Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Hari
## Hari Pertama
Rio pulang dari kafe pukul setengah enam.
Langit sudah hampir gelap sepenuhnya — sisa oranye di cakrawala yang tipis seperti garis pensil yang hampir habis dihapus. Gang sempit itu sudah menyalakan lampu-lampunya yang satu dari tiga masih mati, menciptakan ritme terang-gelap-terang yang sudah menjadi bagian dari pemandangan yang Rio tidak lagi perhatikan karena terlalu familiar.
Ia naik tangga, buka pintu, taruh tas.
Serigala menyambutnya seperti biasa. Wukong sudah di kursi meja belajar. Semuanya sama.
Kecuali satu hal.
Kotak biola tua di atas meja — yang kemarin setelah Rio mematikan lampu masih dalam kondisi terbuka dengan Abyssal Goddess Weaver berbaring di dalamnya — malam ini kosong lagi.
Rio berdiri di tengah kamar, menatap kotak yang kosong itu.
Di pergelangan kirinya, tekanan delapan kaki yang sudah ia kenali berdenyut satu kali — semacam sinyal kecil yang artinya *aku di sini, tidak perlu dicari ke tempat lain.*
Rio menatap pergelangan kirinya.
"Dari tadi di situ?"
Tidak ada jawaban yang bisa diukur. Tapi dua kaki depan yang menekan sedikit lebih kuat selama satu detik sudah cukup sebagai konfirmasi.
Rio menghela napas pendek — bukan karena kesal, lebih karena ada sesuatu yang hampir lucu tentang situasi ini — dan duduk di kursi meja belajar yang Wukong kosongkan saat melihat Rio masuk.
Ia membuka panel sistem.
---
**[Abyssal Goddess Weaver — 67.3%]**
**[Catatan: Entitas secara mandiri memilih untuk tidak kembali ke kotak. Ini adalah keputusan kedua yang diambilnya secara sadar.]**
---
Keputusan kedua.
Yang pertama adalah keluar dari kotak dan berdiri di punggung tangan Rio pagi tadi. Yang kedua adalah memutuskan bahwa kotak itu bukan lagi tempat yang perlu dikembalikan.
Rio menutup panel, meletakkan sikunya di meja, dan berpikir.
Pak Darmawan. Empat hari. Raymond yang sedang menyiapkan rute.
Tiga slot squad yang masih kosong dan tiga hari sebelum perjalanan dimulai.
Di pergelangan kirinya, Abyssal Goddess Weaver tidak bergerak — hanya ada di sana dengan delapan kaki yang ringan dan delapan mata yang mungkin sedang mengamati apapun yang bisa dilihat dari balik kain jaket yang sudah Rio buka lipatannya agar ada celah cahaya masuk.
Membiarkan ada cahaya.
Sedikit saja tapi cukup.
---
Malam itu Rio meletakkan kotak biola tua itu di sudut kamar yang berbeda — bukan di atas meja, bukan di dalam tas. Di rak kecil di sebelah jendela yang biasanya hanya berisi satu pot tanaman kecil yang sudah kering sejak bulan lalu karena Rio selalu lupa menyiramnya.
Ia pindahkan pot itu ke lantai. Meletakkan kotak biola terbuka di raknya, menghadap ke ruangan.
Bukan sebagai wadah.
Sebagai referensi. Sebagai sesuatu yang bisa dilihat dari jauh kalau seseorang ingin melihatnya, tapi tidak ada yang mengharuskan siapapun kembali ke dalamnya.
Rio tidak menjelaskan kenapa ia melakukan itu.
Tidak ada yang bertanya.
Tapi saat ia mematikan lampu dan berbaring di kasur, di pergelangan kirinya tekanan delapan kaki itu berubah sangat halus — bukan lebih kuat, bukan lebih lemah. Berbeda. Dengan cara yang tidak bisa Rio jelaskan tapi bisa ia rasakan persis seperti cara ia merasakan perbedaan antara angin yang membawa hujan dan angin yang tidak, sebelum langit menunjukkan tanda apapun.
