Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: PERTEMUAN DI BALIK HELM DAN DOA SEORANG IBU
Mesin motor matik itu masih menderu halus, namun jantung Reyhan berdegup jauh lebih kencang. Di pinggir jalan yang cukup sepi itu, di bawah bayangan pohon mahoni yang rimbun, dunia seolah berhenti berputar. Widya, wanita yang telah melahirkannya, berdiri dengan mata yang banjir air mata. Tangan wanita itu gemetar hebat saat menyentuh jaket hijau kusam yang dikenakan putranya.
"Rey, pulanglah... Rey!" Suara Widya pecah, tersedak oleh kerinduan yang membuncah selama satu tahun terakhir. "Ibu kangen sama kamu... Ibu khawatir setiap malam, Nak. Ibu sayang kamu, Rey..."
Widya terisak, bahunya berguncang. Ia melihat putra mahkota keluarga Dirgantara—yang dulu selalu memakai setelan jas custom-made seharga ratusan juta—kini berdiri di depannya dengan wajah yang terpapar matahari, kulit yang sedikit lebih gelap, dan pakaian yang jauh dari kata mewah.
Reyhan menarik napas panjang, mencoba menekan rasa perih di dadanya. "Maaf Bu, Ayah sudah mengusirku," jawabnya tegas, namun ada getaran tak tega dalam nada bicaranya. "Dia lebih percaya pada fitnah sepupu dan pamanku daripada darah dagingnya sendiri."
"Rey, biar nanti Ibu yang bicara sama Ayah. Ibu akan sujud kalau perlu, agar dia memaafkanmu. Pulang ya, Sayang? Lihat kamu sekarang ini... dekil begini, hidup miskin begini. Apa kamu kuat, Rey? Ini bukan tempatmu," bujuk Widya dengan nada memohon yang menyayat hati.
Reyhan menatap mata ibunya lekat-lekat. Ia teringat masa setahun ini, di mana ia harus tidur di masjid, makan sisa-sisa pemberian orang, hingga akhirnya bisa menyewa kontrakan kecil dan menarik ojek. Proses itu tidak hanya menempa fisiknya, tapi juga menghancurkan kesombongannya.
"Sekali lagi, Rey minta maaf sama Ibu. Rey bukan tidak sayang sama Ibu. Rey akan pulang... tapi nanti, kalau nama Rey sudah benar-benar bersih dari keluarga besar Dirgantara. Ibu percaya, kan, sama Rey? Ibu tahu, kan, bahwa yang menggelapkan dana proyek itu bukan Rey?"
Widya mengangguk cepat, meremas tangan Reyhan. "Ibu percaya, Rey. Ibu selalu percaya. Tapi sampai kapan kamu akan hidup seperti ini? Kamu cari makan dari ngojek, apa cukup, Nak?"
Reyhan tersenyum kecil, sebuah senyuman yang tampak sangat tulus dan damai. "Alhamdulillah, Bu. Ternyata Rey masih punya ALLAH. Dia selalu menjaga Rey. Dalam keadaan apa pun, Rey percaya Dia selalu melindungi Rey."
Mendengar kata "Allah" keluar dari bibir putranya, Widya tertegun. Ia seolah melihat sosok asing di balik wajah anaknya. Sejak kapan Reyhan jadi religius begini? tanya Widya dalam batinnya.
Reyhan yang dulu dikenal urakan, manja, hobi balapan liar, dan merasa paling berkuasa di Jakarta karena nama belakangnya, kini berubah total. Kesunyian dalam pelarian ternyata telah membawanya kembali ke sajadah.
"Ibu tahu dari mana saya jadi ojol?" tanya Reyhan, mengalihkan suasana.
"Ibu pernah melihat kamu pesan makanan malam-malam di sebuah kedai... Ibu sedang di dalam mobil, tapi Ibu tidak sempat panggil kamu karena jalanan sedang macet. Kalau tidak salah, itu lusa kemarin," Widya menyeka air matanya.
Reyhan terdiam sesaat. "Lusa... Hari itu, hari di mana aku dapat ujian terberat lagi, Bu," gumam Reyhan, teringat kejadian di mana ia dituduh begal dan dipaksa menikahi Vanya.
"Ujian apa, Rey?" Widya bertanya cemas.
Reyhan menggeleng pelan. Ia belum sanggup menceritakan bahwa ia baru saja menikah siri dengan putri musuh bisnis ayahnya karena sebuah fitnah jalanan. "Bukan apa-apa, Bu. Hanya urusan pekerjaan."
Reyhan melirik jam tangannya. Ia harus segera bergerak sebelum ada anak buah ayahnya yang melintas. "Ya sudah, aku kerja dulu ya, Bu. Maaf, aku tidak bisa antar Ibu. Aku takut nanti orang-orang Ayah melihat. Aku tidak mau Ibu dimarahi Ayah gara-gara aku."
Reyhan meraih tangan ibunya, lalu menciumnya dengan sangat takzim. Sebuah gestur yang dulu jarang sekali ia lakukan dengan sungguh-sungguh. Widya terpaku, ia merasa getaran kasih sayang yang berbeda dari putranya.
"Rey...!" Widya menahan lengan Reyhan. "Tunggu, Nak. Bawa ini. Ibu mohon, kalau Rey sayang Ibu... terima ini untuk biaya hidupmu. Biar nanti sisanya Ibu transfer ke rekening rahasia kamu."
Widya menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal dan sebuah kartu ATM. Reyhan menatap benda itu sebentar, lalu menggeleng. "Tidak usah, Bu. Aku masih bisa makan dari hasil keringatku sendiri."
