Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 26
“Mas, jangan terlalu kasar pada Amelia. Ingat, ‘kan, dia juga istri kamu.”
Setelah Hanan membawa Rosa ke kamar mereka, akhirnya napas wanita itu perlahan lebih stabil dan satu-satunya hal yang keluar dari mulutnya tak pernah jauh-jauh dari Amelia.
“Dia keterlaluan, Sa. Jika kita terus bersikap lemah padanya, apa jadinya dia nanti?” Hanan menghela napas berat.
“Aku hanya ingin kita hidup harmonis. Amelia biasanya selalu bersikap manis dan penurut. Mungkin memang benar bahwa Kanaya tidak seburuk yang kita pikirkan. Bagaimana pun juga gadis itu satu-satunya yang mau menjadi teman Amelia.” Rosa ingat bahwa Kanaya memang satu-satunya teman Amelia yang dia kenal. Keduanya tetap berteman, meski adiknya itu sudah dilarang keras oleh sang ibu.
“Entahlah, Sa.”
Sementara itu, Amelia sedang membereskan dapur dan tak berniat melihat keadaan kakaknya. Dia cukup sadar diri bahwa keberadaannya justru hanya semakin menyulut amarah Hanan. Dari pada dia menjadi sasaran kemarahan lagi, lebih baik dia melakukan hal lain yang bisa mengalihkan pikirannya. Namun, sudah setengah jam yang dilakukan Amelia di dapur hanya berputar pada hal yang sama, melap meja yang sebenarnya sudah bersih—hampir mengikis lapisan demi lapisan meja yang terbuat dari kayu jati.
Setelah menyadari kelakuannya, Amelia melepas kasar lap di tangannya dan mengalihkan pandangannya ke jendela agar bisa meluruskan pikirannya dengan melihat pemandangan luar rumah, tapi justru pemandangan yang masuk ke matanya terasa menusuk.
Di sana, Amelia bisa melihat Hanan dan kakaknya tengah duduk di kursi taman. Keduanya tertawa dan pria itu menatap Rosa dengan tatapan penuh cinta—begitu lembut dan membuat siapa pun yang melihatnya ingin merasakan tatapan yang sama tertuju pada mereka.
Kaki Amelia tanpa sadar melangkah menuju taman. Tubuhnya bersandar di pohon rindang yang sedikit jauh dari keduanya. Sosoknya tampak kesepian sedang menatap pasangan yang saling melengkapi.
Cukup lama dia berdiri hingga matanya tak tahan dan menjatuhkan kristal bening.
“Tunggu Mas kalau begitu. Mas janji akan kembali. Jika saatnya sudah tiba, ayo hidup bersama selamanya, Eleanor.”
Gadis itu menunduk—tak sanggup menatap keduanya lebih lama.
“Bohong, aku menunggu Mas di sini, tapi pada akhirnya Mas kembali bukan untukku.”
Tubuhnya berbalik cepat ke dalam rumah. Dia tidak ingin keduanya menyadari kehadirannya yang pasti akan merusak suasana.
Tidak.
Sebenarnya, dulu Hanan memang berjanji akan kembali atas nama Eleanor di pertemuan terakhir mereka. Dan ini menjadi salah satu penyesalan terbesar Amelia di masa lalu. Andai saja saat itu dia tidak memperkenalkan diri sebagai orang lain, mungkin takdir tidak akan salah menepati janji di antara mereka.
***
“Bu Anita, jangan lupa datang ke acara pemberian nama putri bungsu saya di rumah nanti.” Seorang tetangga bernama Bu Mira datang mengundang keluarga itu secara langsung.
“Pasti, Bu Mira. Kami akan datang sekeluarga nanti.” Bu Anita menyahuti tak kalah ramah.
“Harus datang, Bu Anita. Ini acara penting kami, seperti dulu saat Bu Anita memberikan nama untuk Rosa.”
Bu Anita tersenyum. “Iya, Bu Mira. Rosa itu bintang keberuntungan kami. Jadi, kami memilih namanya dengan hati-hati dan penuh pertimbangan. Rosa artinya mawar, Eleanor artinya bersinar terang dan berhati riang. Itulah Putri kami.” Sang ibu menjelaskan dengan antusias.
“Wah, benar-benar bermakna. Lalu, bagaimana dengan Amelia? Bagaimana Ibu memilih namanya?”
Amelia yang berada di sudut lain ruangan tampak mengintip sang ibu dan tetangga seberang mereka yang berbincang di ruang tamu. Matanya berbinar penasaran—tak sabar menunggu makna nama yang dipilih oleh orang tuanya untuknya.
“Tidak ada.”
Kalimat itu melunturkan senyum Amelia.
