NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis / Tamat
Popularitas:494
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 35 Tanda yang Tak Dianggap

Malam itu langit istana benar-benar gelap, nyaris tanpa bintang, seolah seluruh cahaya ikut bersembunyi di balik awan tebal yang menggantung berat di atas kerajaan. Di balkon utama istana, Raja berdiri sendirian sejak lama, membiarkan angin malam yang dingin menyapu jubah kebesarannya yang bergerak pelan seperti bayangan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Tangannya masih menggenggam cawan teh yang sudah dingin, namun ia bahkan tidak lagi memperhatikannya.

Tatapan Raja kosong, jauh, dan penuh sesuatu yang tidak bisa disebut selain penyesalan. Perlahan pandangannya jatuh ke arah taman istana yang sunyi, dan di sana bayangan masa lalu kembali menyeruak tanpa bisa ia hentikan.

“Kalau saja dulu…” suara Raja lirih, hampir hilang ditelan angin malam, “…aku bisa melindungi kalian.”

Ia terdiam sesaat, dadanya naik turun pelan. “Semua ini tidak akan berakhir seperti sekarang,” lanjutnya dengan suara lebih rendah, lebih rapuh.

Nama itu kemudian keluar begitu saja dari bibirnya.

“Ratih…”

Suara Raja bergetar halus. “Aku terlalu lemah saat itu.”

Hening kembali menyelimuti balkon, hanya suara angin yang menjawab kesunyian itu. Untuk pertama kalinya, penguasa tertinggi kerajaan itu tidak terlihat seperti seorang raja, melainkan seorang pria yang kehilangan terlalu banyak hal yang tidak bisa ia kembalikan.

Tak lama, langkah kaki terdengar mendekat di belakangnya. Seorang pengawal kepercayaan berlutut dengan hormat, suaranya hati-hati. “Yang Mulia.”

Raja tidak menoleh, hanya bertanya pelan, “Ada apa?”

Pengawal itu ragu sejenak sebelum menjawab, “Ada laporan baru… tentang Ratu Shima.”

Nama itu langsung membuat udara di balkon terasa lebih dingin. Raja perlahan menoleh, sorot matanya berubah tajam dalam sekejap. “Bicaralah.”

Pengawal itu menyerahkan gulungan laporan dengan tangan sedikit gemetar. “Pergerakan pengawal pribadi ratu meningkat dalam beberapa hari terakhir,” ucapnya hati-hati. “Beberapa cenayang istana juga dipindahkan secara diam-diam.”

Rahang Raja mengeras saat membaca isi laporan itu. “Dan?” tanyanya singkat, namun penuh tekanan.

Pengawal itu menunduk lebih dalam. “Ratu… mulai kembali membicarakan ritual pondasi pelindung.”

Sunyi.

Cawan di tangan Raja perlahan diremas lebih kuat. “Jadi dia belum berhenti,” gumamnya pelan, tapi nadanya sudah berubah dingin.

“Yang Mulia,” suara pengawal itu semakin rendah, “jika ini terus dibiarkan, istana bisa pecah dari dalam.”

Raja tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap langit gelap di atasnya, seolah sedang menimbang sesuatu yang sangat berat di dalam pikirannya. Namun kali ini, penyesalan di matanya mulai bergeser.

Menjadi sesuatu yang lebih tajam.

Lebih tegas.

“Aku sudah terlalu lama diam,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun penuh tekanan.

Ia mengepalkan tangannya. “Dan kekacauan ini…”

Tatapannya mengeras.

“…akan segera berakhir.”

Pengawal itu terdiam, merasakan perubahan yang bahkan membuat punggungnya merinding. Karena di hadapannya kini bukan lagi seorang raja yang tenggelam dalam penyesalan—melainkan penguasa yang akhirnya memutuskan untuk bertindak.

Tak lama kemudian, pintu ruang rahasia istana dibuka. Satu per satu pengawal kepercayaan masuk, membawa peta kerajaan, dokumen rahasia, dan laporan-laporan penting yang selama ini disembunyikan.

Rencana mulai disusun tanpa suara berlebihan. Semuanya bergerak dalam diam, seperti badai yang sedang mengumpulkan kekuatan sebelum meledak.

