NovelToon NovelToon
Destiny

Destiny

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Typ

Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Tekad yang Redam.

Sudah lama tidak ditinggali bukan berati tidak akan terawat, kamar itu bahkan jauh lebih terawat daripada kamar milik Laras. Tentu saja, ada asisten rumah tangga yang rutin membersikan debu setiap 3 kali sehari. Memastikan kamar Aditya selalu dalam keadaan yang siap untuk ditempati.

Langkah pelan Aditya menuju ke ranjang tempat Laras tengah bergelung dengan selimut, istrinya itu terlihat sangat nyaman sampai-sampai tidak mendengar langkah kaki mendekat. Aditya diam sejenak, lelahnya hilang begitu melihat Laras yang damai dalam tidurnya.

Lagi-lagi Aditya kembali jatuh, hatinya masih saja berbunga melihat Laras menjadi miliknya, berharap bunga itu tidak pernah layu.

Tangannya dengan pelan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Laras, kemudian dengan lembut mengelus puncak kepala. Laras mengerutkan dahi karena sentuhan Aditya terasa menggelitik permukaan kulitnya. Gadis itu perlahan membuka wajahnya.

"Ahh hai, kamu sudah pulang." Suara serak Laras terdengar canggung. Ini kali pertama inisiatif Laras mengambil alih. Sejujurnya Laras tidak tahu apa yang baru saja dilakukannya, gadis itu hanya mengikuti kata otak.

Aditya tertawa mendengar suara Laras, sekaligus bahagia karena merasa dianggap. "Masih mengantuk?" Cowok itu terus memperhatikan setiap gerakan Laras, beranjak dari kasur, bersandar pada kepala ranjang. Laras yang menjawab pertanyaannya dengan gelengan kecil.

Semua itu terasa menarik.

"Keluarga kita sedang berkumpul, ayo mandi sebelum bergabung." Aditya menjauh, mulai melepas stelan formal yang membuat tubuhnya risih. Melemparnya ke sembarang tempat, kebiasaan kecil itu menarik perhatian Laras, jujur gadis itu sedikit risih.

"Ehh?!"

"Beneran aku enggak bohong, mungkin mami yang merencanakan ini. Kamu enggak diberi tahu?"

Laras menggeleng. "Mami cuma bilang kita akan menginap di sini."

Laras ikut beranjak, gadis itu mengambil totebag kemudian mulai mencari baju ganti. "Kamu duluan yang mandi." Gadis itu menyuruh Aditya.

Tapi bukan Aditya jika menurut begitu saja, "Kelamaan, kita mandi bareng."

Tatapan tajam Laras di sambut dengan kekehan. "Kan cuma mandi, tapi kalo kamu mau lebih enggak masalah."

Gadis itu mati kata, ngeri mendengar kalimat Aditya. Tapi dasar Aditya, cowok itu langsung menarik Laras ke kamar mandi.

"Kalo kamu lelaki, kamu harus penuhi janjimu itu." Laras memberi peringatan saat Aditya menutup pintu kamar mandi.

"Iya-iyaaaa."

...-------------...

Asap mengepul dari pemanggang saat sebuah daging berukuran besar baru saja di letakan. Lemak dan sari daging yang terkena panas mengeluarkan bunyi desisan, suaranya samar karena beradu dengan suara Rara yang sedang menyanyikan lagu favoritnya. Tidak ada microphone, tapi cukup terdengar keras dan penuh percaya diri. Di depannya sebuah layar tripod menampilkan lirik dari lagu yang sedang dinyanyikan Rara, Baby milik penyanyi Justin Bieber.

Melani yang kebetulan tahu lagu itu, ikut bernyanyi, sedangkan Sari duduk di antara keduanya sambil mengupas kulit jeruk.

Aditama berdiri tak jauh dari Harto, kedua pria itu sibuk memanggang.

"Kenapa Mereka lama sekali?" tanya Sari. Heran sebab Aditya dan Laras tidak kunjung muncul.

"Mungkin sebentar lagi," jawab Melani. "Atau mungkin masih kangen-kangenan?"

Sari menoleh ke pintu masuk, saat mendengar suara langkah kaki. Baru saja dirinya di buat penasaran, pasutri baru itu akhirnya datang juga.

Sari melihat ekspresi wajah Laras yang tidak bisa dirinya prediksi. Tapi beda dengan Aditya, mantunya itu nampak sekali bahagia. Entah apa yang keduanya lakukan. Sari menggeleng pelan, memilih untuk tidak penasaran.

"Apa sudah matang?" Tanya Aditya, cowok itu datang dengan perut lapar.

Laras melepas gandengan tangan Aditya kemudian duduk di samping Rara, sedangkan Aditya menyusul papih dan mertuanya.

"Bakar bagianmu sendiri," celetuk Aditama. Suaranya serius, tapi Aditya tahu papihnya sedang becanda. Tidak ada daging mentah yang tersisa, semua sudah masuk ke dalam pemanggang dan sebagian berada di pinggir karena hampir matang.

"Tolong bawa semua yang sudah matang ke meja, Nak." Harto meminta tolong pada Aditya, cowok itu dengan semangat membantu.

Tentu saja, pekerjaan paling mudah jika hanya sekedar membawa hasil grill. Cowok itu memang sengaja datang telat agar tidak perlu berkutat dengan asap dan panas. Biarkan saja papi dan mertuanya berkerja, sekalian memberi waktu pada keduanya agar semakin dekat.