Sesuatu di dalam tekanan itu terasa sedikit lebih ringan.
---
## Hari Kedua
Sekolah berlangsung seperti biasa dengan cara yang semakin terasa seperti sebuah dimensi paralel dari kehidupan Rio yang sebenarnya.
Matematika. Biologi. Sejarah Dungeon yang Pak Hendra ajarkan dengan tempo yang sama monotonnya. Kantin yang ramai. Kevin yang tidak mendekat tapi matanya yang sesekali melintas ke arah Rio di koridor sudah mengandung kalkulasi yang berbeda dari sebelum duel di lapangan.
Rio melewati semua itu dengan mode autopilot yang sudah sangat terlatih.
Yang berbeda hanya satu hal kecil yang tidak akan diperhatikan oleh siapapun kecuali oleh orang yang tahu harus melihat ke mana.
Di pergelangan kiri Rio yang biasanya tertutup jaket sampai ke telapak tangan — hari ini ia gulung lengan jaketnya sampai siku. Bukan karena panas. Bukan karena alasan yang bisa dijelaskan dengan logistis kepada siapapun yang bertanya.
Hanya karena ada sesuatu yang terasa seperti tindakan yang benar untuk dilakukan pagi ini tanpa bisa ia jelaskan lebih lanjut dari itu.
Abyssal Goddess Weaver di pergelangan kirinya mendapat cahaya matahari langsung untuk pertama kalinya.
Tidak ada reaksi dramatis. Tidak ada perubahan yang bisa diukur oleh sistem dalam waktu singkat.
Hanya delapan kaki yang menekan sedikit berbeda dari biasanya — lebih aktif, bergerak kecil-kecil secara bergantian seperti seseorang yang sedang menggerakkan jari-jarinya untuk memastikan semuanya masih berfungsi dengan benar setelah lama tidak digunakan.
Rio memperhatikannya di antara penjelasan Pak Hendra tentang kategori monster di zona pesisir.
---
Jam istirahat siang, Maya menemukan Rio di bangku taman belakang yang sudah menjadi tempat favoritnya.
Gadis tinggi dengan rambut dikepang dua itu duduk di bangku yang sama tanpa meminta izin — gestur yang menunjukkan bahwa ia sudah memutuskan bahwa formalitas itu tidak perlu di antara mereka, yang Rio tidak keberatan karena formalitas memang membuang energi.
"Kamu berangkat ke mana akhir minggu ini?" tanya Maya langsung.
Rio menatapnya. "Siapa yang bilang saya pergi ke mana-mana?"
"Tidak ada." Maya menatap balik dengan tenang. "Tapi kamu punya tampang orang yang sedang menghitung hari. Sudah dari kemarin."
Rio mengamati Maya selama dua detik.
Gadis ini tidak pernah ia perhitungkan sebagai variabel yang perlu dikelola — ia muncul di pinggiran, memberikan nomor ponselnya, menyebut koneksi ekstrakurikuler riset dungeon, dan tidak pernah memaksakan diri lebih jauh dari itu. Keberadaannya selama ini lebih terasa seperti pintu yang terbuka tapi tidak ada yang masuk atau keluar melaluinya.
"Urusan keluarga," jawab Rio akhirnya.
Maya mengangguk sekali — anggukan yang menerima jawaban itu sebagai jawaban final tanpa mendorong lebih jauh. Kemudian menatap pergelangan kiri Rio yang terbuka.
"Itu laba-laba di pergelangan tanganmu."
Bukan pertanyaan.
Rio tidak langsung menjawab.
"Iya," katanya setelah dua detik.
"Hewan kontrak?"
"Dalam proses."
Maya menatap Abyssal Goddess Weaver yang duduk di pergelangan Rio dengan delapan mata yang tidak berhenti bergerak mengamati sekelilingnya — pemandangan yang bagi kebanyakan orang akan terlihat seperti sesuatu yang perlu dihindari, tapi yang Maya perhatikan dengan cara yang lebih dekat ke ilmiah daripada jijik.
