🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa
Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.
Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Kabut Gunung Suci
Rombongan bergerak terus ke utara, hari demi hari meninggalkan dataran subur, desa-desa tenang, dan perlahan masuk ke wilayah yang makin dingin, makin sepi, dan makin tertutup kabut. Semakin dekat ke Gunung Suci, udara terasa makin tipis, suhu makin jatuh, dan pemandangan di luar jendela kereta berubah: dari ladang hijau menjadi tanah berbatu, hutan rimbun berubah menjadi pepohonan keriput yang tampak kaku dan diam, seolah tak bernyawa.
Shen Yue duduk tenang di dalam kereta, tangan kanannya memegang tongkat kayu mawar, tangan kiri menyentuh dinding kayu kereta yang bergetar pelan mengikuti irama roda. Matanya terpejam, namun kesadarannya menyebar jauh ke luar, menyentuh setiap helai daun, setiap akar, setiap tetes air yang ada di sepanjang jalan mereka.
Xiao Chen duduk di sebelahnya, diam-diam mengamati perubahan pada wajah kekasihnya. Di sepanjang perjalanan ini, Shen Yue tidak banyak bicara, tapi dia makin tenang, makin tajam, dan ada kilatan kekuatan yang makin terasa berat dan dalam. Sesekali, napas gadis itu keluar berupa uap putih, tapi matanya tetap hangat, seolah membawa sepotong taman indah mereka ke tempat yang dingin dan mati ini.
"Kau merasakannya, ya?" tanya Xiao Chen pelan, memecah keheningan.
Shen Yue membuka mata, menatapnya dengan senyum tipis namun serius.
"Aku merasakan semuanya, Xiao Yi. Di sini... alam tidak hidup seperti di rumah kita. Di sini... alam sedang tertindas, terkurung, dan sebagian besar energinya tersedot pergi ke atas, ke puncak gunung. Seperti ada mulut raksasa yang terus-menerus mengambil segala kekuatan kehidupan dari bumi ini, meninggalkan tanah yang tandus, dingin, dan sepi."
Ia menunjuk ke arah jendela, ke arah pohon-pohon yang kaku itu.
"Mereka masih hidup, tapi tertekan berat. Mereka tidak bisa tumbuh, tidak bisa mekar, tidak bisa bernapas lega. Dan yang paling mengganggu... ada getaran aneh. Bukan energi alam, bukan juga energi manusia. Sesuatu yang gelap, kaku, dan sangat haus. Sesuatu yang sudah ada di sini jauh sebelum kerajaan ini berdiri."
Xiao Chen mengerutkan kening, tangannya menggenggam gagang pedang di pinggangnya lebih erat.
"Jadi benar apa yang dikatakan Xiao Mo. Ada sesuatu yang lain di sana. Bukan hanya Kaisar, bukan hanya Hao. Mereka cuma alat. Pengambil keuntungan. Tapi penguasa sebenarnya tempat ini... adalah sesuatu yang jauh lebih tua dan jauh lebih berbahaya."
Tiba-tiba, kereta melambat lalu berhenti mendadak. Di luar terdengar suara teriakan pelayan dan derap kaki kuda yang gelisah. Xiao Chen langsung melompat keluar, diikuti Shen Yue.
Di depan mereka, jalan setapak itu terputus. Di hadapan mereka terbentang lembah luas yang tertutup kabut tebal putih susu, begitu tebal sampai tidak terlihat apa pun di baliknya. Kabut itu tidak bergerak tertiup angin, tapi diam, berat, dan perlahan-lahan merayap mendekat, seolah memiliki nyawa sendiri. Di kejauhan, di balik kabut itu, siluet Gunung Suci menjulang tinggi, puncaknya hilang tersembunyi di langit kelabu.
A-Ming berlari mendekat, wajahnya pucat karena dingin dan ketakutan.
"Tuan Muda... jalan habis di sini. Dan kabut ini... kuda-kuda kami menolak melangkah masuk. Mereka gemetar, tidak mau maju selangkah pun. Para pengawal juga bilang... kabut ini aneh. Seolah ada suara bisikan-bisikan pelan di dalamnya, membuat kepala pening dan hati jadi gelisah."
Xiao Chen menatap kabut tebal itu tajam, lalu menoleh ke Shen Yue. Gadis itu melangkah maju, berdiri tepat di pinggir kabut, tongkat kayunya ditegakkan lurus ke atas.
