Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 32 Pertemuan Dengan Mendiang Papa|
...|Legacy of Soryu|...
......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......
Ia tidak tahu persis di mana ia berada saat ini.
Bara menyadari dirinya berdiri di atas hamparan rumput hijau yang sangat bersih, rapi, dan terawat tanpa ada satu pun ilalang yang tumbuh liar.
Beberapa meter di hadapannya, terdapat sebuah kolam besar dengan air yang jernih memantulkan cahaya putih dari atas. Di dalam kolam itu, terdapat puluhan ikan koi dengan warna merah, putih, dan hitam sedang berenang-renang dengan tenang.
Suasana ini terasa sangat akrab bagi Bara. Ini adalah taman belakang Mansion Soryu, tempat yang sering ia datangi dikala waktu luang.
Namun tepi kolam koi tersebut, ada seorang pria berdiri membelakangi Bara. Pria itu mengenakan kimono hitam polos tanpa motif maupun bordiran, tampak sangat sederhana. Postur tubuhnya tegak, caranya berdiri dengan kedua tangan bertumpu di belakang punggung, serta kepalanya yang sedikit mendongak membuat dada Bara mendadak berdesir.
Sembilan belas tahun Bara tidak pernah melihat postur itu lagi secara langsung. Namun, otaknya merekam setiap detail itu dengan sangat baik.
Pria itu adalah Ryuichi Ken Soryu. Ayah kandungnya.
Bara terpaku di tempatnya berdiri. Seluruh otot kakinya mendadak kaku, seolah-olah menolak untuk digerakkan. Tanpa bisa ia kendalikan, air mata mulai menggenang dan mengalir melewati pipinya.
Pria di depan kolam itu perlahan menaburkan segenggam pakan ikan ke dalam air, membuat kawanan koi berebut di permukaan.
"Ah... akhirnya ikan-ikan ini mau makan. Neo belakangan ini sering sekali mengabaikan mereka," ujar pria itu dengan suara yang tenang.
Mendengar nama kecilnya dipanggil dengan nada yang begitu akrab, mata Bara seketika terbelalak. Jantungnya berdegup kencang, dan dengan suara yang sangat lirih, ia bersuara,
"Papa...?"
Ryuichi Soryu perlahan membalikkan badannya. Wajahnya sama persis seperti ingatan terakhir Bara sembilan belas tahun lalu. Garis rahangnya tegas—struktur wajah yang sepenuhnya diwariskan kepada Bara. Mata hitamnya yang dalam menatap Bara dengan binar hangat, bukan tatapan dingin dan formal seperti yang selalu terlihat dalam foto-foto resmi keluarga Soryu.
Pria itu tersenyum lembut. "Kemari, Nak."
Bara tidak mampu lagi menahan diri. Ia berlari menerjang maju, mengabaikan segala gengsi yang selama ini melekat pada nama besarnya di Soryu Group. Ia merengkuh tubuh ayahnya, memeluk pria itu dengan sangat erat seolah takut sosok di hadapannya akan menguap jika ia melepaskannya sedikit saja.
"Papa... ini benar-benar Papa?" isak Bara, wajahnya disembunyikan di bahu sang ayah. Suaranya pecah, dipenuhi rasa rindu yang telah menggunung selama belasan tahun.
Ryuichi membalas pelukan itu tidak kalah erat. Tangan kanannya yang besar naik, menepuk-nepuk punggung Bara dengan irama teratur yang sangat lambat. Irama yang sama yang selalu ia gunakan untuk menenangkan Bara saat masih balita.
"Iya, Neo. Ini Papa," jawab Ryuichi lembut, sedekat bisikan di telinga putranya.
"Aku merindukanmu, Pa. Aku sangat merindukanmu," kata Bara di sela-sela tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
"Sembilan belas tahun... sembilan belas tahun aku hidup seperti orang gila hanya untuk mencari tahu siapa yang membunuhmu. Aku mencari ke mana-mana, Pa. Tapi aku selalu gagal. Aku tidak pernah berhasil menemukan bajingan itu."
Ryuichi tidak memotong ucapan putranya. Ia membiarkan Bara meluapkan seluruh beban, kemarahan, dan rasa frustrasi yang selama ini dipendamnya sendiri tanpa pernah ia ceritakan kepada Olivia maupun adik-adik tirinya.
Setelah beberapa menit yang terasa begitu panjang, Bara perlahan mengendurkan pelukannya. Ia mundur satu langkah dan mengusap wajahnya yang telah basah. Anehnya, wajahnya yang beberapa saat lalu babak belur dan hancur akibat pukulan Shu kini bersih total tanpa ada luka satu pun.
"Papa, aku lelah," ujar Bara dengan suara serak, tatapannya beralih pada riak air kolam.
"Aku sangat lelah hidup di dunia itu. Setiap hari aku dipaksa menjadi sosok yang kuat, menjadi Baraziven Soryu yang ditakuti semua orang, memimpin organisasi yang penuh dengan darah. Tapi di dalam sini..." Bara menyentuh dadanya sendiri, "di dalam sini aku kosong, Pa. Aku seolah kehilangan kompas sejak Ayah pergi."
Ryuichi menatap putranya dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Kau tidak seharusnya menanggung semua ini di usiamu yang sekarang, Nak."
"Aku bahkan sering berpikir, mungkin lebih baik aku menyerah saja dan ikut bersamamu di sini," lanjut Bara, matanya menatap lurus pada mata ayahnya.
