Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 | Sebuah Janji
Luna melangkah maju beberapa langkah, mengabaikan peringatan petugas keamanan yang mencoba menahannya. "Turun dari sana, Orion! Kamu gila, ya?!"
"Aku memang gila, Nanae. Bukankah dari awal kamu tau itu?" sahut Orion tenang. Ia membalikkan tubuhnya sepenuhnya, kini berdiri menghadap Luna di atas tepi beton yang licin, membelakangi jurang kegelapan di luar gedung.
"Orion, jangan main-main!" jerit Luna, dadanya naik turun tak beraturan karena kombinasi antara lelah berlari dan rasa takut yang teramat sangat. "Turun sekarang juga!"
"Aku tidak main-main," potong Orion, suaranya terdengar sangat jelas membelah deru angin malam. Matanya mengunci pandangan Luna dengan intensitas yang sanggup menghentikan detak jantung. "Aku tidak bisa tidur seharian ini. Muka kecewamu dan air matamu tadi siang terus berputar di kepalaku. Kamu benci padaku, kan, Nanae?"
"Saya tidak–"
"Kamu menangis karena aku!" seru Orion, selangkah kaki kirinya sengaja digeser mendekati tepi luar pembatas, membuat para perawat di belakang Luna menjerit histeris.
"Aku tidak suka kamu menatapku dengan rasa benci dan jijik," lanjut Orion, suaranya kembali memelan, terdengar hampir seperti rintihan keputusasaan. "Kalau kamu tidak mau memaafkan perbuatanku tadi siang... kalau kamu berniat melepaskan kasusku dan membiarkanku sendirian lagi... aku lebih baik melompat sekarang."
"Orion, hentikan gertakan konyol ini!"
"Ini bukan gertakan!" pangkas Orion tajam. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke udara, siap membiarkan tubuhnya jatuh ke belakang kapan saja. "Maafkan aku dan berjanji kamu tidak akan pernah meninggalkan kasusku, Nanae... atau kamu akan melihat mayatku hancur di bawah sana dalam hitungan tiga."
"Satu..." Orion mulai berhitung, matanya menatap Luna tanpa berkedip.
"Orion, jangan!"
"Dua..." Pria itu menyunggingkan senyum samar, memiringkan tubuhnya sedikit ke belakang menuju jurang.
"IYA! SAYA MAAFKAN!" teriak Luna sekuat tenaganya. Air mata frustrasi kembali menetes membasahi pipinya yang dingin. "Saya maafkan kamu, Orion! Saya berjanji tidak akan pernah melepaskan kasusmu! Tolong... turun..."
Kalimat itu tertahan di tenggorokan Luna saat tangisnya pecah. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan kerapuhannya. Ia takut. Ia benar-benar takut melihat pria keras kepala itu mati di depan matanya sendiri.
Hitungan itu terhenti. Orion mematung di tempatnya berdiri, menatap Luna yang kini menunduk rapat sambil menutup wajahnya yang basah oleh air mata, persis seperti reaksi wanita itu di ruang konselingnya tadi siang.
Dalam satu gerakan cepat dan cekatan yang tak terduga, Orion melompat turun dari dinding pembatas, mendarat dengan mulus di lantai beton rooftop.
Tanpa memedulikan para petugas keamanan yang bersiap mendekat, Orion melangkah lebar menghampiri Luna. Sebelum Luna sempat mengangkat wajahnya, tangan-tangan kekar Orion sudah merengkuh tubuh wanita itu, menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat dan hangat di tengah dinginnya angin malam.
"Jangan menangis lagi..." bisik Orion serak, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu yang masih tertutup jaket. "Maafkan aku, Nanae... Terima kasih sudah memilihku."
Tubuh Luna membeku di dalam pelukan Orion.Dada pria itu berombak cepat, hangat tubuhnya menempel pada jaket kulitnya. Dekapan Orion begitu erat, seakan jika ia melonggarkan cengkeramannya sedikit saja, Luna akan lenyap memudar bersama angin malam. Di balik rasa takut dan amarah yang membakar dadanya, ada satu hal yang dirasakan Luna saat ini: Orion gemetar.
"Kamu... benar-benar gila, Orion..." bisik Luna, suaranya teredam di dada bidang Orion. Tangannya yang mengepal di samping tubuh perlahan terangkat, lalu menghantam dada pria itu dengan pukulan pelan yang sarat akan rasa frustrasi. "Kamu gila! Bagaimana bisa kamu mempertaruhkan nyawamu hanya untuk gertakan konyol ini?!"
Orion tidak meringis. Ia justru makin mempererat pelukannya, mencium puncak kepala Luna berulang kali secara impulsif.
"Ini bukan gertakan, Nanae," bisik Orion, suaranya serak dan parau, nyaris habis diterpa angin rooftop. "Aku lebih baik mati daripada harus melihat mata itu menatapku dengan rasa benci. Aku tidak mau... aku tidak mau dibuang lagi."
Kata 'dibuang' yang keluar dari mulut Orion menghantam insting psikiater Luna dengan keras. Di tengah kekacauan emosinya, ia menangkap luka lama yang begitu dalam. Trauma penolakan atau abandonment trauma berakar kuat dalam diri pria ini.
Beberapa petugas keamanan dan perawat mulai melangkah mendekat dengan ragu-ragu, membawa tongkat dan tali restraint. "Dokter Luna... Anda tidak apa-apa? Mari kami amankan pasien–"
"Jangan mendekat!" potong Luna tegas, mengangkat satu tangannya tanpa melepaskan diri dari dekapan Orion.
Luna bisa merasakan tubuh Orion mendadak menegang begitu mendengar suara para petugas. Pria itu siap memasang mode bertahan atau menyerang kapan saja.
"Mundur semuanya. Biarkan saya yang menanganinya," perintah Luna dengan nada suara penuh otoritas yang tak dapat dibantah.
Para petugas saling pandang, namun akhirnya mengangguk dan mundur beberapa langkah, tetap berjaga di dekat pintu akses.
Luna menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di dada Orion, lalu mendorongnya pelan. Kali ini, Orion menurut. Pria itu mengendurkan pelukannya dan mundur selangkah, namun jemari tangannya masih enggan melepaskan pergelangan tangan Luna.
Mata abu-abu Orion menatap Luna penuh kecemasan, seperti seorang anak kecil yang takut ditinggalkan setelah melakukan kesalahan fatal. Luna menatap mata itu dalam-dalam, lalu pandangannya turun ke arah leher dan lengan Orion yang merinding karena dinginnya malam. Pria itu hanya memakai pakaian pasien tipis tanpa alas kaki.
"Kita turun sekarang," kata Luna pelan namun dingin. "Kembali ke kamarmu."
"Kamu... ngga akan pergi, kan?" tanya Orion, cengkeramannya di pergelangan tangan Luna sedikit mengencang. "Kamu sudah berjanji, Nanae. Kamu sudah memaafkanku dan berjanji ngga akan melepaskan kasusku."
Luna memejamkan mata sejenak, menghela napas berat yang mengembun di udara malam. Saat ia membuka matanya kembali, ia menatap Orion dengan sorot mata yang tajam dan tak tergoyahkan.
"Saya tidak pernah mengingkari janji saya, Orion," tegas Luna. "Tapi mulai detik ini, kalau kamu berani melakukan aksi bunuh diri atau menyakiti dirimu sendiri lagi demi memanipulasi... saya sendiri yang akan memastikan kamu dikurung di ruang isolasi paling ketat tanpa akses bertemu siapa pun. Termasuk saya. Paham?"
Orion terdiam. Bukannya merasa terancam, sudut bibirnya justru perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang legah. Ia mengangguk pelan. "Paham, Nanae."
"Bagus. Sekarang turun."
Dua puluh menit kemudian, atmosfer di kamar VIP 404 telah kembali tenang, meski menyisakan kelelahan emosional yang amat sangat.
Orion sudah kembali berbaring di atas ranjangnya. Seorang perawat telah selesai membersihkan telapak kakinya yang sedikit tergores beton rooftop dan memasangkan kembali selang infus yang sempat terlepas. Selama proses itu, Orion tidak lepas menatap Luna yang berdiri di sudut ruangan, menyandarkan tubuhnya di dekat lemari dengan tangan terlipat di dada.
Setelah semua perawat dan petugas keamanan keluar dari kamar, keheningan kembali menguasai ruangan.
"Nanae," panggil Orion lirih dari atas ranjang.
Luna tidak bergerak dari posisinya, hanya menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"
"Lehermu..." Orion menunjuk lehernya sendiri. "...plestermu agak miring."