“Sejujurnya anak itu hanya sebuah kesalahan yang terlambat kami cegah kehadirannya. Namanya diberikan oleh Mbak Bulan. Jadi, saya tidak terlalu memperhatikan maknanya. Tidak penting.”
Tangan Amelia mencengkeram tembok yang menjadi pembatas antara dirinya dan ruang tamu. Hatinya mendadak sesak.
Untuk pertama kalinya Amelia akhirnya menyadari bahwa sikap acuh tak acuh keluarganya selama ini bukan karena mereka fokus pada kesehatan kakaknya, tapi juga karena kehadirannya tak pernah diinginkan.
Bukan salahnya jika dia terlahir di saat keluarganya tengah tak baik-baik saja, tapi haruskah dia menanggung semua penolakan ini. Ibunya sama sekali tak merasa bersalah dengan apa yang baru saja dikatakannya.
“Eh, tapi bagaimanapun juga Amelia itu masih anak Bu Anita. Tidak baik jika pilih kasih. Setiap anak tidak bisa memilih di mana mereka dilahirkan. Kasihan jika Amelia mendengar apa yang Bu Anita katakan.” Bu Mira tampak kasihan pada anak bungsu keluarga itu.
“Tidak masalah. Dia itu bodoh, tidak akan mengerti apa yang baru saja saya katakan.” Wanita itu sama sekali tak peduli.
Bu Mira akhirnya menyerah dan memilih pamit. Dia sekilas melihat sosok kecil Amelia yang bersembunyi di sudut ruangan. Kepalanya menggeleng pelan. Dia menyadari bahwa kehidupan gadis kecil itu pasti tidak mudah.
“Amel, apa yang kau lakukan di situ? Bereskan dapur sana.” Wanita itu melotot ke arah Amelia membuat gadis kecil itu terburu-buru ke dapur dan bahkan tersandung kakinya sendiri hingga tak sengaja menyenggol bingkai di atas meja hingga pecah.
Dia bisa melihat foto tiga orang di mana kakaknya berdiri di tengah diapit oleh ayah dan ibunya kini tergeletak mengenaskan di lantai. Seketika dia sadar betapa tak terlihatnya dia, nyaris tak ada jejak apa pun darinya di rumah sendiri.
“Amel, apa yang kau lakukan?” Wanita itu tampak murka melihat foto di lantai dan menyeret kasar Amelia yang masih tertelungkup di lantai hingga berdiri.
“Maaf, Ibu. A-aku tidak sengaja.” Amelia bergetar kecil dengan bentakan ibunya.
“Sudah kubilang lakukan tugasmu dengan benar. Dasar tidak berguna. Kerjamu hanya membuatku naik darah.”
Telinga Amelia rasanya berdenging.
“Ibu, aku minta maaf.”
“Kau pikir itu bisa memperbaiki kesalahanmu? Tidak Amelia. Kau hadir di antara kami saja sudah salah. Kau itu sebuah kesialan, anak sialan!” Wanita itu mengambil rotan yang diselipkan di bawah meja dan menyeret Amelia ke halaman belakang.
Kemudian yang terdengar selanjutnya hanya jerit kesakitan gadis kecil yang perlahan menjadi ratapan pilu diselingi makian wanita dewasa.
“Hentikan tangismu atau aku akan menambah hukumanmu.”
Gadis kecil itu menggigit bibirnya keras-keras agar tak mengeluarkan suara lagi. Rasa asin bercampur besi berkarat menyebar di dalam mulutnya akibat bibir yang terluka oleh gigitan keras, tapi Amelia tak peduli. Dia lebih takut akan kemarahan ibunya.
Sekujur tubuhnya sudah dihiasi garis merah bekas rotan. Beberapa bahkan mengeluarkan cairan merah pekat. Tubuhnya nyaris limbung, tapi ibunya tetap memaksanya untuk berdiri kokoh.
“Ibu ... aku lapar.” Rosa muncul dari balik pintu belakang, mengintip dengan malu-malu. Hanya melirik sekilas adiknya yang berdiri dengan tubuh bergetar.
“Astaga, Sayang. Maaf, Ibu lupa kamu belum makan. Ayo, pasti kamu sudah lapar, ‘kan.” Wanita itu seolah lupa dengan amarahnya dan menghampiri anak sulungnya.
Amelia masih terpaku pada tempatnya. Dia menaikkan pandangannya dan bertemu pandang dengan kakaknya yang langsung membuang muka seolah tak ingin menatapnya.
Hati Amelia mencelos. Bahkan kakaknya pun enggan menatapnya
Kepalanya penuh oleh pertanyaan. Mengapa kakaknya begitu disayang sementara dia dibenci setengah mati. Apakah karena kakaknya sakit.
“Haruskah aku menjadi seperti Mbak Rosa agar bisa mendapat kasih sayang juga?”