NovelToon NovelToon
Reven & Ratu Perang

Reven & Ratu Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bad Boy / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Romansa
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.

Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.

Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.

Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Lampu gantung kristal yang megah memancarkan cahaya keemasan lembut, menerangi ruangan kerja yang dindingnya dihiasi lukisan klasik dan deretan rak buku berisi karya sastra kuno yang berharga. Di balik meja marmer hitam yang besar dan kokoh, duduklah Don Vincenzo, seorang pria lanjut usia yang sangat dihormati sebagai pemimpin bisnis terkemuka di Eropa, sekaligus sosok yang namanya disegani dan ditakuti di dunia organisasi gelap. Matanya yang tajam menatap lekat sebuah foto lama yang berdiri di atas meja, menampilkan sosok wanita muda yang tersenyum manis, putri tunggal kesayangannya, Putri Sofia Vincenzo. Tak jauh dari situ, tergantung sebuah lukisan besar mendiang istrinya, wanita yang pergi selamanya karena sakit yang dideritanya saat terlalu memikirkan nasib putri mereka.

Di hadapannya berdiri Mark, asisten yang telah setia mendampinginya selama puluhan tahun. Dengan sikap sopan dan wajah serius, ia menyampaikan laporan yang sudah lama ditunggu-tunggu.

"Tuan Don, tim penyelidik kita akhirnya menemukan jejak yang selama ini kita cari," ucap Mark sambil menyodorkan sebuah berkas tebal berisi dokumen perjalanan serta peta digital. "Nona Muda Putri Sofia ternyata selama ini berada di Indonesia. Berdasarkan catatan arsip bandara Roma, dua puluh tahun lalu ia terbang menggunakan nama samaran menuju Singapura, lalu melanjutkan perjalanan ke Indonesia."

Kata-kata itu seketika membuat Don Vincenzo terpaku. Tubuhnya yang masih sangat gagah meski tak muda lagi perlahan bergetar hebat. Ia segera meraih berkas itu dengan tangan gemetar, matanya meneliti setiap lembar yang ada. Di sana terlihat foto Sofia yang kini telah dewasa, tersenyum hangat sambil menggendong seorang bayi perempuan yang cantik jelita, di sampingnya berdiri seorang pria tampan yang menatap keduanya penuh kasih sayang.

"Jakarta... Indonesia... dan aku sudah memiliki cucu yang sangat cantik pasti cucuku saat ini sudah remaja jika di lihat dari tanggal foto ini di ambil," bisiknya parau, penuh rasa haru yang bercampur sesal mendalam. Ingatan masa lalu kembali menyeruak, saat ia mengusir Putri Sofia hanya karena putrinya bersikeras menikah dengan pria sederhana, bukan dengan orang yang telah ia pilihkan. "Aku menolaknya hanya karena dia tidak mau menikah dengan orang yang setara dengan keluarga Vincenzo, Mark," ucap Don pelan, matanya tak lepas dari foto lama itu. "Aku terlalu keras kepala dan egois saat itu."

Perlahan ia menoleh ke arah lukisan mendiang istrinya, menatap wajah yang begitu ia rindukan. Suaranya melembut penuh penyesalan dan kerinduan, seolah sedang berbicara langsung pada sang istri.

"Sayang..." bisiknya pelan dan bergetar. "Akhirnya aku menemukan putri kita. Kita juga sudah punya cucu yang cantik. Kamu pasti ikut bahagia di sana, bukan? Maafkan aku yang selama ini keras kepala dan menyusahkan hatimu..."

Mark mengangguk penuh pengertian, menghormati momen pribadi tuannya itu. "Kami memohon maaf atas keterlambatan ini, Tuan. Selama lima belas tahun terakhir jejak Putri Sofia seolah hilang ditelan bumi. Tampaknya ia sengaja menyembunyikan identitasnya agar tidak bisa dilacak siapapun."

Don Vincenzo berdiri perlahan, melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke hamparan kebun anggur yang luas di bawah cahaya bulan Italia yang terang benderang.

"Aku yang salah, Mark. Aku terlalu egois dan lupa bahwa Putri Sofia mewarisi hampir seluruh sifatku yang keras kepala. Dia sejak kecil sudah jenius dalam teknologi, tentu saja mudah baginya menutup jejak dari orang-orangku! Tapi sekarang... aku akan menebus semua kesalahanku!" ucapnya dengan tekad membara.

"Segera siapkan penerbangan! Aku ingin menemui anak dan cucuku sekarang juga!" perintahnya tegas.

"Siap, Tuan! Jika kita berangkat malam ini dengan jet pribadi, kita akan tiba di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul dua siang waktu setempat besok," jawab Mark sigap.

Don Vincenzo mengangguk, sorot matanya penuh kerinduan yang tak lagi bisa dibendung. "Siapkan semuanya dalam dua jam! Aku tidak sabar lagi. Dua puluh tahun terlalu lama untuk memendam rasa bersalah dan rindu." Ia meraih foto lama Sofia dan menciumnya dengan lembut. "Aku harus meminta maaf padanya."

"Baik, Tuan Don. Segera akan saya urus," sahut Mark sebelum bergegas keluar ruangan. Ia mengerti betapa beratnya beban yang dipikul tuannya selama ini, dan kini akhirnya ada jalan untuk memperbaikinya.

Sementara itu, Don Vincenzo masih berdiri terpaku di depan jendela, menatap bulan yang sama yang mungkin juga dilihat oleh putrinya di negeri jauh sana.

"Sofia... anakku..." bisiknya pelan. "Tunggu sebentar lagi. Daddy akan segera menjemput kalian pulang..."

*

*

Sinar matahari pagi yang hangat menyelinap masuk lewat celah tirai, menyinari wajah damai Sara dan Raven yang masih terlelap. Tanpa mereka sadari, guling yang sempat menjadi "garis batas" ketat kini sudah tergeletak tak berdaya di lantai. Kini tubuh mereka saling berdekatan, bahkan Sara meringkuk nyaman di pelukan Raven sambil menyandarkan kakinya di atas paha suaminya.

Raven yang mulai terbangun karena gerakan kecil Sara perlahan membuka matanya. Saat menyadari posisi mereka yang kini saling menempel erat, seketika ia tertegun sebelum senyum miring yang nakal mengukir di bibirnya. Ia bergerak sangat hati-hati, memastikan posisi Sara tetap nyaman tanpa membangunkannya, lalu kembali menatap wajah gadis itu lekat-lekat.

"Penasaran deh, dia bakal reaksi apa kalau bangun dan sadar siapa yang dia peluk erat-erat begini," gumamnya pelan dalam hati.

Raven sama sekali tidak peduli jika nanti ia terlambat ke sekolah. Ia rela menunggu lebih lama hanya untuk menikmati momen berharga ini. Tak lama kemudian Sara mulai menggeliat pelan. Dengan sigap, Raven segera memejamkan mata dan berpura-pura masih tertidur pulas.

"Eh! Tunggu deh kenapa guling ini rasanya keras dan hangat ya?" gumam Sara masih dengan mata terpejam, tangannya tak sengaja meraba bidang perut Raven yang kencang dan berotot.

Raven menahan tawa sekuat tenaga, hampir saja ia terkikik geli merasakan sentuhan istrinya itu. Rasa penasaran membuat Sara perlahan membuka matanya perlahan, dan betapa terkejutnya saat ia menyadari benda yang ia kira guling itu ternyata adalah tubuh suaminya sendiri!

"Ya ampun! Kok gulingku berubah jadi Raven?!" serunya tertahan, matanya melirik was-was ke arah Raven yang masih terpejam.

Dengan panik ia mencoba menjauh pelan-pelan. "Aduh gawat! Kalau dia bangun dan tahu aku yang melanggar aturannya, aku mau taruh muka di mana!" batinnya cemas.

Belum sempat ia bergerak jauh, tiba-tiba lengan kekar Raven melingkar erat di pinggangnya, menariknya kembali ke dalam dekapan hangat seolah tak ingin melepaskan. Sara terpaku kaku, jantungnya berpacu kencang tak berani bergerak sedikit pun.

