Lin Meilin adalah agen intelijen modern papan atas yang ditakuti karena keahliannya dalam taktik pertempuran dan racun mematikan. Namun, sebuah misi rahasia untuk merebut kembali Giok Dinasti Long yang hilang di luar negeri justru berakhir tragis. Meilin dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri hingga sekarat.Saat tetesan darah Meilin menyentuh permukaan giok kuno tersebut, keajaiban mistis terjadi. Jiwanya terlempar melintasi waktu dan terbangun di dalam tubuh Permaisuri Lin—seorang wanita berkedudukan tinggi namun memiliki kepribadian yang sangat lemah dan penakut. Di dunia kuno ini, Permaisuri Lin baru saja diracun oleh selir kesayangan kaisar dan dibuang hingga terabaikan di Istana Dingin yang sunyi.Kini, tidak ada lagi permaisuri lemah yang bisa ditindas! Dengan jiwa agen rahasia yang haus akan keadilan, Meilin bangkit untuk mengacak-acak seisi istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amber Mist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Pajak Rampokan di Kamar Permaisuri
Meilin tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menggerakkan tangan kanannya secepat kilat, melepaskan tiga jarum perak beracun kelumpuhan instan yang langsung menancap tepat di titik saraf leher tiga anak buah Hu Lei.
Slep! Slep! Slep! Bluk!
Tiga preman bertubuh besar itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara erangan sebelum tubuh mereka ambruk ke lantai dengan mata membelalak kaku.
"M-Monster! Bunuh dia!" Hu Lei berteriak histeris, mendorong dua anak buahnya yang tersisa untuk maju menerjang Meilin.
Dua preman itu mengayunkan pedang mereka dengan membabi buta, namun kecepatan gerakan Meilin berada di level yang sama sekali berbeda berkat aliran Qi internal yang kian matang di tubuhnya. Meilin merunduk rendah, melangkah masuk ke dalam zona mati pertahanan musuh pertama, dan menghantamkan sikunya dengan kekuatan penuh tepat ke arah jakun sang preman.
Bugh!
Preman pertama langsung tumbang sambil memegangi lehernya yang hancur. Bersamaan dengan itu, Meilin memutar tubuhnya, menangkap pergelangan tangan preman kedua, mematahkan sendinya dengan satu puntiran mekanis yang kejam, lalu merebut belati musuh untuk disayatkan langsung ke urat nadi kaki lawan.
Klek! Sleb! Ahkk!
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, lima anak buah Hu Lei telah dilumpuhkan sepenuhnya di atas lantai yang kini banjir darah.
Hu Lei yang melihat pembantaian efisien tersebut langsung menjatuhkan senjatanya, lututnya lemas hingga ia jatuh terduduk di depan meja peraknya. Tubuhnya gemetar hebat saat Meilin berjalan perlahan mendekatinya, memutar belati berdarah di jemarinya dengan gerakan yang sangat lincah dan menawan.
Meilin berhenti tepat di depan Hu Lei, menodongkan ujung belati yang dingin tepat di atas bola mata pria bertato itu.
"Katakan padaku, Hu Lei," bisik Meilin dengan nada suara yang sangat lembut namun merindingkan. "Di mana gudang penyimpanan emas utama rahasia milik Menteri Hua yang belum disita oleh istana?"
"A-Aku tidak tahu! Hamba bersumpah tidak tahu!" Hu Lei menangis ketakutan.
Meilin sedikit menurunkan belatinya, menggores kulit kelopak mata Hu Lei hingga mengalirkan setetes darah. "Kau punya waktu tiga detik sebelum aku mencungkil matamu ini dan menjadikannya makanan anjing jalanan. Satu... dua..."
"Di-Di bawah ruang bawah tanah kuil tua di pinggiran timur kota! Ada lima puluh peti emas di sana! Tolong ampuni nyawa hamba!" Hu Lei membongkar seluruh rahasia terbesarnya tanpa sisa demi menyelamatkan kepalanya.
Meilin tersenyum dingin dari balik topengnya. Ia memukul titik pingsan di leher Hu Lei hingga pria itu tak sadarkan diri, lalu bersiul pelan ke arah jendela.
Dua pemuda yatim piatu didikan Meilin yang mengenakan pakaian hitam langsung melompat masuk melalui jendela dengan gerakan yang rapi. "Bos, instruksi selanjutnya?"
"Ikat bajingan ini dan bawa ke otoritas militer kota menggunakan lencana serigala hitam yang kuberikan kemarin. Biarkan pasukan kaisar yang mengurus sisanya," perintah Meilin sambil menyeka belatinya dengan kain sutra meja. "Mengenai kuil tua di pinggiran timur... siapkan kereta kuda besar. Kita akan memindahkan emas-emas itu ke kas toko kita malam ini juga sebelum pasukan istana mengindusnya."
