Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oh, jadi kalian cinta monyet?
Bastian terdiam sejenak, memainkan rokok di antara jarinya. "Benarkah?"
"Tentu saja benar," jawabku mantap. Aku bangkit dari kursi makan, melangkah ke sofa untuk mengambil ponsel, lalu mengetik pesan singkat ke nomor Bagas yang masih tersimpan "Kamu masih menyayangiku, kan?"
Begitu pesan terkirim, balasan dari Bagas masuk dengan sangat cepat "Sangat sayang!"
Sebelum aku sempat merespons, sebuah pesan susulan masuk dari Bagas: Mara, bukan cuma aku, seluruh keluarga juga sangat menyayangimu dan mengkhawatirkanmu. Kapan kita bisa duduk dan bicara baik-baik?
Aku segera menghapus pesan kedua itu, membiarkan pesan pertama tetap berada di layar, lalu langsung memasukkan nomor Bagas ke daftar blokir. Setelah itu, aku menyodorkan layar ponselku tepat di depan wajah Bastian. "Ini buktinya."
Bastian melirik layar ponselku, lalu mengeluarkan ponselnya sendiri untuk memeriksa profil dan nomor telepon Bagas. Dan Sebuah senyuman tipis keluar dari mulutnya.
"Kenapa tertawa seperti itu?" Aku menyimpan kembali ponselku, berpura-pura kesal sambil menatapnya.
Bastian tidak menjawab. Dia bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
Mendengar pintu kamar mandi tertutup rapat, aku mengembuskan napas panjang untuk meredam kegelisahanku. Aku mengambil setengah bungkus kue yang ditinggalkan Bastian di atas meja, lalu memakannya.
Bagas sudah menemukanku di sini. Berapa lama lagi sampai seluruh keluarga besarku tahu keberadaanku?
Setelah tiga tahun melarikan diri dan hidup bersembunyi, aku hampir saja memercayai bahwa kehidupan bersama Bastian adalah kehidupanku yang sebenarnya.
Saat kueku habis, aku menoleh ke arah kamar mandi mendengar samar suara pancuran air. Aku memejamkan mata, dan wajah Bastian serta Rendy mendadak bertumpuk menjadi satu dalam pikiranku.
Seandainya aku tahu situasi ini akan berantakan secepat ini, aku tidak akan pernah setuju untuk menikah dengan Bastian. Ini hanya akan memberinya masalah yang tidak perlu.
Kepalaku mulai terasa pening. Dengan sifat Bastian yang bangga dan dominan, jika dia sampai tahu selama ini aku menjadikannya sekadar pengganti almarhum mantan kekasihku, dia mungkin akan langsung menghancurkanku tanpa ampun.
Tepat saat aku memijat pelipisku yang terasa pening, pintu kamar mandi terbuka. Bastian keluar hanya dengan jubah mandi yang terikat longgar. Tetesan air dari rambutnya mengalir di sepanjang leher hingga tulang selangka, lalu menghilang di balik kain jubahnya.
Menyadari tatapanku yang terpaku padanya, Bastian melangkah mendekat. Satu tangannya mengeringkan rambut dengan handuk kecil, sementara tangan lainnya bertumpu pada sandaran sofa di dekatku. "Amara, apa yang sedang kamu lamunkan?"
"Tidak ada," jawabku cepat, tetapi pandanganku secara tidak sadar tertuju pada jakunnya yang terlihat naik turun saat dia bernapas.
Membaca perubahan tatapanku, sorot mata Bastian berubah makin gelap. Dia menunduk, mencengkeram daguku dengan lembut, lalu mendaratkan ciumannya.
...
Keesokan paginya, aku terbangun dalam pelukan Bastian. Jariku bergerak perlahan menelusuri rahang dan garis wajahnya yang tegas.
"Masih mau tidur lagi?" gumam Bastian dengan suara serak khas bangun tidur. Tangannya meraih jemariku yang sibuk bermain di wajahnya.
