Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 004: Suasana di Taman Kota
Setelah sekitar dua puluh menit perjalanan, mereka tiba di taman kota yang rindang dan asri, dikelilingi pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Suasananya terasa sangat sejuk dan tenang, hanya terdengar kicauan burung yang pulang ke sarang serta tawa riang anak-anak yang masih bermain di kejauhan. Aries memarkirkan motornya di tempat yang aman dan teduh, lalu dengan lembut membantu Aldara turun dari kendaraannya.
“Ternyata tempatnya seindah dan setenang ini,” ucap Aldara sambil memandangi sekeliling dengan tatapan kagum. Angin sore yang berhembus pelan terasa menyegarkan pikirannya.
“Aku sering ke sini kalau sedang ingin menenangkan hati dan pikiran,” jawab Aries santai, lalu mengajaknya berjalan menuju bangku kayu tua yang menghadap langsung ke danau buatan.
Keduanya duduk berdampingan, menikmati pemandangan air danau yang berkilau terkena sisa cahaya matahari sore yang perlahan meredup. Sesekali Aries melirik ke samping, memperhatikan wajah Aldara yang tampak lebih lembut dan tenang saat sedang tidak bercanda. Di balik ketenangan itu, ia bisa merasakan ada beban berat yang selama ini disembunyikan wanita itu.
Belum sempat Aries berbicara, Aldara tiba-tiba menoleh dan tersenyum nakal. “Kenapa terus melirikku? Jangan bilang kalau kamu sudah jatuh cinta padaku, ya?” godanya memecah keheningan.
Kali ini Aries tidak tersipu seperti biasanya. Ia hanya tersenyum tipis dan menatap balik dengan pandangan yang tulus. “Kalau iya, emang kenapa? Apakah kamu mau menerimanya?” balasnya santai namun penuh makna.
Sekarang giliran Aldara yang tertegun. Jantungnya seketika berdegup lebih cepat dari biasanya, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan sejak ditinggalkan oleh mantan kekasihnya. Ia menatap mata Aries dalam-dalam, mencari kebohongan namun hanya menemukan ketulusan di sana.
“Kamu ini… bisa saja,” jawabnya akhirnya, lalu memalingkan wajah sembari menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya.
Aries tertawa pelan, lalu menggeser posisinya lebih mendekat. “Aku tidak terburu-buru. Kita jalani saja semuanya perlahan. Yang terpenting kamu merasa nyaman, itu sudah lebih dari cukup untukku,” ucapnya lembut.
Mendengar kata-kata itu, senyum tulus pun terukir di bibir Aldara. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak perlu berpura-pura kuat lagi. Di sisi Aries, ia merasa aman dan dihargai apa adanya.
“Baiklah, aku setuju kita jalani saja. Kalau nanti cocok dan aku benar-benar nyaman, kita lanjutkan ke tahap yang lebih serius,” jawab Aldara mantap.
Aries mengangguk senang, lalu perlahan menggenggam tangan Aldara dan sesekali mengecup punggung tangannya dengan lembut. Namun tiba-tiba Aldara berbicara lagi dengan nada yang lebih serius.
“Ada satu hal yang aku minta padamu,” katanya pelan.
“Apa itu? Katakan saja,” tanya Aries dengan perhatian.
“Kalau suatu saat nanti kamu sudah tidak mencintaiku lagi atau hatimu beralih pada wanita lain, tolong katakan terus terang. Jangan pernah menyembunyikan dan mengkhianatiku secara diam-diam,” pinta Aldara, nada suaranya menyiratkan luka masa lalu yang belum sembuh sepenuhnya.
Aries terdiam sejenak, lalu menatap matanya dalam-dalam. “Baiklah, aku janji. Tapi percayalah, aku bukan tipe orang yang akan menyakiti atau mengkhianati orang yang sudah aku pilih,” jawabnya sungguh-sungguh.
“Iya, aku percaya padamu,” balas Aldara pelan.
Mereka pun kembali menikmati keindahan sore itu hingga jarum jam menunjukkan pukul enam petang. Aries memutuskan untuk segera mengantar Aldara pulang agar ia tidak kemalaman di jalan. Setelah memastikan Aldara sudah masuk ke dalam rumahnya, Aries pun melaju pulang untuk beristirahat sebelum kembali bekerja keesokan harinya.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Aldara hanya bisa duduk termenung dan mengingat kembali percakapan di taman tadi. Di satu sisi hatinya mulai bertanya-tanya, namun di sisi lain rasa takut dan trauma masa lalu masih membayangi. “Apakah keputusanku ini sudah benar? Akankah dia tidak akan menyakitiku seperti orang sebelumnya?” gumamnya pelan, membiarkan keraguan itu berbaur dengan harapan baru yang perlahan tumbuh di hatinya.