"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Satu Langkah Terlalu Dekat
Malam di The Obsidian berakhir dengan tawa.
Sesuatu yang nyaris tidak pernah terjadi sejak Adrian dan Alea menikah.
Biasanya malam-malam mereka dipenuhi perdebatan, negosiasi, atau pembahasan tentang misteri Aurora yang terus membayangi hidup mereka.
Namun malam ini berbeda.
Mereka duduk berhadapan di ruang tengah hingga lewat tengah malam.
Tanpa sadar membicarakan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah mereka bagi kepada siapa pun.
Tentang masa kecil.
Tentang impian yang gagal terwujud.
Tentang tekanan menjadi pewaris keluarga besar.
Tentang kesepian yang selama ini mereka sembunyikan di balik kesuksesan.
Dan untuk pertama kalinya...
Mereka melihat satu sama lain bukan sebagai pasangan kontrak.
Bukan sebagai pewaris dua kerajaan bisnis.
Melainkan sebagai manusia biasa.
Dua manusia yang ternyata sama-sama lelah.
Pukul satu dini hari.
Alea akhirnya menguap pelan.
Refleks yang sangat jarang terlihat darinya.
Adrian yang sedang memegang cangkir kopi langsung memperhatikannya.
"Kau mengantuk."
Alea menggeleng.
"Tidak."
"Kau baru menguap."
"Itu refleks biologis."
Adrian tertawa kecil.
"Baiklah, Nona Direktur."
Alea memutar bola matanya.
Namun senyum kecil tetap muncul di bibirnya.
"Kau juga seharusnya tidur."
"Aku masih harus membaca beberapa laporan."
"Kau akan membacanya besok pagi."
"Kau terdengar seperti ibuku."
"Kau terdengar seperti robot."
Kini Adrian benar-benar tertawa.
Dan entah kenapa, suara tawa itu membuat dada Alea terasa hangat.
Sangat hangat.
Perasaan yang semakin sulit ia abaikan.
Keesokan paginya.
Valerika diselimuti hujan ringan.
Titik-titik air menghiasi dinding kaca The Obsidian.
Langit tampak kelabu.
Namun suasana hati Alea justru jauh lebih baik dibanding beberapa hari terakhir.
Sampai sebuah pesan masuk mengubah semuanya.
Nama pengirimnya tidak dikenal.
Lagi.
Alea langsung waspada.
Jemarinya membuka pesan tersebut.
Dan seketika senyumnya menghilang.
Isi pesan itu hanya satu kalimat:
"Semakin dekat kalian, semakin dekat pula kalian pada kebenaran Aurora."
Di bawahnya terdapat sebuah foto.
Foto lama.
Sangat lama.
Foto yang belum pernah Alea lihat sebelumnya.
Napasnya tertahan.
Karena di dalam foto itu terdapat empat orang.
George Corisand.
William Hutama.
Seorang wanita yang tidak dikenalnya.
Dan seorang pria muda yang wajahnya sengaja disobek dari foto.
Namun yang membuat Alea membeku adalah tulisan di bagian belakang foto yang ikut difoto.
Tulisan tangan George.
"Jika suatu hari anak-anak kami menemukan ini, berarti kami telah gagal melindungi mereka."
Jantung Alea berdetak keras.
Aurora kembali muncul.
Setelah beberapa waktu terakhir misteri itu seperti meredup.
Kini ia kembali mengetuk pintu.
Dan kali ini terasa lebih dekat.
Lebih pribadi.
Lebih berbahaya.
Satu jam kemudian.
Di kantor Hutama Industries.
Adrian menerima foto yang sama.
Tanpa penjelasan.
Tanpa nama pengirim.
Hanya foto dan pesan singkat.
"Kalian hampir sampai."
Adrian langsung meninggalkan ruang rapat.
Ia menghubungi Alea.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Alea mengangkat panggilannya bahkan sebelum dering kedua.
"Kau juga menerima foto itu?"
tanya Adrian tanpa basa-basi.
"Ya."
"Aku sedang menuju kantormu."
"Aku juga baru akan mengatakan hal yang sama."
Mereka terdiam sesaat.
Lalu Adrian berkata pelan.
"Hati-hati sampai aku tiba."
Kalimat sederhana.
Namun membuat Alea diam beberapa detik.
Karena beberapa bulan lalu...
Ia pasti akan menganggap kalimat itu berlebihan.
Sekarang...
Entah kenapa terasa menenangkan.
Siang hari.
Mereka kembali duduk berhadapan di ruang kerja Alea.
Foto itu berada di atas meja.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Keduanya sedang menganalisis.
Mencari pola.
Mencari petunjuk.
"Mereka sengaja menunjukkan foto ini sekarang."
gumam Adrian.
"Kenapa?"
Alea mengangguk.
"Pertanyaannya bukan siapa yang mengirim."
"Tapi kenapa sekarang."
Adrian memandangi foto itu.
Lalu menunjuk pria yang wajahnya disobek.
"Dia kuncinya."
"Aku juga berpikir begitu."
"Kakek George tidak mungkin menyimpan foto ini tanpa alasan."
Alea menyandarkan tubuhnya.
"Menurutmu pria itu siapa?"
Adrian menggeleng.
"Aku belum tahu."
"Namun aku punya firasat buruk."
Alea mengangkat alis.
"Buruk bagaimana?"
Adrian menatapnya.
"Lelaki itu mungkin alasan Aurora pernah dibuat."
Ruangan langsung hening.
Karena jika dugaan itu benar...
Maka seluruh misteri yang mereka hadapi selama ini belum ada apa-apanya.
Namun di tengah pembahasan serius itu...
Hal lain justru mulai mengganggu mereka.
Hal yang jauh lebih sederhana.
Dan jauh lebih berbahaya.
Kedekatan.
Mereka mulai terlalu terbiasa bersama.
Saat Adrian menjelaskan teorinya, Alea tanpa sadar memindahkan cangkir kopi ke dekat pria itu.
Saat Alea sedang membaca dokumen, Adrian tanpa sadar membetulkan posisi lampu meja agar lebih nyaman untuknya.
Tindakan-tindakan kecil.
Sangat kecil.
Namun terlalu alami.
Seolah sudah dilakukan bertahun-tahun.
Dan keduanya tidak menyadarinya.
Sampai seseorang lain menyadarinya lebih dulu.
Sore hari.
Clarissa datang ke kantor Hutama Industries.
Ia membawa beberapa dokumen terkait pameran seni yang akan bekerja sama dengan perusahaan.
Namun saat keluar dari lift...
Ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya berhenti.
Di ruang rapat kaca.
Adrian sedang duduk bersama Alea.
Mereka tidak melakukan hal romantis.
Tidak ada pegangan tangan.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tatapan penuh cinta.
Namun Clarissa tetap merasakan sesuatu.
Karena mereka terlihat nyaman.
Terlalu nyaman.
Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada sekadar melihat mereka bermesraan.
Clarissa memperhatikan ketika Adrian menuangkan kopi untuk Alea tanpa diminta.
Memperhatikan ketika Alea menyerahkan dokumen yang dicari Adrian bahkan sebelum pria itu mengatakannya.
Memperhatikan bagaimana mereka saling memahami hanya melalui tatapan singkat.
Hal-hal kecil.
Tetapi intim.
Sangat intim.
Dan untuk pertama kalinya...
Clarissa mulai menyadari bahwa dirinya mungkin benar-benar terlambat.
Di tempat lain.
Julian juga mengalami hal serupa.
Melalui jaringan informasinya, ia mengetahui bahwa Adrian dan Alea kembali menghabiskan waktu bersama.
Kembali bekerja sama.
Kembali bergerak sebagai satu tim.
Dan itu membuat amarahnya semakin besar.
Karena semakin lama...
Semakin sulit memisahkan mereka.
Malamnya.
Ketika Adrian dan Alea akhirnya pulang ke The Obsidian, hujan masih turun.
Lift privat berhenti di lantai penthouse.
Mereka keluar bersamaan.
Dan saat melangkah memasuki ruang tengah...
Lampu tiba-tiba padam.
Seluruh ruangan gelap.
Alea refleks berhenti.
Sementara Adrian langsung bergerak ke depannya.
Posisi yang sudah menjadi kebiasaan.
Melindungi.
Tanpa berpikir.
Tanpa sadar.
Beberapa detik kemudian generator cadangan menyala.
Lampu kembali hidup.
Namun dalam beberapa detik kegelapan tadi...
Mereka berdiri sangat dekat.
Terlalu dekat.
Saat cahaya kembali muncul...
Alea baru menyadari bahwa tangannya sedang menggenggam lengan Adrian.
Sementara Adrian menyadari bahwa satu tangannya berada di pinggang Alea.
Keheningan langsung memenuhi ruangan.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berbicara.
Hanya ada suara hujan di luar jendela.
Mata mereka bertemu.
Untuk beberapa detik yang terasa sangat panjang.
Dan di detik itulah...
Sesuatu berubah.
Bukan karena pelukan.
Bukan karena sentuhan.
Melainkan karena mereka tidak ingin melepaskannya.
Alea menjadi orang pertama yang menyadari hal itu.
Dan ia langsung mundur satu langkah.
Sementara Adrian tetap berdiri diam.
Jantungnya berdetak lebih keras dari yang seharusnya.
"Kita..."
Alea berdeham.
"...seharusnya memeriksa panel listrik."
Kalimat yang sangat buruk.
Sangat tidak masuk akal.
Namun Adrian tetap mengangguk.
"Ya."
"Kita harus memeriksanya."
Padahal keduanya tahu.
Yang sebenarnya perlu mereka periksa bukan panel listrik.
Melainkan hati mereka sendiri.
Karena malam itu...
Untuk pertama kalinya...
Mereka berdua merasakan hal yang sama.
Mereka sudah berada satu langkah terlalu dekat.
Dan semakin dekat mereka melangkah...
Semakin sulit untuk kembali ke posisi semula.