Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Keisya memutuskan untuk tidak lagi meratapi nasibnya. Menyesali apa yang telah terjadi tidak akan mengubah apa pun.
Setidaknya, masih ada satu hal yang patut ia syukuri. Kartu bank yang dulu diberikan Alex ternyata belum diblokir ataupun ditarik kembali oleh keluarga Jordan. Berkat itulah ia masih bisa menarik sejumlah uang tunai untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Setelah keluar dari ATM, Keisya langsung berkeliling membeli beberapa barang yang menurutnya penting. Ia membeli obat penambah darah untuk mengatasi kondisi tubuhnya yang semakin sering melemah akibat mimisan. Selain itu, ia juga membeli lip cream berwarna natural yang menyerupai warna bibir sehat.
Bukan karena ia ingin berdandan.
Keisya hanya tidak ingin orang-orang mulai menaruh curiga setiap kali melihat wajahnya yang mendadak sepucat mayat setelah mimisan menyerang.
Dengan tubuh kurus, kulit putih bak porselen, ditambah bibir yang kehilangan warna, siapa pun pasti akan mengira dirinya mengidap penyakit serius.
Setelah semua kebutuhannya selesai dibeli, Keisya memilih mampir ke sebuah angkringan sederhana di pinggir jalan. Aroma nasi goreng yang menggoda membuat perutnya yang sejak tadi kosong tak mampu lagi diajak berkompromi.
Kini ia duduk menikmati sepiring nasi goreng hangat dengan senyum puas.
Rasanya benar-benar enak.
Penjualnya bahkan tidak pelit memberikan tambahan bakso dan sosis. Keisya sengaja menyisakan potongan-potongan bakso itu untuk disantap paling akhir sebagai penutup yang sempurna.
Sambil mengunyah perlahan, matanya melirik ke arah jalan raya di depan angkringan.
Suasananya terasa jauh lebih lengang dibanding biasanya.
"Hm... sepi banget."
Ia kemudian mengangkat pergelangan tangan kirinya untuk melihat jam.
"Baru jam satu siang..."
Tak heran..
Pedagang jajanan kaki lima biasanya baru mulai memenuhi jalanan menjelang sore. Saat matahari mulai turun, barulah kawasan itu berubah menjadi ramai.
Keisya kembali menikmati makan siangnya. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
"Maling!"
Teriakan seseorang dari arah belakang membuat Keisya refleks tersedak. Ia buru-buru mengambil minuman, tetapi sebelum sempat meneguknya, seorang anak kecil berlari sekencang mungkin melewati samping mejanya.
Bruk!
Tubuh mungil itu tak sengaja menyenggol meja hingga gelas teh manis terbalik.
Cairan kecokelatan itu langsung membanjiri piring nasi goreng milik Keisya. Ia hanya bisa memandangi bakso-bakso kesayangannya yang kini berubah menjadi bakso kuah.
Keisya memejamkan mata beberapa detik.
"Padahal baru setengah dimakan..." Keluhannya terdengar begitu tulus.
Barulah setelah itu ia mengangkat kepala.
Di depan pintu masuk angkringan, dua orang remaja berhasil mencegat anak kecil yang tadi berlari. Bocah itu tampak ketakutan saat keduanya memegang lengannya.
Melihat pemandangan tersebut, hati Keisya langsung dipenuhi rasa iba. Dalam benaknya, tidak ada anak yang lahir dengan keinginan menjadi pencuri.
Kalau sampai seorang bocah seusia itu nekat mencuri, pasti ada alasan besar yang memaksanya.
Mungkin ia lapar dan tidak memiliki keluarga.
Keisya tidak pernah suka menghakimi keadaan seseorang hanya dari kesalahan yang tampak di permukaan.
Dengan pikiran itu, Keisya berniat menghampiri bocah tersebut setelah membayar makanannya. Namun saat tangannya masuk ke saku hoodie biru muda yang dikenakannya, dahinya langsung berkerut.
Kosong.. Dompetnya hilang.
Sebelum sempat panik, seseorang mengulurkan sebuah dompet kulit ke arahnya.
"Kalau simpan dompet jangan di saku, Cil. Lu bawa tas, mending masukin ke sana."
Keisya menatap remaja berwajah tengil itu dengan ekspresi datar.
"Cil?"
Alisnya langsung bertaut. Di kepalanya, kata itu berubah menjadi satu makna yang sama sekali berbeda.
"Kancil?"
'Serius? Aku baru saja dipanggil dengan nama hewan?'
Padahal maksud remaja itu hanyalah singkatan dari bocil, mengingat tubuh Keisya memang terlihat lebih kecil dibanding usianya.
Untung saja sebelum sempat melayangkan protes, pandangannya kembali tertuju kepada anak kecil yang sedang diseret keluar.
"Eh!"
Keisya berdiri spontan.
"Kalian mau ngapain dia?"
Remaja tadi hanya mengangkat bahu santai sebelum berjalan menyusul teman-temannya.
Perasaan tidak enak langsung memenuhi dada Keisya.
Tanpa berpikir panjang, ia mengeluarkan selembar uang biru dari dompetnya untuk membayar nasi goreng yang bahkan belum sempat dihabiskan, lalu segera menyambar tasnya dan berlari mengikuti mereka.
Namun begitu keluar dari angkringan, langkahnya justru terhenti. Pemandangan di depannya benar-benar berbeda dari apa yang ia bayangkan.
Anak kecil itu memang dikerumuni para remaja tadi.
Hanya saja, bukannya dipukul atau dimarahi, mereka justru menyodorkan beberapa kantong plastik berisi makanan.
"Jangan maling lagi, ya."
Salah seorang remaja mengusap pelan kepala bocah itu.
"Nggak baik."
Yang lain ikut menasihati.
"Nih, buat makan."
Seorang remaja lain menyerahkan satu kantong besar berlogo Alfamidi yang terlihat penuh dengan makanan instan dan kebutuhan pokok.
Keisya hanya bisa berdiri mematung. Rasa bersalah perlahan muncul karena sempat berprasangka buruk kepada mereka.
Ternyata mereka sama sekali tidak berniat menyakiti anak itu, justru mereka membantunya.
Keisya yang sedari tadi hanya menjadi penonton akhirnya melangkah mendekat. Tatapannya berhenti pada remaja yang tadi mengembalikan dompetnya.
"Hei."
Panggilannya membuat remaja itu menghentikan langkah lalu menoleh.
"Iya?"
Keisya mengusap tengkuknya dengan canggung.
"Ma... makasih ya. Soal dompet tadi."
Remaja itu hanya terkekeh pelan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Santai aja.. Lagian dompet lu udah setengah keluar dari saku. Tinggal nunggu jatuh doang."
Keisya mengangguk kecil. Ia masih merasa sedikit malu karena sempat berpikir buruk tentang mereka.
Remaja itu lalu mengulurkan tangan.
"Kenalin, gue Arsen."
Senyumnya mengembang santai, memperlihatkan lesung pipi tipis di salah satu sisi wajahnya.
"Semoga lain kali kita ketemu lagi, Cil."
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu