NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Bu Ratna berdiri mematung. Wajahnya yang semula tenang kini mulai kehilangan warna. Ia merasakan ratusan pasang mata tertuju kepadanya, menunggu jawaban yang tak kunjung keluar.

Dimas melangkah maju setengah langkah.

"Pak Ketua Panitia, saya rasa ini hanya kesalahpahaman."

Ketua panitia menggeleng sopan.

"Maaf, Pak Dimas. Dalam acara amal seperti ini, kami tidak bisa menganggapnya sebagai kesalahpahaman. Jika benar barang tersebut bukan milik penyumbang, kami wajib menghentikan proses lelang sampai status kepemilikannya jelas."

Kalimat itu membuat suasana ballroom kembali dipenuhi bisik-bisik.

"Berarti lelangnya dibatalkan?"

"Kalau benar bukan milik mereka, ini bisa menjadi masalah besar."

"Keluarga Pak Dimas berani sekali."

Wajah Dimas semakin tegang. Ia menatap Karin dengan rahang mengeras.

"Karin, cukup."

Karin membalas tatapan suaminya tanpa sedikit pun gentar.

"Cukup?" Ia tersenyum tipis. "Kamu ingin aku diam saat barang milikku dilelang tanpa seizinku?"

Dimas menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya.

"Nanti aku jelaskan."

Karin menggeleng pelan.

"Tidak. Kamu sudah terlalu sering berkata 'nanti'. Tapi sampai hari ini, aku tidak pernah mendapatkan satu pun penjelasan yang jujur darimu."

Melihat putranya mulai terdesak, Bu Ratna buru-buru menyela.

"Karin, Ibu memang tidak sempat meminta izin kepadamu. Tapi semua ini untuk kegiatan amal. Ibu yakin kamu tidak akan keberatan membantu orang lain."

Karin tersenyum tipis.

"Kalau memang niatnya baik, kenapa Ibu tidak meminta izinku?"

Bu Ratna terdiam. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Karin melangkah satu langkah mendekat.

"Atau..." Ia berhenti sejenak, lalu menatap ibu mertuanya lurus. "...karena sejak awal Ibu yakin aku tidak akan datang ke acara ini?"

Kalimat itu membuat wajah Bu Ratna berubah.

Namun Karin tidak memberinya kesempatan untuk menyela.

"Ibu sengaja mengatakan acara ini hanya pertemuan kecil yayasan. Ibu sengaja menyembunyikan undangan dariku. Bahkan Ibu membawa Vina sebagai pendamping Dimas."

Tatapannya beralih sesaat ke arah Vina sebelum kembali kepada Bu Ratna.

"Lalu sekarang, perhiasanku dipajang di atas panggung atas nama Dimas."

Karin mengangkat dagunya sedikit.

"Masihkah Ibu ingin mengatakan semua ini hanya kebetulan?"

Bu Ratna menggigit bibirnya kuat-kuat.

"Tidak seperti itu."

Karin langsung menimpali.

"Lalu seperti apa, Bu?"

Bu Ratna kembali terdiam.

Keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling jelas. Para tamu mulai saling bertukar pandang. Bisikan-bisikan pelan kembali memenuhi ballroom.

Saat itulah Pak Wijaya berdiri dari kursinya. Ia merapikan jasnya sebelum menatap ketua panitia.

"Pak Ketua Panitia."

Ketua panitia segera menganggukkan kepala.

"Silakan, Pak Wijaya."

Pak Wijaya berbicara dengan suara tenang, tetapi penuh wibawa.

"Saya tidak ingin acara amal yang mulia ini ternoda oleh persoalan keluarga. Namun saya juga tidak bisa membiarkan hak putri saya diambil begitu saja."

Ketua panitia mengangguk hormat.

"Kami mengerti, Pak."

Pak Wijaya melanjutkan ucapannya.

"Saya memiliki bukti kepemilikan seluruh perhiasan tersebut. Mulai dari sertifikat pembelian, faktur, hingga dokumentasi saat saya dan istri menyerahkan perhiasan itu kepada putri kami."

Ucapan itu membuat wajah Dimas benar-benar pucat.

Sementara Bu Ratna mulai panik. Ia sama sekali tidak menyangka Pak Wijaya masih menyimpan seluruh dokumen tersebut.

Ketua panitia menarik napas pelan sebelum mengambil keputusan.

"Kalau begitu, demi menjaga kredibilitas acara amal ini, saya nyatakan proses lelang untuk kalung dan anting berlian tersebut dihentikan sementara sampai proses verifikasi kepemilikannya selesai."

Tok!

Palu lelang diketukkan.

Keputusan itu langsung disambut riuh oleh seluruh tamu yang hadir.

Di tengah keramaian itu, Karin menatap lurus ke arah Dimas.

"Ini baru permulaan." katanya dalam hati. "Mulai malam ini, aku akan mengambil kembali satu per satu semua yang selama ini kalian rampas dariku."

1
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!