NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23 - Menunggu di Posko

Setelah tengah malam, hujan berhenti.

Desa Fatukoa bawah berubah menjadi pulau kecil di antara lumpur, puing, dan lampu darurat. Warga yang rumahnya rusak tidur di balai desa, sebagian duduk memeluk lutut, sebagian menatap kosong ke arah rumah yang tidak bisa lagi dimasuki.

Alya tidak tidur.

Dia duduk di posko medis, menjahit luka seorang remaja dengan senter kecil sebagai tambahan cahaya. Generator tua di luar hidup-mati sejak tadi. Setiap kali lampu berkedip, semua orang menahan napas.

"Tahan sedikit," kata Alya.

Remaja itu menggigit kain. "Sakit, Dok."

"Saya tahu. Dua jahitan lagi."

Di sebelahnya, Rina memeriksa tekanan darah ibu hamil. Joko mencatat stok obat yang menipis. Dokter Nanda dari Puskesmas akhirnya bergabung setelah jalur kecamatan terbuka sebagian. Wajahnya masih lelah, tapi kali ini tangannya tidak gemetar.

Damar masuk ke balai desa menjelang pukul dua.

Seragamnya penuh lumpur. Ada darah mengering di pelipisnya. Bahunya juga tampak kaku.

Alya melihat sekilas, lalu kembali pada jahitan.

Begitu pasien selesai, dia berdiri dan menghampiri Damar.

"Duduk."

Damar mengerutkan kening.

"Aku harus cek laporan."

"Duduk."

Rina mengangkat kepala.

Joko tidak berani melihat.

Damar menatap Alya beberapa detik, lalu duduk di bangku kayu.

Alya mengambil kasa dan antiseptik. Dia membersihkan luka di pelipisnya tanpa bicara.

"Cuma goresan," kata Damar.

"Kalimat favorit orang yang membuat dokter lelah."

"Kamu juga sering begitu."

"Saya sedang tidak meminta pendapat pasien."

Damar diam.

Tangannya berada di lutut, tapi Alya melihat jari-jarinya sedikit gemetar. Bukan karena takut. Karena lelah, adrenalin, dan mungkin dingin.

"Bahu Anda?"

"Kena kayu."

"Buka jaket."

"Di sini?"

Alya menatapnya datar.

"Saya tidak meminta Anda membuka martabat. Hanya jaket."

Rina batuk keras di meja sebelah.

Damar melepas jaket. Bahunya memar dan ada goresan panjang. Tidak dalam, tapi perlu dibersihkan.

Alya bekerja pelan.

"Anda seharusnya tidak masuk ke reruntuhan tadi," katanya.

"Kamu juga."

"Saya masuk karena pasien."

"Aku masuk karena kamu."

Tangan Alya berhenti sesaat.

Rina tiba-tiba berdiri. "Saya cek pasien di luar."

Joko ikut berdiri. "Saya bantu."

Mereka pergi terlalu cepat.

Alya melanjutkan membersihkan luka.

"Jangan bicara seperti itu kalau Anda hanya lelah."

"Aku tidak hanya lelah."

"Kita di posko bencana."

"Aku tahu."

"Besok Anda mungkin menyesal."

"Aku mulai bosan mendengar kamu memutuskan apa yang akan kusesali."

Alya menatapnya.

Damar menatap balik.

Di luar, suara warga batuk, anak menangis, dan radio prajurit bergantian memanggil pos.

Tidak ada ruang untuk percakapan panjang.

Alya menempelkan plester.

"Selesai."

Damar tetap duduk.

"Kakimu."

"Nanti."

"Sekarang."

"Damar—"

"Kamu bilang jangan mengambil keputusan untukmu. Baik. Aku tidak mengambil. Aku meminta. Tolong periksa kakimu sekarang."

Alya terdiam.

Itu curang.

Dia duduk di bangku lain, menggulung celana sedikit. Betisnya tergores cukup panjang akibat kayu di reruntuhan. Darahnya sudah mengering.

Damar mengambil kasa.

"Anda mau apa?"

"Membersihkan."

"Anda bukan dokter."

"Kamu yang mengajari prajurit menghentikan perdarahan. Membersihkan luka kecil masih masuk akal."

Alya ingin menolak.

Tapi dia terlalu lelah.

Damar berlutut di depannya.

Pemandangan itu membuat Alya kehilangan kata-kata.

Mayor Damar Arkan Wiratama, komandan yang dulu membuatnya merasa seperti tamu tidak diinginkan dalam hidupnya, kini berlutut di lantai balai desa penuh lumpur, membersihkan luka di betisnya dengan tangan hati-hati.

"Sakit?" tanyanya.

"Sedikit."

"Bohong."

"Lumayan."

"Lebih baik."

Alya menatap rambut Damar yang basah oleh hujan dan keringat.

"Damar."

"Hm?"

"Tadi saat Anda masuk ke reruntuhan..."

Dia berhenti.

Damar mengangkat wajah.

"Apa?"

"Saya takut."

Kalimat itu keluar sangat pelan.

Damar tidak bergerak.

"Saya takut Anda tertimbun."

Wajah Damar berubah. Semua ketegangan di rahangnya seperti mengendur.

"Aku juga takut," katanya.

"Anda?"

"Saat mendengar kamu memanggil namaku dari dalam."

Alya menelan ludah.

Damar kembali membersihkan luka, tapi suaranya lebih rendah.

"Aku pernah menghadapi tembakan, ledakan, operasi malam. Aku tahu cara mengunci kepala agar tetap dingin. Tapi tadi, selama beberapa detik, yang kupikirkan hanya satu."

"Apa?"

"Aku belum sempat memperbaiki semuanya."

Alya memejamkan mata sebentar.

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada manis.

Karena benar.

Mereka belum sempat.

Mereka selalu hampir bicara, hampir percaya, hampir dekat, lalu keadaan menarik mereka kembali ke darah, pasien, keluarga, bencana.

Damar selesai membalut luka.

"Kamu harus tidur satu jam."

"Tidak bisa."

"Bisa."

"Pasien—"

"Rina dan Nanda jaga. Aku juga di sini."

"Anda juga harus tidur."

"Aku tidur setelah kamu."

Alya menatapnya.

"Ini perintah?"

"Negosiasi buruk."

Dia hampir tertawa.

Pada akhirnya, Alya tidur di tikar dekat meja obat selama empat puluh menit. Bukan satu jam, tapi cukup untuk membuat kepalanya tidak terasa pecah. Saat dia bangun, Damar duduk tidak jauh, punggung bersandar ke dinding, mata tertutup, radio masih di tangan.

Dia tidak benar-benar tidur.

Hanya menunggu.

Pagi datang dengan kabar baru.

BPBD kabupaten membuka jalur bantuan. Tim gabungan dari TNI, Polri, relawan, dan Dinkes akan tiba. Korban meninggal sementara dua orang. Puluhan luka. Beberapa rumah tidak layak.

Alya membaca daftar pasien, lalu mengerutkan kening.

"Rina, tiga pasien demam sejak semalam?"

"Iya. Anak-anak. Mungkin kehujanan."

Alya memeriksa mereka satu per satu. Demam, nyeri betis, mata merah pada salah satu anak. Dia menanyakan apakah mereka sempat bermain di genangan atau terluka.

Jawabannya iya.

Perut Alya terasa dingin.

"Damar."

Damar yang sedang bicara dengan Rendra langsung menoleh.

"Ada apa?"

"Kita perlu pisahkan area tidur, cek air bersih, dan mulai edukasi cuci tangan. Minta Dinkes kirim antibiotik tertentu dan rapid test kalau ada."

"Kamu curiga apa?"

Alya menatap anak-anak yang terbaring di tikar.

"Leptospirosis. Bisa juga infeksi lain pascabanjir. Tapi kalau kita tunggu semua gejala lengkap, terlambat."

Damar tidak bertanya lagi.

Dia langsung mengangkat radio.

Di luar balai desa, matahari naik di atas tanah yang retak.

Bencana pertama belum selesai.

Yang kedua mungkin baru mulai.

Kabar itu menyebar lebih cepat daripada instruksi resmi. Beberapa warga langsung panik, mengira semua air sudah beracun. Seorang bapak membawa jeriken dan meminta obat untuk seluruh keluarganya. Seorang ibu menangis karena anaknya sejak pagi bermain di parit yang meluap.

Alya berdiri di tengah kerumunan dengan suara yang serak. "Dengar dulu. Bukan semua orang harus minum antibiotik. Yang demam, nyeri betis, mata merah, atau punya luka terbuka setelah kena air banjir, lapor ke meja sana. Anak-anak didahulukan. Ibu hamil langsung ke saya."

"Kalau cuma takut, Dok?" tanya seorang perempuan.

"Takut boleh. Tapi jangan rebut obat orang yang sudah sakit."

Damar memandangnya dari sisi lain meja. Di markas, ia biasa melihat orang memberi komando dengan suara keras. Alya tidak keras. Ia pendek, jelas, dan tidak memberi ruang untuk drama. Aneh, justru itu membuat orang mendengar.

Satu jam kemudian, posko dibagi menjadi tiga jalur. Rendra mengatur daftar nama. Bu Wati membantu menulis alamat pasien karena beberapa warga tidak bisa mengeja nama kampung mereka dengan benar. Dua bidan desa datang membawa termometer tua dan satu kotak masker yang karetnya sudah rapuh.

"Stok infus tinggal delapan," kata perawat muda.

"Untuk yang dehidrasi berat saja," jawab Alya. "Yang masih bisa minum, oralit."

"Oralit habis."

Alya menutup mata sebentar. "Garam, gula, air matang. Kita buat."

Damar langsung menoleh ke dapur umum. "Bu Wati, bisa?"

"Bisa. Tapi butuh air bersih."

"Ambil dari tandon batalyon."

Rendra ragu. "Itu cadangan pasukan."

Damar menatapnya. "Hari ini warga juga pasukan kita."

Alya mendengar kalimat itu, tapi tidak sempat menatap Damar lama. Seorang anak laki-laki tiba-tiba muntah di dekat pintu, tubuhnya lemas dalam pelukan kakaknya. Alya berlari, berjongkok, dan menyentuh dahinya.

Panas.

Terlalu panas.

"Namanya siapa?"

"Timo," jawab kakaknya, nyaris tidak terdengar. "Sejak semalam dia menggigil."

Alya membuka kelopak mata anak itu, memeriksa napasnya, lalu menoleh ke Damar.

"Dia harus turun ke RSUD."

"Jalan utama masih tertutup."

"Cari jalan lain."

Damar tidak membuang waktu untuk mengatakan mustahil.

1
Sanjaria Abubakar
jual mahal Alya jangan langsung Nerima semangat Alya 💪
Sanjaria Abubakar
jadi gemes
Mun awaroh
penasaran kanjutanyya
Si Memeh
cerita nya bagus thor 👍👍👍 konflik berat, keren, mantap, tp sy ngga sanggup mikirin nya thor 🤭
Bundanyafatiyah
ceritanya bagus cuma terlalu berbelit2 banyak. pengulangan cerita...
Leni Maulani
ia ngambang
Janah Husna Ugy
q baca nya teliti bgt,meresapi,,
Nonce Yusnita
mestinya di jelaskan ..bab yang kemarin arka SDH tidur dgn ayah dan mamanya
Nonce Yusnita
bingung menyelamatkan arka nah arka bersama ayah dan ibunya
yuqana
aku maraton bacanya kak, aku syuka bgt bgt bgt novel ini, 😍😍😍😍😍
Lovely Fictions
Nadia jadi Marlina... Wiranata apa Wiratama jadi Pradipta.... Lara's dulu kakak sdh menikah skrg jd Adik
sry batlolona
lanjut ceritanya
santi robby
cie JD seru ini..
Dewi Asih
lanjut kak
Inne Ermalia Inot
membingungkan mkn k sini ceritanya
sdit bis
lucu
sdit bis
next
Faried Zhie
uwuuu
bunda fafa
tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu
Desifa Juni Raya
ini dh selesai pa blom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!