Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.
Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.
Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Izin Pulang
Sejak kejadian sore itu, suasana di rumah terasa lebih tegang dari biasanya. Paman Arga seolah menjadikan pengawasan terhadap Dika sebagai tugas utamanya. Setiap kali Dika lewat lorong, bekerja di taman, atau sekadar berjalan ke gudang, rasanya selalu ada pandangan yang mengikuti dari kejauhan. Bahkan kadang-kadang, Paman Arga sengaja lewat di dekatnya hanya untuk memastikan apa yang sedang dikerjakan.
Dika tetap bersikap seperti biasa. Ia tidak mengubah cara kerjanya, tidak berbicara lebih dari yang perlu, dan selalu menjaga jarak yang wajar dengan semua orang, terutama dengan Kirana. Ia tahu, satu gerakan saja yang terlihat salah bisa dijadikan alasan untuk menuduhnya macam-macam.
Namun, janji Kirana tidak dilupakan. Tiga hari setelah mendengar kabar tentang ibunya, saat makan malam bersama di ruang makan, Kirana membuka pembicaraan dengan ibunya.
“Ibu, boleh saya bicara sebentar?” tanyanya sopan.
Nyonya Wijaya mengangkat wajahnya dari piringnya. “Ada apa, Nak?”
“Saya dengar Dika sudah hampir dua minggu tidak pulang ke rumahnya. Ibu dia sedang dalam masa pemulihan, dan rasanya wajar kalau dia diberi kesempatan pulang sehari untuk menengok dan memastikan keadaan ibunya secara langsung. Pekerjaannya di sini juga sudah berjalan lancar, tidak akan ada yang terganggu.”
Mendengar nama Dika disebut, Paman Arga yang duduk di seberang meja langsung menoleh. “Untuk apa dipusingkan? Pekerjaannya banyak, kalau dia pulang nanti siapa yang merawat taman dan membereskan perpustakaan? Lebih baik dia tetap di sini saja.”
Tapi Nyonya Wijaya tidak langsung menyetujui kata-kata adik iparnya itu. Ia berpikir sejenak, lalu menatap putrinya. “Kamu benar juga. Setiap orang pasti rindu pada keluarganya, apalagi melihat orang sakit. Kalau dia tenang hatinya, pekerjaannya pun akan lebih baik. Lagipula, kondisinya sudah terbukti bisa dipercaya.”
Ia lalu menoleh ke arah Bu Marni. “Panggil Dika ke sini sebentar.”
Tidak lama kemudian, Dika datang dengan langkah hati-hati, menunduk hormat di ambang pintu ruang makan. “Nyonya memanggil saya?”
“Masuklah,” kata Nyonya Wijaya. “Saya dengar kamu sudah lama tidak pulang menengok ibumu. Besok kamu boleh pulang sehari penuh. Sopir akan mengantarmu pagi-pagi, dan menjemputmu kembali besok malam. Apakah itu cukup?”
Hati Dika terasa melompat gembira, tapi ia tetap menjaga sikapnya agar tidak terlihat berlebihan. Wajahnya terlihat lega dan bersyukur. “Terima kasih banyak, Nyonya. Itu lebih dari cukup. Saya janji akan kembali tepat waktu, dan pekerjaan saya akan saya selesaikan lebih dulu sebelum berangkat.”
“Baiklah. Jangan lupa bawa obat dan sedikit bahan makanan yang sudah disiapkan di dapur untuk ibumu,” tambah Nyonya Wijaya.
Dika mengangguk berulang kali. “Siap, Nyonya. Terima kasih sekali lagi.”
Saat Dika pamit dan keluar, Paman Arga menghela napas panjang dengan wajah tidak senang. “Kamu terlalu baik pada dia, Kak. Siapa tahu dia pulang nanti tidak kembali lagi, atau malah membawa kabur barang-barang kita?”
Nyonya Wijaya menatap adik iparnya dengan tenang. “Arga, saya sudah mengamati dia selama ini. Dia bukan tipe orang yang melarikan diri atau berbuat curang. Matanya jujur, dan kerjanya rajin. Kalau kita tidak percaya sedikit saja, bagaimana bisa mempekerjakan orang dengan baik?”
Paman Arga hanya terdiam, menahan rasa kesalnya. Ia tahu kalau terus membantah, justru akan membuat dirinya terlihat curiga sendiri.
Keesokan paginya, Dika bangun jauh sebelum fajar menyingsing. Ia sudah membereskan semua pekerjaannya lebih awal: taman sudah disiram, alat-alat sudah disusun rapi, dan perpustakaan sudah dibersihkan. Ia hanya membawa tas kecil berisi barang-barang pemberian Nyonya, serta surat dan bungkusan dari ibunya yang ia simpan rapat.
Saat menunggu di depan gerbang, Kirana tiba-tiba muncul membawa sebuah bungkusan kain kecil. Ia mendekat dengan cepat, memastikan tidak ada orang lain yang melihat.
“Ini untuk ibumu,” bisiknya pelan. “Beberapa jenis teh dan madu yang bagus untuk memulihkan tenaga. Jangan bilang siapa-siapa kalau ini dari saya, cukup katakan saja tambahan dari Nyonya.”
Dika terkejut, tapi segera menerima bungkusan itu dengan rasa terima kasih yang besar. “Terima kasih banyak, Non. Saya sampaikan salam saya juga untuk Ibu Anda.”
“Selamat jalan, hati-hati di perjalanan,” kata Kirana, lalu segera masuk kembali ke dalam rumah sebelum ada yang melihatnya.
Perjalanan pulang terasa cepat bagi Dika. Selama di dalam mobil, pikirannya hanya tertuju pada ibunya. Begitu sampai di depan rumahnya yang sederhana di pinggir gang, ia langsung melompat turun dan berjalan cepat masuk.
“Ibu!” panggilnya dengan suara bergetar menahan haru.
Ibunya yang sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur langsung menoleh, matanya berkaca-kaca melihat putranya datang. “Dika… kamu pulang, Nak?”
Dika berlutut di samping tempat tidur, memegang tangan ibunya yang terasa lebih hangat dan kuat dibanding terakhir kali ia lihat. “Ibu sudah terlihat jauh lebih baik. Syukurlah, Dika sangat merindukan Ibu.”
Ia menghabiskan hari itu sepenuhnya bersama ibunya. Menceritakan sedikit hal yang terjadi di rumah Wijaya, tanpa menyebutkan perselisihan atau sikap curiga Paman Arga. Ia hanya menceritakan hal-hal baik: bagaimana ia merawat taman, bagaimana Nyonya mempercayainya, dan bagaimana pekerjaannya berjalan lancar.
Ibunya mendengarkan dengan senyum di wajahnya, sesekali mengelus kepala putranya. “Yang penting kamu tetap jujur, sabar, dan tidak melupakan siapa dirimu. Kepercayaan orang lain itu mahal, tapi menjaga hati sendiri itu jauh lebih penting.”
Sore harinya, tetangga-tetangga datang menjenguk dan menanyakan kabar. Mereka terkejut melihat kondisi ibu Dika yang sudah jauh membaik, dan senang melihat Dika terlihat sehat dan rapi.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Dika tidak lupa janjinya. Menjelang senja, ia berpamitan dengan berat hati. “Dika harus kembali sekarang, Bu. Sopir sudah menunggu di depan.”
Ibunya mencium kening putranya dengan lembut. “Hati-hati di jalan. Kerjalah dengan baik, Ibu akan berdoa agar kamu selalu dijauhkan dari hal buruk.”
Perjalanan pulang ke rumah Wijaya terasa lebih tenang. Hatinya sudah lebih lega, rasa rindunya sudah terobati, dan ia membawa kembali semangat baru yang diberikan oleh ibunya.
Sesampainya di gerbang, hari sudah mulai gelap. Ia melangkah masuk dengan langkah ringan, tidak menyadari bahwa dari balik jendela ruang tamu, Paman Arga sudah mengamati kedatangannya dengan pandangan tajam, seolah mengharapkan pemuda itu tidak kembali lagi.