Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
...----------------...
Besok malamnya, sepulang dari kampus, aku meluncur ke salah satu kafe kekinian di daerah Jakarta Selatan. Aku janjian nongkrong bareng Iksan, David, dan beberapa teman lainnya. Biasanya, sirkel kami terasa lengkap kalau ada Pedro, tapi semenjak aku mengetahui perselingkuhan Pedro dengan Sania dan bagaimana nasib dia hancur lebur setelah perusahaan ayahnya kena imbas krisis parah akibat suntikan dana yang ditarik paksa oleh Albian Grup dia benar-benar hilang dari peredaran. Pedro memilih memutus hubungan dengan kami semua, mungkin dia terlalu menanggung malu untuk sekadar muncul.
Di kafe itu, suasana cukup ramai. Iksan dan David yang duduk di depanku mulai mengeluarkan keluh kesah klasik mereka.
"Gue udah lulus, bukannya bebas malah makin stres gara-gara kuliah lagi," ucap Iksan sambil mengacak rambutnya frustrasi.
"Bener, San. Padahal gue cuma pengen fokus ngurusin bisnis bokap gue aja, tapi malah disuruh lanjut kuliah terus. Males banget rasanya," sahut David yang menopang dagu dengan wajah bosan.
Aku hanya diam mendengarkan. Entah kenapa, mendengar semua keluhan mereka, ada sesuatu yang aneh di dalam pikiranku. Aku hanya bisa membatin, bagaimana bisa mereka merasa rugi di saat hidup mereka sudah terjamin dan dibiayai sepenuhnya?
Pikiran ini terasa sangat asing. Padahal, sebelum bertemu Astrid, aku mungkin bakal ikut-ikutan mengeluh bersama mereka. Tapi sekarang? Pandanganku berubah drastis. Setelah melihat Liona yang egois dan sekarang mendengarkan keluhan teman-temanku yang tidak bersyukur ini, aku jadi merasa kalau dunia mereka dan duniaku mulai tidak sejalan lagi.
Kami masih asik mengobrol sampai akhirnya Iksan memecah keheningan dengan ide yang cukup mengejutkan.
"Daripada kita dikekang mulu sama orang tua, gimana kalau kita bikin usaha bareng aja? Kita buat sesuatu yang bisa kita kelola sendiri," ucap Iksan dengan wajah yang jauh lebih serius dari biasanya.
Aku yang sedari tadi melamun, langsung tersentak. "Hmm, gue setuju sama usul lu, San. Tapi kita perlu mikirin konsep yang matang, bukan cuma sekadar ikut-ikutan," balasku yang tiba-tiba merasa tertarik.
Tanpa sadar, pembicaraan kami yang tadinya hanya sekadar curhat kosong berubah menjadi diskusi serius mengenai perencanaan bisnis. Ada gairah baru di dalam diriku mungkin ini dorongan untuk mandiri, untuk siap jika sewaktu-waktu hidupku tidak lagi semudah sekarang.
...****************...
Tiga hari kemudian, sore hari saat aku baru saja pulang dari kampus, suasana rumah terasa sangat ganjil. Biasanya, kalau Kak Zalya dan Kak Andra berada di ruang tamu, sudah bisa dipastikan suasananya seperti perang dunia ketiga; penuh debatan atau saling sindir.
Tapi sore ini? Kak Zalya sedang sibuk dengan sketsa gaun gaunnya, sementara Kak Andra sedang bersantai di sofa sambil menyeruput kopi dan sesekali melihat ponsel. Mereka berdua begitu tenang, damai.
Aku berdiri di lorong, memperhatikan mereka cukup lama. Ada dorongan kuat untuk bicara jujur mengenai kondisi Astrid saat ini. Rasanya, beban ini terlalu berat kalau aku tanggung sendiri. Namun, melihat kedamaian mereka, aku kembali urung. Aku belum siap dengan respons mereka berdua, aku belum siap menghancurkan ketenangan ini.
Kak Zalya menyadari keberadaanku. Dia menatapku tajam. "Woy, jangan bengong. Kesambet ntar lu," ucapnya ketus sambil tetap sibuk mengarsir sketsa baju. "Kenapa lu? Ada masalah lagi? Kalau ada masalah, jangan cerita ke gue, gue lagi sibuk. Cerita sana sama abang lu tuh, lagi nyantai," sambungnya lagi sambil memakan roti.
Kak Andra melirikku sekilas, tatapannya sedingin es. "Jangan ganggu ketenangan gue. Cerita aja sana sama Ellisya di kamar" ucapnya sambil kembali fokus ke kopi.
Aku hanya bisa terkekeh getir. "Hehehe, gak ada masalah kok, Kak. Cuma ya... pusing mikirin tugas aja," ucapku sambil mendudukkan diri di sofa, mencoba berbaur.
"Tugas kuliah apa tugas main lu yang bikin pusing?" sindir Kak Zalya tanpa mengalihkan pandangan sketsanya. "Gue liat-liat lu makin sering pulang telat. Jangan sampai dapet nilai jelek, entar Ayah potong uang jajan lu baru tahu rasa."
"Aman, Kak. Kuliah Teknik Informatika emang lagi padet padetnya aja, codingan gue sering error," balas ku dengan santai.
Kak Zalya mendengus, melempar pensil sketsanya ke meja. "Halah, gaya lu codingan error. Palingan juga pusing mikirin cewek. Si Liona makin manja ya sama lu? Kemarin gue liat dia beli tas baru lagi, lu yang bayarin?"
"Gak lah, Kak. Dia pake uang jajan dia sendiri kok," jawabku membela Liona, walau dalam hati aku langsung teringat kontrasnya makan malam mewah kami kemarin.
Kami masih mengobrol singkat, mengisi waktu sore yang terasa lambat. Namun, beberapa menit kemudian, suara roda koper yang ditarik dari arah pintu masuk membuyarkan suasana.
"Loh, kok lu pulang? Lagi libur kuliah lu?" tanya Kak Zalya heran melihat Kak Hendra muncul di balik pintu dengan jaket denim andalannya.
"Iyee, dapet libur sebulan gue. Makanya gue langsung pulang," jawab Kak Hendra ceria. Dia langsung menaruh kopernya di dekat tangga, duduk di samping Kak Zalya, dan tanpa permisi mengambil roti yang ada di piring Kak Zalya.
"Kurang ajar, roti gue main makan aje!" protes Kak Zalya, memukul lengan Kak Hendra pelan. Tapi wajahnya tetap terlihat senang melihat adiknya pulang dari Bandung.
"Udah lama nih kita gak ngumpul formasi lengkap di rumah ini. Btw, lu di sini berapa lama, Kak?" tanyaku, merasa senang melihat rumah jadi ramai.
"Paling cuma dua minggu, Ka. Abis itu gue harus balik lagi ke Bandung buat ngurus praktikum," jawab Kak Hendra sambil mengunyah rotinya. Dia menatapku, lalu beralih ke Kak Andra. "Gimana kak Andra masih sekaku kanebo kering?"
Kak Andra mendengus, meletakkan cangkir kopinya dengan ketukan pelan di meja. "Gausah ngurusin gue."
"Sensian amat, kak. Lagi pusing mikirin proyek ya?" goda Kak Hendra, terbahak.
Kak Zalya menimpali sambil merapikan kertas sketsanya. "Tau tuh, Abang lu tiap hari mukanya ditekuk mulu. Padahal kalau proyek lancar, bonus juga mengalir."
Sore itu kami menghabiskan waktu dengan obrolan hangat yang sudah lama tidak kurasakan sejak Juli lalu. Rasanya begitu seru mendengar mereka saling melempar ledekan, meski aku sadar hanya Ellisya yang tidak ada di tengah-tengah kami. Kebersamaan ini sedikit meringankan beban di pundakku, walau hanya sementara.
...****************...
Malam harinya, setelah suasana rumah kembali sepi, aku masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Aku mendudukkan diri di tepi kasur, mengambil ponsel, lalu melakukan rutinitas wajibku: menelpon Liona.