"Ambillah, Rey! Apa Ibu sudah tidak punya hak lagi untuk menyayangimu, Nak? Apa Ibu sudah dianggap orang asing?" Suara Widya kembali bergetar karena sedih.
Hati Reyhan getir. Ia tidak ingin menyakiti perasaan ibunya untuk kedua kali. "Baiklah, Bu. Terima kasih." Reyhan menerima amplop itu, lalu kembali memeluk ibunya erat. Ia mencium kening ibunya, mencoba menyalurkan kekuatan yang selama ini ia bangun sendirian.
Widya menatap putranya dengan rasa bangga yang campur aduk. "Sekarang kamu benar-benar berubah, Rey. Tapi watak kerasmu itu... kamu memang keras kepala, persis ayahmu."
Reyhan mengenakan helmnya kembali, menutup kaca hitam yang menutupi matanya yang mulai berkaca-kaca. "Reyhan berangkat ya, Bu. Doakan Reyhan. Oh ya..." Reyhan menjeda kalimatnya sebentar. "Kalau Ibu sayang Reyhan, dan ingin ketemu Reyhan lagi... nanti kalau keluar rumah, Ibu pakai kerudung ya?"
Deg.
Widya mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Permintaan itu terasa seperti petir di siang bolong. Perintah menutup aurat adalah ajaran yang sudah sangat lama ia tinggalkan. Baginya, agama hanya tersemat di kartu identitas saja, tidak pernah tercermin dalam aktivitas sosialnya sebagai sosialita papan atas Jakarta.
"Assalamu’alaikum," ucap Reyhan lembut.
"Wa’alaikum... salam," jawab Widya ragu, suaranya nyaris hilang ditiup angin pagi.
Reyhan memutar gas motornya, meninggalkan Widya yang masih berdiri terpaku di trotoar. Widya menatap punggung putranya yang menjauh, perlahan menghilang di antara keramaian kendaraan lainnya. Ada rasa sedih karena melihat anaknya hidup susah, namun ada kebanggaan luar biasa yang membuncah di dadanya. Putranya tidak hanya bertahan hidup, ia telah menemukan "hidup" yang sebenarnya.
Sementara itu, di kontrakan sempit Gang Kelinci, Vanya sedang dalam kondisi siaga satu. Ia duduk di atas kasur sambil memegang sapu lidi, matanya menyisir setiap inci lantai semen dengan ngeri. Ia merasa ada sesuatu yang merayap di dekat lemari plastik.
"Awas kamu ya, kecoa sialan! Kalau berani muncul, aku geprek kamu!" ancam Vanya dengan suara gemetar.
Vanya merasa sangat terhina. Di sini ia harus bertarung dengan serangga, sementara di rumahnya, ia bahkan tidak perlu menuang air minumnya sendiri. Namun, di tengah kekesalannya pada Reyhan, ia teringat wangi kemeja pria itu yang tadi ia pakai. Wangi yang sangat maskulin, sangat... berkelas.
"Kenapa ojol itu pakai parfum semahal itu? Apa jangan-jangan itu parfum hasil rampokan?" gumam Vanya curiga.
Tiba-tiba, pintu kontrakan diketuk lagi. Vanya tersentak. Apa Reyhan sudah pulang? Atau jangan-jangan itu Malik?
Vanya mendekati pintu dengan hati-hati, masih menggenggam sapu lidi sebagai senjata. "Siapa?!" teriaknya galak.
"Ini saya, Marni!" suara dari luar terdengar ketus.
Vanya membuka sedikit pintunya. Di sana berdiri Marni, gadis desa yang tadi pagi menatapnya dengan penuh kebencian di lapak nasi uduk. Marni membawa sebuah rantang kecil.
"Nih, bapakku suruh kasih ini buat Mas Reyhan," ucap Marni sambil menyodorkan rantang itu dengan kasar, padahal itu sengaja hanya ingin konfrontasi dengan Vanya. Matanya kemudian menyisir penampilan Vanya dari ujung rambut sampai kaki, terutama kemeja kegedean milik Reyhan yang dipakai Vanya. "Eh, kamu beneran istrinya Mas Reyhan? Kok kayaknya Mas Reyhan nggak nafsu gitu lihat kamu? Bajunya aja dikasih yang butut begitu."
Vanya meradang. "Heh, jaga mulut kamu ya! Aku ini... aku ini cuma lagi dihukum Papa! Jangan sok tahu!"
"Dihukum atau memang dibuang?" Marni tertawa sinis. "Mas Reyhan itu orang baik, orang sholeh. Kasihan dia kalau harus ngurusin perempuan nggak bener kayak kamu."
Vanya nyaris melempar sapu lidi di tangannya ke wajah Marni, namun Marni sudah lebih dulu berbalik pergi sambil menghentakkan kakinya. Vanya membanting pintu kontrakannya dengan geram.
"Sial! Berani-beraninya gadis desa itu menghinaku!" Vanya melempar rantang itu ke atas meja. Namun, rasa penasaran membuatnya membuka rantang tersebut. Bau tumis kangkung dan ikan asin goreng menyeruak.
Perut Vanya kembali berbunyi. Di satu sisi ia merasa terhina, di sisi lain, ia sadar bahwa di tempat ini, hanya Reyhan—si "begal" yang memberinya teh hangat dan tempat tidur—yang setidaknya tidak menghakiminya secara terang-terangan di depan umum.
Vanya duduk kembali di kasur, menatap plafon yang kusam. Ia tidak tahu bahwa hari-hari ke depannya akan jauh lebih rumit, terutama ketika rahasia tentang siapa sebenarnya "Reyhan Dirgantara" mulai terkuak satu per satu, dimulai dari amplop cokelat tebal yang sekarang dibawa Reyhan pulang.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan