NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Pencarian Orang Pintar

Waktu ghaib dan waktu fana berputar pada poros yang sama, namun bergerak dengan kekejaman yang berbeda. Di dunia nyata, jarum jam dinding di kediaman Rahayu hampir mendekati pukul sepuluh malam. Di dalam kamar yang beralih rupa menjadi liang es itu, Bintang terduduk dengan napas satu-satu. Cap telapak tangan darahnya di dada Sekar memang berhasil menahan laju pembekuan raga gadis itu, tetapi hawa Wisa Sengkolo yang menguap dari pori-pori kulit Sekar telah membuat paru-paru Bintang mengalami pendarahan internal skala kecil.

Setiap kali pemuda itu meludah, cairan yang keluar berwarna merah bata kental, berbau karat besi bercampur kenanga busuk. Dia tahu, batas kemampuannya telah menyentuh dinding absolut. Jika dia nekat bertahan di dalam kamar ini sendirian untuk menghadapi puncak malam Sabtu Kliwon dua jam lagi, bukan hanya jiwa Sekar yang akan hancur menjadi cangkang abadi Kalingga, tetapi raganya sendiri akan mati berdiri dengan darah hitam yang menyembur dari seluruh lubang di wajahnya.

"Bu... Bu Rahayu," panggil Bintang, suaranya parau, nyaris habis seperti terkikis ampas kaca.

Rahayu, yang masih meringkuk di sudut lantai dengan tubuh bergetar hebat, mengangkat wajahnya yang pucat pasi. Matanya yang sembap menatap Bintang dengan keputusasaan yang teramat murni. "Bintang... anakku... apa anakku masih bisa bernapas?"

"Saya hanya bisa mengganjal nyawanya sampai tengah malam, Bu. Tidak lebih," jawab Bintang sambil berdiri perlahan, memegangi dadanya yang terasa seperti dihantam godam membara. "Pagar ghaib yang saya buat dengan Pisau Sungsang Buwana sedang digerogoti dari bawah fondasi rumah. Kekuatan saya tidak akan cukup untuk menahan sabetan ekor Kalingga saat gerhana batin Sabtu Kliwon tiba. Saya harus mencari bantuan sekarang juga."

"Bantuan? Ke siapa, Bintang? Di desa ini tidak ada lagi yang berani mendekati rumah ini..." rintih Rahayu, air matanya meluluri kerutan di pipinya.

"Bukan di desa ini. Di hulu lereng gunung, ada seorang sepuh yang mengasingkan diri dari urusan duniawi sejak puluhan tahun lalu. Mbah Sariti. Beliau adalah satu-satunya manusia yang selamat setelah mencoba memutus perjanjian ghaib sungsang di wilayah ini pada masa penjajahan dulu. Hanya beliau yang tahu cara membalikkan kutukan wadah Sengkolo."

Bintang melangkah mendekati lemari pakaian Sekar yang salah satu pintunya telah jebol akibat hantaman energi sebelumnya. Dengan jari-jarinya yang gemetar dan bersimbah darah, dia mengosongkan rak bagian tengah, mencari satu benda spesifik yang masih menyimpan jejak biologis dan spiritual murni dari gadis itu. Tangannya berhenti pada sebuah kebaya kain katun berwarna putih kusam—pakaian yang paling sering dikenakan Sekar saat dia melakukan tirakat puasa mutih sebulan yang lalu.

Begitu kain itu ditarik keluar, wangi khas manusia Sekar yang bercampur dengan aroma anyir alami rahim Sabtu Kliwon langsung menguar samar, berbenturan dengan bau bisa ular di dalam ruangan. Bagi mata batin Bintang, kebaya itu memancarkan aura helai-helai benang ghaib berwarna perak tipis yang masih terhubung lurus menembus lantai kamar menuju kedalaman Istana Sisik Hitam. Ini adalah tali jangkar spiritual.

"Jaga kamar ini, Bu. Jangan sekali-kali menghapus lingkaran garam di depan pintu, dan jangan bersihkan darah saya di dada Sekar walau satu tetes pun," perintah Bintang dengan nada dingin tanpa bantahan. Dia melipat kebaya itu dengan cepat, membungkusnya menggunakan kain mori hitam, lalu menyampirkannya di dalam jaket kanvasnya.

Tanpa menunggu jawaban Rahayu yang masih menangis tersedu-sedu, Bintang berbalik dan melangkah keluar menembus pintu belakang. Udara malam Jawa Timur yang gersang langsung menyergap wajahnya, namun anehnya, angin yang berembus dari arah puncak gunung terasa berbau tanah kuburan yang basah—sebuah pertanda bahwa seluruh vegetasi ghaib di lereng Raung sedang bergeser untuk menyambut kebangkitan keabadian sang Raja Bhujangga.

Bintang memacu sepeda motor tua miliknya menembus jalanan setapak yang membelah perkebunan kopi yang mati meranggas. Di kanan dan kirinya, pohon-pohon besar tampak berdiri kaku seumpama barisan raksasa yang sedang berjaga dalam keheningan. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara burung hantu. Sunyi yang tercipta malam itu adalah sunyi yang mencekam, seolah-olah seluruh makhluk hidup di dalam hutan sedang menahan napas, menyembunyikan diri dari radar pemangsa purba yang sedang murka di bawah perut bumi.

Semakin tinggi motor Bintang mendaki lereng, kabut hitam bertekstur tebal mulai turun menghalangi pandangan. Lampu depan motornya yang kuning redup nyaris tidak mampu menembus jarak dua meter di depannya. Mesin motor itu berkali-kali terbatuk, berderak kaku seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang mencoba menahan putaran rodanya dari dalam tanah.

"Jangan halangi jalan, setan!" bentak Bintang sambil menghantamkan tangan kanannya yang memegang rajah ke arah stang motor, menyuntikkan energi paksa agar mesin itu tetap menderu menanjak.

Setelah menembus rimbunnya hutan bambu kuno yang batangnya saling bergesekan menimbulkan suara mirip rintihan wanita disiksa, Bintang tiba di sebuah celah perbukitan yang buntu. Di sana, berdiri sebuah gubuk reot yang strukturnya terbuat dari susunan batang pohon kemuning tua yang hampir menghitam seluruhnya. Atap ilalang gubuk itu tampak compang-camping, dan di sekeliling halamannya yang dipenuhi batu nisan tanpa nama, tumbuh rimbun pohon kenanga hitam yang bunganya mekar dengan kelopak yang layu membusuk.

Tempat ini tidak memiliki pancaran kehidupan sama sekali. Ini adalah rumah bagi seseorang yang memilih hidup di perbatasan antara dunia fana dan liang kubur.

Bintang mematikan mesin motornya. Kesunyian instan langsung menyergap, menyisakan suara detak jantungnya sendiri yang berhantam cepat. Dia melangkah perlahan melewati barisan batu nisan kuno tersebut. Setiap kali kakinya menginjak tanah halaman, dia bisa merasakan getaran-getaran halus dari bawah tanah—seperti ada ribuan cacing ghaib yang mencoba menggeliat keluar untuk mengisap darah dari telapak kakinya.

"Mbah Sariti... Saya, Bintang, murid dari Ki Prakoso... Datang membawa sisa nyawa dari hilir," ucap Bintang dengan suara lantang namun penuh takzim, berdiri di depan pintu bambu gubuk yang tertutup rapat.

Tidak ada jawaban dari dalam. Namun, bau kemenyan madu yang sangat pekat mendadak meletus dari celah-celah dinding bambu, merayap keluar seperti asap tebal yang mengitari kaki Bintang. Detik berikutnya, pintu bambu itu terbuka sendiri dengan suara derit yang panjang dan menyayat telinga. Kreeeeek...

Di dalam kegelapan gubuk yang hanya diterangi oleh sebuah pelita minyak jantang, duduk sesosok tubuh yang sangat ringkih, membungkuk kaku di atas selembar tikar pandan yang telah robek-robek. Sosok itu adalah Mbah Sariti. Rambutnya yang putih panjang terurai acak-acakan hingga menyentuh lantai, menutupi sebagian besar wajahnya yang dipenuhi kerutan sedalam parit tanah. Kulit tangannya yang memegang sebatang tongkat kayu jati berukir kepala naga tampak kering, tipis, dan memperlihatkan jalinan urat-urat berwarna kebiruan yang menonjol ganjil.

Manusia sepuh itu tidak bergerak, napasnya terdengar begitu lambat dan berat, seperti gesekan dua lembar amplas kasar. Namun, atmosfer di sekelilingnya begitu pekat hingga membuat bayangan tubuh Bintang di dinding gubuk tampak meliuk-liuk tidak beraturan.

"Prakoso sudah mati terbakar bisa dua tahun lalu... Mengapa muridnya masih nekat bermain-main dengan ekor penguasa?" Suara Mbah Sariti terdengar ganjil—suara seorang wanita tua yang berlapis dengan desisan ghaib bernada rendah, bergaung langsung di dalam rongga kepala Bintang tanpa melalui udara.