Karena semua orang di ruangan itu tahu satu hal yang sama—

ini bukan lagi soal tahta.

Ini adalah awal dari perang yang sebenarnya.

Malam itu hujan turun perlahan di atas atap rumah keluarga Arum, menciptakan suara yang monoton seperti detak waktu yang berjalan tanpa peduli pada isi hati manusia. Di dalam rumah sederhana itu, cahaya lampu minyak berpendar redup, membuat bayangan di dinding tampak goyah seperti ikut merasakan kegelisahan yang tak terucap.

Ajeng masih duduk bersimpuh di lantai ruang tengah, tubuhnya melemah di pelukan ibunya. Matanya merah, pipinya basah, dan napasnya tidak lagi teratur sejak pulang dari istana. Tangannya mencengkeram pakaian sang ibu seperti satu-satunya pegangan agar tidak runtuh sepenuhnya.

“Kenapa harus aku…” suaranya pecah, hampir tak berbentuk, “Aku sudah berusaha jadi yang terbaik… tapi tetap saja tidak cukup.”

Ibunya hanya mengusap rambut Ajeng pelan, matanya ikut berkaca-kaca. “Ajeng, jangan menyalahkan dirimu sendiri…”

Namun Ajeng menggeleng cepat, air matanya kembali jatuh. “Aku tidak butuh tahta itu… aku tidak butuh semuanya…” napasnya bergetar, “Aku cuma ingin dia melihat aku… walaupun hanya sekali saja…”

Kalimat itu menggantung di udara, lebih menyakitkan daripada hujan di luar. Ibunya memeluknya lebih erat, seolah ingin menahan semua patah yang sedang terjadi di dalam diri putrinya.

Tidak lama kemudian pintu rumah terbuka. Angin dingin masuk bersama langkah berat sang ayah. Ia berhenti sejenak ketika melihat Ajeng dalam keadaan seperti itu. Tatapannya langsung berubah gelap dan lelah, seolah sudah tahu apa yang terjadi tanpa perlu dijelaskan.

Ibunya Ajeng langsung berdiri sedikit. “Dia baru pulang dari istana… dia seperti ini sejak tadi…”

Sang ayah tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap putrinya cukup lama, lalu menghela napas pelan seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat luka yang sama berulang.

“Ayah…” suara Ajeng lirih, penuh kehancuran, “Apa aku tidak cukup… untuk Yang Mulia?”

Pertanyaan itu membuat ruangan terasa semakin sempit. Sang ayah menutup matanya sesaat sebelum akhirnya berjongkok di hadapan putrinya.

“Kamu tidak salah,” katanya pelan, suaranya berat, “Tapi ada hal yang tidak bisa dimenangkan hanya dengan menjadi cukup.”

Ajeng menatapnya kosong. “Maksud Ayah apa…”

Sang ayah ragu sesaat, lalu melanjutkan dengan lebih pelan, “Cinta Putra Mahkota bukan sesuatu yang bisa diarahkan. Dan bukan sesuatu yang bisa dipaksa.”

Air mata Ajeng jatuh lagi, lebih pelan kali ini, tapi lebih dalam lukanya. “Berarti aku… memang tidak punya kesempatan?”

Sang ayah tidak menjawab. Dan diam itu sudah menjadi jawaban paling jujur yang bisa ia berikan malam itu.

Di dalam kepalanya, bayangan Arum muncul tanpa bisa dicegah. Bukan sebagai saingan, bukan sebagai masalah—melainkan sebagai pusat dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari sekadar cinta remaja.

Sementara di luar rumah, hujan semakin deras, seolah langit pun menolak memberi ketenangan.

Sang ayah akhirnya berdiri. “Istirahatlah,” katanya pelan, “Kita akan memikirkan semuanya besok.”

Namun bahkan saat ia berbalik pergi ke ruang dalam, langkahnya terasa berat. Karena ia tahu, apa yang sedang terjadi bukan sekadar patah hati Ajeng.

Itu adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Dan istana… perlahan mulai menarik semua orang tanpa terkecuali ke dalamnya.