"Corak ungunya," kata Maya pelan. "Itu bukan pigmen alami spesies laba-laba manapun yang ada dalam database resmi."
Rio menatap Maya dengan cara yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Kamu tahu database spesies laba-laba dungeon."
"Ekstrakurikuler riset dungeon." Maya mengangkat bahu. "Kita sudah katalog dua ratus tiga puluh tujuh spesies. Laba-laba dengan corak ungu metalik bukan salah satunya." Ia akhirnya memalingkan pandangan dari pergelangan Rio ke wajahnya. "Kamu punya makhluk yang tidak ada dalam catatan resmi apapun, Rio."
"Lebih dari satu," jawab Rio tanpa berpikir terlalu lama.
Maya diam selama tiga detik.
"Aku tidak akan tanya lebih lanjut," katanya kemudian. "Tapi kalau suatu hari kamu butuh seseorang yang tahu cara mencari informasi tanpa meninggalkan jejak di database resmi—"
"Nomor kamu masih sama?"
Maya mengangguk.
"Oke." Rio berdiri dari bangku, menyandang tasnya. "Saya simpan."
---
Sore itu Rio pulang dan menemukan sesuatu yang tidak ia perkirakan.
Serigala abu-abu yang biasanya berdiri di dekat pintu saat Rio pulang tidak ada di posisi rutinnya.
Rio masuk, menutup pintu, matanya menyapu kamar.
Serigala duduk di dekat rak kecil di sebelah jendela — tepat di depan kotak biola tua yang Rio letakkan di sana semalam. Duduk tegak, menatap ke arah kotak itu, dengan telinga terangkat dan postur yang serius tapi tidak defensif.
Seperti sedang berjaga.
Seperti memilih untuk hadir di sana, secara sukarela, untuk makhluk kecil yang mungkin bisa ia deteksi dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh sensor hunter manapun.
Rio berdiri di tengah kamar, menatap serigala yang menatap kotak biola.
Wukong mencicit pelan dari kursi meja belajar — nada yang Rio terjemahkan kurang lebih sebagai *dia sudah duduk di sana dari tiga jam yang lalu.*
---
Malam itu Rio makan, mengecek panel sistem, dan memperhatikan satu hal yang tidak ia instruksikan kepada siapapun.
Di pergelangan kirinya, Abyssal Goddess Weaver bergerak.
Bukan pergerakan kecil seperti biasanya — kaki yang terangkat sedikit, penyesuaian posisi yang halus. Pergerakan yang lebih besar. Lebih disengaja.
Berjalan naik.
Dari pergelangan ke lengan bawah, dari lengan bawah ke siku, dari siku ke lengan atas.
Berhenti di bahu kiri Rio.
Posisi yang persis sama dengan posisi Wukong di bahu kanan.
Rio duduk diam selama beberapa detik dengan satu kera di bahu kanan dan satu laba-laba di bahu kiri, menatap ke depan ke arah dinding kamar yang catnya mengelupas di sudut bawah.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang perlu berbicara.
Panel sistem menyala sangat pelan.
---
**[Abyssal Goddess Weaver — 78.9%]**
**[Catatan: Entitas memilih posisi bersebelahan dengan hewan kontrak lain secara sukarela. Ini adalah interaksi sosial pertama yang diinisiasinya dalam 84 tahun.]**
---
Tujuh puluh delapan koma sembilan.
Naik lebih dari sebelas persen dalam satu hari.
Rio menutup panel itu dan tidak memeriksa angka lain malam ini. Ada hal-hal yang lebih baik tidak terlalu banyak diukur karena pengukuran yang terlalu sering bisa mengubah cara sesuatu tumbuh — seperti tanaman yang tidak perlu diperiksa setiap jam untuk memastikan ia tumbuh, cukup disiram dan diberi cahaya dan dibiarkan melakukan apa yang memang sudah menjadi sifat dasarnya.
---
## Hari Ketiga
Rio bangun pukul lima empat puluh dua.
Alarm belum berbunyi.