"Ayo makan semuanya, jangan ragu jangan sungkan. Habiskan saja kalau perlu." Aditya menaruh semua makanan ke meja, tangannya ikut mengambil jagung bakar sebelum menggeser kursi agar bisa duduk lebih dekat dengan Laras.

"Kamu mau apa, yang?" tanya Aditya, Rara dan Sari ikut melirik dengan wajah menahan senyum, membuat Laras menahan malu. Melani bahkan tidak jadi menguyah dagingnya karena lucu melihat interaksi Aditya dan Laras.

"Di tanyain tuh kak." Rara menegur kakaknya karena tidak kunjung merespon pertanyaan Aditya.

"Sosis saja."

Aditya mengangguk, namun yang diambil malah daging dan beberapa kentang bakar. "Kamu makan daging aja, sosis tidak sehat."

Mendengar kata sehat, Melani teringat dengan soup tauge buatannya. Wanita itu melesat ke dapur mengambil 2 mangkok kecil soup buatannya. Membawa dengan nampan.

"Mami punya yang spesial untuk kalian berdua." Wanita itu menyodorkan masing-masing soup pada Aditya dan Laras. Membuat tangan keduanya kepenuhan. Laras meletakkan piring daging di paham, sedangkan Aditya menaruh jagungnya diatas meja tanpa alas.

Laras yang melihat itu dengan inisiatif mengambil piring kertas untuk wadah jagung bakar yang baru dimakan beberapa gigitan itu.

Aditama dan Harto menyusul, kedua pria paruh baya itu duduk di kursi yang tersisa. Harto meminta besannya untuk mengganti tayangan di layar tripod, menggantinya dengan film keluarga yang sudah disiapkan Melani.

Mereka semua menonton film sembari menikmati hasil panggang. Beberapa kali terlibat obrolan singkat. Pekerjaan sekolah Rara atau bahkan curhat rumah tangga antara Melani dan Sari.

Tidak ada yang membahas hubungan Aditya dan Laras. Para tetua sepakat untuk tidak memancing-mancing masa lalu pasutri baru itu. Biarlah hubungan keduanya terus berlanjut, berharap semua hal buruk yang terjadi di awal, Laras sudah melupakannya.

Siapa yang mau hubungan percintaan anak-anaknya gagal? Tentu tidak ada orang tua normal yang menginginkan itu.

Sedangkan Laras sendiri, gadis itu terus memperhatikan para orang tua. Senyum mereka, kebahagian kecil itu mampu membuat hati Laras terenyuh. Rara juga nampak bahagia bersama keluarga Aditya. Bagaimana mungkin masalah yang sudah reda, yang dulunya mereka pernah cekcok karena ulah Aditya, kembali berseteru karena keinginan sepihak darinya? Laras tidak akan tega menyiram bensin pada api yang sudah mulai reda.

"Lihat wajah mereka Laras? Kamu enggak mau mereka sedih lagi hanya karena kamu ingin kita berpisah, kan?" suara Aditya lirih, cowok itu seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Laras.

Aditya membuang pandangan saat Laras menatapnya, seakan tidak pernah berbicara apapun. Dengan santai malah kembali mengunyah.

Di samping Laras, Rara bergerak pelan mengambil ponsel. Beberapa kali mengambil foto suasana di taman belakang. Gadis itu juga berdiri sedikit menjauh agar Laras, Aditya, Sari, Melani, Aditama dan Harto masuk ke dalam frame. Kali ini Rara tidak mengambil foto bersama dirinya, gadis kecil itu hanya fokus pada kehangatan keluarganya barunya, keluarga besar.

"Kak Adit, Kak Laras, woii!" Begitu yang dipanggil menoleh, Rara dengan cepat menekan tombol putih di tengah bawah.

Rara memamerkan hasil foto pada Laras dan Aditya.

"Bagus! Nanti tandain gue yaa.... " puji Aditya, seakan menyuruh Rara menyebarkan informasi bahwa Aditya sudah menikah, bahwa istri Aditya adalah Laras.

Ketika pandangan Laras dan Rara bertemu, gadis kecil itu mendapat tatapan tajam singkat.

"Kenapa? emangnya enggak bosen sembunyi-sembunyi terus?" tanya Rara dengan wajah polosnya.

"Kenapa Ra?" Sari menoleh saat mendengar pertanyaan Rara begitu menuntut.

"Kak Laras katanya enggak mau kalo aku posting foto ini.... " Rara menunjukan hasil fotonya pada Sari.

Raut wajah Sari menurun, sedih mendengar keengganan Laras. Sedangkan Melani, wanita itu malah bahagia dan mendukung Rara. Melani bahkan tidak melihat Laras, seakan protes.

"Bagus itu, posting aja enggak papa. Biar enggak ada cewek yang ganjen lagi sama Aditya." Melani mendukung penuh.

"Tuh kakkkk."

"Ya udah enggak papa." Laras mengalah, gadis itu tersudut akan keadaan.

Aditya langsung mengecup dahi Laras secepat kilat.

"Woi gak sopan!" Seru Rara, gadis itu merasa ternodai oleh live action 18 plus.

1
falea sezi
lanjut donk gmna hubungan nya dengan. bule nya😒
falea sezi
ajuin cerai laras😒 cowok. labil anjing amat dah
TSQ
Up nya 3 bab perhari kak
typ: hamba tidak sanggup ya mulia 😭
Terlalu berat untuk manusia pemalas seperti hamba.
total 1 replies
TSQ
Up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!