Ryuichi menggelengkan kepalanya dengan tegas, ekspresi wajahnya kini berubah menjadi serius namun tidak kehilangan kelembutannya.
"Jangan pernah mengucapkan hal seperti itu lagi, Neo. Perjalananmu masih sangat panjang."
"Tapi untuk apa aku bertahan jika aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku cari? Balas dendam? Keadilan? Atau hanya mencari alasan agar aku tidak mengakhiri hidupku sendiri?"
Ryuichi menghela napas panjang. Ia melangkah mendekati pembatas kolam, menatap pantulan dirinya dan Bara di atas air.
"Kau pikir selama ini aku tidak melihatmu, Nak? Kau pikir aku tidak tahu apa saja yang kau lalui setelah kepergianku?"
Bara mengerjakan matanya yang sembab. "Apa maksudmu, Ayah?"
"Adikku, Raiden Soryu," sebut Ryuichi, dan nama itu langsung membuat rahang Bara mengeras.
"Pria itu... dia menyiksamu berulang kali saat Olivia sedang tidak ada di rumah. Aku melihat semuanya, Neo. Aku tahu saat dia menyundut lenganmu dengan puntung rokok yang masih menyala hanya karena kau menolak memanggilnya 'Ayah'. Aku tahu semua rasa sakit yang kau sembunyikan di bawah lengan bajumu."
Bara membeku di tempatnya berdiri. Kenangan buruk atas masa kecilnya bersama ayah tirinya mendadak berputar kembali di kepalanya. Luka-luka itu tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun karena ia tidak ingin merusak kebahagiaan ibunya yang telah memilih membina keluarga baru bersama Raiden.
"Kau tahu...?" bisik Bara dengan suara bergetar. "Kenapa... kenapa Papa hanya diam dan tidak menolongku waktu itu?"
"Karena aku sudah mati, Neo," jawab Ryuichi dengan nada pasrah yang amat dalam.
"Orang yang sudah mati hanya bisa mengamati, tidak memiliki kuasa untuk mengubah garis takdir orang yang masih hidup. Aku meminta maaf, Nak. Maaf karena aku meninggalkanmu terlalu cepat, dan maaf karena membiarkan pundak kecilmu memikul beban sebesar ini."
Bara menggeleng cepat, ia menggenggam lengan kimono hitam ayahnya. "Ini bukan salahmu, Pa. Jangan meminta maaf."
Keduanya kini berdiri berdampingan di tepi kolam koi, menikmati kesunyian yang menenangkan di bawah langit putih yang tak berujung.
"Papa," panggil Bara setelah beberapa saat keheningan merayap.
"Ya, Nak?"
"Kenapa kau dibunuh? Siapa sebenarnya orang itu?" tanya Bara, menuntut jawaban yang selama ini mengendalikan seluruh hidupnya.
Bara melanjutkan. "Orang yang sama yang mengambil nyawamu, sekarang menaruh kepalaku di pasar gelap dengan harga lima miliar. Dia ingin menghabisiku, tapi dia pengecut, dia tidak pernah menunjukkan wajahnya."
Ryuichi tersenyum, sebuah senyuman khas pria Soryu yang menyimpan seribu rahasia. "Aku tahu siapa dia."
"Katakan padaku, Papa! Siapa dia?!" desak Bara dengan nada meninggi.
"Kau akan mengetahuinya sebentar lagi, Neo. Tidak perlu terburu-buru."
"Papa, tolong jangan membuatku menebak-nebak lagi!"
"Seseorang di duniamu akan segera membukakan jalannya untukmu. Kau akan menemukan kebenaran itu dengan matamu sendiri. Dan setelah kau tahu siapa orangnya..." Ryuichi menjeda kalimatnya, menatap Bara dengan tatapan yang sangat dalam, "...kau bebas menentukan pilihanmu. Apakah kau ingin mengakhirinya dengan darah, atau dengan kedamaian."
Bara menundukkan kepalanya, mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
"Aku takut aku tidak akan sekuat itu, Papa."
"Kau adalah darah dagingku, Baraziven Soryu. Darah keluarga Soryu mengalir murni di dalam tubuhmu. Kau telah bertahan selama sembilan belas tahun di tengah badai sendirian, dan kau tidak akan mudah dijatuhkan sekarang," Ryuichi menepuk pundak Bara satu kali, memberikan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh putranya.
"Sekarang, bangunlah. Ada seseorang yang menunggumu di sana."
"Siapa? Davian? Atau Shu?"
"Seseorang yang memegang kunci masa lalu kita. Bangunlah, Nak. Selesaikan urusanmu."
Perlahan, pemandangan taman belakang Mansion Soryu mulai mengabur. Kolam koi di hadapan Bara perlahan hilang, dan warna hijau rumput mulai memudar menjadi putih yang semakin menyilaukan. Sosok Ryuichi Soryu berangsur-angsur menjauh dan menjadi transparan layaknya asap.
"Papa! Jangan pergi lagi! Tunggu aku!" teriak Bara, berusaha menggapai ujung kimono ayahnya, namun jemarinya hanya menembus udara kosong.
"Aku selalu di sini, menghitung setiap langkahmu," suara Ryuichi terdengar menggema dari kejauhan sebelum benar-benar lenyap. "Berjuanglah, Neo. Aku bangga padamu."
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