"Tenang saja," suaranya jernih dan keras, terdengar jelas oleh semua orang. "Ini hanya kabut biasa yang diberi sihir dan niat jahat. Dia mau membuat kita takut, mau membuat kita ragu, mau membuat kita lupa siapa diri kita. Tapi dia salah sasaran."
Shen Yue mengangkat tongkatnya, lalu menyentuhkan ujungnya ke tanah berbatu yang keras itu.
Dengan sentuhan itu, sesuatu terjadi. Di mana tongkat itu menyentuh, tanah yang kering dan mati itu tiba-tiba retak halus, lalu muncul tunas-tunas kecil berwarna hijau cerah, tumbuh cepat, menjalar, dan mekar menjadi bunga-bunga kecil berwarna kuning terang. Bunga-bunga itu tidak banyak, tapi warnanya begitu hidup, begitu cerah, sampai terlihat jelas meski di tengah suasana kelabu dan dingin ini.
Dan saat bunga itu mekar, kabut di sekitar mereka tiba-tiba bergerak gelisah, seolah kaget dan kesakitan. Kabut itu menjauh perlahan, membuka jalan setapak yang cukup lebar dan terang di tengah-tengahnya.
"Lihat?" ucap Shen Yue tenang, berbalik menatap semua orang. "Kehidupan adalah musuh terbesar kegelapan dan kematian. Di mana kita berpijak, di sana akan ada cahaya, ada jalan, ada harapan. Ayo lanjutkan. Ikuti bunga-bunga ini, jangan sampai keluar dari jalur yang kita buat."
Xiao Chen tersenyum bangga, lalu memberi isyarat bergerak kembali. Ia berjalan tepat di sebelah Shen Yue, menjadi pelindung utama, sementara Xiao Mo bergerak diam-diam di depan dan di belakang, matanya tak berkedip mengawasi setiap pergerakan kabut. Xiao Lei bersorak pelan di dalam kepala mereka: "Keren banget Yue! Kabut itu kelihatan sombong banget, tapi lari ketakutan cuma karena bunga kecil! Hahaha!"
Mereka melangkah masuk ke dalam lembah berkabut itu. Di dalamnya, suhu makin dingin, udara makin hening. Sesekali terdengar suara bisikan pelan, samar-samar, seolah memanggil nama mereka atau membisikkan hal-hal buruk, tapi setiap kali mendekat ke arah rombongan, suara itu lenyap saat menyentuh cahaya bunga-bunga kecil yang tumbuh di sepanjang jalan.
Semakin masuk, kabut makin tebal di sisi kiri-kanan, seolah ada tangan-tangan tak kasat mata yang mencoba meremas jalan itu kembali, tapi selalu gagal karena kekuatan yang memancar dari tongkat di tangan Shen Yue.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba di depan mereka muncul sosok berdiri diam di tengah jalan, persis di ujung jalur bunga. Sosok itu tinggi, berjubah kelabu kusam, wajahnya tertutup tudung, tidak terlihat jelas siapa atau apa. Tapi aura yang dipancarkannya sangat dingin, berat, dan penuh tekanan jahat.
Pasukan Xiao Chen langsung berhenti, senjata terhunus, siap menyerang. Xiao Chen maju selangkah, tubuhnya memancarkan aura tajam dan berbahaya.
"Siapa kau? Minggir!" seru Xiao Chen tegas.
Sosok itu tidak bergerak. Hanya terdengar suara rendah, parau, bergema di dalam kabut: "Tidak ada yang boleh masuk ke wilayah Penguasa Gunung. Kalian membawa cahaya... kalian membawa kehidupan... hal yang dilarang di sini. Kembalilah, atau hancur bersama cahayamu itu."
Shen Yue maju selangkah melewati Xiao Chen, tongkatnya diangkat sedikit lebih tinggi. Bunga-bunga di sepanjang jalan makin bersinar terang, membuat sosok berjubah itu mundur selangkah karena silau dan tidak nyaman.
"Kehidupan tidak pernah dilarang di bumi mana pun," jawab Shen Yue tenang namun tegas, suaranya bergema kuat menembus kabut. "Bumi ini milik semua makhluk. Kalianlah yang mengubahnya jadi gelap, jadi dingin, jadi mati. Kami tidak datang untuk mengalahkan siapa pun. Kami datang untuk mengambil hak kami, dan melihat kebenaran. Minggirlah, atau rasakan sendiri apa artinya alam bangkit kembali."
Sosok itu diam sejenak, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Di balik tudung itu, tidak ada wajah manusia. Hanya ada kegelapan pekat, dan dua titik cahaya merah menyala berkilat tajam.
