"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Rahasia yang Diketahui Risa
****
Tatapan Saka yang mengunci dari jarak sedekat ini membuat pasokan oksigen di sekitarku mendadak menipis. Seringai kemenangan yang terukir di wajah tampannya setelah berhasil membongkar rahasia gelang perak itu terasa begitu mengintimidasi, namun sekaligus menghangatkan sudut hatiku yang sudah lama membeku. Aku bisa merasakan deru napasnya yang memburu berembun di depan keningku, berbaur dengan aroma keringat dan parfum maskulinnya yang menguar kuat di tengah lapangan basket yang sepi.
"Lepasin, Sak... jangan kayak gini," bisikku lirih, mencoba sekuat tenaga menarik tangan kananku dari cengkeramannya. Namun, Saka justru semakin mempererat genggamannya pada pergelangan tanganku, membiarkan bandul bintang kecil itu menekan kulitku dengan lembut.
"Gue gak akan ngelepasin lo sebelum lo jujur sama gue, Mikaela," tuntut Saka, suaranya merendah menjadi sebuah geraman posesif yang sarat akan emosi yang tertahan. "Bilang sama gue, apa yang diucapin si Ketos bangsat itu di ruang BK sampai bokap gue harus datang? Apa yang dia pakai buat mengancam lo sampai lo terpaksa akting jadi pacarnya di depan semua orang?!"
"Gak ada yang mengancam gue, Saka! Ini pilihan gue!" bohongku lagi, air mataku akhirnya lolos membasahi pipi. Aku terpaksa membentaknya, mencoba membangun kembali dinding kebohongan yang sudah dia runtuhkan sepihak. "Gue lelah hidup di antara keributan lo! Gue cuma mau masa SMA gue tenang, dan Devan bisa kasih ketenangan itu buat gue! Jadi please, lepasin gue!"
Mendengar bentakanku, tubuh tegap Saka mendadak kaku. Genggaman tangannya di pergelangan tanganku perlahan mengendur. Binar kemenangan di mata elangnya seketika padam, digantikan oleh kilat rasa sakit yang teramat dalam. Dia melangkah mundur satu langkah, menatapku dengan pandangan penuh kekecewaan yang membuat hatiku serasa diiris sembilu.
"Ketenangan?" Saka tertawa getir, sebuah tawa lirih yang terdengar begitu menyedihkan di dalam keheningan lapangan *indoor*. "Jadi bagi lo, semua perlindungan gue selama ini cuma dianggap sebagai keributan yang mengganggu, Mik? Oke. Kalau itu emang kemauan lo, gue gak akan maksa lo lagi sekarang."
Saka berbalik memunggungiku, memungut tas ranselnya yang tergeletak di lantai lapangan dengan gerakan yang kasar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, dia berjalan lebar meninggalkan lapangan basket menembus pintu keluar, meninggalkan aku yang langsung merosot berlutut di bawah ring basket sambil menangis sejadi-jadinya dalam kesunyihan.
Keesokan harinya, hari Jumat pagi, aku duduk di bangku barisan paling depan dengan kondisi mental yang benar-benar terkuras habis. Di sebelahku, Devan sedang sibuk menulis agenda kegiatan OSIS mingguan dengan rapi. Sejak pagi tadi, dia terus memperhatikan wajahku yang sembap dengan tatapan penuh selidik, namun aku selalu beralasan bahwa aku sedang mengalami flu berat agar dia tidak curiga.
Saat bel istirahat pertama berbunyi, Devan berbalik menatapku sambil mengusap puncak kepalaku pelan. "Sayang, aku harus ke ruang kurikulum sebentar buat menyerahkan draf proposal acara bulan bahasa. Kamu tunggu di sini aja ya, jangan ke mana-mana," kata Devan lembut dengan senyuman protektifnya yang mematikan.
Aku hanya mengangguk pasrah. Begitu sosok Devan benar-benar keluar dari pintu kelas, sebuah tangan tiba-tiba menarik paksa lengan jaket rajutku dari arah belakang.
"Ikut gue sekarang, Mikaela. Gak ada penolakan!"
Suara cempreng Risa terdengar sangat tegas dan cemas. Sebelum aku sempat memprotes, Risa sudah menarikku keluar dari kelas melalui pintu belakang, berbelok cepat menyusuri koridor samping yang sepi menuju ke area toilet perempuan yang berada di ujung gedung administrasi. Begitu kami masuk ke dalam, Risa langsung mengunci pintu utama toilet dari dalam, lalu berbalik menatapku dengan mata yang membelalak lebar.