"Aku sudah bangun," jawabku sambil menggeser tubuh lebih rapat ke arahnya. "Bastian... kamu sebenarnya menyayangiku atau tidak?"
Mendengar pertanyaanku itu, Bastian membuka matanya. Genggaman tangannya di jariku mengencang. "Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Kenapa pertanyaanmu semakin aneh?"
Bastian duduk dengan tegak di atas kasur, guratan ketidakpastian mulai terlihat di wajahnya. "Aku sudah pernah bilang, kalau kamu mau mengumumkan pernikahan kita ke orang-orang kantor, lakukan saja. Kalau ada perbuatanku yang membuatmu merasa tidak tenang, katakan secara langsung. Aku tidak suka terus-menerus diuji seperti ini."
Aku tidak sedang mengujimu!
Aku hanya masih punya sedikit nurani. Aku takut kamu, benar-benar menaruh hati padaku dan akhirnya malah terluka!
Tentu saja kalimat itu hanya tertahan di dalam hati. Aku hanya menopang kepala dengan satu tangan sambil menatapnya dari samping. "Bastian, selama tiga tahun ini, apa kamu benar-benar tidak pernah tertarik pada wanita lain selain aku?"
Bastian berbalik menatapku dengan dahi berkerut. "Amara, kamu kenapa sih? Dulu seingatku kamu cukup dewasa dan tidak banyak menuntut."
Aku terdiam.
Bagus, tetaplah bersikap dingin seperti itu. Nanti kalau kebenarannya terbongkar, jangan sampai kamu menyesal atau merasa kehilangan.
Melihatku memilih diam, aku akhirnya membalikkan badan dan memejamkan mata untuk tidur kembali.
Bastian mengira aku hanya sedang merajuk. Jadi dia tidak banyak bicara lagi, segera membersihkan diri, lalu bersiap untuk pergi.
Saat mendengar suara pintu kamar tertutup rapat penanda Bastian telah pergi, aku teringat ucapan Rian waktu itu. Rasanya semua terasa sangat ironis. Rian bilang Bastian sengaja mengatur fasilitas liburan ke luar negeri ini demi memanjakanku. Paling-paling pria itu sebenarnya hanya memanfaatkan momen ini untuk urusan bisnisnya sendiri.
Namun kalau dipikir-pikir lagi, justru lebih bagus jika Bastian memang tidak pernah menaruh perasaan apa pun padaku. Setidaknya, saat aku memutuskan untuk pergi nanti, dia tidak akan merasa terlalu terpukul.
Setelah sempat berbaring selama beberapa saat, aku bangun untuk mandi dan bersiap-siap. Rencananya aku ingin mengajak Ratna makan siang di luar. Namun, tepat saat aku melangkah keluar dari kamar, sosok Bagas sudah berdiri menunggu di koridor.
Begitu melihatku, Bagas langsung melangkah maju. "Mara."
"Aku mau diajak bicara, tapi berikan aku waktu satu bulan. Ada beberapa urusan pribadi yang harus kuselesaikan dulu," potongku cepat dengan senyum tipis. Dalam hati, aku mulai merencanakan pelarianku yang kedua.
"Mara, kamu bertahan di samping Bastian... apa karena wajahnya mirip dengan..." Wajah Bagas berubah serba salah, dan aku memotong kalimatnya sebelum nama itu terucap, "Iya."
Ekspresi Bagas makin terlihat terpukul. "Mara, maafkan aku. Seandainya dulu aku tahu dampaknya akan sejauh ini, aku tidak akan pernah menentang hubungan kalian."
Aku mengenal Bagas hampir tiga puluh tahun. Di balik sikapnya yang tenang dan sopan, dia adalah sosok yang sangat keras kepala. Kami tumbuh bersama, dan seingatku, ini adalah pertama kalinya dia melontarkan kata maaf kepada siapa pun.
Mendengar permohonan maafnya, hatiku sedikit goyah. Setelah tiga tahun memendam amarah, akhirnya ada satu anggota keluarga yang mau mengakui kesalahannya padaku.
Jika mau jujur, musibah yang menimpa Rendy sebenarnya bukan murni kesalahan Bagas atau keluarga besar kami. Hal yang paling membuatku sakit hati dulu hanyalah penolakan keras mereka yang menghancurkan harga diri Rendy sebelum dia pergi untuk selamanya.
Aku menarik napas panjang. "Kematian Rendy bukan salahmu. Aku menghilang selama tiga tahun ini murni karena aku belum selesai dengan rasa sakitku sendiri. Sekarang, lukanya sudah mulai mengering."
Mendengar penjelasanku, Bagas merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu debit eksklusif, lalu menyodorkannya padaku.
"Untuk apa ini?" Aku menatap kartu itu tanpa berniat mengambilnya. "Aku sudah punya pekerjaan dan bisa membiayai hidupku sendiri."
"Ini milikmu. Waktu kamu pergi dulu, kamu meninggalkan semua tabungan dan aksesorismu di rumah. Kamu tidak tahu berapa kali Tante menangis setiap melihat kamarmu yang kosong," ujar Bagas tegas, lalu menarik tanganku dan memaksa kartu itu masuk ke dalam genggamanku.
Saat Bagas selesai berbicara, aku menatap kartu debit di tanganku. Menggenggamnya erat-erat rasanya seperti memegang lahar panas, aku ingin mengembalikannya, tetapi tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolak.
Menghadapi Bagas jelas tidak sama seperti menghadapi anggota keluarga yang lain.
Aku bisa saja bersikap arogan, acuh tak acuh, atau berdebat dengan sepupuku yang lain hingga mereka bungkam. Namun, aku sangat tahu bahwa Bagas benar-benar peduli dan tulus menyayangiku. Aku tidak sanggup melontarkan kata-kata yang terlalu kasar atau menyakitkan kepadanya.
Aku menundukkan kepala, bingung harus merangkai kata-kata seperti apa, ketika sebuah suara dingin mendadak terdengar dari arah lift yang baru saja terbuka.
"Amara."
Lamunanku seketika pecah. Rasa bersalah yang tak beralasan tiba-tiba melingkupi dadaku, membuat tanganku langsung refleks menyembunyikan kartu debit pemberian Bagas di belakang punggung.
"Pak Bagas, saya baru tahu kalau Anda ternyata sosok yang sangat romantis," ujar Bastian penuh nada sindiran yang terdengar tajam. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak kecil berisi kue mousse.
Bagas tampak benar-benar bingung mendengar nada sinis itu. Begitu melihat Bastian, dia secara spontan mengulurkan tangannya. "Pak Bastian, terima kasih banyak sudah menjaga Amara selama bertahun-tahun ini."
Bibir tipis Bastian menyunggingkan senyum mengejek yang makin pekat. "Berterima kasih padaku? Apa maksud Pak Bagas berbicara seperti itu? Apakah Anda sedang berakting menunjukkan hak kepemilikan?"
Bagas semakin tertegun, benar-benar tidak paham dengan alur pemikiran Bastian.
Menyaksikan interaksi serba salah antara Bastian dan Bagas, perasaanku semakin terasa campur aduk. Di satu sisi aku cemas rahasia masa laluku akan terbongkar, tetapi di sisi lain situasi absurd ini membuatku ingin tertawa.
"Pak Bastian, saya rasa Anda salah paham. Saya dan Amara ini tumbuh besar bersama sejak kecil..." Bagas berusaha meluruskan situasi.
"Oh, jadi kalian cinta monyet?" potong Bastian tanpa memberi kesempatan bagi Bagas untuk memberikan penjelasan lengkap.
Bagas sempat ragu sejenak. Mungkin dalam benaknya, hubungan kedekatan kami sejak kecil memang bisa dikategorikan seperti itu. Dia akhirnya mengangguk. "Bisa dibilang begitu."
