NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Yang Hilang.

Malam telah tiba.

Sesuai janjinya, Eun Dam mengajakku ke sebuah tempat yang hanya berjarak sekitar lima menit dari rumahnya.

"Rumah pohon?" tanyaku sambil menatap bangunan kayu yang berdiri kokoh di antara pepohonan. Rumah pohon itu tampak begitu cantik dengan hiasan lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip di sekelilingnya.

"Ayo, aku bantu naik," ujarnya sambil mengulurkan tangan.

Ia membantuku menaiki tangga rumah pohon yang cukup tinggi satu per satu.

Sesampainya di atas, aku dan Eun Dam terdiam sesaat. Kami sama-sama memandang langit malam yang dipenuhi bintang.

Udara malam terasa sejuk dan menenangkan.

"Sejak kecil, aku selalu berharap memiliki seorang adik perempuan," ucapnya tiba-tiba.

Aku menoleh ke arahnya.

"Entahlah mengapa. Sejujurnya, terkadang aku juga merasa kesepian. Walaupun aku bisa dengan mudah berteman dengan banyak orang, tetap saja rasanya berbeda. Aku selalu berpikir akan menyenangkan jika memiliki seorang adik kandung."

Ia tersenyum kecil sebelum melanjutkan.

"Aku membangun rumah pohon ini saat sudah memiliki cukup uang. Aku dibantu oleh beberapa orang yang memang ahli dalam bidangnya."

Aku mengangguk pelan sambil mendengarkannya.

Kemudian Eun Dam mengalihkan pandangannya ke arahku.

"Dan kamu adalah wanita pertama yang aku ajak ke sini."

Jantungku seolah berhenti berdetak selama beberapa detik.

Tatapannya begitu dalam.

Aku pernah mendengar seseorang berkata bahwa mata adalah satu-satunya bagian tubuh yang tidak bisa berbohong.

Dan saat ini, aku bisa melihat ketulusan itu di matanya.

Ketulusan yang begitu nyata hingga membuatku sulit berpaling.

Entah mengapa, aku teringat pada seseorang.

Tatapan Hwi Sol Oppa yang selama ini diam-diam menyimpan perasaannya untukku.

Dan tatapan Eun Dam yang mencintaiku tanpa pernah berusaha menyembunyikannya.

Dua pasang mata.

Dua perasaan yang berbeda.

Namun keduanya sama-sama tulus.

"Mengapa kamu ingin memiliki adik perempuan?" tanyaku. "Mengapa bukan adik laki-laki?"

Eun Dam terkekeh pelan.

"Karena aku ingin melindunginya dari lelaki buaya darat."

Aku langsung menoleh dengan tatapan jahil.

"Maksudmu dari laki-laki yang sejenis denganmu?"

Eun Dam terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa keras.

"Ya! Kenapa malah aku yang diserang?"

Aku ikut tertawa.

Malam itu dipenuhi tawa dan obrolan ringan yang terasa begitu hangat.

Bahagia.

Nyaman.

Dan aman.

Itulah yang kurasakan setiap kali berada di dekat Eun Dam.

Kami menghabiskan malam terakhir kami di Daegu dengan saling bercerita tentang banyak hal.

Dan tanpa kusadari, hari itu serta setiap momen yang kuhabiskan bersama Eun Dam menjadi kenangan yang akan selalu kusimpan dalam hati.

Di sisi lain.

Hwi Sol berdiri seorang diri di balkon kamarnya.

Tatapannya mengarah ke langit malam yang sama.

"Aku merindukanmu, Seolhwa..." ucapnya lirih.

Ia sudah berusaha berkali-kali menghilangkan perasaan itu.

Namun ternyata melupakan jauh lebih sulit daripada mencintai.

Hwi Sol mengembuskan napas panjang sebelum kembali masuk ke dalam kamar.

Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.

Lalu ia membuka media sosial.

Dan di sana, yang muncul di hadapannya adalah unggahan terbaru Eun Dam.

Foto-foto.

Video-video.

Momen kebersamaan Eun Dam dan Seolhwa.

Senyuman mereka terlihat begitu hangat.

Begitu serasi.

Begitu bahagia.

Hwi Sol menatap layar ponselnya dalam diam.

Dadanya terasa sesak.

Namun di balik rasa sakit itu, ia tetap tersenyum tipis.

"Aku harap dia bisa mencintaimu lebih dari aku mencintaimu."

Kalimat itu hanya terucap dalam hati.

Sebuah doa yang lahir dari cinta yang tak pernah berhasil ia miliki.

***

Langit yang cerah menyambut kepulangan kami pagi itu.

