Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
#35
Flashback
Beberapa jam sebelumnya.
Igun melangkah mendatangi salah satu unit di Apartemen Royal Suite, kedatangannya langsung disambut seorang wanita dengan wajahnya yang kusut kelelahan.
“Apalagi, apalagi kali ini?” tanyanya dingin, tak peduli dengan wanita yang kini.
“Kamu memang brengsek, Mas. Aku sudah melakukan semua permintaanmu, tapi kamu tetap menganggap bahwa aku tak layak untukmu,” desis wanita itu.
Igun melonggarkan dasinya lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa. “Kamu ini bicara ngelantur kesana kemari, sebenarnya apa maumu? Kepalaku semakin pusing mendengar ocehanmu yang tak pernah ada habisnya.”
Karena masih merasa diabaikan, wanita itu mengambil salah satu bantal sofa, lalu melemparkannya ke kepala Igun.
“Jalang sialan!” desis Igun setelah bantal itu mendarat tepat di kepalanya.
Pria itu pun berdiri, berjalan mendekat sambil melempar tatapan tajam pada lawan bicaranya, “Aku sudah cukup lama bersabar, bertahun-tahun aku menunggumu merealisasikan janji pernikahan. Tapi sampai bayi ini lahir kamu masih enggan menceraikan istrimu, bahkan kini mencari mangsa baru.”
“Karena waktunya belum tepat!” bentak Igun.
“Lalu kapan waktu yang tepat, hah?! Dulu kamu bilang setelah menyingkirkan Biandra. Tapi sudah bertahun-tahun yang lalu wanita gila itu mati, aku masih jadi simpananmu saja!”
•
Wanita itu bernama Livia, mantan sekretaris Btari dan Igun, wanita itu menjalin hubungan rahasia di belakang Tari, hingga menghasilkan seorang bayi yang kini berusia 2 bulan.
Awalnya Igun hanya berniat menjadikan Livia sebagai kaki tangan, tapi ternyata Livia pun sama gatalnya dengan Igun, hingga hubungan mereka kebablasan. Wanita itu tak peduli dengan kebiasaan Igun yang lebih menyukai daun muda, termasuk adik iparnya sendiri Biandra.
Bahkan Livia juga yang diam-diam mengambil gambar Biandra ketika sedang ganti pakaian, hingga menggiring Biandra untuk masuk jebakan Igun, dengan ancaman akan menyebarkan foto-foto tersebut ke media sosial bila tak mau menuruti keinginan Igun.
Tapi, ternyata tak cukup sekali, berkali-kali hingga Biandra hamil. Lalu depresi karena Igun mengancam akan membunuhnya jika Biandra tak segera menggugurkan kandungannya, atau jika berani buka mulut.
Namun, takdir berkata lain, karena kondisi kesehatannya terus menurun, serta mental yang tidak stabil, Biandra pun mengalami keguguran.
Jangan dikira Igun berhenti sampai disitu, pria itu terus mengintimidasi Biandra, bahkan sengaja mengajak keluarganya berkunjung ke rumah keluarga Samudera. Bila ada kesempatan, Igun mendekati Biandra lalu membisikkan ancaman.
Biandra yang malang, ia takut, tertekan, tak tahu harus bicara pada siapa. Gadis polos itu terlalu menyayangi keluarganya, tak ingin keluarga dan kakak kandung yang sangat ia sayangi hancur karena skandal kotor yang dibuat kakak iparnya. Jadi Biandra merelakan dirinya sendiri hancur berkeping-keping.
Kondisi mental yang makin parah membuat Biandra akhirnya memilih tinggal dengan Bagas dan Dinda yang pada saat itu baru saja menyambut bayi mereka. Sebenarnya Biandra tenang dan bahagia tinggal di rumah tersebut, tapi Igun seolah belum puas menghancurkan Biandra yang berpotensi menjadi ancaman baginya.
Hingga hari naas itu terjadi, Igun meminta Livia menghubungi Biandra, lalu berbohong dengan mengatakan padanya jika sampai Biandra bercerita tentang skandalnya, maka Igun akan menghabisi Abel, putri Bagas dan Dinda.
Biandra langsung panik, dalam kondisi mental tak stabil serta di bawah tekanan, ia menggendong Abel kesana kemari, bermaksud menyelamatkannya dari ancaman Igun. Namun, tanpa sadar ia keluar dari rumah sambil membawa Abel.
Sepanjang perjalanan ia memeluk Abel erat-erat, dan di tempat sepi, Igun, Livia, dan satu orang suruhan Igun sudah menunggunya. Keberadaan Abel sama sekali tak mereka duga, maka Igun memberi perintah darurat pada Livia dan orang suruhannya untuk mengambil bayi tersebut, lalu membuangnya jauh-jauh.
