NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter Satu

~Hujan Ujung Kemarau~

Hujan rintik di ujung musim kemarau selalu menjadi teman tersendiri setiap sore.

Naira baru pulang mengajar sekitar pukul tiga. Tugas menilai ulangan masih menumpuk di tangannya, belum lagi tulisan anak-anak kelas dua yang bentuknya berbeda-beda hingga membuat matanya lelah sendiri.

Baru saja sampai di teras rumah, ia menurunkan payung lalu mengibaskan ujung rok yang terkena rintik hujan.

Dari dalam rumah terdengar suara tawa dua pria dewasa.

“Seno, kamu masih sama saja.”

“Lho, memangnya mau gimana lagi?”

Naira melangkah pelan menuju ruang tamu.

Di sana ada ayahnya, seorang pria paruh baya yang terasa familiar, dan seorang pemuda yang sejak tadi diam.

Tatapan mereka bertemu cukup lama.

“Oh itu Naira,” ujar ayahnya sambil menunjuk ke arahnya. “Sini masuk, ada Om Seno datang.”

Naira buru-buru masuk. Ia melepas pantofel hitamnya yang terkena lumpur di teras, lalu menggantinya dengan sandal rumahan.

Tangannya masih mengapit lembaran kertas ulangan yang diikat tali kecil.

Ia lebih dulu menyalami Om Seno.

“Wah, sudah gede juga, ya. Perasaan dulu masih saya gendong.”

Naira hanya tersenyum malu mendengarnya. Ia sendiri bahkan tidak ingat pernah digendong lelaki itu.

“Gimana, Ka?” Om Seno melirik pemuda di sampingnya. “Ini bayi yang dulu sering bapakmu bilang calon pengantinmu.”

Tawa Om Seno dan Ayah Naira langsung pecah memenuhi ruang tamu.

Bahkan suara radio tua yang sedang menyiarkan iklan pupuk di sudut ruangan terdengar tenggelam.

Sementara pemuda itu hanya diam dengan senyum samar.

Wajah Naira mulai terasa panas.

“Oh iya, Nai,” lanjut ayahnya. “Ini anak Om Seno. Namanya Arka. Dulu waktu kamu masih bayi, dia baru lima tahun.”

Naira menoleh ke arahnya.

Pendiam. Terlalu diam malah.

Bahkan ketika Naira mengulurkan tangan, menjabat tangan yang terasa dingin.

“Arka.”

“Naira.”

Tak lama kemudian Naira buru-buru pergi ke dapur. Ibunya sudah sibuk memasak makan malam.

Aroma bumbu langsung memenuhi ruangan sempit itu—lada, cabai, dan daun jeruk yang baru dimasukkan ke dalam kuali.

“Ibu masak apa?”

“Rica-rica ayam sama tumis kangkung.”

Naira menoleh ke arah dipan kayu di samping dapur. Potongan kangkung memenuhi baskom besar, sementara rica-rica ayam dimasak dalam kuali yang lebih besar dari biasanya.

“Masak banyak banget.”

Ibunya tersenyum kecil.

“Karena ada tamu.”

Naira ikut mengaduk rica-rica ayam perlahan.

“Oh ya, mereka siapa sih, Bu?”

“Itu yang rumahnya sebelahan sama kita. Rumah kosong yang sering dibersihin Pak Min.”

Naira mencoba mengingat rumah tua bercat hijau pudar yang selalu tertutup itu.

“Sudah hampir dua puluh tahun nggak balik,” lanjut ibunya. “Sekarang baru pulang nengokin rumah.”

“Bapak kelihatan akrab banget sama Om Seno.”

“Ya gimana nggak akrab? Seminggu sekali mereka teleponan.”

Naira langsung menoleh.

“Kok aku nggak pernah tahu?”

Ibunya tertawa kecil. Mencolek bahu Naira hingga gadis itu menengok ke arah ibunya.