Bintang langsung menjatuhkan lututnya ke lantai bambu, bersila dengan sikap hormat yang penuh ketegangan. "Saya tidak sedang bermain, Mbah. Saya sedang menahan raga seorang gadis Sabtu Kliwon yang jiwanya telah diseret masuk ke dalam sendang oli di Istana Sisik Hitam. Malam ini adalah malam puncaknya. Saya butuh petunjuk untuk memutus rantai wadahnya."

Mbah Sariti perlahan mengangkat kepalanya. Ketika rambut putihnya menyibak, Bintang harus menahan napas kuat-kuat untuk tidak menunjukkan rasa terkejutnya. Kedua mata Mbah Sariti ternyata tidak memiliki selaput pelangi; matanya murni berwarna putih susu yang keruh akibat kebutaan spiritual yang didapatnya saat bertarung dengan entitas ghaib di masa muda. Namun, meski buta, arah tatapannya mengunci tepat pada posisi jaket kanvas Bintang—tempat di mana kain mori hitam itu disimpan.

"Apa yang kau bawa di dalam dadamu itu, cah bagus?" tanya Mbah Sariti, nadanya mendadak berubah menjadi sangat tajam dan dingin.

"Baju milik korban, Mbah. Kain ini masih menyimpan wangi murni rahim Sabtu Kliwon miliknya sebelum diselimuti sisik," jawab Bintang sambil meraba dadanya, bersiap mengeluarkan bungkusan kain mori tersebut untuk diserahkan kepada sang kiai sepuh.

Bintang menarik kain mori hitam itu dari balik jaket kanvasnya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah dia sedang memegang sebutir telur ghaib yang bisa meledak kapan saja. Begitu bungkusan itu diletakkan di atas tikar pandan di antara mereka berdua, pelita minyak di sudut gubug mendadak bergoyang hebat, apinya mengecil hingga menyisakan pendar kemerahan yang redup, menyelimuti ruangan dalam nuansa remang yang mencekam.

Mbah Sariti tidak langsung menyentuh kain itu. Jari-jarinya yang bengkok seperti cakar burung elang bergetar di atas tongkat jatinya. Bibirnya yang hitam dan kering mulai merapalkan mantra pelindung diri dalam bahasa Jawa kuno yang sangat kasar, nadanya cepat dan penuh dengan penekanan spiritual pada setiap suku katanya.

"Buka kainnya," perintah Mbah Sariti pendek.

Bintang mengangguk, lalu membuka lipatan kain mori hitam itu satu demi satu. Ketika kebaya katun putih milik Sekar terekspos sepenuhnya ke udara gubug, sebuah fenomena gila langsung terjadi. Wangi kenanga busuk dan aroma anyir yang semula samar mendadak meledak keluar dengan volume yang masif, memenuhi seluruh rongga ruangan. Di atas permukaan kain putih tersebut, muncul bercak-bercak cairan bening kekuningan yang merembes ghaib dari serat kain—persis seperti cairan Wisa Sengkolo yang keluar dari sela-sela kuku raga Sekar di dunia fana.

Mbah Sariti memajukan tubuhnya yang ringkih. Dengan mata putih susunya yang mengerikan, dia mendekatkan wajahnya hingga jarak beberapa sentimeter dari kain tersebut. Hidungnya yang bengkok mengendus udara di atas kebaya Sekar sebanyak tiga kali.

Hirup... hirup... hirup...

Detik ketiga setelah napas tua itu menarik aroma dari kain Sekar, seluruh tubuh Mbah Sariti mendadak kaku, membeku seperti patung batu. Matanya yang putih melotot maksimal hingga urat-urat merah di sudut matanya pecah, mengalirkan tetesan darah segar yang menyusuri pipinya yang keriput.

"Uhukk!! Uhukk!! HOOEEKK!!"

Mbah Sariti tersedak hebat. Tubuhnya condong ke depan dan dari mulutnya yang ompong menyembur deras darah berwarna hitam pekat yang luar biasa kental. Darah hitam itu menghantam tikar pandan, mengeluarkan suara desisan keras chhhssss... dan seketika membakar serat tikar hingga berlubang, memancarkan bau belerang dan daging gosong yang amat menyengat.

Bintang terperanjat, refleks bergerak maju untuk membantu. "Mbah Sariti?!"

"Jangan mendekat!! Jangan sentuh aku!!" Jerit Mbah Sariti dengan suara yang melengking tinggi, memecah kesunyian malam di lereng gunung. Tangan kanannya yang memegang tongkat jati menghentakkan kayu itu ke lantai bambu dengan kekuatan gila hingga seluruh gubug bergetar hebat. BLAAAM!

