau Tuan besar tidak mau memakannya, buang saja semuanya ke tempat sampah."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Kirana melepas *apron*-nya dengan gerakan tenang, meletakkannya di atas meja makan di sebelah piring yang tak tersentuh, lalu berbalik melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Hari ini, untuk pertama kalinya, Kirana bersumpah di dalam hati: ia tidak akan pernah lagi membuang waktu, tenaga, dan perasaannya untuk mengharapkan pengakuan dari pria bernama Arka Pratama.