“Emangnya harus lapor dulu ke kamu?”

Naira mencebik pelan.

Dari ruang tamu suara tawa ayahnya dan Om Seno kembali terdengar nyaring, bersahut dengan suara hujan yang mulai deras di luar rumah.

...----------------...

Malam turun perlahan di desa itu.

Kabut tipis mulai muncul setelah hujan sore tadi. Lampu teras rumah Naira menyala hangat kekuningan, membuat suasana rumah terasa semakin tenang.

Dari ruang tamu terdengar radio tua memutar lagu-lagu Sheila On 7, Chrisye, dan beberapa penyanyi yang belakangan sedang naik daun.

Sementara ayah Naira dan Om Seno masih asyik mengobrol. Ibunya juga baru saja selesai menyeduh kopi hitam pekat.

“Biar nggak pulang sekalian, Bu?” goda Naira pelan.

“Hush.” Ibunya langsung menepuk lengannya. “Ngomong apa sih kamu. Beresin piring sana, habis itu tidur.”

Naira mengerucutkan bibir.

Dress floral rumahan yang dipakainya kini tertutup sweater rajut putih tebal. Rambutnya dicepol asal karena udara mulai dingin.

Ia membawa tumpukan piring menuju dapur.

“Biar saya bantu.”

Naira menoleh.

Arka berdiri di belakangnya sambil menggulung sedikit lengan kemejanya.

“Nggak perlu.”

“Saya tidak cuma makan tentunya.”

Naira terkekeh kecil.

Ternyata lelaki ini masih bisa bercanda juga.

“Tapi nggak enak tamu ikut nyuci.”

Arka mengangkat sudut bibirnya tipis.

“Saya sudah biasa nyuci sendiri.”

Mereka akhirnya berdiri berdampingan di depan wastafel. Naira lebih dulu mencuci piring, sementara Arka membilas dan menatanya di rak tirisan.

“Memangnya kerja di mana?” tanya Naira sambil menggosok piring dengan busa sabun.

“Saya perwira di barak kota.”

Gerakan tangan Naira melambat sesaat.

“Oh…”

Ia menahan senyum kecil.

“Cita-cita murid-murid saya tuh.”

Arka menoleh padanya.

“Kamu guru?”

Naira mengangguk.

“Kelas dua SD.”

“Pasti ribut.”

Kali ini Naira benar-benar tertawa kecil.

“Banget. Nggak ada yang bisa diam.”

Suara air dari keran mengalir pelan di antara percakapan mereka.

Dari jendela dapur yang terbuka di dekat wastafel, suasana kampung yang gelap terlihat sunyi ditemani suara serangga malam.

“Nai. Ka.”

Mereka menoleh bersamaan.

Ibu Naira berdiri di ambang pintu dapur sambil tersenyum kecil.

“Bapak manggil kalian.”

Naira dan Arka segera mengelap tangannya. Berjalan ke ruang tengah yang mendadak terasa aneh. Begitu sampai di ruang tengah, suasana yang tadi riuh perlahan berubah lebih tenang.

Suara jangkrik dari luar rumah terdengar samar bersama radio yang kini memutar lagu lama pelan-pelan.

“Nai,” suara ayahnya memecah keheningan lebih dulu.

Fokus satu ruangan langsung tertuju pada Naira.

Kecuali Arka.

Pemuda itu duduk sedikit membungkuk, kedua siku bertumpu pada lutut. Tatapannya masih menunduk sejak mereka duduk di sini.

Ayah Naira berdeham kecil sebelum melanjutkan bicara.

“Kami ingin menjodohkan kamu sama Arka.”

Naira membeku.

“Kebetulan kalian juga sama-sama belum punya pasangan,” tambah ayahnya pelan.

Deg.

Jantung Naira terasa berhenti berdetak sesaat.

Tatapannya berpindah satu per satu.

Bapak.

Ibu.

Om Seno.

Dan terakhir—

Arka.

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!