"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Amarah Sang Ayah
Di sudut lain, Ratna Prawijaya terus menjeritkan nama putrinya. Ia ditenangkan oleh ibu Devan dan ibu Theo yang secara kebetulan hadir di acara wisuda, serta ibu Baskara yang juga tampak sangat terpukul.
"Anakku... Aruna... kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu sesakit ini?" Tangis dan ratapan Ratna di pelukan ibu Baskara.
Deon Prawijaya, sang ayah, berdiri dengan wajah yang tidak lagi menampakkan kesedihan, melainkan kemarahan yang murni dan mematikan. Ia tidak akan membiarkan siapa pun yang menyakiti putri tunggalnya lolos begitu saja.
"Tuan Dirgantara," panggil Deon pada ayah Baskara dengan suara rendah yang mengancam. "Anakku sekarat. Dan aku tahu ini bukan sekadar karena serangan di aula tadi. Ada luka lama yang ia simpan. Aku akan mencari tahu siapa yang memulai semua ini."
Ayah Baskara, yang juga merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan sikap anaknya selama ini, mengangguk tegas. "Aku bersamamu, Deon. Jika ada pihak dari universitas atau siapa pun yang terlibat, mereka akan membayar lebih dari sekadar uang."
Keduanya melangkah pergi dengan aura kekuasaan yang pekat, menuju kantor polisi dan pihak keamanan universitas untuk mengusut tuntas motif Michelle serta mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Aruna selama empat tahun masa studinya.
Penyesalan yang datang Terlambat
Baskara masih tidak bergeming. Ia melihat dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang sangat lelah.
"Kondisinya kritis," ucap dokter itu saat Baskara dan kedua teman Aruna mendekat. "Ada trauma tumpul pada bagian dada yang sudah memiliki riwayat kerusakan pembuluh darah sebelumnya. Sepertinya dia sudah lama menahan beban jantung yang berat. Saat ini dia koma."
Mendengar kata "koma", Baskara seolah kehilangan tumpuan. Ia bersandar di kaca, menatap wajah Aruna yang kini tertutup masker oksigen.
Kenapa aku begitu buta? batin Baskara. Ia teringat saat Aruna meringis memegang perutnya di kelas, saat Aruna tampak pucat namun tetap ia bentak untuk mengerjakan tugas tanpa henti. Ternyata, selama ini Aruna sedang berjuang untuk tetap hidup, sementara Baskara justru menjadi orang yang paling rajin mendorongnya menuju kematian.
Devan bangkit dari lantai, menghapus air matanya, dan berjalan mendekati Baskara. Dengan suara yang sangat dingin, ia berbisik tepat di telinga dosennya itu.
"Bapak puas sekarang? Kerikil yang Bapak injak-injak itu sekarang benar-benar hancur. Jika Aruna tidak bangun lagi... saya bersumpah akan memastikan Bapak menghabiskan sisa hidup Bapak di balik jeruji besi bersama Michelle."
Baskara tidak menjawab. Ia tetap menatap Aruna. Di dalam hatinya, ia hanya memohon satu hal, "Aruna, tolong bangun. Beri aku kesempatan untuk menjadi orang yang memohon ampun di bawah kakimu, seperti yang dulu pernah kamu katakan."
Malam semakin larut, namun cahaya di koridor rumah sakit itu tidak pernah padam, seolah menjadi saksi bisu dari sebuah penyesalan yang datang terlambat dan rahasia besar yang akhirnya terungkap dalam genangan air mata.
Suasana di ruang tunggu ICU masih diselimuti keheningan yang menyesakkan. Orang tua Devan dan Theo akhirnya melangkah mendekat ke arah putra-putra mereka yang masih tampak kacau.
"Devan, Theo... kami pamit pulang dulu sebentar untuk mengambil beberapa keperluan. Kalian benar-benar ingin tetap di sini?" tanya Ayah Devan sambil mengusap bahu putranya.
Devan hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari pintu ruang ICU. "Aku tidak akan pergi sebelum Aruna bangun, Pa."
Theo juga memberikan jawaban yang sama. Mereka sudah sepakat untuk menjaga sahabat mereka hingga titik terakhir. Orang tua mereka kemudian menghampiri Ratna, ibu Aruna, memberikan pelukan penguat dan kata-kata penghiburan sebelum akhirnya berpamitan meninggalkan rumah sakit.
Namun, ketenangan itu pecah saat suara langkah kaki yang terburu-buru bergema di koridor. Seorang dokter wanita senior, dokter yang sama yang merawat Aruna secara rahasia beberapa tahun lalu, kini datang berlari dengan wajah penuh kecemasan.
"Di mana Aruna..Aruna Prawijaya?!" tanyanya dengan napas tersengal begitu sampai di depan unit gawat darurat.
Baskara, yang sejak tadi mematung, langsung berdiri tegak. Wajahnya yang pucat pasi menatap dokter itu dengan penuh harap. "Saya dosennya, Dok... Saya yang membawanya ke sini. Bagaimana keadaannya?"
Dokter itu menatap Baskara dengan tajam, seolah bisa membaca rasa bersalah yang terpancar dari mata pria itu. "Saya adalah dokter yang selama ini menangani riwayat medisnya secara diam-diam. Kenapa ini bisa terjadi? Saya sudah memperingatkannya berkali-kali bahwa jantungnya tidak akan kuat menerima tekanan fisik yang besar!"
Baskara tertegun, lidahnya mendadak kelu. "Dia... dia diserang oleh temannya tepat di bagian dadanya, Dok."
Dokter itu memejamkan mata sejenak, wajahnya tampak sangat terpukul. "Sial... itu adalah titik terlemahnya. Selama empat tahun ini dia bertahan hanya dengan bantuan obat-obatan dosis tinggi karena kerusakan pembuluh darah akibat kelelahan ekstrem dan stres. Siapa pun yang menekan bagian itu dengan sengaja, berarti dia sedang mencoba membunuhnya!"
Mendengar penjelasan dokter itu, Ratna histeris kembali di pelukan Ibu Baskara. Sementara itu, Baskara merasa dadanya seperti dihantam godam besar. Kelelahan ekstrem? Stres? Ia tahu betul siapa penyebab utama semua beban itu selama empat tahun terakhir.
"Dokter, tolong lakukan apa saja! Saya mohon... selamatkan dia!" ucap Baskara dengan suara yang pecah. Ia bahkan nyaris berlutut di depan dokter tersebut.
Dokter itu tidak menjawab. Ia langsung memakai masker dan sarung tangan medisnya, lalu bergegas masuk ke dalam ruang ICU untuk mengambil alih penanganan. "Berdoalah. Kondisinya saat ini benar-benar di ujung tanduk karena ada pendarahan internal di area memar lama yang kembali pecah."
Baskara kembali terduduk lemas di kursi tunggu. Ia menatap tangannya yang gemetar. Selama ini ia menganggap Aruna adalah gadis desa yang kuat dan keras kepala, namun ternyata di balik ketangguhan itu, Aruna adalah sosok yang sangat rapuh yang ia hancurkan pelan-pelan dengan egonya sendiri.
Di dalam ruangan, bunyi mesin detak jantung yang statis menjadi satu-satunya suara yang terdengar, sementara di luar, Baskara, Devan, dan Theo hanya bisa menunggu dalam ketakutan, berharap keajaiban datang untuk gadis yang selama ini telah mengubah hidup mereka.