Pagi di pasar desa tetap ramai seperti biasa, tapi di sudut kecil yang biasa Ravin datangi, suasananya terasa sedikit berbeda. Angin pagi membawa aroma tanah basah dan makanan yang baru dimasak, sementara orang-orang terus berlalu tanpa peduli pada percakapan yang sedang terjadi di antara tiga sosok yang berdiri di satu titik yang sama.

Ravin masih menatap kalung kecil di tangannya. Nama Arum terukir di permukaannya dengan sederhana, tapi justru kesederhanaan itu yang membuatnya terasa aneh—terlalu pribadi, terlalu nyata untuk sesuatu yang hanya sekadar benda.

Anak perempuan itu duduk santai seperti biasa, seolah tidak ada hal penting yang sedang terjadi. Tangannya masih memainkan tali warna-warni, tapi matanya sesekali melirik Ravin dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Kakak lama sekali,” ucapnya santai.

Ravin hanya menyeringai kecil. “Dasar anak kecil cerewet.”

Namun saat kalung itu muncul di hadapan Ravin, senyum itu langsung menghilang sedikit. Tangannya bergerak lebih pelan saat mengambilnya, seperti takut merusak sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.

“Kamu serius bikinin ini?” tanya Ravin, matanya fokus pada ukiran nama itu.

Anak kecil itu hanya mengangkat bahu. “Katanya mau kasih ke pacar.”

Ravin tertawa kecil tanpa sadar, tapi bukan karena lucu—lebih seperti reaksi yang datang tanpa ia pikirkan. “Keren juga…”

Suasana di antara mereka tiba-tiba terasa lebih tenang. Bahkan suara pasar di belakang mereka seperti meredup sedikit, seolah dunia memberi ruang untuk satu momen kecil ini.

Namun anak itu tiba-tiba menatap Ravin lebih lama dari sebelumnya.

“Cepat kasih ke dia,” katanya pelan.

Tatapannya tidak lagi main-main. Ada sesuatu yang terlalu dalam untuk wajah seorang anak.

“Sebelum terlambat.”

Ravin langsung menghela napas, memasukkan kalung itu kembali dengan hati-hati. “Lagi-lagi ngomong begitu.”

Nada suaranya terdengar kesal, tapi tidak benar-benar marah. Lebih seperti seseorang yang berusaha mengabaikan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

“Aku malas dengar ramalan buruk dari anak kecil.”

Anak itu tidak membantah. Ia hanya diam beberapa detik, lalu menunduk sedikit.

Namun ekspresinya berubah—bukan seperti anak kecil yang sedang bercanda lagi. Lebih seperti seseorang yang sedang melihat sesuatu yang tidak ingin ia lihat.

“Hati-hati saja,” ucapnya pelan.

“Kali ini benar-benar berbahaya.”

Ravin tersenyum santai, mencoba mengusir suasana itu. “Aku selalu hati-hati.”

Ia mengeluarkan beberapa koin dan meletakkannya di depan anak itu. “Nih, buat bayar.”

Tapi anak itu langsung menggeleng.

“Aku tidak mau.”

Ravin mengernyit. “Kenapa?”

Anak itu tersenyum kecil, tapi kali ini senyumnya terasa aneh—tidak hangat, tidak dingin, hanya… kosong.

“Karena aku kasihan padamu.”

Kalimat itu membuat Ravin langsung berhenti bergerak.

Matanya menatap lurus. “Oi…”

Nada suaranya turun.

“Jangan ngomong seolah aku mau mati.”

Anak itu tidak menjawab. Ia hanya tertawa pelan, seperti tidak peduli apakah Ravin percaya atau tidak.

Dan justru itu yang membuat udara di sekitar Ravin terasa sedikit lebih berat dari sebelumnya.

Ia ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi sebelum sempat—

suara langkah kaki dari belakang memotong udara pagi itu.

Ravin menoleh.

Yudra sendiri berdiri dengan pakaian sederhana, tanpa pengawal, tanpa simbol kekuasaan yang biasanya melekat padanya. Untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat seperti putra mahkota, hanya seorang pria yang terlalu lama menahan sesuatu sendirian.