Beberapa menit berlalu, namun Raven tak menunjukkan tanda-tanda hendak bangun. Mencoba peruntungan kedua kali, Sara perlahan berusaha melepaskan diri. Kali ini Raven membiarkannya, namun saat ia hendak duduk tegak, suara berat khas pagi hari terdengar tepat di telinganya.

"Nyenyak sekali ya tidurnya sampai-sampai lupa suami di jadikan guling," goda Raven sambil ikut duduk di sampingnya dengan senyum penuh kemenangan.

Mata Sara seketika melotot lebar. "Kau... kau sudah bangun sejak tadi?!"

"Hmm, sepertinya ada yang melanggar perjanjian batas wilayah semalam ya? Penasaran nih, kira-kira hukumannya apa ya?" balas Raven sengaja memancing.

Sara buru-buru memalingkan wajah, pipinya memerah padam. "Siapa yang melanggar! Itu terjadi secara tidak sengaja saat tidur! Jadi tidak berlaku hukumannya!" elaknya cepat.

"Tidak bisa begitu, kan kamu sendiri yang buat aturannya kemarin malam," tukas Raven tak mau kalah.

"Itu aturan kalau sadar! Kalau sedang tidur tidak sadar berarti tidak melanggar! Sudah sana mandi cepat, nanti telat ke sekolah! Aku mau lanjut tidur lagi!" ketus Sara dengan wajah merah merona, lalu secepat kilat menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya.

Raven hanya tertawa kecil melihat tingkah laku istrinya yang menggemaskan itu, perlahan ia berdiri sambil menggelengkan kepala.

Bersambung...

 

1
Munas Tuti
awas lhooo Chelsea klo jatuh sakit ..
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
Ayo Mark selidiki /Determined/

Ayo Sara, kumpulkan semua bukti-bukti itu/Determined/, Ku menunggu pembalasanmu pada mereka, orang yang telah membunuh keluargamu, dan juga mengambil semua hak-hak yang seharusnya menjadi milikmu/Determined//Determined/
Munas Tuti
euleuhhh meuni dikit bacanya...
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
yeayyy, akhirnya saling mengakui/Drool/
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
Sara takut Raven diambil Chelsea, dan Raven takut Sara dekat dengan Lucky🤭, sama-sama cemburu kalian🤭
Munas Tuti
nah looo ...sapa tuh Lucky, mau tau ajha apa mau tau banget he..he..
wo te
biasa nya up 2 sehari ko ini 1 doang udh 2 hri,,mna da libur lagi wkt tgl brpa yh lupa 🤣🤣🤣
Munas Tuti
ichh gumuz banget liat mereka berdua ....jangan pd gengsi laaah
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
Sara cemburu nih, takut Raven diambil/Chuckle/
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
suka cerita nya thor, masalahnya satu demi satu di selesai kan jd nggak lama. nggak salah aq kasih bintang⭐⭐⭐⭐⭐
riniandara: Terima kasih banyak kak,
total 1 replies
Munas Tuti
weishh ketar ketir tu Sara...
Munas Tuti
lanjuuuut mbak'e...👍👍
Munas Tuti
kerennn... aku /Good/suka, banyak kejutan
Munas Tuti
ayoo siaps yaa rahasia besar akan terungkap hi..hi..
Munas Tuti
ok...cari teruss bukti2 yg nenguatkan siapa sebenarnya Sara....cmon Daven bantu Sara 💪💪
Munas Tuti
akhirnya jelas siapa Sara sebenarnya, beruntung yg merawatnya kakek kandungnya sendiri...
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
😭😭 akhirnya, ayo Sara kasih tau Kakek Don yang sesungguhnya, sebelum ia menyayangi cucu palsunya/Determined//Determined/
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
tapi semoga aja Tuan Don gak ngajak tuh si benalu itu 😌, ayo Mark, kamu cari taulah lebih dalam, jangan hanya di awalnya saja /Scream/
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
apakah Raven akan terkejut melihat identitas asli Sara? 🤭
Munas Tuti
gimana yaa pas makan malam nanti...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!