Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedapatan Lastri
Ternyata proses mobil Hana dipercepat, karena Hana membelinya secara tunai. Selain itu, perusahaan tempat Hana bekerja juga menanam saham di showroom mobil tersebut. Sebagai karyawan, apalagi seorang manajer sudah pasti prosesnya cepat.
Hana membawa pulang langsung mobil barunya yang harganya sampai ratusan juta itu. Motor Hana untuk sementara ia tinggalkan di kantor sampai motor itu laku terjual.
" Bu, lihatlah itu mobil siapa bu? Bagus banget dan warnanya masih kinclong bu, pasti baru keluar dari showroom itu bu." Seru Sintia dari teras rumah.
Ibu Sundari pun tergopoh‑gopoh keluar rumah untuk melihat mobil yang dimaksud Sintia.
" Wahh iya Sintia, ini mobil baru. Punya siapa ya Sin? Apa punya Dimas?." Tanya ibu Sundari berturut‑turut.
" Sudah pasti punya Dimas bu. Apalagi dia seorang manajer, malu dong bu kalau lama‑lama naik motor. Mungkin Dimas sengaja beli mobil terus motornya biar dipakai sama Lastri. Kalau seperti ini aku bangga sama Dimas bu, hhh pokoknya aku mau minta kita jalan‑jalan pakai mobil baru itu Bu." Seru Sintia begitu yakin jika mobil itu milik Dimas.
Hana sengaja tidak turun dari mobil dulu, ia ingin melihat reaksi ibu mertuanya dan perselingkuhan suaminya. Dari raut wajah mereka berdua, mereka terlihat sangat bahagia. Hana bisa menebak jika mereka menganggap mobil itu milik Dimas.
" Waktunya turun dan melihat dua orang yang iri itu berdebar‑debar." Seru Hana bicara pada dirinya sendiri.
Tanpa menunggu lama, Hana membuka pintu mobil dan mulai menurunkan kakinya satu per satu. Dua pasang mata sedang memperhatikannya, dan mata mereka semakin melebar saat tahu siapa yang baru turun dari mobil mewah itu.
" Hana?." Seru ibu Sundari dan Sintia secara bersamaan.
Hana mengulas senyum tipis, dalam hatinya ingin sekali ia menertawakan Sintia dan sang ibu mertua, namun ia urungkan.
" Kok kamu yang turun dari mobil itu? Mana Dimas?." Tanya Sintia membuat Hana ingin mencakar mulut Sintia.
" Mas Dimas? Atas dasar apa kamu menanyakan suamiku? Atau jangan‑jangan kamu merindukan suamiku?." Tanya balik Hana malah hal lain yang ia tanyakan.
" Tutup mulutmu !! Aku menanyakan Dimas karena mobil yang kamu naiki ini punya Dimas." Seru Sintia dengan percaya diri tetap menganggap mobil itu milik Dimas.
" Ohh ya? Mobil mas Dimas? Memangnya mas Dimas punya uang?." Seru Hana membuat ibu Sundari terdiam kaku.
Sundari dan Sintia semakin geram.
" Dasar menantu gendeng !! Kalau mobil ini bukan mobilnya Dimas, lalu mobil siapa? Mobil kamu?."Tanya Ibu Sundari sinis.
Hahahaahaa Hahaaa
Bukannya langsung menjawabnya, Hana justru tertawa dengan lebar. Sebenarnya dia bukan tipe orang yang suka pamer, akan tetapi kali ini dia akan memamerkan mobil barunya kepada dua wanita benalu yang tidak tahu malu.
" Iya ini memang mobil ku. Mobil yang baru aku beli siang tadi dan aku beli secara kas, menggunakan uang ku sendiri. Bukan uangnya mas Dimas !!."Seru Hana bicara pelan namun terdengar tegas di telinga sang lawan bicaranya.
" Hahahaahaa mimpi kamu ketinggian Hana. Kalau kamu masih tidur, bangun dulu Hana."Seru Sintia sama sekali tidak percaya jika mobil itu Hana yang membelinya.
" Kebanyakan bohongnya kamu, Hana. Awas saja kalau mobil anakku sampai lecet, aku pastikan kamu akab menyesal. Kamu tidak punya uang untuk memperbaikinya."Seru ibu Sundari.
Hhhuuufffttt
Bicara dengan ibu Sundari dan Sintia tidak ada benarnya sama sekali. Sama saja bicara dengan orang gila.
" Minggir, jangan di depan pintu aku mau masuk. Kamu tunggu saja di sini sampai Dimas pulang, sambut kepulangan mas Dimas dengan senyum yang menawan. Cciihhh."Seru Hana membuat Sintia gelagapan.
Ibu Sundari sendiri tidak tahu apa maksud Hana tadi. Tapi dia tidak mempermasalahkannya, dia memang ingin Dimas cepat pulang dan menanyakan soal mobil baru yang di bawa oleh Hana pulang ini.
Kenapa Hana bicara seperti itu? Apa Hana sudah tahu hubunganku dengan Dimas? Hemm sepertinya dia tidak tahu, jika dia sudah tahu pastinya dia akan marah besar dan dia juga pasti mengusir ku. Hana itu wanita polos dan bodoh !! *Gumam Sintia dalam hatinya.
Sesampainya di rumah, Dimas melihat ada mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya. Dimas mengira ada tamu yang datang.
" Bagus sekali mobil ini, seandainya ini mobil milikku pasti akan aku pamerkan kepada teman‑temanku. Dan dengan mobil ini aku bisa mendapatkan wanita kaya yang cantik, Hana sama Sintia saja lewat."Ucap Dimas sambil mengusap bodi mobil dengan pelan.
Dimas pun masuk ke rumah, namun dia tidak mendapati adanya tanda‑tanda kedatangan tamu. Dimas berjalan sampai ke ruang keluarga, dan di sana pun sepi tidak ada siapa‑siapa.
" Ehh Dimas kamu sudah pulang, sayang."Seru Sintia yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian yang super ketat sehingga mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna.
Susah payah Dimas menelan salivanya sendiri saat melihat tubuh Sintia yang benar‑benar menggoda dan membangkitkan jiwa kelakiannya. Sepertinya Sintia memang sengaja menggoda Dimas, maklum sudah seminggu mereka libur karena Sintia kedatangan tamu bulannya.
" Aku sudah bisa dipakai."Bisik Sintia di telinga Dimas, membuat Dimas tidak bisa mengontrol dirinya lagi.
Tanpa tahu tempat, Dimas pun langsung memeluk tubuh sintal Sintia dengan tangan yang mulai meraba‑raba bagian yang sensitif. Bibir mereka saling beradu sehingga mengeluarkan kecapan yang berirama. Mereka seakan lupa, ada di mana mereka saat ini.
Rumah memang sepi, ibu Sundari sedang di rumah tetangga dan Hana beristirahat di kamarnya. Lastri sendiri belum pulang dari kuliah, anak itu pulang pasti sore‑sore.
Aahh Dimas."Suara Sintia meracau saat Dimas mencium lehernya sambil memelintir gundukan kembarnya.
Nafas keduanya sudah memburu, mereka sama‑sama menuntut lebih. Bahkan baju bagian atas Sintia sudah tersingkap ke atas sehingga dua gundukan tanpa penutup dalam itu terpampang dengan jelas. Dimas berpindah melahap keduanya secara bergantian, membuat Sintia benar‑benar sudah tidak tahan lagi.
Tanpa mereka ketahui, jika Lastri yang baru saja pulang dari kampus melihat apa yang sedang di lakukan Dimas dan Sintia. Lastri benar‑benar kaget dengan apa yang dia lihat, Dimas dan Sintia melakukan hal yang tidak pantas di tengah rumah.
" Mas Dimas dan mbak Sintia? Apa yang mereka lakukan?." Ucap Lastri pelan.
Sebagai anak remaja yang sudah berusia 18 tahun, tentunya Lastri sudah paham dengan yang dilakukan Dimas dan Sintia. Dia hendak menegur keduanya, namun justru dia yang merasa malu.
" Kita ke kamar saja, aku sudah tidak tahan."Ucap Sintia dengan suara parau karena menahan sesuatu yang bergejolak.
Iya sayang. Aku juga sudah tidak tahan, aku sangat merindukan goyanganmu sayang."Ucap Dimas.
Semua yang mereka ucapkan terdengar jelas di telinga Lastri. Lastri hanya menggelengkan kepalanya, ternyata Sintia dan Dimas mempunyai hubungan khusus.
Dimas mengangkat tubuh Sintia, mereka berdua masuk ke kamar Sintia dan pastilah terjadilah pertempuran mereka di sore hari. Untuk kali ini Hana memang tidak tahu, dia ketiduran padahal dia sendiri belum mandi. Akan tetapi, Hana pasti akan tahu jika dia melihat rekaman CCTV yang sudah dia pasang.
Lastri penasaran dengan yang terjadi di dalam kamar sana, dengan melangkah pelan‑pelan Lastri mendekati pintu kamar Sintia. Dia membukanya secara perlahan dan ternyata pintu itu tidak terkunci.
Mas Dimas dan mbak Sintia sudah kelewatan. Bagaimana kalau mbak Hana tahu, pasti semuanya akan hancur. Berselingkuh tapi sama ipar sendiri, mereka berdua memalukan. Tapi bodo amatlah, risiko mereka yang menanggungnya. Lebih baik aku diam saja dan pura‑pura tidak tahu."Ucap Lastri bicara pada dirinya sendiri.
Lastri kamu ngapain di depan kamar Sintia?."Seru ibu Sundari yang baru saja pulang.
Waduhhh...