ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, menyinari ranjang besar tempat mereka beristirahat. Adelia terbangun lebih dulu. Ia membuka mata perlahan, dan seketika itu juga tubuhnya menegang kaku. Di sebelahnya, Gyantara masih tertidur pulas dengan wajah tenang, satu tangannya terulur lembut di atas selimut seolah tanpa sadar mencari keberadaannya.
Adelia menahan napas, bergerak sangat pelan seolah takut memecah udara. Ia tidak terbiasa berbagi ruang tidur dengan orang lain, apalagi dengan pria yang baru saja ia kenal beberapa waktu, dan yang harus ia tipu seumur hidup. Ia menatap wajah Gyantara yang damai, lalu perlahan turun dari tempat tidur dengan hati-hati sekali, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Ia berjalan menuju jendela, menarik sedikit tirai untuk melihat ke luar. Pemandangan kota dari lantai tertinggi ini sangat indah, tapi hatinya terasa sesak. Semalam ia hampir ketahuan berkali-kali hanya karena sikapnya yang canggung. Sekarang ia harus berhati-hati dua kali lipat. Ia harus meniru setiap kebiasaan Adelin, cara berbicara, cara makan, cara berjalan—hal yang belum pernah ia pelajari sama sekali.
Belum lama berdiri di sana, terdengar suara serak Gyantara dari arah tempat tidur. "Kamu bangun pagi sekali, Sayang?"
Adelia menoleh kaget, wajahnya langsung memerah. "I-iya... aku tidak bisa tidur lagi."
Gyantara duduk, menyandarkan punggungnya ke sandaran kepala tempat tidur, lalu menatap Adelia dengan tatapan menyelidik. "Biasanya kalau hari libur, kamu baru bangun jam sepuluh pagi. Kamu pernah bilang kalau tidur itu hobi favoritmu selain berbelanja."
Pertanyaan sederhana itu membuat jantung Adelia berdegup kencang. Ia tersenyum kaku. "Ah... mungkin karena suasana di sini berbeda. Jadi aku lebih segar pagi ini."
Gyantara hanya mengangguk pelan, tapi keraguan di matanya belum hilang. Sejak bangun tadi, ia sudah merasakan banyak hal yang tidak pas. Ia memutuskan untuk turun ke ruang makan bersama. Di sana, perbedaan itu semakin terlihat jelas satu per satu.
Pertama saat menu sarapan datang. Pelayan menyajikan roti mentega, telur mata sapi, susu cokelat panas, dan sepiring buah potong. Adelin yang ia kenal sangat membenci susu, tidak pernah menyentuh telur rebus, dan selalu membuang kulit buah apel sebelum memakannya. Tapi apa yang dilihat Gyantara sekarang?
Adelia mengambil gelas susu tanpa ragu, meminumnya hingga habis dengan nikmat. Ia memakan telur tanpa memilih bagian mana pun, dan saat memakan apel, ia memakannya sampai biji terakhir tanpa mengupas kulitnya sedikit pun.
"Kamu suka susu sekarang?" tanya Gyantara tiba-tiba, membuat Adelia tersedak sedikit. "Bulan lalu kamu bilang baunya seperti obat, dan kamu bersumpah tidak akan pernah meneguknya lagi."
Adelia buru-buru mengambil serbet, menyeka mulutnya dengan gugup. "Ehm... selera orang bisa berubah kan? Aku pikir susu itu sehat."
"Dan kulit apel?" Gyantara menunjuk piring. "Kamu dulu bilang kulitnya pahit dan penuh zat kimia. Kamu selalu menyuruh orang lain mengupaskannya sampai bersih."
Keringat dingin mulai menetes di pelipis Adelia. Ia tidak tahu hal-hal sepele seperti ini bisa menjadi jebakan. "Aku... aku cuma ingin lebih hemat saja. Tidak enak membuang-buang makanan."
Gyantara diam saja. Ia menatap Adelia lekat-lekat. Hemat? Kata itu hampir tidak pernah keluar dari mulut Adelin. Adelin tumbuh dengan segala kemewahan, tidak pernah peduli harga barang, bahkan sering membuang pakaian yang baru dipakai sekali saja. Ia tidak pernah mengeluh soal makanan yang terbuang.
Setelah sarapan, Adelia berniat membereskan sedikit meja makan. Ia mengambil piring kotor dan menatanya agar mudah dibawa pelayan. Saat Gyantara melihatnya, matanya semakin membelalak tak percaya.
"Kamu sedang apa?"
"Membantu menata piring," jawab Adelia polos.
"Kamu?" Gyantara berdiri mendekat. "Dulu kamu pernah marah besar karena pelayan membiarkanmu menyentuh meja makan. Kamu bilang itu bukan tugasmu, dan tanganmu tidak boleh kotor terkena benda kotor."
Adelia menurunkan piring itu perlahan. Ia merasa semakin terjepit. Ia tumbuh dengan kebiasaan membantu pekerjaan rumah, karena di rumah orang tuanya pun ia sering dianggap sebagai pelayan tambahan. Ia tidak tahu bahwa hal yang dianggap wajar baginya, justru menjadi hal yang mustahil bagi kakaknya.
"Kamu benar-benar berubah banyak sekali dalam semalam," kata Gyantara pelan, suaranya terdengar bingung. "Kamu lebih tenang, lebih sopan, lebih hemat... tapi rasanya seperti bukan kamu yang aku kenal selama lima tahun ini."
Kalimat itu menusuk hati Adelia. Ia ingin sekali berteriak mengakui kebenaran, ingin bilang bahwa memang dia bukan Adelin, tapi ia takut. Ia takut keluarga bangkrut, takut diusir, takut melihat kekecewaan di mata pria ini.
"Maafkan aku..." bisiknya dengan mata berkaca-kaca. "Mungkin aku hanya ingin menjadi istri yang lebih baik untukmu. Aku ingin belajar hal-hal baru."
Gyantara menghela napas panjang. Ia tidak ingin menuduh tanpa bukti. Ia memilih mendekat, lalu mengusap kepala Adelia pelan. "Kalau begitu, aku senang. Tapi jangan paksakan dirimu terlalu keras. Aku mencintaimu apa adanya."
Namun di dalam hati, pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar tak berhenti. Ia mulai memperhatikan hal-hal lain. Cara Adelia memegang sendok, cara ia duduk, cara ia berjalan, bahkan cara ia tertawa—semuanya berbeda. Adelin biasanya tertawa lepas dan keras, tapi gadis ini tertawa menutup mulut dengan tangan, suara tawanya lembut dan malu-malu.
Siang harinya, Rama datang melapor pekerjaan. Saat berpapasan dengan Adelia, ia sempat berhenti sejenak, menatap tangan gadis itu yang sedang memegang pulpen.
"Maaf Nona," kata Rama sopan. "Tato kecil berbentuk bunga mawar di pergelangan tangan kiri Anda... kemana perginya? Dulu Nona selalu memamerkannya dengan bangga."
Adelia langsung menyembunyikan tangannya ke belakang punggung. Ia tidak punya tato sama sekali. Ia bahkan takut menyentuh benda tajam sekalipun.
"Itu... itu aku hapus saja," jawabnya terbata-bata. "Sudah tidak suka lagi."
Rama mengangguk dengan senyum tipis, tapi di matanya terlihat kilatan kecurigaan yang makin kuat. Ia menatap Gyantara sekilas, dan melihat bahwa majikannya pun tampak semakin gelisah.
Sepanjang hari itu, Adelia hidup dalam ketakutan terus-menerus. Setiap gerakannya diawasi, setiap kata-katanya dinilai. Hal-hal kecil yang tak pernah ia perhatikan kini menjadi ancaman besar. Ia sadar, meniru seseorang bukan sekadar memakai baju yang sama atau wajah yang mirip. Kebiasaan yang tertanam sejak kecil tak bisa diubah dalam sekejap mata.
Malam itu saat mereka berdua di kamar, Gyantara duduk di samping Adelia. Ia memegang bahu gadis itu, menatap mata Adelia dalam-dalam.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya pelan, namun tegas. "Kamu terlihat persis seperti Adelin, tapi setiap detik aku bersamamu, aku merasa seperti sedang mengenal orang asing yang baru datang ke hidupku."
Darah di tubuh Adelia terasa membeku. Ia menatap balik mata Gyantara, air matanya akhirnya jatuh. Ia tak bisa menjawab. Lidahnya terkunci rapat oleh kebohongan yang dipaksakan padanya. Ia hanya bisa menunduk, membiarkan air mata menjadi satu-satunya jawaban yang bisa ia berikan.
Gyantara tidak menuntut jawaban saat itu juga. Ia melihat ketakutan yang tulus di mata gadis itu, melihat kepedihan yang tak bisa disembunyikan. Ia tahu ada rahasia besar yang disembunyikan, dan ia berjanji pada dirinya sendiri akan mencari tahu kebenarannya—apa pun risikonya.