Namun baru saja Bagas membuka mulutnya untuk menyambung kalimatnya, mata Bastian memancarkan kilatan dingin yang sanggup membuat dahi siapa pun bergidik. "Pak Bagas, setahu saya Anda akan segera melangsungkan pertunangan. Apakah pantas seorang pria yang hampir menikah masih mengincar istri orang lain?"
Dahi Bagas berkerut dalam-dalam. "Istri?"
Tatapan tajam Bastian berubah menjadi seringai penuh kemenangan. Tanpa ragu, lengannya yang kokoh langsung melingkar di pinggangku, menarik tubuhku rapat dengannya. "Apakah Amara belum memberi tahu Anda kalau kami sudah resmi menikah?"
Bagas sempat terpaku sejenak mendengarnya. Namun, alih-alih marah, raut wajahnya mendadak berubah menjadi sangat lega dan gembira. Dia bahkan melangkah maju dan menjabat tangan Bastian dengan erat. "Terima kasih, Pak Bastian. Terima kasih banyak!"
Bastian, "..."
Aku, "..."
Suasana di koridor seketika berubah menjadi terasa kaku dan ganjil. Aku menatap Bagas yang menjabat tangan Bastian dengan begitu bersemangat, lalu berdeham pelan demi memutus momen absurd itu. "Ekhem... maaf, tapi aku dan Bastian ada urusan yang harus diselesaikan sekarang."
"Mara, kapan kamu mau membawa Pak Bastian pulang ke rumah? Dasar anak nakal, bisa-bisanya kamu menikah secara diam-diam begini," ujar Bagas dengan wajah berseri-seri. Dia tampak sangat bahagia karena mengira aku sudah benar-benar membuka lembaran baru dan merelakan masa laluku.
Namun, cara Bagas berbicara terlalu gamblang. Pria sepintar Bastian tidak akan melewatkan kejanggalan dalam kalimat Bagas.
Bastian menyipitkan matanya. Dia menunduk menatapku dengan senyuman yang sengaja dipaksakan, lalu bertanya pelan, "Amara... jadi apa hubunganmu yang sebenarnya antara kamu dan Pria ini?"
Aku memilih membisu, dan secara naluriah menelan ludah. Sebuah lelucon mendadak terlintas di kepalaku: Selama karangan ceritaku cukup cepat disusun, fakta tidak akan pernah bisa menyusul.
Tapi masalahnya, kebohongan ini baru kubuat kemarin, dan hari ini kebenarannya sudah langsung bocor. Bukankah ini terlalu kejam?
Keduanya sama sekali tidak memberiku celah untuk mengarang alasan!
Saat otakku berputar dengan kecepatan penuh mencari alasan acak yang masuk akal, Bagas justru mendahuluiku untuk bersuara, "Kami ini bersaudara!"
Aku, "..."
Bibir tipis Bastian menyunggingkan senyum tipis yang mematikan. "Amara, Bagas... oh, pantas saja kalian berdua sama-sama memiliki cetakan wajah yang sama."
"Kami saudara sepupu," tambah Bagas lagi, khawatir penjelasannya kurang mendetail.
Aku, "..."
"Keluarga... lalu apa hubunganmu dengan Pak Darmawan? Hmm?" Senyum Bastian semakin lebar saat menatapku, dan gumaman "hmm" di akhir kalimatnya terasa sangat mengintimidasi.
Darmawan! Itu nama ayah kandungku! Pria yang hasil tes DNA-nya dipastikan cocok 99,99 persen denganku!
Jawaban itu yang ingin kukatakan, tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk mengucapkannya secara terang-terangan. Aku hanya bisa tertawa dengan canggung. "Hehe... Bastian, masalah ini sebenarnya agak rumit untuk dijelaskan secara singkat."
"Amara ini putri kandung paman saya, anak bungsu di keluarga kami," sela Bagas tanpa dosa.
