dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Aku Disini...
Perjalanan pulang Nayla kali ini terasa begitu lebih panjang dari biasanya, meskipun jalanan kota saat ini tidak terlalu ramai dan lampu lalu lintas tidak banyak berhenti. Namun bagi Nayla setiap menit terasa sangat berat, karena setelah bertahun-tahun kini ia kembali melihat orang yang pernah menjadi luka terbesar dalam hidupnya.
Ibunya...
Wanita yang paling menyakitkan, sumber kehancuran masa hidupnya beberapa tahun terkahir justru wanita itu terlihat baik-baik saja bahkan terlihat bahagia tanpa penyesalan, tanpa rasa bersalah. Seolah meninggalkan Nayla dan Ayahnya bukanlah sesuatu yang perlu disesali.
Nayla menatap keluar jendela taksi yang saat ini tengah ia tumpangi, mencoba mengatur nafas namun dadanya tetap saja terasa sesak. Karena ternyata ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh, ia hanya belajar untuk tetap hidup.
Sesampainya dirumah ketika pintu rumah itu terbuka sempurna, aroma masakan hangat langsung menyambutnya. Lampu ruang tamu masih menyala, dan seperti biasa sang Ayah sedang duduk rapih dengan tangan yang memegang buku bacaanya.
" Nak... Sudah pulang?" begitu melihat wajah sang anak sudah berada dirumah, kinielaki itu langsung menutup bukunya.
Suara itu terdengar sangat lembut dengan nada yang penuh kekhawatiran, hanya satu kata itu saja sebenarnya namun mampu membuat pertahanan Nayla yang sejak tadi ditahan akhirnya runtuh juga.
" A... A... Ay... Ayah..." suara Nayla bergetar.
" Nak, Ada apa?" Ayahnya langsung berdiri melangkahkan kakinya kehadapan sang anak.
Untuk beberapa detik Nayla hanya diam, mencoba mengatur perasaannya agar tidak emosional.
" Aku bertemu Ibu hari ini" ucapan itu terdengar lirih.
Hening... Rumah itu mendadak terasa sunyi dengan tubuh sang Ayah yang membeku sesaat. Bukan karena rasa marah, bukan karena terkejut, melainkan karena ia tahu jika kejadian itu terasa begitu sangat berat bagi putrinya.
" Ayah..." air mata mulai memenuhi mata Nayla saat ini.
" Aku pikir aku sudah tidak peduli dengannya, tapi ternyata aku salah Ayah... Rasa sakit itu masih terasa" suara itu pecah di akhir kalimat.
" Duduk dulu di sini" Sang Ayah menarik kursi disampingnya.
Nayla menurut, seperti anak kecil yang tengah mencari tempat aman untuk dirinya saat ini.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka membicarakan wanita yang sama-sama pernah meninggalkan mereka. Tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian, hanya ada dua orang yang sama-sama pernah terluka dan saling memahami rasa sakit satu sama lain.
" Apa ayah marah saat itu?" Nayla mencoba memberanikan diri bertanya, dengan nada lirih seperti sebuah bisikan.
" Marah... Bahkan Ayah sangat marah, melebihi marah dari yang kamu bayangkan selama ini..." Ayahnya tersenyum pahit.
Nayla menundukkan kepalanya dan untuk pertama kali ia mendengar sisi dari Ayahnya.
" Dulu Ayah bertanya terus, Nak. Apa ayah kurang baik? Apa ada yang salah dengan Ayah?..." tatapan lelaki itu kini menerawang jauh.
Suara itu terdengar berat karena luka lama ternyata masih meninggalkan bekas, meskipun tidak lagi berdarah. Nayla langsung menggenggam tangan Ayahnya, dan tanpa sadar kini sang Ayah tersenyum kecil.
" Tapi setelah bertahun-tahun ayah sadar satu hal..." ia menarik nafas pelan.
" Apa, Yah?" tanya Nayla penasaran.
" Perginya seseorang terkadang bukan karena kita yang kurang baik, bukan karena kita kurang berharga, bukan karena kita gagal... Kadang karena mereka memang memilih jalan yang berbeda, dan itu adalah pilihan mereka bukan kesalahan kita" ucap sang Ayah mencoba tegar.
Air mata Nayla kembali jatuh membasahi kedua pipinya, karena selama ini ia diam-diam selalu menyalahkan dirinya sendiri. Menyalahkan masa kecilnya, menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak cukup untuk membuat ibunya bertahan.
" Ayah... Aku capek" suara Nayla bergetar
Dan untuk pertama kalinya Nayla mau mengakui perasaannya, bahwa selama ini dirinya lelah, lelah terlihat kuat, lelah terlihat baik-baik saja, lelah menyimpan semuanya sendiri.