Yang membangunkannya bukan suara — kamar itu sunyi dengan cara yang normal, Wukong mendengkur, serigala bernafas teratur. Yang membangunkannya adalah sesuatu di bahu kirinya.
Kehangatan.
Bukan kehangatan dari sentuhan fisik saja. Sesuatu yang lebih dari itu — lebih dalam, lebih luas, seperti kehangatan yang berasal dari arah yang tidak ada koordinatnya di dalam ruang fisik tapi terasa sangat nyata dan sangat hadir di sisi kirinya.
Rio membuka matanya.
Menatap langit-langit.
Cahaya subuh baru saja mulai masuk dari celah jendela — biru muda yang sangat dingin, satu strip tipis di lantai yang bergerak sangat pelan seiring matahari yang naik di luar.
Di bahu kirinya, Abyssal Goddess Weaver masih di posisi yang sama seperti semalam.
Tidak tidur — Rio yakin makhluk itu tidak tidur malam ini. Delapan matanya masih aktif, masih bergerak dengan pola yang sudah Rio kenali sebagai pola observasi, mengamati kamar yang pelan-pelan berubah dari gelap menjadi sedikit kurang gelap dengan cahaya subuh yang masuk bertahap.
Menyaksikan fajar untuk pertama kalinya.
Atau mungkin untuk pertama kalinya setelah sangat lama.
---
Rio duduk perlahan, berusaha tidak membuat gerakan mendadak.
Serigala membuka matanya di pojok jendela — sudah terjaga, mungkin sudah dari beberapa menit sebelumnya. Wukong berhenti mendengkur tapi belum membuka mata, dalam kondisi setengah sadar yang sudah cukup untuk mendeteksi bahwa ada sesuatu berbeda tentang pagi ini.
Rio duduk di tepi kasur dengan kaki di lantai dan bahu kiri yang masih ditempati, menatap strip cahaya subuh di lantai yang pelan-pelan melebar.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang perlu berbicara.
---
Empat puluh tujuh menit berlalu dengan cara yang sangat biasa.
Rio menyiapkan sarapan. Wukong makan pisangnya. Serigala makan dagingnya. Rio makan nasi yang ia beli tadi pagi dari Bu Heni dengan pesanan yang ia turunkan dan ambil sendiri karena hari ini ia tidak mau meninggalkan kamar lebih dari yang diperlukan.
Abyssal Goddess Weaver tidak bergerak dari bahu kiri Rio selama empat puluh tujuh menit itu.
Mengamati Wukong makan.
Mengamati serigala makan.
Mengamati Rio makan dengan cara yang Rio tidak bisa definisikan sebagai sekadar observasi lagi — ada sesuatu di dalam cara delapan mata itu memperhatikan yang lebih dekat ke arah yang jauh lebih personal dari sekadar mengumpulkan data tentang lingkungan baru.
Seperti seseorang yang sedang mempelajari bukan tempat yang ia ada, melainkan orang-orang yang ada di tempat itu.
---
Pukul delapan pagi, panel sistem menyala.
---
**[Abyssal Goddess Weaver — 91.2%]**
**[PERINGATAN: Mendekati Ambang Batas Ikatan Kontrak]**
**[Catatan: Proses yang terjadi berada di luar parameter normal ikatan kontrak standar. Sistem tidak mengintervensi.]**
**[Sistem mendeteksi: Entitas sedang dalam proses membuat keputusan yang belum pernah ia buat dalam 84 tahun.]**
---
Rio membaca notifikasi itu dengan sangat diam.
*Keputusan yang belum pernah ia buat dalam 84 tahun.*
Ia tidak perlu bertanya apa keputusan itu.
Ia tahu.
Dan ia juga tahu bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mempercepat atau memperlambat keputusan itu — sistem sudah bilang itu sejak awal, dan tiga hari terakhir ini membuktikannya. Yang bisa ia lakukan hanya satu hal.
Ada di sini.
---
Pukul sembilan lewat empat belas menit, sesuatu terjadi.
