NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.9 Yang Seharusnya Mati

Bintang membeku di tempatnya, tatapannya tidak lepas dari pria yang duduk di kursi itu, wajah tersebut terlalu dikenalnya untuk dilupakan. Wajah yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia lihat melalui foto lama.

"Ayah..." bisiknya pelan.

Rania menoleh ke arah Bintang, ia belum pernah melihat pria itu kehilangan ketenangannya seperti sekarang.

Pria yang duduk di kursi perlahan mengangkat kepalanya.

"Bintang." Suara itu membuat tubuh Bintang menegang.

Tidak mungkin, ia sudah melihat makam ayahnya sendiri, ia sendiri bahkan menghadiri pemakamannya. Lalu siapa pria ini?

"Siapa kau?" tanya Bintang sambil menatap tajam.

"Pertanyaan yang aneh untuk seorang anak." Pria itu tersenyum tipis.

"Ayahku sudah mati."

"Begitu yang mereka katakan padamu."

Rangga segera mengangkat pistolnya.

"Jangan bergerak!" bentaknya.

"Aku tidak bersenjata." Pria itu tetap tenang.

"Bisa saja itu jebakan," gumam Rangga sambil terus mengawasinya.

Rania memperhatikan wajah pria itu, ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman. Bukan karena menakutkan, melainkan karena pria itu terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengejutkan mereka.

"Kalau kau benar ayahku, buktikan." Bintang melangkah maju.

"Kau pernah jatuh dari sepeda saat berusia tujuh tahun. Kau menangis sepanjang malam dan menyalahkan aku karena tidak memegang sadelnya." Pria itu tersenyum kecil.

Bintang terdiam. Hanya sedikit orang yang tahu kejadian itu.

"Kau bisa mencari informasi itu!"

"Kau juga pernah menyembunyikan anak kucing di bawah tempat tidurmu karena ibumu tidak mengizinkan memelihara hewan." Pria tersebut mengangguk.

Rahang Bintang mengeras.

"Bos?" Rangga menoleh ke arahnya.

Bintang tidak menjawab karena semua itu benar. Suasana menjadi hening, hanya suara angin malam yang masuk melalui jendela tua rumah itu.

"Kenapa?" tanya Bintang akhirnya.

"Kenapa apa?" Pria itu mengernyit.

"Kenapa kau membiarkan aku percaya bahwa kau mati?"

"Karena aku tidak punya pilihan." Senyum di wajah pria itu menghilang.

"Itu bukan jawaban."

"Itu kenyataannya."

"Selama lima belas tahun aku hidup dengan satu tujuan. Aku membangun semuanya karena ingin mencari pembunuhmu." Bintang mengepalkan tangannya.

"Aku tahu." Pria itu menunduk sesaat.

"Kau tahu?" Bintang tertawa pahit. "Kalau kau tahu, kenapa tidak pernah muncul?"

"Karena kalau aku muncul lebih cepat, kau juga akan mati." Pria itu menghela napas panjang.

Rania dan Rangga saling berpandangan, kalimat itu membuat suasana semakin tegang.

"Apa maksudmu?" tanya Rania sambil melangkah maju.

Pria itu menatap Rania cukup lama, tatapannya berubah. Ada keterkejutan, ada rasa haru dan ada sesuatu yang tidak mampu dijelaskan.

"Kau sudah sebesar ini."

"Apa?" Jantung Rania langsung berdegup lebih cepat.

"Kau mirip ibumu." Pria itu tersenyum tipis.

"Jangan ganti topik." Bintang langsung menoleh.

"Aku tidak mengganti topik."

"Lalu kenapa kau mengenal Rania?"

Pria itu terdiam. Untuk pertama kalinya, ketenangannya sedikit retak dan Rania memperhatikan perubahan itu.

"Apa kau mengenalku?" tanyanya dengan suara pelan.

Pria itu mengalihkan pandangan. Dan itu sudah menjadi jawaban.

.

.

.

Di tempat lain, Leonard sedang duduk santai di ruang kerjanya. Segelas anggur berada di tangannya dan seorang pria berdiri di depan meja.

"Mereka sudah bertemu." Leonard tersenyum.

"Bagaimana reaksinya?"

"Bintang terlihat marah."

"Itu wajar."

"Bagaimana kalau mereka mengetahui semuanya malam ini?" Pria itu mengangguk.

"Mereka belum siap." Leonard tertawa kecil.

"Tapi pria itu bisa saja membuka semuanya."

"Dia tidak akan berani." Leonard memutar gelas di tangannya.

"Kenapa begitu yakin?"

"Karena dia lebih takut kehilangan Rania daripada kehilangan nyawanya sendiri." Senyum Leonard semakin lebar.

.

.

.

Kembali ke rumah tua itu, Bintang masih berdiri di depan pria yang mengaku sebagai ayahnya.

"Aku ingin jawaban," ucapnya tegas.

"Kau akan mendapatkannya."

"Sekarang."

"Tidak semudah itu." Pria itu menggeleng.

"Jangan main-main denganku."

"Aku tidak sedang bermain."

"Kalau begitu jelaskan semuanya." Rangga melangkah maju.

"Aku akan mulai dari awal." Pria itu menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

Tidak ada yang berbicara. Semua menunggu. Termasuk Rania.

"Leonard bukan musuhku sejak awal," ucap pria itu perlahan.

"Apa?" Bintang langsung mengernyit.

"Kami pernah menjadi sahabat."

Kalimat itu membuat semua orang membeku.

"Mustahil," balas Bintang cepat.

"Itu kenyataannya."

"Lalu kenapa sekarang saling membunuh?"

"Karena seorang anak." Pria itu tersenyum pahit.

Jantung Rania langsung berdegup lebih cepat.

"Anak siapa?" Bintang menyipitkan mata.

Pria itu menatap Rania tak berkedip, tidak mengalihkan pandangan dan tatapan itu membuat tubuh Rania terasa dingin.

"Anak itu adalah..."

Belum sempat kalimatnya selesai, suara tembakan tiba-tiba memecah keheningan.

Dor

Kaca jendela pecah berhamburan.

Dor Dor Dor

"Berlindung!" bentak Rangga sambil menarik Rania menjauh.

Bintang langsung menjatuhkan pria itu ke lantai. Rentetan peluru menghantam dinding rumah, suasana berubah kacau dalam sekejap.

"Siapa mereka?" teriak Rania panik.

Rangga mengintip dari balik tembok lalu wajahnya langsung berubah.

"Sial! Ada apa?" bentak Bintang.

"Itu orang-orang Leonard!" Rangga menelan ludah.

Bintang mengepalkan tangannya, tepat saat mereka hampir mendapatkan jawaban... Leonard kembali bergerak lebih dulu.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!