" Ayah tahu..." ucap sang Ayah yang langsung menggenggam tangan sang anak lebih erat.
Hanya dua kata namun mampu membuat air mata Nayla jatuh semakin deras.
" Jangan biarkan kesalahan orang lain mengkim hidupmu selamanya, Nak" ucap Ayah.
Hening...
" Kamu bukan penyebab semua itu, kamu tidak bersalah, kamu tidak kurang apa-apa" suara Ayahnya melembut.
Dan setiap kalimat yang keluar dari mulut sang Ayah, terasa seperti obat luka yang sedang memperbaiki luka yang sudah lama menganga.
" Kamu berhak bahagia, kamu berhak untuk di cintai dengan layak, dan kamu juga berhak membiarkan orang lain mencintaimu" tangis Nayla kini semakin deras.
Kalimat terakhir itu membuat Nayla menatap wajah sang Ayah cukup lama, karena keduanya tahu siapa yang sedang mereka bicarakan.
Arsen Mahardika.
Malam semakin larut setelah obrolan panjang itu, sesuatu dalam hati Nayla kini terasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya ia merasa tidak harus memikul semuanya sendirian, dan saat itulah bel rumah berbunyi.
Ting... Tong... Ting... Tong...
" Siapa malam-malam begini?" Nayla dan Ayahnya saling menoleh.
Ayahnya tersenyum kecil seolah sudah mengetahui jawabannya, lalu berjalan membuka pintu dan benar saja Arsen berdiri disana dengan masih memakai kemeja kerja dengan wajah yang terlihat cemas.
" Om, maaf mengganggu waktunya malam-malam" Arsen menghampiri dan memberikan salam hormat.
" Masuk, Ar" jawab Ayah Nayla dengan senyuman hangat.
" Kamu cari Nayla, Ya?"
Arsen mengangguk pelan.
" Dia ada dibelakang" Lelaki itu menepuk bahu Arsen pelan.
Halaman belakang rumah terasa tenang malam itu, angin berhembus pelan dengan langit yang terlihat penuh bintang. Nayla duduk sendirian di kursi kayu memeluk lututnya, memang kosong ke arah teman kecil.
Langkah kaki pelan terdengar mendekat, namun Nayla tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Arsen duduk disampingnya tidak ada pertanyaan, tidak memaksa hal apapun, tidak menuntut penjelasan, tidak mengatakan apapun.
Hanya duduk menemani dan entah kenapa kehadiran itu justru terasa menenangkan, mereka diam cukup lama sampai akhirnya Nayla sendiri yang membuka suara.
" Aku ketemu Ibu hari ini"
Arsen menoleh namun tetap diam, membiarkan Nayla melanjutkan ucapannya.
" Dia datang kerumah sakit, hidupnya terlihat baik-baik saja bahkan tidak ada kata maaf yang terucap dari mulutnya" suara Nayla terdengar pelan tapi tidak ada emosi.
" Tidak apa penyesalan, tidak ada pertanyaan kabar untukku" mata Nayla kini mulai memanas lagi.
" Dan ternyata... Itu lebih sakit dari yang aku kira" senyuman pahit itu muncul kembali di wajahnya.
Hening...
Angin malam berhembus pelan membawa kesunyian yang nyaman, Nayla menoleh menatap wajah Arsen dan untuk pertama kalinya dengan mata yang benar-benar terlihat rapuh.
" Kalau orang yang harusnya paling sayang sama kita aja bisa pergi... Gimana aku bisa percaya sama orang lain yang akan tetap tinggal?" suara Nayla bergetar.
" Karena aku bukan dia..." Arsen menjawab cepat tanpa ragu.
" Kamu tidak harus percaya sekarang, Nay. Aku juga tidak akan memaksa kamu..." Arsen tersenyum kecil, hangat dan tulus.
" Aku hanya akan tetap berada disamping kamu sampai suatu hari kamu bisa melihat dan membuktikannya sendiri" ucap Arsen lembut.
Air mata kembali memenuhi kedua mata Nayla, namun kali ini berbeda bukan karena luka melainkan karena seseorang yang memilih untuk tetap tinggal, seseorang yang memilih hadir dan tetap menunggu.
Dan untuk pertama kalinya Nayla tidak merasa sendirian, pelan-pelan ia menyadarkan kepalanya ke bahu Arsen bukan karena lemah, bukan karena tidak mampu berdiri sendiri, melainkan karena akhirnya ia menemukan seseorang yang membuatnya merasa aman.
Dan malam itu tidak ada janji besar,
Tidak ada pengakuan cinta,
Hanya ada dua orang yang duduk berdampingan, saling menghangatkan, dan saling menemani.
Akhirnya kali ini Nayla merasa bahwa semua akan baik-baik saja ❣️.