Tidak ada penanda sebelumnya. Tidak ada build-up, tidak ada intensitas yang naik secara bertahap, tidak ada suara atau cahaya atau tekanan energi yang terasa berbeda.
Hanya Abyssal Goddess Weaver yang, dari posisinya di bahu kiri Rio, bergerak sangat pelan ke arah leher Rio — berjalan dengan delapan kaki yang ringan seperti benang sampai posisinya ada di lekukan antara bahu dan leher, tempat yang dalam bahasa tubuh manusia adalah tempat seseorang menyandarkan kepalanya.
Berhenti di sana.
Dan untuk pertama kalinya sejak Rio menemukan kotak biola itu di ruang musik enam hari lalu — untuk pertama kalinya dalam delapan puluh empat tahun dalam hitungan makhluk itu sendiri — Abyssal Goddess Weaver mengeluarkan suara.
Bukan suara yang bisa didengar oleh telinga.
Suara yang datang langsung ke tempat yang paling dalam — tempat yang sama dengan tempat suara ayahnya muncul dari fragment ketujuh dua malam lalu — dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh mekanisme fisik apapun tapi terasa lebih nyata dari apapun yang pernah masuk melalui telinga Rio.
Bukan kata-kata.
Belum ada kata-kata. Mungkin kata-kata akan datang nanti, atau mungkin tidak akan pernah datang dalam format yang bisa dikategorikan sebagai bahasa.
Hanya — sesuatu.
Sesuatu yang terasa seperti seseorang yang sangat lelah akhirnya duduk setelah berdiri sangat lama, dan menghembuskan napas yang sudah ditahan jauh lebih lama dari yang seharusnya mungkin untuk ditahan oleh siapapun.
---
Panel sistem meledak.
Bukan dengan peringatan. Bukan dengan notifikasi warna merah atau emas atau biru tua.
Dengan warna yang belum pernah muncul sebelumnya.
Putih bersih. Tanpa gradasi. Seperti halaman kosong yang baru saja siap untuk ditulisi.
---
**[IKATAN KONTRAK TERBENTUK]**
**[Abyssal Goddess Weaver — Tier: Warrior I ★☆☆☆☆]**
**[Bonus Mode Smurf: EXP ×500% AKTIF]**
**[Potensi Puncak: MYTHICAL IMMORTAL — Top Global Marksman]**
**[Slot 3 Squad: TERISI]**
**[Catatan Sistem: Ikatan ini terbentuk bukan melalui prosedur standar. Tidak ada lingkaran kontrak. Tidak ada ritual. Tidak ada transfer energi paksa.]**
**[Ikatan ini terbentuk karena satu entitas memutuskan, setelah 84 tahun, bahwa ada seseorang yang layak untuk dipercaya.]**
**[Sistem tidak punya kategori untuk ikatan seperti ini. Maka sistem menciptakan kategori baru:]**
**[IKATAN JIWA — Tingkat kepercayaan maksimum dari awal. Tidak bisa diputus dari pihak manapun kecuali atas kemauan kedua belah pihak secara bersamaan.]**
---
Rio membaca kategori terakhir itu tiga kali.
*Ikatan Jiwa.*
*Tidak bisa diputus dari pihak manapun kecuali atas kemauan kedua belah pihak secara bersamaan.*
Kebalikan dari apa yang pernah dilakukan tamer sebelumnya pada makhluk ini — pemutusan paksa yang meninggalkan luka yang butuh delapan puluh empat tahun untuk mulai sembuh.
Kebalikan yang sempurna.
---
Di pojok jendela, serigala yang sudah tiga jam berjaga di depan kotak biola tua itu mendengkur pelan satu kali — suara yang hangat dan singkat yang sudah pernah Rio dengar sekali sebelumnya, malam pertama ketika serigala itu menyambut Abyssal Goddess Weaver yang baru pertama kali membuka mata.
*Selamat datang.*
Tapi kali ini berbeda dari malam itu.
Kali ini bukan selamat datang kepada seseorang yang baru saja membuka mata.
Kali ini selamat datang kepada seseorang yang baru saja memutuskan untuk tinggal.