Napas wanita tua itu memburu, dadanya yang kurus naik turun dengan tidak beraturan. Dia menyeka sisa darah hitam di bibirnya dengan punggung tangan yang gemetar hebat, lalu menatap Bintang dengan ekspresi ketakutan yang belum pernah Bintang lihat seumur hidupnya dari seorang praktisi spiritual tingkat tinggi.

"Gila... ini gila! Kau membawa kutukan neraka jahanam ke rumahku, keparat!" rintih Mbah Sariti, suaranya kini bergetar penuh ketakutan yang amat sangat. "Anak perempuan pemilik baju ini... dia bukan sedang berhadapan dengan lelembut kelas teri atau jin penunggu punden sembarangan! Dia adalah tawanan utama dari Raja Bhujangga... Kalingga sang Penguasa Istana Sisik Hitam!!"

Mbah Sariti mencengkeram tongkat jatinya begitu kuat hingga terdengar suara kayu yang mulai retak.

"Dua puluh dua tahun lalu... aku mengira perjanjian terkutuk itu sudah mati bersama hancurnya tumbal pertama di lereng Raung. Ternyata siluman itu hanya menidurkan kuasanya untuk membesarkan wadah yang baru! Wangi dari kain ini... ini bukan wangi manusia lagi, Nduk. Ini adalah aroma rahim ghaib yang sudah matang sempurna, siap untuk dirobek dan ditelan bulat-bulat oleh Kalingga tepat saat bulan mati menyentuh puncak Sabtu Kliwon!"

"Mbah, saya tahu level kekuatannya," potong Bintang dengan tegas, mencoba menstabilkan atmosfer spiritualnya sendiri yang mulai goyah akibat kepanikan Mbah Sariti. "Itu alasan saya datang ke sini. Raga Sekar sudah membeku di bawah sana, nadinya hanya tersisa tiga detakan per menit. Bagaimana cara saya memutus rantai wadah Sengkolo di punggungnya sebelum tengah malam?"

Mbah Sariti tertawa parau, sebuah tawa kering yang terdengar seumpama ratapan di kuburan. Dia menggelengkan kepalanya dengan gerakan patah-patah, membuat rambut putih panjangnya bergoyang liar.

"Memutus? Tidak ada yang bisa memutus apa yang sudah disahkan oleh darah dan tanah, cah bagus! Kalingga telah menanam benih ghaibnya di belikat anak itu sejak dia masih berupa segumpal darah di rahim ibunya. Tanda Sengkolo itu adalah jangkar absolut. Jika kau mencoba mencabutnya secara paksa dari dunia atas menggunakan ilmu manusiamu, maka detik itu juga jantung anak perempuan itu akan meledak hancur, dan jiwanya akan selamanya terikat sebagai fondasi lumpur di dasar sendang oli!"

Bintang mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. "Pasti ada celah, Mbah. Tidak ada kutukan di tanah Jawa yang tidak memiliki kelemahan sungsang. Katakan pada saya, apa yang harus saya lakukan?!"

Mbah Sariti terdiam sejenak. Mata putih susunya menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela gubug, seolah-olah dia bisa melihat bayangan ekor raksasa Kalingga yang sedang meliuk membelah kabut hitam di lereng gunung. Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa energi spiritual di dalam tubuh manusianya yang kian ringkih.

"Hanya ada satu cara... cara yang sangat terkutuk dan mematikan," bisik Mbah Sariti lambat, suaranya kini merosot menjadi desisan yang amat gilu. "Kau tidak bisa menyelamatkannya dari luar. Kau harus membiarkan dirimu ikut terseret masuk ke dalam trans ghaib malam Sabtu Kliwon. Kau harus turun langsung menembus koridor penuh sisik di Istana Sisik Hitam menggunakan raga sukmamu."

Wanita tua itu memajukan wajahnya, menatap Bintang dengan jarak yang sangat dekat hingga bau darah hitam di mulutnya tercium jelas.

"Kau harus menemukan Sekar di dalam ruang cekungan para selir terdahulu sebelum Kalingga merobek belikatnya. Dan di sana, di hadapan sang Raja Ular, kau harus mengalihkan kutukan Sengkolo itu ke dalam punggungmu sendiri menggunakan Pisau Sungsang Buwana. Kau harus menjadi wadah pengganti yang akan dihancurkan oleh bisa Kalingga... Apakah kau siap mati berdiri dengan raga yang membusuk dalam hitungan detik di kamar itu, hah?!"

Pertanyaan Mbah Sariti menggantung di udara gubug yang kian beracun, sementara di luar sana, suara desisan ghaib jutaan ular tanah mulai terdengar merayap mendekati halaman penuh batu nisan, mengurung tempat persembunyian mereka dengan kepatuhan yang mematikan menjelang tengah malam Sabtu Kliwon.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!