Biandra berteriak histeris ketika ada yang merebut Abel dari gendongannya, sekuat tenaga dia berlari mengejar mobil yang membawa Abel, namun, semua itu sia-sia, hingga Biandra tersesat terlunta-lunta di jalanan selama berhari-hari.
•
“Sekarang, kamu mulai berani berteriak padaku, hmm? Sebelum menggodaku dulu, kenapa kamu tak berpikir bahwa hari ini akan terjadi?” geram Igun, dengan suara pelan penuh intimidasi.
“Aku mencintaimu, Mas. Itulah maksudku, tapi kenapa kamu tak pernah menganggapku ada, padahal aku selalu melakukan apapun yang kamu perintahkan,” mohon Livia pilu, wanita itu langsung memeluk ayah biologis anaknya erat-erat, tapi Igun tetap membiarkan kedua tangannya menjuntai begitu saja.
“Kalau begitu terima saja hidupmu, yang penting aku masih memberimu uang untuk mencukupi kehidupanmu dan bayi itu.”
“Nggak mau, Mas. Aku maunya kita menikah dan tinggal bersama seperti pasangan pada umumnya.”
Igun tertawa malas, “Kita? Hidup bersama? Itu jelas tak mungkin, lah, aku punya istri yang jauh lebih cantik darimu, putraku tampan serta rupawan, kami bahagia, dan tak butuh anggota keluarga yang lain. Jadi kalau kamu berharap aku meninggalkan mereka, mimpimu terlalu tinggi,” ejek Igun, lalu melempar sejumlah uang ke atas meja.
Setelah itu, ponsel Igun berdering. “Hmmm.”
Igun menjawab panggilannya sambil berjalan keluar dari unit milik wanita simpanannya.
Tubuh Livia melorot ke lantai, rupanya hanya sebesar ini saja harga dirinya, bahkan sudah diinjak habis-habisan oleh Igun, pria yang selama ini ia tunggu dan kejar hingga rela melakukan segalanya. “Awas kamu, Mas. Aku pastikan tak akan hancur seorang diri!”
Flashback end.
•••
Bagas seharusnya menjemput Dinda pagi ini, lalu mengantarnya ke tempat kerja. Tapi ia prioritaskan datang ke rumah Tari dan Igun sebab mamanya yang memanggil.
“Ada apa, Ma?”
Oek!
Oek!
Bagas terdiam sejenak, karena telinganya menangkap ada suara bayi. “Bayi siapa itu, Ma?”
Mama Yanti tak mampu berkata-kata, ia hanya duduk diam membisu, memeluk Tari yang masih terisak di pangkuannya.
“Pagi tadi ada kurir yang mengantarkan bayi itu ke rumah.”
“Hah?! Kurir, Ma?!” Ini hal paling ajaib yang baru Bagas dengar kali ini.
“T-tapi orang Gila mana yang tega melakukannya?!”
Tari yang sejak tadi terisak, “Kurirnya bilang, ia hanya diminta mengantarkan bayi ini ke rumah ayahnya, Mas Igun.”
Bagas terperangah, saluran dalam paru-parunya seperti tersumbat sejenak, setelah mendengar keterangan Tari. “Lalu dimana Mas Igun sekarang?”
“Mbak nggak tahu, semalam dia tak pulang, ditelepon juga tak diangkat, Mbak sampai kebingungan menghadapi Yudha yang terus menerus bertanya tentang bayi itu,” jawab Tari, dengan sesal yang sudah sangat terlambat karena selalu memaklumi semua tingkah Igun di belakangnya.
Bagas mengepalkan tangannya, ingin sekali ia menghajar pria yang telah menghancurkan hati dan perasaan kakaknya, tapi sayang sekali pria itu tak ada disini.
•••
Di tempat lain.
“Ma, Dinda pamit, ya.”
“Nanti malam langsung pulang, tak perlu lagi berpura-pura dan pulang ke rumah Bagas!”
“Iya, Ma.”
Padahal Dinda berencana ingin mengajak Bagas menemui Om Bastian hari ini, Bagas harus segera tahu, agar masalah ini tidak berlarut-larut.
Tapi, pria itu hanya mengabarkan bahwa ia tak bisa menjemputnya pagi ini, penyebabnya apa, Bagas belum bercerita.
Setibanya di butik, Dinda langsung disambut dengan beberapa klien yang telah datang menunggu.
Tapi hal tak terduga terjadi, seseorang yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba menabrak Dinda.
Jleb!
Dinda terbelalak, tak sempat menghindar kala sebilah pisau tiba-tiba menancap di perutnya.
“Mbak Dinda!” jerit Adara saat melihat Dinda ambruk dengan perut bersimbah darah.
ko ya ikut bahagia
apa lagi yang jemput orang bisa di percaya jadi gasss