"Kalian tidak tahu bahaya apa yang kalian cari..." gumam sosok itu, lalu perlahan tubuhnya melebur dan lenyap menjadi kabut tipis, hilang begitu saja.
Jalan kembali terbuka.
Xiao Chen menghembuskan napas lega tapi tetap waspada. Ia menatap Shen Yue dengan pandangan kagum dan khawatir.
"Itu bukan manusia, Yue. Itu penjaga kabut, makhluk yang tercipta dari energi gelap yang menumpuk di sini. Dia sangat kuat... tapi dia takut padamu. Dia takut pada apa yang kau bawa."
Shen Yue mengangguk pelan, menyeka keringat dingin di pelipisnya. Menggerakkan kekuatan sejauh ini dan melawan tekanan tempat ini ternyata memakan tenaga besar, tapi ia tidak akan menyerah.
"Semakin ke dalam, semakin kuat tekanannya, Xiao Yi. Nanti di puncak... akan jauh lebih berat. Tapi aku siap. Kita siap."
Setelah berjam-jam berjalan perlahan menanjak, kabut akhirnya mulai menipis. Cahaya matahari yang samar mulai masuk, dan di depan mereka akhirnya terlihat gerbang besar batu hitam yang menjulang tinggi, diapit dua patung naga yang tampak tua dan seram. Di atas gerbang itu tertulis tulisan kuno: "Pusat Dunia – Di Sini Langit dan Bumi Berbicara".
Di sana, sudah berkumpul banyak rombongan lain: keluarga kerajaan, pejabat tinggi, panglima perang, dan pasukan besar. Di barisan depan, berdiri gagah Pangeran Hao dengan jubah emasnya, wajahnya bersinar penuh kemenangan dan keangkuhan. Di sebelahnya, berdiri sosok tua bungkuk berjubah putih bersulam emas—Kaisar sendiri.
Saat melihat rombongan Xiao Chen muncul dari balik kabut, Hao tertawa keras, suaranya bergema di seluruh lereng gunung.
"Wah! Akhirnya sampai juga kalian berdua! Aku kira kalian tersesat atau takut dan lari pulang! Ternyata benar-benar berani datang. Dan lihat itu... kau benar-benar membawa 'senjata' anehmu itu, Nona Yue."
Pangeran Hao melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah tongkat di tangan Shen Yue, dan ke arah bunga-bunga kecil yang masih mekar di sepanjang jalan mereka. Matanya berkilat serakah dan penuh kemenangan.
"Bagus... sangat bagus. Energi murni kehidupan... persis seperti yang aku butuhkan. Kau tidak tahu betapa berharganya dirimu, gadis kecil. Kau baru saja berjalan sendiri masuk ke dalam perangkap yang sudah kami siapkan bertahun-tahun lamanya."
Kaisar yang diam sejak tadi akhirnya berbicara, suaranya lemah namun berat, penuh kekuatan tersembunyi.
"Selamat datang di Gunung Suci, Xiao Chen, Su Shen Yue. Di sini, segalanya akan terungkap. Takdir negeri ini, takdir kami, dan juga takdir kalian berdua... akan ditentukan hari ini juga."
Xiao Chen berdiri tegak, melindungi Shen Yue di belakang bahunya sedikit, matanya menatap tajam ke arah mereka berdua, tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kami datang karena kami ingin tahu kebenaran, dan karena kami tidak lari dari apa yang menjadi hak kami. Tapi ingat satu hal, Kaisar, Hao... kami datang bukan sebagai tawanan, bukan sebagai korban persembahan. Kami datang sebagai pemilik kekuatan kami sendiri. Dan jika kalian berniat buruk... kalian akan menyesal sudah mengundang kami ke sini."
Shen Yue melangkah maju berdiri sejajar dengan Xiao Chen, senyumnya tenang namun matanya berkilat penuh tekad. Ia menatap lurus ke arah puncak gunung yang masih tertutup awan, tempat di mana energi terasa paling kuat dan paling kacau.
"Upacara apa pun yang akan kalian lakukan... rahasia apa pun yang ingin kalian buka... ingatlah satu hal: Alam punya hukum sendiri. Dan hari ini... hukum itu akan bicara lewat kami."
Angin kencang berhembus dari puncak gunung, membawa suara gemuruh samar, seolah bumi sendiri sedang menahan napas. Di sekeliling mereka, para pejabat dan bangsawan menatap dengan campuran rasa hormat, takut, dan penasaran. Pertarungan besar, pertarungan penentuan nasib, pertarungan antara cahaya dan kegelapan... baru saja dimulai di tempat tertinggi ini.