"Ris, lo apa-apaan sih? Kalau Devan balik ke kelas dan gak nemuin gue, dia bisa ngamuk—"
"Devan gak bakal tahu kalau lo gak kasih tahu, Mik!" potong Risa dengan nada suara yang setengah berbisik namun penuh penekanan yang bergetar. Dia mencengkeram kedua bahuku kuat-kuat. "Mika, lo harus dengerin gue baik-baik. Rahasia lo... rahasia tentang alasan lo terpaksa pacaran sama Devan... sekarang udah gak aman!"
Jantungku seketika mencelos ke dasar perut. "M-maksud lo apa, Ris?"
Risa menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan kepanikannya sendiri. "Tadi pagi, sebelum bel masuk berbunyi, gue gak sengaja lewat di depan ruang OSIS buat mengantarkan buku sosiologi yang tertinggal. Di sana, gue melihat Devan lagi bicara sama anak-anak keamanan OSIS dari kelas IPS 3—kelasnya Saka."
Risa mendekatkan wajahnya, menatapku lurus-lurus dengan binar mata yang dipenuhi rasa ngeri yang nyata. "Anak-anak buah Devan itu melaporkan kalau kemarin sore, setelah Devan pergi ke dinas pendidikan, mereka melihat lo masuk ke dalam lapangan basket *indoor* bareng Saka. Dan yang lebih parah, mereka sempat mengambil foto pas Saka lagi memegang tangan lo dengan agresif di bawah ring basket!"
Darahku rasanya langsung membeku seketika. Seluruh tubuhku gemetar hebat hingga aku harus bersandar pada dinding wastafel toilet yang dingin. Foto? Anak buah Devan mengambil foto kejadian kemarin sore?
"Gue melihat sendiri foto itu di layar ponsel Devan, Mik," lanjut Risa dengan suara yang mulai serak karena cemas. "Muka Devan pas melihat foto itu bener-bener mengerikan banget. Senyum malaikatnya hilang total, ganti jadi tatapan mata iblis yang dingin banget. Dia langsung memerintahkan anak buahnya buat mencari tahu apa aja yang kalian bicarakan di dalam lapangan kemarin."
Air mataku kembali mengalir deras membasahi pipi. Ketakutan terbesar dalam hidupku kini benar-benar terjadi. Sandiwara yang kubangun dengan mengorbankan perasaan Saka demi melindunginya dari ancaman pemecatan, kini berada di ambang kehancuran total hanya karena kecerobohanku sendiri kemarin sore. Devan sudah tahu tentang pertemuan rahasia itu, dan dia memiliki bukti visual yang bisa dia gunakan sebagai sumbu ledak kapan saja.
"G-gue harus gimana, Ris? Kalau Devan tahu gue masih menyimpan gelang Saka dan berbohong sama dia... dia pasti bakal bener-bener menghancurkan Saka," rintihku frustrasi, menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan yang dingin.
Risa mengembuskan napas panjang, lalu memeluk tubuhku erat untuk memberikan sedikit ketenangan di tengah badai yang kian mencekam. "Gue gak tahu, Mik. Tapi yang pasti, mulai detik ini lo harus ekstra hati-hati. Devan pasti lagi menyiapkan jebakan baru buat lo atau Saka di kelas nanti. Lo harus siap menghadapi versi terburuk dari si ular manipulatif itu."
Aku menangis tanpa suara di dalam pelukan Risa di dalam toilet yang sunyi. Peringatan Risa sore itu terdengar seperti sebuah vonis hukuman mati bagi kebebasanku. Rahasia itu kini telah bocor ke tangan sang diktator sekolah, dan aku harus bersiap kembali masuk ke dalam ruang kelas XII MIPA 2 dengan perasaan seperti berjalan di atas hamparan paku payung yang siap menusuk kakiku hingga berdarah-darah.
### **Komentar Penulis (Author's Corner)**
> **Aduh, senam jantung lagi kita di Bab 13 ini, guys!** Ternyata pergerakan Mika dan Saka di lapangan basket kemarin sore gak luput dari pengawasan mata-mata Devan yang ada di mana-mana. Informasi dan bukti foto yang sampai ke tangan Devan bener-bener mengubah situasi jadi makin kritis dan berbahaya. Kita bisa lihat gimana ngerinya insting intelijen si Ketua OSIS manipulatif ini buat mengunci pergerakan Mika.
> Keberadaan Risa sebagai satu-satunya sahabat yang tahu kebenaran ini bener-bener jadi penolong sekaligus alarm darurat buat Mika agar bersiap menghadapi badai besar yang bakal dibawa Devan setelah ini.
> Menurut kalian, kira-kira taktik kejam apa lagi yang bakal dikeluarkan Devan setelah dia memegang bukti foto kemesraan terpaksa Mika dan Saka? Apakah dia bakal langsung mengonfrontasi Mika di kelas?
>