Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 BAHAYA
Di kantor Andika Aditama, ia terus mondar-mandir sambil menggenggam ponselnya erat. Sesekali ia menempelkan benda itu ke telinga, menghubungi seseorang, tetapi hasilnya selalu sama: tidak ada jawaban.
“Kemana anak itu, ha?” gumamnya pelan.
Sudah dua hari Aldo tidak pulang. Maharani, istrinya, juga tidak berhenti memarahinya. Selain rasa khawatir terhadap Aldo, ada hal lain yang lebih mengerikan bagi Andika: kemarahan istrinya.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar.
“Mana anak kita? Kenapa enggak ada kabar?” suara Maharani terdengar.
Perempuan paruh baya yang masih cantik di usia empat puluh tahun lebih itu melangkah masuk. Rambutnya bergelombang rapi, pakaiannya sopan, elegan, dan jelas mahal. Setiap langkahnya memancarkan aura ketegasan yang membuat siapa pun enggan membantah.
“Sayang, aku sedang berusaha mencari anak itu. Ke markas BMK, sekolah, dan tempat-tempat yang biasa dia datangi, dan hasilnya tidak ada,” jawab Andika.
“Payah.”
Hanya itu yang terucap dari Maharani.
Dan Andika sepertinya sudah terbiasa dengan sikap dingin istrinya itu. Ia hanya mengusap tengkuknya yang terasa kaku.
Kemudian Maharani menelepon seseorang.
“Cari keberadaan anakku dan motornya dengan plat nomor BXXXX.”
Suaranya datar, tetapi tegas. Tidak ada nada panik sedikit pun.
Andika menghela napas panjang. Jika istrinya sudah turun tangan, maka kondisinya benar-benar gawat darurat.
“Kenapa kamu begitu khawatir, Sayang? Biasanya Aldo enggak pulang, kamu biasa saja,” tanya Andika.
“Ponsel dia enggak aktif. GPS dia juga mati. Terakhir mati dekat kantor Wijaya, tapi tidak menemukan hal janggal di sana,” jawab Maharani.
Wajah Andika tampak kikuk mendengar nama Wijaya. Senyum canggung sempat muncul di bibirnya sebelum menghilang.
“Ngapain dia ke sana?”
“Tentu saja bukan menemui mantan pacar kamu. Mungkin dia mau ketemu anak perempuan itu.”
“Duh, kenapa kamu bisa tahu sedetail itu?” ucap Andika pelan.
“Karena aku ibunya.”
Andika langsung menelan ludah. Tidak berani menimpali.
Kemudian ponsel Maharani menerima telepon dari seseorang. Kepalanya tampak mengangguk beberapa kali. Namun ekspresinya tetap datar, sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya.
“Lokasi motor Aldo ditemukan di pinggiran hutan,” ujar Maharani.
Ia langsung berdiri dan meninggalkan Andika.
“Maharani, tunggu... aku ikut!”
Andika bangkit tergesa-gesa. Kursinya sampai bergeser ke belakang saat ia setengah berlari mengikuti Maharani yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan.
,,,,,
Di tengah hutan yang lembap dan dipenuhi suara serangga, Nadia bersandar pada batang pohon besar. Wajahnya sedikit pucat. Sesekali ia memegang perban yang membalut betisnya.
“Carikan aku pohon pisang,” ucap Nadia.
“Mau apa lu, Nad? Cari pisang mencurigakan sekali.”
Nadia menoleh dan menatap Aldo dengan pandangan datar, tanpa sedikit pun ekspresi. Sementara itu, Aldo hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, kebingungan dengan permintaan aneh tersebut.
“Luka gua harus cepat sembuh. Di sini enggak ada peralatan jahit. Kalau ada, lukanya sudah aku jahit,” ujar Nadia sambil memegang betisnya. Rasa nyut-nyutan mulai datang lagi meski luka itu sudah diperban. Dengan udara hutan yang lembap seperti ini, Nadia khawatir lukanya akan lama mengering.
“Terus pohon pisang itu untuk apa?” tanya Aldo.
“Sudahlah, bawel banget sih lu.”
Aldo langsung merengut.
Di kota ataupun di hutan, Nadia tetap saja galak.
Aldo berdiri, lalu melangkah masuk lebih jauh ke dalam hutan untuk mencari pohon pisang. Mulutnya terus menggerutu sepanjang jalan. Permintaan Nadia memang aneh-aneh sejak kemarin. Kemarin ia disuruh mencari cabai rawit, sekarang disuruh mencari pohon pisang.
“Dia kira ini mal apa,” gerutu Aldo sambil menepis ranting yang menghalangi jalannya.
Setelah beberapa saat mencari, Aldo akhirnya menemukan beberapa pohon pisang tumbuh di area yang lebih terbuka. Ia mengamati batang-batang besar itu, lalu memilih yang paling kecil.
“Enak aja gua disuruh bawa yang besar. Berat banget, bisa patah pinggang gue,” gumamnya.
Dengan susah payah, Aldo menebang pohon pisang itu. Setelah berhasil, ia mengangkat batangnya ke pundak. Napasnya langsung memburu. Beberapa kali ia berhenti untuk mengatur tenaga sebelum kembali berjalan.
Akhirnya, Aldo membawa pohon pisang itu ke hadapan Nadia.
Aldo mengira Nadia akan marah karena dia membawa pohon pisang kecil.
"Baru kali ini lu pinter," ucap Nadia.
Aldo bingung. Itu pujian atau hinaan?
"Buat apa sih itu, Nad?" tanya Aldo.
"Tolong lepasin perban ini, Do," kata Nadia, tidak menjawab pertanyaannya.
"Kenapa dilepas, Nad? Nanti kalau basah gimana? Itu luka tembak, bukan luka sembarangan." Raut wajah Aldo penuh kekhawatiran.
"Cepatlah. Gue mau cepat pulih biar bisa keluar dari hutan ini. Nggak mungkin, kan, lu gendong gue keluar dari sini?"
Aldo menggaruk kepalanya. Dalam hati dia berkata, Menggendong sampai Planet Mars juga gue sanggup, Nad.
Namun di permukaan, Aldo tetap jual mahal.
"Iya lah, malas gue gendong lu. Lu berat, sama beratnya kayak dosa."
Bibirnya mencibir, tetapi Nadia sama sekali tidak marah.
"Cepatlah," perintah Nadia.
Akhirnya Aldo membuka perban yang membalut paha Nadia. Luka tembak itu tampak seperti lubang merah yang mengerikan.
"Potong pisangnya, lalu tetesin getahnya ke luka gue," perintah Nadia sambil meringis.
"Serius lu, Nad?"
"Iya. Cepat."
Dengan tangan gemetar, Aldo meneteskan getah pisang itu ke luka Nadia.
"Arghhh!"
Teriakan Nadia membuat Aldo langsung panik.
"Lanjutkan," geram Nadia sambil mengepalkan tangan.
Aldo terdiam. Beberapa tetes saja sudah membuat Nadia menjerit kesakitan, apalagi jika diteruskan.
Namun Nadia menatapnya tajam.
"Lanjut."
Aldo menelan ludah lalu kembali meneteskan getah pisang itu.
Sialnya, gerimis mulai turun.
"Bawa gue ke tempat teduh. Jangan sampai kena air," perintah Nadia.
Aldo mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak jauh dari sana, dia melihat cekungan semak yang menyerupai bekas sarang binatang, terlindungi oleh beberapa pohon besar. Tanpa ragu, dia mengangkat Nadia dan membawanya ke sana.
Nadia bersandar sambil meluruskan kakinya. Hujan semakin deras, tetapi tempat itu tetap kering.
Perih luar biasa menjalar dari lukanya. Nadia tahu getah itu sedang memaksa lukanya mengering, dan harga yang harus dibayar adalah rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang.
"Al, sini. Nanti kehujanan," ucap Nadia melihat Aldo masih berdiri di luar tempat persembunyian mereka.
Aldo akhirnya masuk.
Tempat itu sempit. Sangat sempit.
Mereka duduk berdempetan. Bahu mereka saling bersentuhan.
Aldo berusaha terlihat biasa saja, tetapi jantungnya berdetak tidak karuan. Di tengah hutan yang dingin dan basah, kedekatan itu terasa lebih berbahaya daripada peluru yang menembus paha Nadia.
Hujan turun semakin deras.
Nadia kembali menggigil.
"Al... dingin."
Aldo menoleh. Wajah Nadia tampak pucat.
"Dingin?" tanyanya pelan.
Nadia mengangguk.
"Dingin..." lirihnya.
Baru kali ini Aldo mendengar Nadia mengeluh seperti itu. Biasanya perempuan itu keras kepala dan selalu terlihat kuat.
Tanpa berpikir panjang, Aldo membuka kemeja basahnya hingga hanya menyisakan kaus dalam.
"Lagian nekat banget sih," gerutunya untuk menutupi rasa gugup.
Kemudian dia merangkul Nadia dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
Tubuh Nadia terasa dingin.
Sangat dingin.
Namun perlahan, gadis itu tidak menolak. Bahkan tanpa sadar, Nadia menyandarkan kepalanya di dada Aldo.
Suara hujan menjadi satu-satunya saksi.
Aldo menunduk menatap rambut Nadia yang sedikit basah.
Dalam hati dia tersenyum.
Kalau harus terjebak di tengah hutan berhari-hari hanya untuk bisa sedekat ini dengan Nadia, mungkin dia tidak akan mengeluh sama sekali.
libas saja mereka si pecundang