Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minimarket
Semilir angin pagi itu menghantarkan suasana mendebarkan. Masa pengenalan lingkungan sekolah tidak seperti bayangan Ares. Dia berdiri di terik matahari bersama siswa siswi lain yang tampak bersemangat.
Ares ingin duduk, menutup mata lantas tidur. Sebanyak apa pun dia mengeluh tidak ada yang tampak peduli.
"Mukamu merah banget," celetuk seorang siswi di sampingnya.
Ares semula diam berusaha untuk mengabaikan, tetapi perempuan itu tetap kekeh mengajaknya bicara. "Menurutmu kalo aku maju trus tarik topi ketosnya, bakal dimarahi gak? Ngeselin banget mukanya, dari tadi ngasih games mulu. Bolak balik sana-sini," katanya.
Ares mendengus.
Pembagian kelas masa pengenalan lingkungan sekolah membuat Ares tercengang. Pasalnya dia sekelas dengan Celine—gadis berisik yang terus mengusiknya. Bahkan ditempatkan di meja yang sama.
"Hai, kenalin aku Celine. Kalo kamu?" sapa Celine kala itu, senyumnya lebar.
Ares berdehem, dia menerima jabat tangan Celine.
"Ares."
"Baru kali ini aku nemu anak cowok seganteng kamu!" serunya bersemangat. Celine memangku dagu lantas memainkan rambutnya. "Udah ada cewek belum?"
Ares terbangun begitu saja, keringat sebesar biji jagung mengalir bebas di dahinya. Ekspresi Celine dalam mimpinya begitu amat nyata, persis seperti waktu itu.
Laki-laki itu memijit pelipisnya, lantas bangkit berdiri. Dia berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya di wastafel. Bayangan wajah Celine memenuhi isi pikirannya.
"Kacau banget!" gumamnya. Ares kemudian menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan. Ia menutup matanya, sesaat menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.
"Sudahlah, lupakan Ares."
Ares membersihkan badannya. Dia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar, jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Dia menghembuskan napas kasar begitu sampai di dapur. Sepi.
"Tidak ada apa-apa di sini, stoknya sudah habis ternyata," gumam Ares begitu membuka kulkas.
Ares sudah tidak asing dengan suasana rumah tanpa candaan keluarga. Dia hanya anak yatim piatu yang diharuskan belajar mandiri. Ketika dia meninggalkan panti asuhan dua tahun yang lalu, bibi Ina hanya memberi satu petunjuk berupa kalung yang ditemukan bersama dengan dirinya.
Laki-laki itu menyentuh kalung di lehernya, berandai-andai suatu saat nanti dapat bertemu dengan keluarganya.
Ares melangkah keluar dari rumah sewa menuju seberang, ke minimarket yang masih tampak ramai. Laki-laki itu masuk ke dalam, berniat mencari bahan pokok yang dapat dia makan malam ini.
"Jangan ganggu deh Gabriel, Mama tadi gak pesan ini ya, letakkan!" titah Celine yang baru saja melintas di hadapan Ares. Perempuan itu sepertinya tidak melihat keberadaannya.
"Satu doang, pelit amat! Tante juga pasti gak bakalan protes kayak kamu. Entar rezekinya dikit lho," kata Gabriel lantas membuka bungkus snack, memicu amarah Celine. Perempuan itu menggulung lengan bajunya, menarik telinga Gabriel sekuat yang dia bisa.
"Pulang sana, ngerepotin doang kerjanya. Kalau gak Mama yang bilang kau ikut, ogah aku bawanya! Malu-maluin," ketus Celine. Dia berdecak kesal melewati rak demi rak, mengambil bahan-bahan yang dititipkan ibunya.
"Jelek banget kau merenggut gitu, senyum aja jelek apa lagi muka kusut,"
"Diam gak!" tuding Celine dengan spatula yang baru saja dia ambil dari rak.
Ares memperhatikan interaksi dua sejoli yang sedari tadi berkeliaran tak jauh dari arah pandangnya. Alisnya menukik tajam, sayuran segar yang hendak dia ambil diremas pelan. Ada perasaan kesal bagaimana Gabriel dengan entengnya menjahili Celine.
"Bawa ini, capek aku!" perintah Celine memberikan keranjang belanja.
"Lah, bawa aja sendiri,"
"Kamu cowok apa enggak sih, gak gentle banget. Biar ada gunamu dikit, bawa dulu ke kasir tunggu di sana jangan langsung bayar. Aku mau ambil sesuatu yang kelupaan," ujar Celine. Dia tidak menghiraukan ocehan Gabriel.
"Di mana, ya?" gumam Celine memperhatikan rak satu per satu. Matanya kemudian terpaku pada rak Camilan favorit ibunya di baris paling atas.
"Tinggi banget, sial!" gerutu Celine. Dia berusaha menggapai di baris teratas, tapi tangannya tidak juga sampai. Perempuan itu berkacak pinggang, mundur selangkah hendak akan melompat.
Badannya menabrak sesuatu yang terasa padat. Seseorang terlebih dahulu mengambil camilan tersebut kemudian menyodorkannya ke depan Celine.
"Tidak usah melompat lagi, aku ambilkan untukmu."
"Makasih," Celine berbalik nyaris menjatuhkan camilan yang baru saja dia dapatkan. "Ares."
"Kebetulan ya kita ketemu?" Ares mengulas senyum manis membuat Celine dengan cepat mengalihkan pandangan. Dia mundur selangkah, rasanya sesak terjebak di antara tubuh Ares dan rak yang menghimpit.
"Iya kebetulan," kata Celine tertawa garing. "Lagi ngapain?"
"Belanja kebutuhan sehari-hari."
Celine merutuki kebodohannya, tentu saja Ares ada di sini untuk membeli sesuatu. Perempuan itu kembali tertawa, kali ini sarat kegugupan. Dia ingin pergi, tapi rasanya mustahil jika harus mendorong tubuh bongsor pria di depannya.
"Aku harus pergi untuk membayar belanjaanku, mau ikut?" kata Ares.
"Duluan aja, aku masih ada yang mau diambil."
Ares mengangguk paham, lantas berlalu pergi dari sana. Tidak menoleh sama sekali ke arah Celine yang kini menghela napas lega.
...***...
Gabriel mengetuk jari jemarinya dengan kesal, sekitar setengah jam dia menunggu Celine, tetapi perempuan itu tidak juga menampakkan batang hidungnya. Dia nyaris kehilangan kesabaran, apalagi ketika matanya tidak sengaja bersitatap dengan Ares di depannya yang sedang mengantri.
"Bocah sialan ini, ngapain ada di sini? Kalau Celine ketemu, bisa gila dia. Ditinggalin pula aku."
Ares bukan tidak menyadari tatapan kentara permusuhan dari teman sekolah yang tidak akrab, dia menghela napas panjang.
"Akhirnya datang juga. Bocah kematian, lama kali kau!" seru Gabriel begitu dia melihat Celine datang dari arah depan.
"Banyak kali omonganmu," kata Celine kemudian memasukkan camilan ke keranjang. "Antri sana, aku capek." Celine duduk di sebelah Gabriel lekas menutup matanya.
"Oke, tunggu di sini."
Celine mengintip dengan sebelah mata, sedikit aneh jika Gabriel mengiyakan tanpa ocehan keluar dari mulutnya.
"Nanti kita sebentar berhenti di persimpangan, aku tiba-tiba pengen makan." kata Celine pada Gabriel yang tak jauh berdiri darinya.
"Iya nanti sekalian makan mangkok-mangkoknya," Gabriel tertawa pendek, ujung matanya menatap pundak Ares yang masih tampak kokoh. Tidak terpengaruh dengan interaksi Celine dan Gabriel.
"Lucu banget sih kak pacarnya," celetuk seorang anak perempuan secara tiba-tiba. "Kakaknya cantik, abangnya ganteng. Cocok deh kalian berdua."
"Hush, Sofia jangan asal bicara," Wanita di samping anak itu menatap tidak enak pada Celine. "Maaf ya Nak, anak saya memang begitu."
"Gak papa Bu, namanya juga anak kecil," kata Celine kemudian mengulas senyum. Dia berjongkok di hadapan anak perempuan itu. "Sayangnya kamu keliru gadis kecil, aku bukan pacar kakak jelek itu!"
"Siapa yang kau sebut jelek?" Emosi Gabriel tersulut saat itu juga.
Di depan kasir, Ares meletakkan pesanannya. Dia mengatupkan bibirnya rapat, mengepalkan tangan dengan wajah tertunduk.
"Semuanya berapa kak?"
"Seratus dua puluh tujuh kak."
Salut banget sih author lucu gemes