Dengan hancurnya jaringan Hu Lei dan dikuasainya emas rahasia keluarga Hua, fondasi finansial dan jaringan intelijen bayangan milik Lin Meilin di luar istana kini telah berdiri dengan kokoh dan tak tergoyahkan.
Tengah malam telah lama berlalu saat Lin Meilin kembali ke Istana Fengxiang. Ia telah berganti pakaian, menanggalkan seragam tempur hitamnya yang berbau mesiu dan darah, serta menyembunyikan emas-emas hasil rampokan dari kuil tua ke dalam kompartemen rahasia di bawah lantai tokonya. Kini, ia hanya mengenakan gaun tidur sutra tipis berwarna putih salju, membiarkan rambut hitam panjangnya terurai bebas hingga ke pinggang.
Meilin melangkah menuju ranjang phoenix-nya yang megah, berniat mengistirahatkan tubuhnya yang sedikit lelah setelah pertempuran taktis di rumah bordil tadi. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh kelambu sutra emas, punggungnya mendadak menegang.
Aroma familiar kayu cendana yang maskulin dan pekat merasuk ke indra penciumannya.
"Kau kembali sangat terlambat untuk seorang Permaisuri yang baru saja sembuh dari sakit, Rubah Kecil."
Sebuah suara bariton yang berat, rendah, dan penuh karisma terdengar dari balik bayang-bayang kelambu ranjang yang gelap. Sesosok tubuh tinggi besar bangkit berdiri perlahan, melangkah keluar menembus temaram cahaya lilin kamar.
Itu adalah Kaisar Long Feng. Pria itu mengabaikan jubah kebesaran emasnya; ia hanya mengenakan jubah dalam hitam longgar yang memperlihatkan sedikit dada bidangnya yang keras, memberikan kesan kasual namun luar biasa intimidatif dan jantan.
Meilin tidak mundur. Sepasang mata elangnya langsung menyipit tajam, menatap suaminya dengan kewaspadaan tinggi. "Yang Mulia Kaisar, menyelinap ke kamar permaisurimu di tengah malam tanpa pengumuman kasim... apakah ini kebiasaan baru penguasa Dinasti Long?"
Long Feng terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar seksi namun berbahaya. Ia melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga Meilin bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh kekar sang Kaisar.
"Jika aku mengumumkan kedatanganku, aku tidak akan bisa menangkap basah permaisuriku yang baru saja merampok lima puluh peti emas sisa keluarga Hua di kuil tua pinggiran timur, bukan?" tembak Long Feng langsung dengan kilatan geli di sepasang mata elangnya.
Meilin menaikkan satu alisnya, ekspresi wajah cantiknya tetap tenang tanpa riak panik sedikit pun. "Perampokan? Yang Mulia pasti salah dengar. Aku berada di kamarku sepanjang malam untuk merajut sutra."
"Oh? Merajut sutra menggunakan teknik beladiri taktis yang mematahkan leher lima preman di Paviliun Awan Merah?" Long Feng maju satu langkah lagi, memaksa Meilin melangkah mundur hingga bagian belakang lutut wanita itu menghantam tepi ranjang yang empuk.
Sebelum Meilin sempat memutar tubuhnya untuk menghindar, Long Feng bergerak secepat kilat. Kedua tangannya yang besar bertumpu di sisi kiri dan kanan tubuh Meilin, mengurung wanita itu sepenuhnya di atas ranjang. Wajah tampan Long Feng berada sangat dekat, hanya berjarak beberapa sentimeter dari bibir Meilin.
"Gao Zan melaporkan semuanya kepadaku, Meilin. Pasukanku tiba di kuil tua itu dan hanya menemukan ruangan yang sudah kosong melongpong," bisik Long Feng, suaranya yang berat bergetar rendah di dekat bibir Meilin. "Berani-beraninya kau merampas barang sitaan milik kekaisaran tepat di bawah hidungku."
Meilin menatap lurus ke dalam manik mata hitam pekat Long Feng. Jarak yang teramat dekat ini membuat ia bisa melihat refleksi dirinya di mata pria itu. Sebuah senyuman licik namun memikat perlahan terukir di wajah cantik sang agen rahasia. Ia mengangkat tangan kanannya, dengan berani menaruh telapak tangannya di atas dada bidang Long Feng yang hangat.
semangat up nya kak, Terima kasih sdh up beberapa bab kak😍😍.. utk jam berapa nya kau up terserah aja ya.. aku selalu menantikan kelanjutan cerita mu ini.. semoga sampai tamat 😍😍😍
semangat ya
semoga sampai tamat ya😍😍
semangat up nya💪💪
Yuk, voting, kalian lebih suka aku upload di jam brp?
Yang setia ikutin, pencet " ikuti" + kasih 💫 bintangmu ya.
Hamba butuh dukungan kalian
semangat thor nulisnya nya🤭
kalo berkenan mampir thor😉