Wukong di kursi meja belajar membuka kedua matanya sepenuhnya, menatap ke arah lekukan bahu dan leher Rio tempat Abyssal Goddess Weaver berdiri, kemudian mengangguk satu kali — pendek, tegas, dengan martabat yang sangat dijaga tapi mengandung sesuatu yang jauh lebih hangat dari martabat itu di lapisannya yang paling dalam.
Pengakuan dari seseorang yang sudah lama mengenal makhluk itu dari kehidupan sebelumnya, kepada makhluk yang sama yang akhirnya memutuskan untuk ada kembali.
---
Rio duduk sangat diam di tepi kasurnya.
Tiga dari lima slot sudah terisi.
Di bahu kanannya, Wukong — kera dewa yang menyamar sebagai monyet sirkus, yang pertama memilihnya, yang sejak awal sudah tahu lebih banyak dari yang pernah diakuinya.
Di lekukan bahu kirinya, Abyssal Goddess Weaver — penenun takdir yang delapan puluh empat tahun belajar bahwa dunia tidak aman dan tiga hari ini belajar bahwa mungkin ia salah, setidaknya tentang satu tempat dan satu orang.
Di pojok jendela, serigala abu-abu yang tidak punya nama resmi karena sistem hanya mencatatnya sebagai Void Shadow Wolf tapi yang sudah menjadi bagian dari ritme kamar ini dengan cara yang terasa seperti ia selalu sudah ada di sana — pengawal yang memilih untuk berjaga bukan karena diperintah melainkan karena memilih.
Tiga makhluk. Tiga cara berbeda untuk sampai di sini. Tiga cerita yang masing-masing dimulai jauh sebelum Rio tahu bahwa ia adalah bagian dari cerita itu.
Dan besok — tiga hari sejak Raymond menyebutkan nama Pak Darmawan — perjalanan delapan jam dimulai.
Menuju kota kecil di luar provinsi. Menuju mantan guru musik yang menyimpan koordinat tersembunyi di dalam cerita yang ia dengar tiga belas tahun lalu tanpa tahu apa artinya.
Menuju satu langkah lebih dekat ke jawaban dari pertanyaan yang bahkan tidak pernah berani Rio izinkan dirinya tanyakan dengan keras.
---
Rio merebahkan punggungnya ke kasur, menatap langit-langit.
Retakan di sudut kiri atas yang sama. Tidak bertambah panjang, tidak hilang. Hanya ada, seperti selalu sudah ada.
Di bahu kirinya, kehangatan yang tidak bisa diukur oleh sensor apapun masih terasa — lebih stabil dari sebelumnya, lebih menetap, seperti sesuatu yang sudah menemukan berat badannya sendiri dan tidak lagi butuh mengukur berapa banyak tekanan yang aman untuk diberikan.
Di pundak kanannya, Wukong mendengkur.
Di pojok jendela, serigala bernafas teratur.
Panel sistem berkedip satu kali terakhir sebelum Rio menutup matanya.
---
**[Squad Update — Slot Terisi: 3/5]**
**[Slot 1: Sun Wukong — Epic I ★★☆☆☆]**
**[Slot 2: Void Shadow Wolf — Elite III ★★★☆☆]**
**[Slot 3: Abyssal Goddess Weaver — Warrior I ★☆☆☆☆]**
**[Slot 4, 5: KOSONG]**
**[Keberangkatan: Besok]**
---
*Besok.*
Rio menutup matanya.
Kamar kontrakan yang pintunya masih miring dan sewanya masih murah terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya — tidak lebih besar, tidak lebih terang, tidak berubah secara fisik dengan cara apapun yang bisa diukur.
Tapi penuh dengan cara yang berbeda.
Dengan cara yang hanya bisa terjadi ketika sebuah tempat bukan lagi sekadar tempat seseorang tidur dan makan dan berencana — melainkan tempat yang dipilih oleh lebih dari satu makhluk, secara sukarela, sebagai tempat yang layak untuk ada di dalamnya.
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