"Halo, Arka! Kok baru telpon sih? Aku dari tadi nungguin tau," ucap Liona langsung merajuk begitu sambungan terhubung.
"Halo, Sayang. Maaf ya, tadi di rumah ada Kak Hendra baru pulang dari Bandung. Jadi kita sekeluarga ngumpul dulu di bawah," jawabku lembut, mencoba meredam kekesalannya.
"Oh, Kak Hendra pulang? Kok gak kabar-kabar? Oleh-oleh dari Bandung buat aku ada gak?"
"Ada kayaknya, entar aku tanyain ya. Kamu lagi ngapain sekarang?"
"Lagi maskeran sambil nonton drama Korea. Btw, Ka, besok temenin aku ke mall ya? Aku mau beli sepatu yang kemarin aku liat di sosial media. Bagus banget deh, cocok buat acara minggu depan."
Mendengar Liona yang kembali membahas soal belanja, hatiku kembali ngerasa ganjil. Namun, aku berusaha menahan diri. "Iya, besok aku temenin sepulang kuliah ya."
"Yess! Makasih, Arka sayang. Kamu jangan tidur malem-malem ya, entar kesiangan jemput akunya. I love you!"
"I love you too," jawabku pelan sebelum memutus sambungan telepon.
Setelah itu, aku menghubungi Astrid. Aku harus memastikan kondisinya.
"Strid, gimana hari ini?" tanya ku lewat WA.
"Hmm biasa aja Ka, kenapa sih dari kemarin-kemarin jadi sering nanyain? Tumben banget," balas Astrid dengan emoji bingung.
"Hmm ya gapapa, gue baca di internet kalo semisal lagi hamil itu banyak ngidamnya, makanya gue nanyain siapa tau lu mau sesuatu atau lagi butuh apa gitu," ucapku berusaha terdengar santai.
"Hahaha, cie cie... ada yang lagi perhatian banget nih sama kita," balas Astrid disusul tawa kecil.
"Hah, maksud lu 'kita'? Emang gue nanyain siapa?" tanya ku yang tidak mengerti.
"Iya 'kita', gue sama si dedek bayi di dalam sini," balas Astrid. "Jujur sebenernya sekarang gue lagi gak ngidam apa-apa sih, Ka. Cuma akhir-akhir ini gue ngerasa capek banget bagi waktu antara kerja part-time sama kuliah. Pengen banget rasanya bisa refreshing ke tempat yang sejuk dan seru, biar pikiran gue agak entengan dikit."
Aku terdiam sejenak sebelum membalas. "Hmm, kalau gitu gimana kalau sabtu besok lu jalan-jalan?, hari sabtu lu gak ada kelas tambahan kan? Gimana kalo lu pergi? Nanti semua biaya gue yang tanggung deh."
"Hah, sabtu besok dong? Emang mau jalan kemana emangnya?" tanya Astrid penasaran.
"Gimana kalo ke Kebun Raya Cibodas? Udaranya sejuk, banyak pohon, kayaknya seru banget kalau buat nyantai sambil ngelepas penat," saranku.
"Ah, gak usah deh Ka, makasih ya niat baiknya udah mau bayarin gue jalan-jalan. Sebenernya gue mau banget, tapi kayaknya ribet deh kalau harus pergi sendiri ke sana," ucap Astrid menolak halus.
"Ya enggak dong, kan gue juga ikut. Gue yang jemput, gue yang temenin. Takutnya kenapa-napa kalau lu jalan sendiri, bahaya buat kandungan lu," tegas ku.
"Ciee... perhatian banget nih ceritanya? Xixixixi," ledek Astrid.
"GR lu! Gue begini murni karena khawatir sama anak gue, bukan khawatir sama lu ya," balas ku cepat.
"Iya deh, iya... yang penting tanggung jawab ya, Pak. Ya udah, sabtu gue bisa. Jangan lupa jemput pagi ya!"
"Oke, sip." balas ku
Setelah itu, aku menyimpan ponselku dan mencoba memejamkan mata. Entah mengapa, percakapan dengan Astrid membuat hatiku sedikit lebih tenang dibandingkan saat berbicara dengan Liona tadi.
...----------------...