Luna refleks menyentuh plester di lehernya, tempat bekas kecupan Orion tersembunyi. Pipinya mendadak terasa panas, namun ia dengan cepat membuang muka, menatap ke arah jendela.
"Jangan bahas itu," potong Luna ketus. "Tidur. Ini sudah jam satu malam."
Orion terkekeh pelan, suara tawa yang jauh lebih rileks dibanding beberapa menit lalu. Ia memiringkan tubuhnya di atas kasur, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Luna tanpa berkedip.
"Kamu naik motor cepat sekali tadi," gumam Orion, binar geli kembali muncul di mata abu-abunya. "Aku mendengar suara raungan mesin Ninja dari atas rooftop. Kamu benar-benar takut aku mati, ya?"
Luna menggigit bagian dalam pipinya, berusaha keras menjaga ekspresi datarnya agar tidak jebol. "Saya cuma tidak mau reputasi saya hancur karena ada pasien yang mati konyol di jam piket saya."
"Bohong," bisik Orion penuh keyakinan. "Mata merah dan air matamu tidak bisa berbohong, Rellunae."
Luna mengepalkan tangannya di balik lipatan dada. Pria ini memang sangat pandai membaca orang. Sangat menjengkelkan. "Kalau kamu tidak mau tidur sekarang, saya keluar," ancam Luna, sudah siap memutar tubuhnya menuju pintu.
"Jangan!" cegah Orion cepat. Ia buru-buru memposisikan tubuhnya berbaring sempurna dan menarik selimut hingga sebatas dada. "Aku tidur. Aku tidur sekarang. Tapi... jangan keluar sampai aku benar-benar tertidur."
Luna menatap Orion yang kini memejamkan matanya secara patuh, sebuah pemandangan yang sangat langka dan mustahil bagi staf RSJ Silver Oak mana pun. Dengan helaan napas pasrah, Luna melangkah mendekat dan menarik kursi bulat ke samping ranjang Orion. Ia menjatuhkan tubuhnya di sana, merasa seluruh sendi dan ototnya lemas luar biasa setelah memacu adrenalin di atas Ninja kesayangannya tadi.
Ruangan itu mendadak hening, hanya tersisa suara konstan dari alat pemantau cairan infus.Beberapa menit berlalu, napas Orion perlahan terdengar semakin teratur dan berat. Wajahnya yang biasa dipenuhi senyum licik atau tatapan intimidatif kini tampak begitu tenang dan polos dalam tidurnya.
Luna menatap wajah pria di hadapannya itu dalam-dalam. Jemari Luna terangkat ragu-ragu di udara, hendak mengusap rambut hitam Orion yang berantakan, namun ia segera menarik tangannya kembali saat menyadari apa yang hampir ia lakukan.
Kamu benar-benar bahaya untukku, Orion... batin Luna ringkih, menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, membiarkan matanya yang berat perlahan ikut terpejam di samping pria yang baru saja mengacaukan dunianya.
☆☆☆
Luna mengerjapkan matanya perlahan. Rasanya seperti baru tertidur beberapa menit setelah badai adrenalin semalam. Pinggang dan lehernya tidak terasa pegal sama sekali. Padahal seingatnya, ia tertidur dengan posisi menunduk kaku di atas kursi bulat keras di samping ranjang.
Malah, yang dirasakannya sekarang adalah kehangatan yang luar biasa nyaman. Selimut tebal membungkus tubuhnya, dan kepalanya bersandar pada bantal yang sangat empuk.
Tunggu... bantal empuk?
Kesadaran Luna mendadak merayap naik. Hidungnya menghirup aroma maskulin bercampur sabun antiseptik yang sangat familier. Sesuatu yang hangat dan berat menempel di pinggangnya, sebuah lengan kekar.
Luna membuka matanya lebar-lebar. Pemandangan pertama yang menyambutnya di jarak kurang dari sepuluh sentimeter adalah sepasang mata abu-abu yang sedang menatapnya lekat. Orion terbaring miring di hadapannya, menopang kepala dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi melingkar santai di pinggang Luna, menarik tubuh wanita itu mendekat.
Wajah pria itu tampak begitu segar, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang luar biasa menggoda. "Selamat pagi, Nanae," sapa Orion dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar sangat intim. "Tidurmu nyenyak sekali di pelukanku."