“Kau bahkan berteman dengan anak kecil sekarang?” suara Yudra terdengar ringan, tapi ada senyum tipis yang tidak biasa di wajahnya.

Ravin menyeringai kecil. “Daripada berteman sama orang istana.”

Kalimat itu biasanya akan memicu ketegangan, tapi kali ini Yudra hanya diam sebentar… lalu tersenyum tipis. Bukan senyum yang kuat, lebih seperti refleks dari masa lalu yang tiba-tiba muncul tanpa izin.

Anak perempuan itu yang tadi duduk di sana hanya menatap mereka berdua beberapa detik. Tatapannya bergantian, seperti memahami sesuatu yang tidak diucapkan. Lalu tanpa kata apa pun, ia berdiri dan pergi begitu saja, meninggalkan keduanya sendirian.

Kepergiannya membuat ruang itu terasa lebih kosong dari sebelumnya.

Ravin meliriknya sekilas. “Aneh banget anak itu.”

Yudra tidak menjawab. Matanya justru mengikuti arah anak itu pergi sebentar, sebelum akhirnya kembali lurus ke depan.

“Aku dengar…” suaranya pelan, hampir tenggelam di antara suara pasar. “…kau akan dijadikan tameng pondasi pelindung.”

Ravin mendecak kecil, tangannya dimasukkan ke saku. “Aku tidak mau bahas itu.”

Nada suaranya langsung berubah lebih dingin.

“Aku masih mau hidup panjang.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan lebih pelan, tapi lebih pasti.

“…bersama Arum.”

Nama itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang sudah terlalu sering disebut tapi belum pernah benar-benar aman.

Yudra tidak bereaksi keras seperti dulu. Tidak ada kemarahan, tidak ada bantahan. Hanya sedikit perubahan di sorot matanya—seperti seseorang yang baru saja kehilangan energi untuk bereaksi.

Dan untuk beberapa detik, ia hanya diam.

“Aku bahkan bisa menyerahkan semuanya kalau kau mau,” ucap Yudra akhirnya.

Ravin langsung menoleh. “Apa?”

Yudra menghela napas panjang, seolah kata-kata itu sudah lama tertahan di dadanya.

“Tahta. Posisi ini. Kerajaan.”

Ia berhenti lagi.

“Aku sudah lelah.”

Kata itu terdengar sederhana, tapi beratnya terasa berbeda. Bukan lelah biasa—lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama berjalan tanpa arah pulang.

Ravin menatapnya cukup lama. “Kau bercanda?”

Yudra menggeleng pelan.

“Tidak.”

Hening menyusul. Bahkan suara pasar di sekitar mereka terasa seperti menjauh satu lapisan lagi.

Ravin mendecak pelan. “Aku tidak tertarik.”

Ia tertawa kecil, tapi kali ini tidak benar-benar santai.

“Hidupku sekarang sudah cukup.”

Matanya sedikit melunak tanpa ia sadari.

“…bersama Arum.”

Yudra menutup mata sebentar, lalu membuka lagi. Ada sesuatu di wajahnya—bukan iri, bukan marah—lebih seperti kehilangan yang sudah diterima tapi belum sepenuhnya sembuh.

“Aku kangen masa kecil kita,” ucapnya pelan.

Ravin terdiam.

Yudra melanjutkan, suaranya lebih rendah sekarang.

“Belajar bersama.”

“Main pedang bersama.”

“Dimarahi guru bersama.”

Setiap kalimatnya seperti menarik sesuatu dari masa lalu yang sudah lama terkubur.

“Waktu itu…” Yudra menarik napas pelan. “…kita belum memikirkan tahta, perempuan, atau istana.”

Ravin menundukkan pandangannya sedikit.

Tangannya mengepal ringan, bukan karena marah, tapi karena ada sesuatu yang tiba-tiba terasa terlalu sempit di dadanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Ravin tidak punya kata-kata untuk langsung membalas.

Karena yang paling menyakitkan bukan apa yang mereka hadapi sekarang—

tapi kenyataan bahwa mereka masih ingat siapa mereka dulu, dan tidak bisa kembali ke sana lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!