Sesampainya di Seoul, aku sempat mampir ke bakery milikku sebelum akhirnya pulang ke rumah.

Begitu tiba, aku langsung merebahkan tubuh di atas ranjang. Namun tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Aku ingin memberikan kejutan untuk Hwi Sol Oppa.

Oppa memang tahu hari ini adalah hari kepulanganku dari Daegu, tetapi ia tidak tahu bahwa aku pulang lebih cepat dari yang direncanakan.

Tanpa membuang waktu, aku segera menuju dapur dan mulai memasak makan siang untuknya.

Aku membuat beberapa masakan rumahan kesukaan Oppa.

Setelah semuanya selesai, aku mandi dan bersiap sebelum berangkat menuju kantornya.

Sesampainya di kantor Hwi Sol oppa, aku langsung menuju ruang kerjanya.

Dari luar pintu, aku mendengar suara sekretarisnya.

"Permisi, Tuan. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan."

"Siapa?" tanya Hwi Sol. "Bukankah hari ini aku tidak memiliki janji pertemuan dengan siapa pun?"

Aku yang diam-diam menguping dari balik pintu langsung tersenyum kecil sebelum masuk ke dalam ruangan.

"Jadi Oppa tidak ingin bertemu denganku?" tanyaku sambil tersenyum manis.

Begitu melihatku, wajah serius Hwi Sol langsung berubah.

Senyum bahagia yang begitu jelas terpancar dari wajahnya.

Melihat itu, sekretarisnya pun segera pamit dan meninggalkan kami berdua.

Tanpa mengatakan apa pun, Hwi Sol oppa langsung berjalan menghampiriku.

Ia memelukku erat.

"Kamu tahu? Oppa sangat merindukanmu..." ujarnya pelan.

Aku tersenyum dan membalas pelukannya.

"Aku juga sangat merindukan Oppa."

Beberapa saat kemudian, aku perlahan melepaskan pelukan itu.

"Bagaimana kejutanku? Berhasil, kan?" tanyaku bangga.

"Sangat berhasil!" jawabnya tanpa ragu.

Ia kemudian mempersilahkanku duduk di sofa tamu yang berada di dalam ruangannya.

"Aku membawakan ini."

Aku mengangkat tas bekal yang kubawa.

"Aku memasaknya sendiri. Rasanya sudah lama kita tidak makan siang bersama di hari kerja seperti ini. Biasanya hanya saat hari libur."

Senyum oppa semakin lebar.

Aku mulai membuka satu per satu wadah makanan yang kubawa.

Tak lama kemudian, kami pun makan siang bersama.

Suasana yang sederhana, tetapi terasa hangat.

Tak terasa seluruh makanan habis tanpa sisa.

"Enak. Enak sekali!" puji Hwi Sol oppa sambil tersenyum puas.

"Terima kasih, Seolhwa."

Tangannya terangkat dan mengusap lembut pipiku.

"Dengan senang hati, Oppa."

"Bagaimana perjalananmu?" tanyanya. "Apakah menyenangkan?"

Aku langsung mengangguk cepat.

"Sangat! Sangat menyenangkan. Orang tua Eun Dam juga baik sekali padaku."

Melihat senyum yang mengembang di wajahku, Oppa ikut tersenyum.

Meski ada sesuatu yang sulit dijelaskan di balik tatapannya.

"Tapi rasanya ada yang kurang," lanjutku sambil memanyunkan bibir.

"Apa itu?"

"Karena Oppa tidak ada di sana."

Untuk sesaat, Hwi Sol terdiam.

Lalu senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

Obrolan siang kami pun berlanjut dengan hangat dan menyenangkan.

Namun di sisi lain.

Setelah membicarakan yang terjadi dengan sang suami, Nyonya Kim tidak bisa lagi menenangkan pikirannya.

Hari itu juga, ia dan suaminya memutuskan pergi ke Seoul.

Tujuan mereka hanya satu.

Panti asuhan tempat mereka pernah menitipkan putri kandung mereka bertahun-tahun yang lalu.

Perjalanan yang terasa begitu panjang akhirnya membawa mereka ke tempat yang selama ini menyimpan jawaban atas penyesalan terbesar dalam hidup mereka.

Dengan jantung berdebar kencang, keduanya mulai mencari informasi tentang anak perempuan yang telah lama hilang dari hidup mereka.

Dan ketika kebenaran itu akhirnya terungkap...

Kedua pasangan paruh baya itu hanya bisa terdiam.

Wajah mereka pucat.

Tubuh mereka membeku di tempat.

Karena kenyataan yang mereka temukan jauh lebih mengejutkan daripada yang pernah mereka bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!