Aku benar-benar merasa mati kutu setelah mendengarnya. Aku menoleh menatap Bagas dengan tatapan tajam. "Bagas, kenapa aku baru sadar kalau kamu ini ternyata cerewet sekali?"
Bagas, "..."
"Putri bungsu dari Pak Darmawan?" Bastian perlahan melepaskan cengkeramannya dari pinggangku. Dia melonggarkan ikatan dasinya di leher, lalu menatapku dengan senyuman yang langsung membuat bulu kudukku berdiri.
Aku, "..."
Menyadari suasana aneh yang tercipta di antara kami berdua, Bagas melirikku sejenak lalu berpura-pura memeriksa jam tangannya. "Baiklah, sepertinya saya ada janji lain yang harus diurus sekarang. Saya harus permisi dulu."
Saat Bagas baru melangkah beberapa tindak, Bastian bersuara dari belakang, "Hati-hati di jalan, Kakak Sepupu."
Mendengar sapaan itu, langkah Bagas mendadak tersandung, hingga dia sempat hilang keseimbangan.
Bagas terlihat sangat terburu-buru menunggu lift terbuka. Aku dan Bastian berdiri sambil menatap punggungnya. Begitu pintu lift terbuka, Bagas segera melangkah masuk dan menekan tombol penutup pintu berulang kali dengan panik.
Saat pintu lift akhirnya tertutup rapat, tatapan Bastian sepenuhnya kembali tertuju padaku. "Nona Muda dari keluarga Darmawan?"
Aku tidak menjawab. Aku memilih membuang pandangan ke arah langit-langit koridor. "Bastian, masalah ini sungguh... terasa sulit untuk dijelaskan begitu saja."
"Hmm, memang sangat sulit dibayangkan. Nona muda dari keluarga terpandang secara sukarela menyamar dan bekerja sebagai resepsionis di perusahaan milik keluargaku." Bastian menatapku dengan pandangan penuh perhitungan. "Coba beri tahu aku, apa yang sebenarnya kamu incar?"
Apa yang kuincar?
Bukankah sejak awal yang kuincar itu hanya wajahmu?
Membayangkan bagaimana reaksi Bastian jika tahu alasan sebenarnya membuat tubuhku terasa lemas. Sekarang identitasku sudah terbongkar Karena Bagas. Begitu Bastian mulai menelusuri latar belakangku, keberadaan Rendy pasti akan terungkap. Dan saat saat itu tiba, dia akan tahu bahwa selama ini dia hanyalah sebuah pengganti.
Membayangkannya saja sudah membuatku merasa ingin menghilang dari bumi.
Aku tetap memilih bungkam. Bastian melangkah menuju pintu kamar, menggesekkan kartu aksesnya, lalu berbalik menatapku dengan senyuman yang sangat memikat sekaligus berbahaya. "Masuklah, Amara."
Rasa merinding menjalar di sekujur tubuhku, tetapi aku memaksakan diri untuk mengekor di belakangnya.
Begitu kami berada di dalam ruangan, Bastian tidak langsung mencecarku dengan pertanyaan. Dia justru meletakkan kotak kue mousse itu di atas meja kopi dengan hati-hati, membukanya secara perlahan, lalu berkata dengan datar, "Kemarilah, ini kue favoritmu."
Aku melangkah mendekat, membungkuk untuk mengambil sendok kecil, lalu memasukkan sesuap kue itu ke dalam mulutku. Setelah mengunyahnya beberapa kali, aku akhirnya bersuara, "Bastian, aku tidak berniat membohongimu sejak awal."
"Hmm," sahut Bastian singkat sambil melepas jas luar dan perlahan membuka kancing manset kemejanya.
"Kalau... kalau ada hal yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja sekarang." Aku menarik napas panjang, berpikir bahwa daripada terus-menerus dikejar rasa cemas, lebih baik menyelesaikan masalah ini secara terbuka secepatnya.
Bastian membalikkan badannya, menatapku lurus-lurus. "Amara, bukankah dulu kamu bilang kamu sangat mencintaiku...?"
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik